JongKey | A Contrition


by: Mak Erot JKK

A/N: Kata King Alfred gua disuruh bikin sequelnya masa ;A;

ini sequel dari ff: JongKey | Warmth

~*~

Kibum melangkahkan kakinya keluar dari studio yang seharian ini dia tempati untuk merekam album baru SHINee. Udara dingin yang menyambutnya membuatnya menengadah menatap langit putih di atasnya.

Salju.

Ribuan salju turun menutupi seluruh jalan yang terpampang di depannya. Untuk sesaat, Kibum hanya berdiri terdiam di depan studio itu sampai kemudian ia menyadari kalau ia tidak bisa terlalu lama berdiam disana. Sebelum seseorang menyadari kehadirannya, Kibum memperbaiki letak topinya hingga menutup sebagian wajahnya, menelusupkan kedua tangannya yang mulai terasa dingin ke dalam mantel hangatnya, lalu berjalan sambil menunduk, menelusuri jalanan bersalju seorang diri.

Lima belas menit kemudian, kakinya berhenti di depan sebuah café. Untuk melepas lelah sehabis rekaman, Kibum memang menghubungi salah satu sahabatnya dan berjanji untuk bertemu disana.

Kibum menggesekkan sol sepatunya ke atas aspal secara bergantian untuk menghilangkan beberapa salju yang menempel disana lalu sekali lagi membetulkan letak topinya agar wajahnya tertutupi.

Cring cring~

Bunyi bel langsung terdengar ketika Kibum membuka pintu café itu. Seorang pelayan yang sedang melayani tamu di meja yang tak jauh dari Kibum berdiri langsung tersenyum dan mengucapkan selamat datang sebelum perhatiannya kembali tertuju kepada tamu yang tadi dia layani.

Kibum berdehem, mata rubahnya menelusuri ruangan café, mencari sesosok pria yang familiar baginya sampai ia menemukan pria yang dicarinya itu—sedang melambai ke arahnya dari meja paling pojok yang ada disana. Kibum tersenyum, sedikit melambai balik kepadanya lalu melangkahkan kakinya mendekat.

“Hei” sapanya setelah ia sampai disana. Kibum menarik salah satu kursi di meja itu, mendudukkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan pria tampan yang tersenyum ke arahnya.

“Hei” balasnya, senyum tak lepas dari wajahnya, “bagaimana rekamannya?”

“Lancar” jawab Kibum singkat. Teman pria di depannya menatap aneh ke arahnya, biasanya Kibum akan berceloteh panjang lebar tentang kegiatannya seharian tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda darinya.

“Aku tahu album kali ini pasti akan fantastis” Kibum hanya tersenyum mendengar komentar dari temannya, “cepat pilih kau mau makan apa sebelum aku memanggil pelayannya”

“Samakan saja denganmu” pernyataan Kibum lagi-lagi membuatnya mengernyit heran, Kibum kan tidak memiliki selera yang sama dengannya.

“Kau yakin?”

“Iya”

Melihat tatapan pria di depannya, Kibum tahu kalau temannya itu mencemaskan dirinya, “Lagipula, aku ingin mengetahui seberapa tinggi seleramu” ejeknya yang sukses membuat dia tertawa. Setidaknya dia akan berpikir kalau Kibum baik-baik saja.

Setelah memesan makanan, kedua orang yang duduk berhadapan itu mengobrol tentang kehidupan mereka atau membicarakan hal-hal ringan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan. Mereka bertemu bukan untuk membicarakan hal menjenuhkan itu. Betul, mereka bisa bertahan hidup dengan pekerjaan yang mereka miliki, Kibum dengan SHINee dan temannya berprofesi sebagai model, tetapi untuk sesaat di waktu mereka bisa bertemu seperti ini, mereka ingin sejenak melupakan hal itu.

Mereka berdua sama-sama berasal dari Daegu dan mempunyai umur yang sama. Sempat terpisah ketika Kibum harus memulai tinggal di Seoul sebagai trainee dan akhirnya bertemu lagi karena mereka berdua ‘terdampar’ di Seoul oleh pekerjaan masing-masing.

Hari ini Kibumlah yang berinisiatif mengkakao-talknya untuk makan bersama setelah dirinya selesai darischedule rekaman.

Ngomong-ngomong tentang makan bersama, Kibum tiba-tiba ingat tentang seseorang yang selalu menemaninya makan bersama setelah mereka puas berbelanja.

Akhir-akhir ini mereka jarang berkomunikasi, jarang berinteraksi, bahkan bertemu pun.. jarang. Karena sibuk dengan drama musicalnya, Kibum mempunyai jadwal rekaman yang berbeda dari keempat partnernya. Mereka berempat telah selesai melakukan rekaman dan karena itulah hari ini, untuk pertama kalinya, dirinya merasakan sepi selama berada di ruang rekaman. Selain itu, waktu pun terasa berjalan begitu lama, belum lagi dia terus menerus melakukan kesalahan ketika bernyanyi tadi. Biasanya, seseorang yang tiba-tiba diingat Kibum ini akan selalu membantunya, menuntunnya untuk melakukan bagiannya dengan benar secara pelan-pelan. Dia akan mengatakan kalau Kibum adalah yang terbaik sambil terus menuntunnya dan dia adalah orang pertama yang akan memeluknya, mengatakan bahwa dia bangga pada Kibum. Lalu.. setelah itu Kibum tidak akan menyadari waktu, proses rekaman akan selesai dengan singkatnya. Orang itu akan mengajaknya pergi keluar setelah rekaman selesai, membelikan Kibum beberapa barang lalu merayakan keberhasilan mereka dengan makan bersama.

Kibum tanpa sadar mengulurkan tangannya ke dalam saku, meraih handphonenya. Disentuhnya layarnya untuk membuka kunci dan ia pun mendesah, sedikit kecewa mengetahui kalau dia tidak mendapatkan pesan baru atau panggilan dari orang itu.

Ketika pelayan datang membawa pesanan ke meja mereka, ketika itu pula Kibum terlonjak dari pikirannya. Ia menegakkan tubuhnya lalu mulai memakan makanan yang tadi dipesankan temannya. Mereka makan sambil bersenda gurau—atau mungkin hanya temannya yang melakukan itu sedangkan Kibum untuk selanjutnya hanya memakan makanannya dalam diam sambil sesekali mengecek layar handphonenya.

Kibum tidak bisa berbohong, Kibum merindukannya. Sangat merindukannya.

Untuk itulah, setelah selesai makan, Kibum berusaha menurunkan sedikit egonya, Ia membuka menu pesan, bermaksud untuk mengirimi orang itu pesan singkat sebelum handphonenya tiba-tiba direbut paksa oleh pria di depannya.

“Ya!” teriak Kibum. Tangannya terjulur, berusaha menggapai handphonenya yang sudah berada di dalam genggaman temannya itu—dia sama sekali tidak terlihat akan mengembalikannya walau Kibum sudah membentaknya, berteman dengan pria berambut blonde itu dalam waktu yang cukup lama sudah membuatnya mengerti bagaimana perangai Kibum.

“Mau kau apakan handphoneku? Kembalikan! Aku mau mengirim pesan!”

“Sebentar sebentar” dia menyentuh-nyentuh layar handphone Kibum lalu tiba-tiba saja dia menjulurkanhandphone Kibum ke arah samping mereka, “ayo kita foto!” katanya sambil mengarahkan lensa kamera ke arah mereka berdua.

“Ya! Sudah kubilang, aku mau mengirim pesan!”

“Oh ayolah, Kibum.. sudah lama kita tidak berfoto bersama..” rajuknya, “please?”

Kibum menghela nafas pasrah. Oke, berfoto tidak akan menghabiskan waktu yang lama, pikirnya.

“Baiklah..”

Setelah dua kali mengambil foto, Kibum kembali berusaha meminta handphonenya. Dia benar-benar ingin mengirimi orang itu pesan. Tidak peduli kalau biasanya di saat Kibum berkumpul dengan temannya seperti ini, orang itulah yang selalu dan selalu mengganggunya dengan mengirimi pesan menanyakan keberadaannya dan mengajaknya bertemu saat itu juga. Kadang Kibum merasa kesal karena dia sangat jarang bertemu temannya, tidak seperti dia dan dirinya yang bertemu setiap hari. Entah di dorm, entah di tempat kerja. Tetapi, pada akhirnya Kibum pasti akan beranjak dan pergi ke tempat orang itu berada, menceramahi dirinya untuk beberapa saat karena sudah mengganggu waktunya dengan teman-temannya dan berakhir dengan orang itu yang akan memeluk tubuhnya, membuat Kibum merasa hangat dengan bisikannya, tepat di telinga Kibum. Dia akan mengatakan bahwa dia sangat merindukan Kibum karena sudah beberapa jam tidak bertemu dengannya lalu mengeratkan pelukan mereka.

Hal konyol yang selalu membuat Kibum tertawa memang. Tetapi Kibum tahu kalau itu adalah sebuah kejujuran, dimana Kibum akan berbohong jika dia mengatakan bahwa dia tidak merindukannya.

“Hei~ aku mau mengirim pesan~” ulangnya lagi, tapi temannya itu hanya mengangkat bahunya.

“Beberapa foto lagi dan kau akan mendapatkan handphonemu. Ayo, lihat ke kamera dan katakan kimchi~”

Kibum memutar kedua bola matanya, terpaksa kembali berpose. Setelah beberapa kali foto bersama, Kibum kembali berusaha meminta handphonenya.

“Sebentar, aku mau melihat hasilnya dulu” jawabnya. Teman prianya ini tampan, mempunyai bentuk badan yang bagus, dan tinggi—tentu saja, dia kan model—tetapi Kibum benar-benar ingin mengirimi pesan kepada pria lain. Yang sama-sama tampan, sayangnya tidak sama tinggi.

Well, bagi Kibum posisi orang itu tetap berada di bagian paling terdalam dari hatinya.

“Sudah?” tanya Kibum. Teman pria di depannya mengangguk, dia menjulurkan tangannya untuk mengembalikan handphonenya kepada Kibum sebelum dia kembali menarik tangannya yang membuat Kibum harus mendesah.

“Tunggu, beri aku beberapa menit untuk mengirim foto-foto ini ke ponselku. Aku akan mengupdate twitterku dengan foto ini nanti”

~*~

Kibum memeluk temannya, menepuk punggungnya sambil mengucapkan terima kasih untuk meluangkan waktunya bersama dengannya, juga untuk mentraktirnya makanan padahal dia yang mengajaknya makan dan juga dia mengucapkan hati-hati di jalan untuknya. Pria tampan itu hanya terkekeh, ia melepaskan pelukan mereka dan memberitahu Kibum kalau dia bukan anak kecil lagi. Dia bahkan jauh lebih tinggi daripada Kibum sekarang, membuat Kibum harus menjitak kepalanya karena itu.

Kibum menunggu temannya untuk berjalan duluan hingga punggungnya tak terlihat lagi. Lalu, dia meraih ponselnya, menatap layarnya dengan pasrah.

Pada akhirnya, dia tidak sempat untuk mengirimi orang itu pesan.

Setelah menghela nafas panjang beberapa kali, Kibum memutuskan untuk pulang saja ke dorm, orang itu sedang tidak memiliki schedule jadi pasti mereka dapat bertemu disana, seperti hari-hari biasanya.

Tetapi ternyata, pikiran Kibum salah.

Di dorm hanya ada tiga rekannya, tanpa kehadiran rekan yang justru sedang dia harapkan. Onew bilang karena sedang free, orang itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya, mengatakan bahwa dia rindu kakak perempuannya—dan ummanya—sehingga dia akan tinggal disana untuk beberapa hari.

Minho bilang agar Kibum istirahat dulu dan pergi menemuinya esok hari lalu Taemin langsung menggiring Kibum ke dalam kamarnya.

Kibum tidak mengerti akan pikiran rekan-rekannya.

Siapa yang bilang kalau dia ingin menemui orang itu dan pergi ke rumahnya?

“Dasar aneh” gumamnya sambil mengecek ponselnya dalam posisi tertidur di kasur.

Sekali lagi harus merasa kecewa ketika dia tidak menemukan notification baru disana.

Kibum menatap layar handphonenya lama hingga lampunya meredup dan akhirnya mati.

Dan ketika itulah, Kibum dapat melihat pantulan wajahnya disana. Matanya terlihat lelah dengan sedikit kantung mata di bawahnya. Raut wajahnya terasa hampa dan sinar matanya menyiratkan sesuatu yang….

Uh.. Kibum mengerti sekarang mengapa rekan-rekannya berkata seperti itu.

Mungkin beberapa minggu ini Kibum tidak bisa menjadi sahabat, kekasih—atau apapun itu Kibum tidak peduli akan status mereka—yang baik baginya. Kibum mencintainya, Kibum tahu itu.

Kibum juga tahu kalau dia mencintai dirinya.

Kibum menyesal karena dia sudah mengacuhkannya, bahkan Kibum tidak menyadari kalau dia sudah pergi ke rumah orang tuanya untuk beberapa hari.

Padahal biasanya Kibum akan mengetahui kapan saja jadwal kegiatannya seharian. Jadwal kerjanya, jadwal sarapannya, jadwal makan siangnya, jadwal mandinya, jadwal tidurnya. Semuanya.

Semuanya Kibum hafal persis di luar kepala.

Tentu saja, karena biasanya mereka akan menghabiskan waktu seharian bersama-sama. Merasakan kehadiran satu sama lain di sisi mereka. Melakukan semuanya bersama-sama. Sehingga, tidaklah mungkin jika Kibum tidak mengetahui kebiasaannya.

Setidaknya sampai hari ini, ketika Kibum merasa telah gagal menjadi sahabatnya, kekasihnya, atau.. apapun itu. Persetan dengan status yang ada di antara mereka.

Onew pernah bilang, mungkin Kibum terlalu banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya akhir-akhir ini, tetapi Kibum menjawab bahwa ia hanya ingin berkumpul bersama mereka karena ia jarang bertemu dengan mereka. Onew saat itu tersenyum, mengatakan kalau ia percaya pada Kibum.

Tetapi sekarang Kibum tahu.

Dia telah mengkhianati kepercayaan Onew.

Seharusnya Kibum tahu, saat itu Onew berusaha memberi tahunya. Memberi tahu bahwa dia bisa saja menyakiti orang yang paling berharga untuknya sebelum semuanya menjadi terlambat seperti ini.

Mungkin orang itu tidak mengatakan apapun pada Kibum, tidak juga menyalahkan Kibum.

Tapi, sekarang..

Sekarang..

Kibum benar-benar menyadari bahwa dia sudah berlaku keterlaluan. Beberapa hari terakhir Kibum tidak pernah memberi tahunya apapun. Dia hanya pergi bersama teman-temannya dan pulang ketika hari sudah larut.

Kibum akan menemukan orang itu yang masih terjaga lalu Kibum hanya mengucapkan selamat tidur, masuk ke kamarnya dan langsung terlelap.

Kibum kelelahan, benar. Tapi, Kibum lupa..

Mungkin saja orang itu menungguinya pulang, seperti biasanya.

Kibum benar-benar merasa menjadi orang terbodoh di dunia saat ini.

Mengapa dia baru menyadarinya sekarang?

Ingin sekali dia mengutuk dirinya sendiri akan keterlambatannya ini.

Kibum sudah menyakitinya.. Menyakiti orang yang begitu baik kepadanya. Orang yang rela mengorbankan apapun demi Kibum, orang yang selalu ada di sampingnya—bahkan di saat terburuk bagi Kibum, orang yang..

Orang yang sangat dicintainya.

Air mata Kibum tiba-tiba saja mengalir. Kibum terisak, dadanya sesak.

Kibum tahu, Kibum harus menjelaskan semuanya. Ia harus pergi ke rumahnya besok pagi. Tak ingin menjadikan semuanya ini lebih rumit daripada sekarang.

Dia harus melihat kedua bola mata besar indahnya, memandang kesempurnaan wajahnya, memeluknya, menciumnya, meminta maaf padanya, dan juga mengatakan hal yang mengusiknya beberapa minggu ini.

“Jonghyun, aku merindukanmu.. sangat…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s