JongKey | Born to Meet You | Part 1


Author : Mak Erot JKK

A/N : SETRES! *ala Kang Gary

Oh ya lu pade, ntar udah solat taraweh jangan lupa ngetrendingin #JONGKEYPROMISE di twitter ye! Sekitar jam 22.00 WIB. Ok ok? Liat detailnya di JongKey Kingdom~

ah~ bener-bener ga kerasa tinggal 9 tahun lagi huks. A-Yo kita parteeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!!

—–JKK Entertainment : Ngabuburit Version [SAY NO TO NC]——

Fanart credit: lansonkai


Pagi ini cuaca cerah di kediaman keluarga Kim. Seorang wanita berambut panjang sebahu yang bekerja sebagai perawat masuk ke kamar dengan label bertuliskan ‘Kibummie’ pada pintunya.

Cklek.

Wanita itu tersenyum melihat anaknya yang sedang sibuk memasukan barangnya ke dalam tasnya, anak bermata kucing dengan lesung pipi dan bibir hati itu sesekali terlihat berpikir sebelum memasukkan kembali barangnya ke dalam tas berwarna pink tersebut.

“Aigoo Kibummie~ apa yang kau lakukan?” Anak itu menoleh lalu seketika tersenyum melihat kedatangan ibunya, membuat pipinya terlihat bertambah chubby. Ibunya ikut tersenyum, tak tahan, ia pun mencubit kedua pipinya dengan sayang.

“Kau bangun pagi sekali, sayang~” dia memindahkan tangannya lalu mengelus rambut cokelat Kibum dengan lembut, “oh! Bahkan kau bangun sendiri! Ah, eomma tidak sempat membangunkanmu dong~ Padahal kan eomma paling suka melihat wajahmu yang sedang tertidur” katanya dengan wajah yang dibuat sesedih dan sekecewa mungkin.

“Eomma~ Kibummie tidak sabar untuk masuk sekolah” anak itu meraih tasnya yang sudah mengembung, entah terisi apa, “apa lagi yang harus kubawa, eomma?”

Wanita itu membuka tas berwarna pink bertuliskan ‘Kim Kibum’ di depannya, sedikit terkejut ketika melihat apa saja isi yang ada di dalamnya.

“Aigoo, Kibummie~ Apa ini?” seru eommanya ketika mengeluarkan boneka dinosaurus berwarna hijau darisana.

“Itu kan Dino, boneka kesayangan Kibummie. Masa eomma tidak ingat?” Kibum memanyunkan bibirnya, membuat pipi chubbynya semakin melebar. Di matanya tersirat sedikit kekecewaan.

“Tentu saja eomma ingat, sayang~ Maksud eomma, kenapa kau memasukan ini ke dalam tasmu?”

Kibum mengambil Dino dari tangan eommanya lalu memeluknya erat-erat, “Kibummie mau membawa Dino ke sekolah. Kibummie tidak mau Dino kesepian selama Kibummie belajar di sekolah. Kibummie kan tidak pernah meninggalkan Dino sendirian”

Eommanya tertawa sambil mengelus pipi Kibum, “Aigoo, Kibummie~ haha aigoo, kau benar-benar… Haha” Kibum mengedipkan matanya beberapa kali melihat eommanya yang malah tertawa. Memangnya ada hal yang patut untuk ditertawakan?

“Aduh.. Begini, sayang.. Sekolah itu tempat untuk belajar dan bermain. Di sana sudah ada mainan yang bisa kau mainkan bersama teman-temanmu nanti. Jadi, kau tidak usah membawa Dino bersamamu” dia mengambil kembali boneka dinosaurus hijau berukuran sedang itu dari dekapan Kibum lalu menaruhnya di samping tempat tidur Kibum.

“Tapi.. Nanti Dino kesepian..” gumam Kibum polos.

“Dino tidak akan kesepian, sayang.. Dia pasti akan menunggumu sampai pulang sekolah dengan senyuman di wajahnya. Kau tahu?” Eomma Kibum menarik wajah Kibum agar mata Kibum bertemu dengan matanya, “Dino pasti berharap kalau Kibummie mempunyai banyak teman baru di sekolah” ujarnya dengan senyum yang selalu membuat Kibum merasa aman, nyaman dan.. dikasihi.

Kibum mengerjap-ngerjapkan matanya lalu dia pun ikut tersenyum, senyum polos dari seorang anak kecil berumur lima tahun.

“Benarkah itu? Dino tidak akan marah kalau Kibummie punya banyak teman baru?”

Eomma Kibum mengangguk sambil mencubit kecil pipi Kibum.

“Tentu, sayang.. Lagipula, Dino pasti ikut senang kalau Kibummie juga senang. Tapi, sebelum itu..” Eommanya menahan tawa melihat piyama pink bergambar bebek-bebek berwarna kuning yang masih melekat di badannya, “Kibummie harus mandi lalu ganti baju, Kibummie tidak boleh memakai piyama ke sekolah”

Kibum menggembungkan pipi chubbynya, “Tidak boleh? Padahal kan ini piyama kesukaan Kibummie! Sekolah itu aneh!” racaunya ketika Eommanya membuka kancing piyamanya satu persatu.

“Sekolah tidak aneh, sayang.. Disana semua muridnya harus berpakaian yang sama supaya tidak ada perbedaan dan semuanya bisa bebas berteman dengan siapa saja. Makanya, Kibummie harus memakai seragam ke sekolah”

Kibum lagi-lagi mengerjapkan matanya lucu, “Seragam itu apa?”

Eomma Kibum menunjuk sebuah baju yang tergantung di lemari pakaiannya, sebuah baju berwarna putih dengan celana selutut berwarna biru tua dan rompi yang juga berwarna biru tua. Ada sebuah dasi kupu-kupu berwarna biru muda yang melengkapi semua bagian dari seragam TK Yonsei, TK yang baru akan dimasuki oleh Kibum hari ini.

“Semua memakai baju itu?” tanya Kibum tidak percaya.

“Iya. Semua. Teman-temanmu juga akan berseragam sama sepertimu. Bukankah itu bagus?”

Eomma Kibum tersenyum melihat Kibum yang mulai tersenyum lebar sambil memandangi seragamnya, mungkin sedang membayangkan bagaimana kehidupan sekolah itu. Dan pastinya, Kibum membayangkan semua hal yang menyenangkan.

“Sangat bagus! Ayo, eomma! Kibummie mau mandi dan memakai seragam! Sekolah, Kibummie dataang~”

Kibum tiba-tiba bersemangat, dia menarik lengan eommanya ke kamar mandi sambil berlari-lari dengan kakinya yang mungil.

***

Eomma Kibum terdiam sambil memandangi Kibum yang terduduk di kursi sebelahnya. Sudah beberapa menit sejak mereka tiba di TK Yonsei, tetapi Kibum tidak juga beranjak dari kursi mobilnya. Tangan kecilnya memainkan sabuk pengaman yang masih melingkar di sekitar tubuh mungilnya, matanya terlihat memikirkan sesuatu.

Eomma Kibum menyadari bahwa Kibum menatap gugup pada kawanan orang tua murid dan calon teman-temannya yang memenuhi halaman taman kanak-kanak tersebut.

“Ayo kita turun..” Serunya setengah bernyanyi. Ketika tangannya hendak melepas sabuk pengaman dari tubuh Kibum, tiba-tiba saja Kibum menahannya. Tangan lembut itu terasa dingin. Benar-benar gugup ternyata, padahal tadi dia yang begitu semangat pergi ke sekolah.

“Ada apa, Kibummie?” tanya eommanya.

Kibum memanyunkan bibirnya lalu menarik nafas dan meniup poninya, “Haah~ Kibummie rasa sekarang Kibummie siap, Hwaiting!”

Eommanya tertawa kecil melihat kelakuan Kibum. Dia sudah punya cara tersendiri untuk meredam rasa gugupnya dan itu benar-benar lucu.

Eomma Kibum segera membuka pintu mobil lalu menurunkan Kibum darisana. Mereka berjalan bergandengan tangan memasuki halaman sekolah dan berhenti tepat di depan kelas yang sepertinya adalah kelas Kibum.

“Maaf..” seru eomma Kibum dan seorang wanita berbarengan. Eomma Kibum menoleh dan wanita itu pun menoleh, tersenyum sebelum mereka kembali bertanya pada seorang perempuan yang sepertinya adalah guru disana.

“Apa benar ini kelas A?” Lagi. Kedua wanita itu kembali menoleh lalu tertawa karena mereka lagi-lagi melontarkan pertanyaan yang sama.

“Ah, iya benar. Ini kelas A dan aku guru disini. Namaku Kim Taeyeon lalu perempuan di sebelahku ini adalah calon guru yang sekarang menjadi asistenku, Seo Joohyun. Dia lebih senang dipanggil Seohyun” katanya sambil menunjuk perempuan berambut panjang yang terlihat lebih muda darinya dan perempuan itu segera membungkuk hormat.

“Baiklah, Taeyeon-sshi.. Uhm dan putra anda di kelas A juga?” Tanya eomma Kibum, menoleh pada wanita yang tadi bicara bersamaan dengannya.

“Ah iya. Ini putraku” sahut perempuan itu sambil mengenalkan putranya yang berdiri di sebelahnya.

“Bagus sekali! Kibummie kau punya teman ba—eh ada apa denganmu Kibummie?” khawatirnya ketika dia melihat Kibum memeluk kakinya erat-erat, berusaha menyembunyikan wajahnya.

Tatapan eomma Kibum menangkap apa yang sedang dilihat Kibum dan apa yang telah membuat anak semata wayangnya itu terlihat takut.

“Ah.. Kau melihat anak-anak yang sedang menangis disana?” tanyanya yang dijawab anggukan lemah dari Kibum.

“Eomma, kenapa mereka menangis ketika eomma mereka meninggalkan mereka? Apa sekolah itu menakutkan? Kibummie tidak mau sekolah! Kibummie mau pulang hik” eomma Kibum bertambah khawatir ketika Kibum mulai menangis. Dia segera berjongkok, melepas pelukan Kibum dari kakinya lalu menatapnya dengan raut wajah yang cemas.

“Ani, sayang.. Sekolah itu menyenangkan, mereka menangis karena.. Uhm..” Eomma Kibum menyusut air mata Kibum dengan ibu jarinya, sementara dia terdiam, tidak tahu harus berkata apa pada situasi tak terduga seperti ini.

Baru saja eomma Kibum hendak mengatakan apapun itu yang ada di kepalanya, tiba-tiba saja sebuah tangan kecil meraih tangan kecil Kibum yang sibuk menyusut air matanya di sudut matanya. Tangan kecil itu lalu menggenggam tangan kecil Kibum yang akhirnya membuat Kibum berhenti menangis—walau masih terisak—lalu menoleh ke arah pemilik tangan kecil yang terasa hangat dan menenangkan itu.

“Jangan menangis, ayo kita masuk ke kelas” kata anak laki-laki itu yang ternyata adalah putra dari wanita tadi. Wajahnya datar walau terlihat keseriusan di sinar matanya.

Kibum terdiam. Dia menilik wajah anak laki-laki itu dengan seksama. Anak laki-laki itu mempunyai alis yang tebal, hidungnya mancung—walau lubang hidungnya sedikit besar, bibirnya tebal, pipinya chubby, rahangnya lebih tegas daripada Kibum, rambutnya berwarna brunette—terlihat halus diterpa oleh angin, dan yang paling penting adalah matanya. Kedua bola mata hazelnya yang bulat terlihat seperti puppy lalu jika Kibum ditanya mengenai pendapatnya tentang wajah anak laki-laki itu, maka dia akan menjawab..

“Dino!” Kibum beranjak dari hadapan eommanya lalu memeluk anak laki-laki itu. Sepenuhnya sudah melupakan bahwa tadi dia sedang menangis dan ketakutan.

“Dino?” Eomma anak itu, Taeyeon, dan Seohyun bertanya kebingungan. Eomma Kibum tertawa kecil sebelum dia menjelaskan kepada mereka semua.

“Uhm.. Kibum mempunyai sebuah boneka kesayangan. Boneka itu berbentuk dinosaurus berwarna hijau dan yah.. nama boneka itu adalah Dino. Sepertinya Kibum menganggap..”

“Jonghyun, Kim Jonghyun” potong eomma anak itu.

“Uhm.. Ya, Kibum sepertinya menganggap Jonghyun mirip dengan bonekanya” Eomma Kibum sedikit memelankan suaranya, takut-takut kalau eomma Jonghyun akan marah karena anaknya disamakan dengan dinosaurus.

“Apa? Dinosaurus? Wahahahahahaha aku tahu kalau anak itu memang mirip binatang purba! Aigoo hahaha” dan eomma Kibum seketika terdiam ketika eomma Jonghyun malah menertawakan—setengah meledek—anaknya sendiri. Taeyeon dan Seohyun juga terlihat kebingungan dengan situasi di depan mereka.

Taeyeon mengambil inisiatif, dia mendekati Kibum dan Jonghyun lalu berjongkok di depan mereka.

“Annyeong, Kibummie, Jonghyunnie.. Aku Taeyeon dan aku guru kalian disini. Kelas sebentar lagi akan dimulai. Ayo, simpan tas kalian lalu duduklah di bangku yang kalian mau”

“Ne!” jawab Jonghyun datar, berbeda dengan Kibum yang menjawab dengan lantang bersemangat.

“Ayo, Dino!” Kibum menggenggam tangan Jonghyun sambil menyeret Jonghyun masuk ke dalam kelas bersamanya. Senyum tak henti-hentinya mengembang di wajah imutnya.

Seohyun segera mengikuti mereka untuk mencari bangku sementara Taeyeon kembali menolehkan pandangannya ke arah dua orang tua murid yang ada di dekatnya.

“Kami akan berusaha menjaga anak-anak kalian dengan baik, jadi kalian tidak usah khawatir”

Eomma Kibum tertawa kecil, diikuti oleh eomma Jonghyun, sepertinya mereka memiliki pikiran yang sama.

“Aku bertaruh mereka akan baik-baik saja, sekarang pun mereka lupa untuk berpamitan pada kita ckck”

***

Pelajaran pertama hari itu adalah mewarnai. Ada kurang lebih 20 orang anak di kelas A. Tempat duduknya diatur sedemikian rupa sehingga terdapat 5 kelompok besar disana. Satu kelompok terdiri dari 4 buah meja dan 4 buah kursi yang disatukan sehingga 4 orang anak duduk dengan melingkar di dalamnya.

Kibum duduk dengan Jonghyun di sebelah kanan sedangkan di sebelah kiri dan depannya duduk dua orang anak perempuan yang dia tidak tahu namanya siapa, mereka belum sempat berkenalan lagipula.

Mereka semua tenggelam dengan apa yang sedang mereka kerjakan. Kibum sibuk mewarnai gambar rumah yang Taeyeon berikan padanya. Lalu, ia berpikir untuk menoleh pada Jonghyun, melihat sekilas apa yang sedang Jonghyun warnai.

“Wah.. Dino mewarnai Dino” seru Kibum ketika dia melihat Jonghyun mewarnai gambar seekor dinosaurus.

Mata Kibum tiba-tiba terbelalak ketika Jonghyun hendak mewarnai dinosaurus itu dengan warna ungu.

“Ani, ani. Dino itu warnanya harus hijau” katanya lalu menukar crayon ungu di tangan Jonghyun dengan warna hijau.

Jonghyun hanya terdiam lalu tangannya kembali menggoreskan crayon—yang sekarang berwarna hijau—di tangannya di atas gambar dinosaurus.

Sret.

“Aaaaah!” Kibum berteriak. Taeyeon dan Seohyun yang sedang mengajari cara mewarnai kepada anak lain menoleh ke arah mereka, tetapi mereka kembali mengajari anak-anak itu ketika Kibum terlihat baik-baik saja dan sedang mengobrol dengan Jonghyun—walau Jonghyun tidak membuka mulutnya sama sekali.

“Dino, tidak boleh mewarnai keluar garis! Sini, Kibummie akan mengajarimu” Kibum mengambil crayon di tangan Jonghyun lalu mulai mewarnai pinggiran dari gambar dinosaurus tersebut terlebih dahulu dengan cekatan. Lidahnya menekuk ke atas mulut sebelah kanannya, tanda bahwa dia sedang serius.

“Nah, setelah mewarnai pinggirannya baru mewarnai isinya. Ingat, jangan sampai keluar garis dan mewarnainya harus searah” kata Kibum pada Jonghyun. Jonghyun mengambil crayon dari tangan Kibum lalu mulai mewarnai gambarnya dengan sesuka hati, tanpa mendengar perkataan Kibum tadi.

“Ya! Aduh, kenapa mewarnainya begitu? Sini, Kibummie saja yang akan mewarnainya!” Kibum hendak mengambil crayon hijau dari tangan Jonghyun, tetapi Jonghyun menggenggam erat-erat crayonnya. Tangan Kibum yang lain ikut menggenggam crayon itu, tapi Jonghyun tetap tidak memberikan crayon hijaunya.

“Berikan crayonnya pada Kibummie! Uuh.. Dino.. Berikan crayonnya!!” Kibum mulai berteriak sambil terus menarik crayon itu dari Jonghyun. Mereka berdua merebutkan crayon itu dengan posisi berdiri berhadapan. Taeyeon dan Seohyun mendengar ada keributan dari arah meja mereka, kedua guru itu pun segera beranjak menghampiri mereka, tetapi sepertinya semua sudah terlambat.

Trak!

Brug!

Crayon itu terbelah menjadi dua. Setengah berada di genggaman Jonghyun yang masih berdiri terdiam, matanya memandangi Kibum yang jatuh terduduk di depannya. Kibum pun memandangi setengah crayon yang ada di tangannya, matanya mulai berkaca-kaca dan akhirnya tangisnya pun meledak.

“Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaa” Kibum menengadahkan kepalanya, tangisnya begitu keras. Entah karena dia tidak berhasil mendapatkan crayonnya entah karena dia terkejut karena jatuhnya lumayan keras.

Jonghyun memandang Kibum dan crayonnya bergantian, kristal-kristal air mata berkumpul di sudut matanya. Sedetik kemudian, dia pun turut menangis keras.

“Huwaaaaaaaaaaaaaa” Jonghyun menyimpan lengan kanannya di atas kedua matanya, menutup kedua matanya yang sekarang dibanjiri oleh air mata.

“Aigoo!” Taeyeon berjongkok menghampiri Kibum lalu menggendong Kibum sambil menepuk-nepuk punggungnya seraya berkata ‘Gwaenchana, Kibummie anak yang kuat, gwaenchana..’ tepat di telinganya.

Seohyun pun mengambil alih Crying Boy yang lain. Dia sedikit menunduk lalu mengapit kedua tangannya pada ketiak Jonghyun dan menggendongnya dengan mudahnya. Seohyun menenggelamkan kepala Jonghyun pada pundaknya lalu dia mulai mengelus-elus punggung Jonghyun, menyanyikan sebuah lagu dengan suara indahnya, berharap Jonghyun dapat tenang dengan itu semua.

“Huwaaaaaaaaaaaaa”

“Huwaaaa huwaaaaa” Kibum dan Jonghyun masih menangis keras. Taeyeon dan Seohyun terpaksa membawa kedua anak laki-laki itu keluar kelas sambil terus menenangkan mereka, Taeyeon pun meminta bantuan guru dari kelas lain agar memantau kelas A untuk sementara waktu, hingga Kibum dan Jonghyun dapat tenang kembali.

***

Jonghyun terbangun. Samar-samar dapat di dengarnya suara Taeyeon dan Seohyun yang sedang mengajar. Jonghyun mengingat apa yang dilakukannya terakhir kali dan dia ingat kalau seharusnya saat ini dia juga termasuk anak yang sedang diajar oleh kedua guru itu, ya.. sebelum dia menangis lalu terlelap ketiduran karena kecapekan.

Jonghyun menyingkirkan selimut yang menyelimuti tubuh kecilnya dan tak sengaja kakinya menyenggol sesuatu. Dia menengok ke kanan, sedikit terkejut ketika menemukan kalau tidak hanya dirinya yang tertidur di ruangan itu.

Kim Kibum.

Orang yang menangis bersamanya tadi masih terlelap di sebelahnya. Bekas air mata masih nampak di wajahnya yang terlihat damai.

“Uhm.. Crayon.. Dino.. Eung..” Kibum meracau tidak jelas. Kedua alis Kibum bertautan, entah bermimpi apa.

Jonghyun menelusuri Kibum yang sedang tertidur itu lalu dia menemukan bahwa tangan kanannya masih menggenggam sesuatu. Potongan crayon berwarna hijau.

Jonghyun merogoh saku rompinya, mengeluarkan potongan crayon lain yang masih ada padanya.

Dia menatap crayon itu dan tangan kanan Kibum secara bergantian. Setelah yakin, Jonghyun meraih tangan kanan Kibum lalu membukanya perlahan-lahan.

Tuk.

Potongan crayon dari tangan Kibum jatuh ke atas lantai. Jonghyun pun mengambilnya. Setelahnya, ia beranjak dari tempat tidur, menjauh dari tubuh terlelap Kibum.

Lima menit kemudian, kelopak mata Kibum terbuka. Kibum mendudukkan dirinya sambil mengucek-ucek kedua matanya. Ia melirik ke sekitar sampai matanya berhenti, menatap seseorang yang terduduk di pinggiran jendela.

“Dino..” Kibum berjalan mendekati Jonghyun, sesekali masih mengucek mata kucingnya. Dia berhenti tepat di pinggiran jendela, menyimpan kedua tangannya yang terlipat di sisi pinggiran jendela, Jonghyun duduk di sudutnya sehingga ada ruang kosong yang sekarang Kibum gunakan untuk menyimpan tangannya itu. Kibum memposisikan kepalanya di atas ke dua tangannya lalu memandang ke luar, ke arah yang sedang Jonghyun amati.

“Dino sedang apa? Hoam” Kibum bertanya sambil menguap lucu.

Jonghyun tidak menjawab, tidak juga melirikan matanya pada Kibum. Dia hanya sibuk memandang ke depan, ke arah lapangan bola sambil mengodok saku rompinya.

Sret.

Tiba-tiba sebuah benda menutupi pandangan Kibum. Kibum memandang benda yang ternyata crayon itu lalu menatap heran ke arah orang yang mengulurkan crayon tersebut di depan matanya, Jonghyun.

Jonghyun masih tidak berbicara, dia menggenggam tangan Kibum lalu membaliknya, menaruh crayon itu di atas telapak tangan kanannya.

“Apa ini?” Kibum tetap bertanya, meminta penjelasan dari Jonghyun.

Kibum menatap bingung crayon di tangannya dan akhirnya dia teringat kalau itu adalah crayon yang tadi terbelah dua karena ulah mereka. Tetapi, crayon itu sudah menyatu lagi sekarang. Ada sebuah plester berwarna merah muda yang tertempel di tengahnya, plester itulah yang membuat crayon tersebut kembali menyatu.

“Maaf..” Kibum menengadahkan kepalanya. Jonghyun akhirnya berbicara lagi. Selama seharian ini mereka bersama, Kibum hanya pernah mendengar suaranya ketika Jonghyun mengajaknya masuk kelas tadi pagi, setelah itu Jonghyun hanya terdiam dan terdiam.

Kibum menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Jonghyun, lalu dia tersenyum, tahu bahwa Jonghyun tidak berniat untuk berbicara lagi. Tapi, Kibum mengetahui apa maksud dari satu kata ‘maaf’ yang Jonghyun lontarkan.

Kibum melihat crayon di tangannya sekali lagi lalu dia menggenggamnya dan memasukannya ke dalam saku celananya.

“Kibummie juga minta maaf dan Kibummie berjanji, Kibummie akan menjaga baik-baik crayon pemberian dari Dino” mata kucingnya membentuk bulan sabit ketika tersenyum kepada Jonghyun. Jonghyun memandang Kibum sekilas sebelum dia mengalihkan pandangannya kembali ke depan.

“Jonghyun”

“Hah?” Kibum memiringkan kepalanya keheranan.

“Namaku Jonghyun, bukan Dino”

Kibum mengernyit dan senyum kembali terpasang di wajahnya, “Ah, tentu saja! Dino—um.. maksud Kibummie.. Jjongie.. yah, Kibummie akan memanggil Jonghyun dengan Jjongie, bagaimana?”

Jonghyun menundukkan kepalanya, wajahnya sedikit bersemu. Kibum seperti melihat ada senyum yang terukir di wajahnya, tapi Kibum tidak yakin karena semuanya terjadi begitu cepat.

“Terserah” gumam Jonghyun hampir tidak terdengar.

“Ah, kalian sudah bangun?” ujar Taeyeon yang memasuki ruangan itu, entah sejak kapan. Di belakangnya ada Seohyun yang tersenyum kecil.

“Sepertinya mereka tidak hanya sudah bangun, tapi mereka juga sudah berbaikan, eonnie..”

“Ya! Siapa yang bilang kalau mereka bertengkar?” Taeyeon menepis pelan tangan Seohyun, mulutnya bergumam sesuatu mengenai ‘Tidak boleh ada murid yang bertengkar di kelasku’.

Seohyun memutar kedua bola matanya lalu dia menurunkan Jonghyun dari pinggiran jendela, “Aigoo.. Kenapa kau bisa naik kesini? Ini kan bahaya”

Taeyeon mengelus kepala Kibum lalu berganti menatap Jonghyun yang sekarang berdiri di sebelah Kibum, “Kelas baru saja selesai. Teman-teman kalian juga sudah pulang ke rumah. Ayo, kalian juga pulang.. Eomma kalian sudah menjemput”

“Ne~” Kibum menjawab semangat lalu dia meraih tangan kiri Taeyeon. Kibum menyadari kalau Jonghyun masih terdiam di tempatnya. Dia pun meraih tangan kanan Jonghyun lalu menggenggamnya untuk berjalan bersamanya.

“Ayo, Jjongie!”

Taeyeon dan Seohyun bertukar pandangan bingung ‘Jjongie?’ tanya Taeyeon tanpa suara yang dijawab gelengan kepala oleh Seohyun, tanda bahwa dia juga tidak tahu sejak kapan Kibum memanggil Jonghyun dengan panggilan seperti itu.

Seohyun akhirnya tersenyum, ia mengedikkan bahunya sambil menggenggam tangan kiri Jonghyun yang terasa kecil berada di genggamannya.

“Kkaja!”

Dan mereka pun berjalan beriringan dengan tangan yang saling tertaut satu sama lain.

***

“Ah, eomaaaa~” Kibum adalah orang yang pertama melepas genggaman tangan mereka ketika dia melihat eommanya yang berdiri di luar kelas.

“Aigoo~” eomma Kibum memeluk Kibum yang berlari kecil ke arahnya lalu langsung menggendongnya, “apa Kibummie merindukan eomma?” tanyanya sambil mencubit hidung mancung Kibum.

“Hu um! Kibummie sangaaaaaat merindukan eomma!” seru Kibum seraya merentangkan tangannya selebar yang dia bisa.

Sementara itu, Eomma Jonghyun pun menggendong Jonghyun ke pangkuannya, menanyakan beberapa pertanyaan yang dijawab Jonghyun dengan anggukan atau gelengan kepala.

“Mereka tidak berulah kan?” Eomma Jonghyun menanyakan pertanyaan yang juga ingin ditanyakan oleh eomma Kibum.

“Um..” Seohyun melirik Taeyeon dari sudut matanya dan mereka pun tersenyum.

“Tidak. Mereka berdua menjadi anak yang baik selama satu hari ini” Taeyeon menghampiri Jonghyun yang berada di gendongan eommanya lalu menyodorkan sebuah permen di hadapannya. Seohyun pun melakukan hal yang sama pada Kibum.

“Hadiah untuk anak yang baik seperti kalian” kata mereka berbarengan. Kibum menerimanya dengan wajah bahagia setelah mengucapkan terima kasih pada Seohyun. Jonghyun juga menerima permen dari Taeyeon, menggumamkan ‘gomawo’ dengan kepala tertunduk. Taeyeon pun tersenyum sambil mengelus kepalanya.

“Geurae, Taeyeon-sshi, Seohyun-sshi.. Kami pamit dulu”

“Kami juga” lanjut eomma Kibum.

“Ne, hati-hati di jalan, Kibummie, Jonghyunie!”

“Bye-bye!” kata Kibum dengan pelafalan bahasa Inggris yang terdengar lucu, membuat kedua guru itu tersenyum kecil ke arahnya.

Ketika sampai di depan gerbang, eomma Jonghyun mengucapkan salam perpisahan kepada eomma Kibum karena mereka harus berpisah. Rumah Jonghyun berada di sebelah kanan jalan dari TKnya sementara rumah Kibum berada di arah yang sebaliknya.

“Annyeong, Jjongie! Sampai ketemu besok!” perkataan Kibum sempat membuat eomma Jonghyun kembali membalikkan badannya, tapi dia hanya tersenyum lalu melanjutkan kembali perjalanannya bersama Jonghyun. Kedua rumah mereka tidaklah terlalu jauh sehingga baik eomma Jonghyun maupun eomma Kibum memutuskan untuk berjalan kaki.

Eomma Kibum tersenyum sambil membalikkan tubuh Kibum untuk mulai berjalan.

“Jadi.. Kalian sudah berteman, hm?”

Kibum menganggukkan kepalanya antusias, “Hu-um! Jjongie bahkan memberikan Kibummie hadiah!” serunya sambil meremas kecil crayon yang ada di sakunya. Eomma Kibum kembali tersenyum memandangi wajah anaknya yang terlihat begitu bahagia.

“Sudah eomma bilang, sekolah itu menyenangkan!” Eomma Kibum menggenggam tangan Kibum supaya berjalan beriringan sambil merapatkan jarak di antara mereka—agar mereka tidak berjalan terlalu ke tengah, “sepertinya, Kibummie menyukai Jongh—Jjongie ya?”

“Ne, eomma! Kibummie saaaaaaangat menyukai Jjongie!”

Kali ini, Eomma Kibum tersenyum penuh arti mendengar jawaban polos dari anaknya.

To be continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s