JongKey | Meet to Love You | Part 1


Title: Meet to Love You

Author: Mak Erot JKK

A/N: Sebenernya siapa sih yang bilang kalau Born to Meet You ga ada sequelnya? Hasemeleh si saya jadi di demo dimana-mana ,_, /slapped

oke, ini sequel dari ‘Born to Meet You’ jadi yang belum baca tuh ff, baca dlu disini nih:

PC Ver:

JongKey | Born to Meet You | Part 1

JongKey | Born to Meet You | Part 2

JongKey | Born to Meet You | Part 3 (END)

Mobile Ver:

JongKey | Born to Meet You | Part 1

JongKey | Born to Meet You | Part 2

JongKey | Born to Meet You | Part 3 (END)

Zero Facebook Ver:

JongKey | Born to Meet You | Part 1

JongKey | Born to Meet You | Part 2

JongKey | Born to Meet You | Part 3 (END)


“Yonsei High School.. Yonsei High School.. Gotcha!” seorang laki-laki berambut blonde berhenti mendorong koper besar berwarna pink miliknya, sekali lagi meyakinkan bahwa bangunan di depannya adalah yang dia cari dan mata kucingnya pun menyipit.

“Aku tahu kalau Yonsei High School itu adalah sekolah putra, tapi aku tidak tahu kalau keadaannya seburuk ini” laki-laki itu menghela nafasnya panjang, mengedikkan bahunya lalu masuk ke dalam sekolah itu dengan kalimat sederhana mau-bagaimana-lagi yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.

Bangunan sekolah itu sudah tua, temboknya yang berwarna gelap sama sekali tidak membantu untuk memperbaiki keadaan, apalagi banyak coretan dengan bahasa kotor dan kasar yang menghiasinya. Pepohonan disana pun malah memperburuk suasana dengan bau pesing yang begitu menyengat. Sungguh, menyatukan sekumpulan pria tanpa adanya satupun wanita adalah hal paling gila di dunia ini.

Pria berambut blonde itu harus menahan nafasnya selama dia melewati sekumpulan pepohonan sebelum dia masuk ke dalam lapangan sekolah dan akhirnya bisa bernafas lega. Dia mengacuhkan tatapan beberapa siswa yang menggodanya, sama sekali tidak menyahut panggilan mereka sambil menambahkan sedikit sumpah serapah di dalam hatinya.

Tidak adakah hal yang lebih buruk dari ini semua?

Bruk!

Oh, great! Aku mencium keberadaan ‘hal yang lebih buruk’, pikirnya. Dia meringis ketika pantatnya mencium tanah karena tidak sengaja bertabrakan dengan orang yang jatuh terduduk di depannya.

Orang itu juga meringis, mengatakan kata-kata kotor yang—sayangnya—harus di dengar oleh telinga malang si pria berblonde.

Tetapi, kata-kata kotor dari mulut orang itu seketika hilang ketika matanya bertemu dengan mata si blonde. Berganti dengan seringaian di wajahnya sambil menyapu penampilan pria berblonde dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapannya yang terlihat.. err.. mesum.

Orang itu bersiul, bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya kepada pria berblonde, “Butuh sedikit bantuan, Princess?”

Kalau saja mereka tidak dipertemukan dalam keadaan yang menyebalkan seperti ini, pria berblonde itu pasti akan mengakui jika suara orang di depannya terdengar.. yah, tetapi sayangnya nasib berkata lain. Pria berblonde itu memasang senyum palsunya lalu menepis kasar tangan orang itu.

“Terima kasih, but FYI, aku sama sekali tidak butuh bantuanmu, Prince” serunya dengan penuh penekanan pada kata ‘sama sekali’ dan kata ‘Prince’. Dia bangkit, sedikit membersihkan debu yang menempel pada bajunya lalu menarik kembali koper besarnya.

Orang itu terkekeh melihat warna dari koper si pria berblonde, sebelum sang ‘princess’ menghilang dari pandangannya, orang itu pun segera menghalangi jalannya.

“What else, Prince? Do you want anything from me?” katanya dengan nada sarkatis, merasa terganggu seratus persen.

Sang ‘Prince’ kembali terkekeh, “Yes, your name please”

Laki-laki berambut blonde itu menatapnya dengan alis terangkat, seolah-olah kedua telinganya baru saja mendengar pertanyaan paling tidak masuk akal di muka bumi ini.

Sedetik kemudian, sebuah seringaian muncul di wajahnya. Dengan berani dia dekatkan mulutnya pada telinga sang ‘prince’, meniupkan udara disana sebelum berbisik seduktif dengan suara huskynya.

“Kau tahu? Cinderella pun tidak memberitahukan namanya pada pertemuan pertama”

Setelah itu, dijauhkannya kembali mulutnya, ditatapnya terakhir kali kedua bola mata ‘prince’nya, memberikan sebuah wink dan dia pun melanjutkan perjalanan dengan langkah divanya.

Sang pangeran terdiam hingga punggung putrinya menghilang. Dia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, “Such a tease”

Dia pun membalikan badannya, bermaksud melanjutkan perjalanannya sendiri sebelum kakinya menginjak sesuatu, sesuatu yang membuat langkahnya kembali terhenti.

Dia berjongkok lalu menyeringai, “Mungkin Cinderella memang tidak memberitahukan namanya pada pertemuan pertama, tapi Cinderella meninggalkan sebuah petunjuk sebelum kepergiannya. Kita akan bertemu lagi, Princess”

***

Pria berblonde itu merutuki perjalanannya karena tak kunjung sampai di tempat yang dia cari. Apalagi dengan semua siswa yang terus menggodanya di sepanjang perjalanan. Hampir saja dia menendang tong sampah yang ada di dekatnya sebelum matanya menangkap sebuah tulisan.

Ruang OSIS.

Bagai melihat oasis di gurun pasir, pria itu tersenyum senang lalu memasuki ruangan itu tanpa mengetuk pintu.

“Ketuk pintu dulu sebelum masuk” adalah hal yang pertama dia dengar ketika kakinya melangkah masuk ke dalam sana. Di dalam sana hanya ada satu orang laki-laki yang terlihat sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya, tentu saja lelaki yang sama yang tadi mengkritik sikap tidak sopannya.

“Sorry. Ini ruang OSIS kan?”

“Seperti yang tertulis di luar sana” jawab lelaki itu. Si pria berblonde meniup poninya, berusaha meredam emosinya mendengar jawabannya yang tidak bersahabat.

“Aku murid baru disini. Bisa kau tunjukan dimana ruangan kepala sekolah? Aku tidak menemukannya daritadi”

“Kepala sekolah sedang liburan. Ruangannya dipakai anak-anak bermain billiard dan plang ‘Ruang Kepala Sekolah’nya sudah mereka bakar, abunya mereka masukan ke dalam air lalu airnya mereka gunakan untuk menyiram pepohonan disana” katanya.

Si rambut blonde mengira kalau semua perkataan itu hanya candaan yang sama sekali tidak lucu, tetapi melihat ekspresi keseriusan dari orang di depannya, dia pun membelakakan matanya.

“Kau serius?”

“Kalau aku bilang ‘tidak’ sekarang apa kau akan mempercayaiku?” tanyanya lagi dengan nada yang dingin, “tapi, kau bisa meminta bantuanku. Aku diberi tugas untuk menggantikan orang tua itu. Namaku Choi Minho, aku ketua OSIS disini”

Pria berambut blonde itu mengangguk, setidaknya ada orang yang bisa membantunya saat ini, “Bisa kau bantu aku mencari kelas dan kamar asramaku, Minho-sshi? Namaku Kim Kibum”

“Oke. Akan kucari datamu dulu. Kim Ki—mwo? Siapa namamu?” tiba-tiba saja Minho terlonjak dari duduknya. Kibum dapat melihat ekspresi keterkejutan darinya. Setelah dilihat baik-baik, Kibum kira kedua mata Minho mirip dengan mata seekor kodok.

“Kim Kibum?” Kibum malah menjawab namanya sendiri dengan ragu karena bingung dengan semua sikap Minho.

“Aish! Kita mendapat sebuah masalah besar!”

***

“Ingat baik-baik. Jangan sampai orang lain di sekolah ini tahu nama aslimu. Terutama orang yang kusebutkan ciri-cirinya tadi. Katakan saja nama panggilanmu itu.. Siapa? Sesuatu dengan kunci.. Uhm..”

“Key” jawab Kibum—oops, Key sambil memutar kedua bola matanya karena Minho belum juga mengingat nama panggilannya yang menurutnya sangat singkat dan sangat mudah diingat.

Key menarik koper pinknya kembali. Berencana masuk ke kamar asramanya—setelah diberitahu letaknya oleh Minho—sebelum hasratnya untuk buang air tiba-tiba datang. Ia mencari kamar mandi yang sempat dia lewati ketika mencari ruang kepala sekolah tadi lalu memasukinya dan mengunci satu bilik yang berada disana.

Brak!

Setelah beberapa menit berada disana, tiba-tiba terdengar suara dari pintu depan yang dibuka. Key menutup keran airnya ketika mendengar suara beberapa langkah kaki masuk ke dalam toilet itu.

Brug!

Key mendengar suara punggung yang beradu dengan tembok dengan kerasnya. Dia segera menutup mulutnya, mendengar beberapa keributan darisana.

“Jadi, hanya sekecil ini nyalimu, huh sunbae?” kata sebuah suara.

“Kau—sudah terpojokan tapi masih saja berani? Hahahahaha kau mau cari mati, hah?” seru suara yang lain.

“Berikan pelajaran padanya, boss!”

“Patahkan tangannya, boss!”

“Hmph. Sunbae tidak malu harus membawa ‘pasukan’ untuk melawan seorang hoobae sepertiku?”

“Tutup mulutmu! Atau pukulanku yang akan menghentikannya!”

Key mendengar sebuah pukulan mendarat dan suara orang-orang yang mulai beradu fisik. Dia tidak bisa diam begitu saja. Menunggu di dalam kamar mandi hingga semua suara itu menghilang sama saja dengan tindakan seorang pengecut.

Dia mengeluarkan handphone touch berwarna pink dari saku celananya dan mulai membuka folder ‘Galeri’. Mencari subfolder ‘Nada’, lalu tersenyum kecut.

Pertunjukan baru saja akan dimulai, pikirnya.

Tiba-tiba saja terdengar suara sirine mobil polisi yang terus menggema. Kumpulan orang di luar mulai berseru panik dan satu demi satu berlari keluar dari toilet. Seperti yang Key pikirkan, orang-orang itu lebih mengandalkan otot daripada otaknya. Mungkin juga karena mereka tahu dirinya bersalah sehingga mereka pun langsung lari tanpa berpikir, hell yeah mana ada suara sirine sedekat itu dengan toilet? Disana kan tidak ada tempat terdekat yang cukup untuk memakirkan mobil polisi yang besarnya seperti itu. Dasar aneh.

Setelah yakin tidak ada suara, Key menggiring kopernya keluar dari bilik disana. Paru-parunya sudah pengap karena mencium aroma toilet yang begitu ‘semerbak’. Dia menatap cermin, membenarkan letak poninya dan terkejut karena melihat kehadiran orang lain—selain dirinya—dari pantulan benda pecah belah tersebut.

“Hei, Princess..”

Key berusaha mengacuhkan orang itu dengan tidak menjawab panggilannya.

“Uh.. Tidak mau menjawab panggilanku yang ramah? Ckck. Kau sudah mengganggu acara ku yang ‘menyenangkan’. Kau tahu? Aku bisa menghabiskan segerombolan pengecut itu dengan sekali pukulan. Tapi, kau malah membunyikan nada dari handphonemu itu” katanya sambil berpura-pura memanyunkan bibirnya kecewa, “yah, karena sepertinya kau murid baru. Aku akan melepasmu kali ini karena kau tidak tahu siapa aku”

Diam. Terdapat jeda yang cukup lama sebelum Key mencibir omongannya, “Oke. Lalu aku harus berterima kasih padamu sekarang? Terima kasih karena sudah melepaskanku because I have no idea who you are and else? Begitu?”

Orang itu terkekeh, baru sekali ini ada orang yang berani berkata seperti itu padanya, “Kau menarik”

“Yeah, thanks. I know I am” jawab Key sambil memutar kedua bola matanya, dia membalikan badannya dari cermin, kembali menggiring kopernya untuk keluar darisana.

Tap.

Dia harus menyimpan kopernya lalu menyilangkan kedua tangan di depan dadanya ketika orang itu kembali menghalangi akses jalannya.

“I think we just cleared every-fucking-thing. Now—” kata-kata Key tiba-tiba tercekat di tenggorokannya ketika dia melihat wajah orang itu dengan seksama.

Setetes darah masih tersisa di sudut bibirnya. Ya, hanya setetes. Tapi, itu semua cukup untuk membuat kaki Key berguncang hebat, keringat dingin mengucur di pelipisnya dan wajahnya berubah ketakutan.

Orang itu kaget ketika Key tiba-tiba saja berlaku aneh. Dia mencoba memegang kedua bahu Key, tetapi Key langsung menerobosnya dan berlari dari sana. Meninggalkannya sendiri dengan koper pink milik Key.

Laki-laki itu pun menghela nafasnya, memasukan kedua tangannya ke dalam saku sambil memandangi koper besar itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, “Kenapa kau terus meninggalkan sesuatu? Apakah ini petunjuk untukku, Princess?”

***

“Kau sudah baikan?” tanya seorang dokter dengan tulisan ‘Suho’ terjahit pada jas kerjanya.

Key mengangguk, masih merasa lemas walaupun sudah meminum obat untuk menghilangkan rasa mual dari perutnya.

“Istirahatlah disini sebentar sebelum kau masuk ke dalam kamarmu”

Key mengangguk lagi, dia menatap dokter yang sedang membereskan meja kerjanya itu. Di dalam ruang UKS tidak ada orang lain selain mereka berdua sekarang, Key rasa ini saat yang tepat untuk menanyakan rasa penasarannya tentang sekolah barunya ini.

“Dokter, boleh aku bertanya sesuatu tentang sekolah ini?”

Suho menghentikan pergerakan tangannya lalu mengalihkan pandangannya pada pasiennya sambil tersenyum.

“Tentu. Lagipula sekolah ini akan menjadi tempat tinggal bagimu selama beberapa tahun ke depan. Apa yang ingin kau tahu?”

“Aku.. merasakan banyak yang tidak beres dengan sekolah ini. Bangunan tua, banyak coretan, bau pesing dimana-mana, kepala sekolah sedang berlibur, ruang kepala sekolah menjadi arena billiard, ketua OSIS menggantikan tugas kepala sekolah, siswa-siswa terus menggodaku dan aku melihat ada pertengkaran antara sunbae dengan hoobae. Wow, aku baru satu jam berada disini dan lihat apa saja yang telah kutemukan!” kata Key tidak percaya dengan rentetan kalimat yang baru saja dikatakannya.

Suho terkekeh kecil mendengar penjelasan Key, “Ya, itu baru satu jam, belum satu hari” candanya yang membuat Key mengirimkan death glare padanya.

Suho tertawa lalu ekspresinya berganti serius, “Um.. Aku tidak tahu harus memulai dari mana, tapi ya beginilah keadaan sekolah ini. Dulu, Yonsei High School adalah sekolah yang terkenal dengan prestasinya di bidang akademik maupun non-akademik. Tapi, sekarang sekolah ini terkenal dengan prestasinya dalam menghancurkan sekolah lain, prestasinya dalam memenangkan tawuran antar sekolah, prestasinya dalam segala hal yang berbau dengan kriminal” Suho menarik nafasnya, “kalau boleh aku jujur, sekolah ini menjadi sekolah berandalan sejak ditetapkan menjadi sekolah khusus putra tiga tahun yang lalu. Percayalah, sekumpulan pria disatukan dalam satu tempat adalah ide terburuk yang pernah kudengar. Mereka hanya akan menghasilkan ego diri yang sangat tinggi karena saling merasa lebih kuat dari semua lelaki yang ada disini. Mereka bertarung untuk membuktikan siapa yang terkuat dan itulah yang terjadi disini. Oh, sebagai tambahan, Kepala Sekolah tidak sedang berlibur, dia sedang di penjara karena harus menanggung semua dosa siswa-siswanya”

Key membelakakan matanya, menggebrak meja kerja Suho dengan begitu keras, “Gila! Ini bukan sekolah! Ini sarang penyamun!”

Suho tertawa kecil mendengar responnya, “Exactly, lalu apa yang membuatmu pindah ke sekolah ini?”

Diam.

Key tidak tahu harus menjawab apa mengenai hal yang satu itu, dia sendiri tidak tahu menahu mengapa Appanya mengirim kembali dirinya ke Korea, terlebih ke sekolah ini. Ke sarang penyamun ini.

“Aku juga.. tidak tahu”

***

“Hei, Key!” Key melihat Minho berlari mendekatinya setelah dia keluar dari UKS.

“Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu terlihat pucat?”

Key menepis bahunya pelan, “Aku tidak apa-apa. Jangan sok perhatian begitu” katanya sambil terkekeh.

“Uh.. Oke?”

Merekapun berjalan beriringan, beberapa pasang mata memandang aneh kepada mereka dan itu membuat Key sedikit risih.

“Bisa kau meninggalkanku sendiri? Perutku agak mual dan kepalaku sedikit pusing” pinta Key sehalus yang dia bisa.

“Kau sudah menemukan kamar asramamu?”

Pertanyaan Minho membuat matanya terbelalak, akhirnya mengetahui mengapa langkahnya terasa begitu ringan, “Astaga, Minho! Koperku! Dimana koperku?”

Key mengingat-ingat saat terakhir dia bersama benda pink besar itu, sedikit menghela nafas setelah mengetahui—setidaknya—orang yang mungkin melihatnya selain dia, his ‘Prince’.

“Bagaimana bisa kau menghilangkannya? Dimana terakhir kali kau menyimpannya?”

“Ah, sudahlah Minho.. Lupakan” potong Key sedikit acuh.

“Bagaimana bisa kau melupakannya begitu saja? Itu kopermu! Barang berhargamu mungkin saja berada di dalamnya!”

“For sure yes. Sekolah ini sudah cukup memberikan begitu banyak masalah di dalam kepalaku dan aku tidak ingin menambah masalah lagi dengan keberadaan koper itu. Sudahlah, aku yakin aku akan menemukannya”

“Tapi—”

“Bisa tinggalkan aku sekarang? Pretty please?” mohon Key dengan lebih halus.

Minho menghela nafasnya lalu menepuk pundak Key pelan, “Baiklah kalau itu maumu. Tapi, kalau kau butuh apa-apa, kau tahu dimana kau bisa menemukanku. Ok?”

Key tersenyum, Minho pun berbalik untuk meninggalkan Key.

“Key!” panggilnya lagi di saat Key baru saja melangkah. Key membalikan badannya. Menatap Minho dengan sedikit ekspresi risih terlihat pada wajahnya.

“Apa?”

Minho seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi malah cengengesan kecil yang keluar dari mulutnya, “Nothing hehe. Sorry, aku lupa mau bilang apa”

***

Key berhenti di depan sebuah pintu, meyakinkan sekali lagi kalau angka yang tertulis di sana adalah angka 32, nomor kamar asramanya—seperti apa yang Minho katakan.

Dia mengambil sebuah kunci dari saku celananya, sedikit bersyukur karena dia tidak menyimpan kunci asramanya di dalam koper. Kalau tidak, seorang Key bisa terdampar di depan kamar asramanya sendiri saat ini dan itu sangat amat memalukan.

Cklek.

Pintunya terbuka, ternyata benar ini kamar asramanya. Dia sedang tidak mau ambil pusing dengan memikirkan siapa teman sekamarnya. Yang dia inginkan sekarang adalah pergi tidur dan melupakan semua penat di kepalanya. Untunglah sekarang hari Minggu jadi sekolah memang libur. Tetapi, mengingat kalau besok adalah hari Senin dimana dia akan memulai hari pertamanya sebagai ‘siswa’ di ‘sekolah’ ini, membuat rasa pusing di kepalanya sedikit bertambah.

Aih, lupakan semua hal itu, Kim Kibum.. Rileks rileks, pikirnya.

Dia menarik nafas lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar.

Hal pertama yang dia lihat dari dalam kamarnya adalah koper pink besarnya yang terlihat terlalu bercahaya di sudut kamarnya. Apa boleh buat, warnanya memang terlalu mencolok.

“Eh, tunggu.. Sepertinya ada yang salah.. Koper? Koper pinkku! Kenapa bisa ada disini?!”

Key langsung menghambur masuk ke kamarnya, berlari mendekati kopernya, mengecek isinya, dan memeluk benda mati itu sambil tersenyum lebar.

“God! I always know that we will meet again!” Key mencium kopernya lalu mendengar suara kekehan kecil dari arah kamar mandi.

“Yes, Princess.. Finally, I found you..” Key merasakan bulu kuduknya merinding. Dia membalikan badannya dengan ragu, menemukan orang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini dalam keadaan topless. Sebuah handuk melingkar di pinggangnya, rambut basahnya dibiarkan berantakan dan yang paling menyebalkan adalah seringaian di wajahnya itu.

“Neo!!”

To be continued..

Advertisements

5 responses to “JongKey | Meet to Love You | Part 1

  1. chinguuu.. minta PW buat next partnya dooonnnkkk T^T
    eheyyyy… itu Jonghyun itu si ‘Prince’ kekekeke..
    ini lanjutan born to love you bukan sih?? cuma versi udah gedenya gitu..
    aku suka! JongKey Jeil Jalnaga!!!

  2. minta pw buat part 2 sama 3 donk.. aku udah mention di twitt tapi ga dibales T^T
    ini email aku ahdini@yahoo.com
    please give me the password.. cepet ya kalo bisa gomawo ^^

  3. aku suka ceritanya. thor boleh minta PW buat part-part selanjutnya ga? kalo boleh yang born to love you nya juga. soalnya aku belum baca yang itu juga. email aku anditamaharani71@yahoo.co.id

  4. saya suka sama ceritanya.. thor boleh minta PW part-part selanjutnya ga? kalo boleh sih sama yang born to meet you nya juga. ya?
    email aku anditamaharani71@yahoo.co.id

  5. sumpah ceritanya seru abis ❤ :*
    min, tolong kirimin password buat part selanjutnya ya : hanrian37@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s