| JONGKEY | Oh! My Ninja | #7 – The Last Man Standing (END) |


Key membuka kelopak matanya perlahan, beberapa cahaya yang masuk melalui celah-celah jendela pun segera menyambutnya. Ia menutup matanya kembali lalu beringsut duduk. Tangannya mengucek-ucek matanya, setelahnya ia meregangkan seluruh ototnya. Dengan enggan karena masih mengantuk, Key berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamarnya. Di ambilnya sebuah handuk berwarna merah muda lalu dilingkarkannya di sekitar leher jenjangnya.

Mata Key masih setengah terpejam, beberapa kali mulutnya menguap. Ia mengambil sikat gigi beserta odol yang sudah dia hapal persis dimana letaknya lalu menempelkan odol itu di atas sikat giginya.

Masih dengan mata setengah terpejam, Key menggosok mulutnya dalam diam, berkumur-kumur, dan mematut wajahnya di depan cermin wastafel.

Matanya baru terbuka sempurna ketika ia menyadari ada sebuah bekas aliran air mata dari sudut matanya. Dia mengelusnya sambil berpikir, seingatnya dia tidak menangis lagi setelah Jonghyun—

Tunggu.

Jonghyun? Jonghyun dimana? Dia belum melihatnya semenjak dia bangun tidur.

Dilihatnya sekali lagi pantulan wajahnya di depan cermin sebelum ia memutuskan untuk membatalkan niatnya mandi pagi.

Key berlari keluar dengan wajah yang sedikit pucat, ia memandang seluruh sudut kamarnya dan dia tidak menemukan Jonghyun disana. Tergesa-gesa, ia keluar mencari Jonghyun di dapur, ruang tamu, dan seluruh ruangan di dalam rumah Jonghyun, tetapi hasilnya nihil.

Firasat buruk tiba-tiba saja menghantui dirinya dan itu membuat wajahnya semakin pucat.

Buru-buru ia menyambar telepon genggamnya lalu menelepon Jinki. Oh ayolah, Key berharap Jonghyun ada bersama Jinki sehingga dia bisa tertawa kepada semua firasat buruk yang dimilikinya.

“Yeoboseyo?”

“Hyung!”

“Shit, Key. Ini masih pagi, kecilkan suaramu! Hoam”

“Hyung, Jj—Jjong ada bersamamu kan?”

“Bicara apa kau? Hoam~ Bukannya seharian kemarin dia bersamamu? Keke Kau mau bercerita betapa mengasyikkannya malam yang kalian lalui huh?”

“Hyung.. Aku serius”

“Oke oke, dia tidak bersamaku”

“…”

Jinki baru menyadari ada sesuatu yang salah setelah semua kepingan nyawanya terkumpul.

“Tunggu.. Kau tidak bilang kalau Jonghyun menghilang kan?”

“Sayangnya.. Kau tahu kan dia tidak dekat dengan siapapun selain kita berdua? Pergi kemana dia kalau dia tidak bersamaku atau dia tidak bersamamu?”

Jinki mendesah, mengacak rambut baru bangun tidurnya sementara matanya berkilat penuh keseriusan.

“Aku akan ke tempatmu sekarang juga”

Bunyi air terjun mengalun indah seiring kicau burung yang terus bernyanyi. Udara hutan di pagi hari terasa sejuk dengan bersihnya oksigen yang dapat dihirup.

Tak jauh dari sana, terlihat sesosok laki-laki yang sedang bertapa di bawah air terjun. Kedua telapak tangannya menyatu dengan ujung jari-jarinya yang bertemu, kepalanya terus teraliri guyuran air terjun tapi itu semua tidak mengganggu konsentrasinya. Matanya menutup, jiwanya berusaha menyatu dengan alam di sekitarnya.

Dia dapat mendengar dan merasakan bagaimana sebenarnya hutan itu berteriak karena kesakitan. Manusia dengan seenaknya menumbang pepohonan, memburu satwa, memusnahkan binatang buas, mengambil sumber daya, mengotori sungai, dan mencemari udara secara terus menerus, tanpa pernah merasa puas.

Di tengah khusuknya dia bertapa, dia dapat mendengar suara lain. Suara langkah kaki yang berlari. Langkah kaki itu semakin lama semakin mendekati tempatnya berada sampai akhirnya langkah kaki itu berhenti. Deru nafas sang pemilik langkah kaki terdengar berat dan tak beraturan, sepertinya telah mengalami perjalanan jauh hanya untuk tiba di tempat ini.

“Selamat datang”

Tentu saja sang lelaki harus menyambut sosok yang sekarang berdiri di depannya itu. Dia sudah capek-capek datang kemari dan sangat tidak sopan kalau dia tidak menyambutnya, benar?

“Hosh hosh” lelaki yang baru sampai itu tidak menjawab sambutan yang diberikan, dadanya masih naik turun sementara nafasnya belum sepenuhnya kembali normal.

Sang pertapa pun belum membuka matanya, dia juga tidak berhenti dari kegiatannya. Untuk sesaat, kedua orang itu hanya terdiam ditemani matahari yang mulai menyebarkan sinarnya dengan lebih kuat, tanda siang akan segera tiba.

Setelah nafasnya sudah diyakini benar-benar kembali normal, lelaki yang terlihat lebih muda memundurkan kaki kanannya—yang tadinya berada lebih depan daripada kaki kirinya—sehingga kedua kakinya sejajar, menandakan bahwa kedatangannya kesini tidaklah didasari untuk berperang.

“Woohyun Hyung..”

“Tidak baik. Dia bertemu dengan Woohyun” perkataan Junghee membuat Key menggeretakan giginya. Kalau saja Jinki tidak menahan Key, laki-laki itu pasti akan pergi ke tempat Jonghyun berada tanpa tahu dimana keberadaannya. Benar-benar gegabah.

Junghee membuka matanya setelah tugasnya untuk menerawang keberadaan Jonghyun selesai. Dia mengarahkan pandangannya pada Key.

“Tenanglah, mereka hanya mengobrol. Aku merasakan ketenangan di hati Woohyun, dia tidak berada dalam kondisi yang membahayakan dan Jonghyun pun tidak berniat untuk berperang” ucap Junghee.

“Itu kan sekarang! Siapa yang tahu apa yang akan terjadi 1 detik ke depan?” Jinki mendudukkan Key dengan paksa dan menatapnya tajam agar Key menghentikan semua ocehannya.

“Untuk itulah kita harus menyusun strategi, kita tidak bisa secara naif datang ke tempat mereka. Kita pasti menyusul mereka kesana, tapi kita harus mengatur siasat dengan memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi”

“Tapi—”

“Jonghyun tidak sebodoh itu, Key. Percayalah padanya” Key akhirnya menyerah. Junghee tersenyum kepadanya, melihat sifat divanya bisa teredam oleh kata-kata dari Jinki sungguh sebuah kemajuan, Key sudah belajar untuk bisa mendengarkan pendapat orang lain.

Junghee menaruh telapak tangannya di atas telapak tangan Key, membuat kepala Key terangkat untuk menatapnya.

“Jangan khawatir, kita pasti bisa membawa pulang Jonghyun. Kau tidak sendiri”

Key memandang bergantian kepada Junghee dan Jinki yang tersenyum kepadanya. Merasa semuanya akan berjalan baik-baik saja dengan kebersamaan mereka, Key pun tersenyum balik.

Ya, kuharap semuanya akan berjalan seperti yang kuharapkan, batinnya berbisik.

Setelah semuanya siap, Key, Jinki, dan Junghee pergi dengan Key di depan. Junghee berada di tengah mereka sebagai penunjuk jalan sementara Jinki—yang memang buta arah—ditempatkan di belakang sekaligus untuk melindungi Junghee yang tengah berkonsentrasi mendeteksi tempat Jonghyun berada.

Beberapa jam mereka pergi, tiba-tiba saja Junghee menautkan kedua alisnya.

Jinki yang menyadari itu pun segera bertanya, “Ada apa?”

Key menolehkan kepalanya ke belakang sambil tetap melompati dahan pepohonan.

Junghee terlihat sedang menggigit bibir bawahnya, mata terpejamnya kembali terbuka lalu ia berkata ragu, “Bisakah kita berjalan lebih cepat?”

Junghee menangkap tatapan Key yang berarti apa-yang-terjadi dan dia pun mendesah pelan, “Aku merasakan ada pergerakan dari Woohyun”

Woohyun sempat terkejut ketika Jonghyun memanggilnya ‘Hyung’. Sudah bertahun-tahun lamanya sejak dia mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut Jonghyun, ditambah Jonghyun mengatakannya dengan tulus. Ya, Woohyun bisa merasakan dari detak jantungnya yang tenang ketika dia mengatakan itu.

Sambil menyingkirkan pikirannya, Woohyun kembali menenangkan jiwanya dengan memperdalam apa yang sedang dia pertapakan. Woohyun memutuskan untuk tidak menyahut panggilan Jonghyun dan tetap diam dengan mata tertutup.

“Hyung.. hehe” Jonghyun tertawa sendiri, dia menggaruk belakang kepalanya dengan canggung, “sudah lama sekali aku tidak memanggilmu seperti ini”

Merasakan tidak ada respon dari kakaknya, Jonghyun menarik nafas lalu kembali berbicara.

“Aku.. Kau tahu kan kalau aku baru saja ‘bangun’?” Jonghyun mencari kata yang tepat untuk berbicara kepada kakaknya, “aku..”

Jonghyun menatap sosok kakaknya dengan mata sendu, “..bertemu dengan ayahmu” merasa tidak perlu berbasa-basi, ia hanya bisa mengutarakan langsung apa inti dari kedatangannya kemari.

Woohyun seketika tersigap. Giginya mulai bergemeretak menahan amarah. Dia masih berusaha sabar sampai Jonghyun menyelesaikan kalimatnya.

“Aku bertemu dengan ayah kandungmu. Bukan ayahku yang sekarang menjadi ayahmu juga” Jonghyun tersenyum, “yah, biarpun kau tidak lagi menganggap ayahku sebagai ayahmu”

Jonghyun menolehkan kepalanya ke atas, menatap gerombolan awan yang berarak dengan tenangnya.

“Ayahmu.. Beliau mengatakan kalau kau tumbuh menjadi seseorang yang gagah dan tampan, kau pandai bermain pedang, lalu.. Kau sangat pintar menyusun strategi—”

“Apa maumu..”

Jonghyun terdiam, menolehkan matanya kembali pada Woohyun.

“Apa maumu dengan mengatakan semua hal itu?”

“Hyung..”

“Jangan panggil aku seakan-akan kau adalah adikku!” sosok Woohyun menghilang lalu kembali muncul di belakang Jonghyun secepat kilat, “aku tidak pernah mempunyai adik! Kau kira aku akan percaya pada kata-katamu, hah?”

Jonghyun melompat jauh ke belakang untuk menghindari pukulan Woohyun yang tiba-tiba diarahkan kepadanya.

“Tunggu, Hyung! Aku tidak berniat bertarung denganmu” teriaknya. Jonghyun melepas ikatan yang ada di kepalanya lalu melemparnya ke tanah, tanda bahwa dia benar-benar tidak ingin bertarung dengan Woohyun.

“Dengarkan aku sekali ini saja..” mohonnya. Woohyun menatap mata Jonghyun yang memancarkan kebenaran dari perkataannya.

“Kumohon..”

Sret.

Jonghyun mengulas senyum ketika Woohyun menyenderkan punggungnya di salah satu pohon yang ada disana.

Jonghyun dan Woohyun berganti tempat, mereka berdua terduduk di atas dua batuan besar yang ada di bawah air terjun. Keduanya sibuk memandang ke depan karena posisi mereka tidaklah berhadapan.

Jonghyun terdiam memandangi pantulan dirinya di permukaan air, kebingungan untuk memulai pembicaraan bersama Woohyun karena dia merasa canggung. Woohyun sendiri terlihat seperti memikirkan sesuatu walau wajahnya tetap terlihat angkuh dan dingin.

“Kau tahu kan kalau dulu ayahmu dan ayahku itu bersahabat? Jauh sebelum mereka mengetahui takdir mereka sebagai pemimpin dari klan ninja dan klan samurai” tanya Jonghyun yang tidak dibantah oleh Woohyun.

“Dulu, ketika masih kecil, ayahmu bercerita bahwa dia menginginkan perdamaian di seluruh dunia kepada ayahku, tanpa tahu bahwa ayahku adalah seorang ninja” Jonghyun tersenyum miris, dia tiba-tiba teringat akan masa kecilnya bersama Woohyun. Masa kecil ketika dia belum mengetahui perselisihan di antara klan ninja dengan klan samurai, di saat Woohyun selalu ada untuknya. Ada rasa penasaran mengapa waktu itu Woohyun tidak memberitahu kebenarannya pada Jonghyun padahal dia sudah sangat mengetahui bagaimana posisi mereka, tetapi Jonghyun memutuskan bahwa dia akan menanyakan pertanyaan itu lain waktu, “ketika itu.. Ayahku sebenarnya sudah merasakan ada kejanggalan di antara kedua klan kita dan dia sudah mengetahui bahwa ayahmu adalah seorang samurai. Tapi, dia tidak berani mengatakannya pada ayahmu. Dia pun berjanji bahwa dia pasti akan membantu ayahmu dalam mewujudkan impiannya”

Jonghyun menarik nafas sebelum dia kembali melanjutkan ceritanya, “Lalu.. Waktunya pun tiba. Mereka dinobatkan menjadi pemimpin kedua klan setelah dewasa dan ayahmu pun tentu saja sudah mengetahui posisi ayahku dan takdir mereka sebagai pemimpin kedua klan yang berselisih. Ayahmu dan ayahku tidak lagi bersahabat, bahkan untuk sekedar menyapa pun tidak. Mereka berdua membawa nama besar masing-masing klan sehingga mereka harus mengubur jauh-jauh tali persahabatan yang telah mereka buat sedari kecil.. Semuanya pun terjadi begitu cepat sampai hari itu tiba..” Woohyun mengepalkan tangannya kuat-kuat mengingat hari paling menyedihkan di hidupnya itu.

“Pertarungan kedua klan.. Disinilah semua kebenaran itu tersembunyi. Ayahku sudah berusaha berbicara kepada para petinggi ninja untuk mengadakan perdamaian dengan klan samurai, tetapi niat baiknya ditolak mentah-mentah. Begitupun dengan ayahmu, bahkan petinggi-petinggi samurai..” Jonghyun melirikkan sudut matanya kepada Woohyun, “..mengancam akan membunuhmu kalau ayahmu tetap bersikeras pada pendiriannya”

Tiba-tiba saja Woohyun merasakan dadanya begitu sesak, ia menaikkan tangannya ke atas secara perlahan lalu menggenggam kalung yang melingkar di lehernya, peninggalan terakhir dari sang ayah.

Benarkah kejadiannya seperti itu? Mengapa dia tidak mengetahui apa-apa?

“Karena tak ada pilihan lain, akhirnya ayahku dan ayahmu bertemu. Mereka terlibat dalam pertarungan sengit dan menjauh dari pemukiman penduduk untuk meminimalisir jumlah korban. Disinilah..” Jonghyun memandang tempatnya dan Woohyun berada, mata bulatnya terlihat sendu, “tempat mereka bertarung. Benar?”

“Aku tidak berbohong ketika aku mengatakan bahwa aku bertemu dengan ayahmu saat tertidur panjang. Saat itu, beliau menceritakan semuanya padaku, termasuk satu kebenaran besar di balik semuanya..”

Tik

Tik

Tik

Butiran air jatuh satu persatu dari atas langit. Awan hitam berkumpul sambil sesekali memancarkan kilat dan alam pun tidak lagi bersahabat. Hujan turun tanpa memandang orang-orang yang sibuk berlarian karenanya, jumlahnya terus bertambah, semakin deras dan semakin deras.

“Ayahmu.. Meminta ayahku untuk membunuhnya”

“Damn! Kenapa malah hujan sih?” Key menggerutu ketika langit terus membanjiri tanah di bawahnya dengan sangat deras. Dia, Jinki, dan Junghee terpaksa menepi sebentar. Pasalnya, bukan hanya air yang turun tak terkira, tetapi anginnya pun bertiup sangat kencang. Terlalu berbahaya bila mereka melanjutkan perjalanan, terlebih keberadaan Junghee yang notabene adalah wanita.

“Aku masih kuat. Lagipula setengah kekuatan Jinki kan ada padaku. Ayo, kita lanjutkan perjalanan!” sahut Junghee, merasa bahwa keberadaannya memberatkan Key dan juga Jinki padahal kan dia tidak mau keberadaannya merepotkan siapapun.

Key diam memandang ke depan, posisinya berdiri di atas pohon dengan tangan terkepalnya terjulur mengenai pohon yang sedang ditumpuinya, sedangkan Junghee terduduk di bawah, berlindung dari hujan yang turun dengan Jinki berada di sebelahnya.

Junghee menggigit bibir bawahnya melihat Key yang tidak memberikan respon. Pasti Key ingin sesegera mungkin sampai di tempat Jonghyun dan sekarang.. Perjalanannya terhambat karena dirinya. Sungguh, Junghee ingin menangis saat itu juga.

Di saat matanya sudah berkaca-kaca, sebuah tangan hangat tiba-tiba bersarang di pundaknya. Junghee menoleh dan mendapatkan Jinki sedang tersenyum ke arahnya.

“Tenanglah.. Key tidak marah padamu” katanya lembut. Sangat lembut sampai-sampai Junghee tidak dapat lagi menahan emosi di dadanya. Sebulir air mata pun mengalir indah dari pipinya.

Dengan sigap, Jinki segera menghapus air mata Junghee dengan ibu jarinya.

“Jangan menangis..” Jinki menangkup wajah Junghee yang terasa dingin dengan kedua tangannya dan dia pun melebarkan senyuman hangatnya, “Junghee yang ku sukai bukanlah wanita lemah. Dia adalah wanita paling tegar yang pernah kutemui”

Junghee tertegun mendengar kata-kata Jinki, jantungnya terus memompa lebih cepat dan berdentum keras. Junghee ingin mengucapkan rasa terima kasihnya pada Jinki. Untuk itulah, sedetik kemudian, dia pun membalas senyuman Jinki.

Sementara itu, Key masih memandangi jalan lurus di depannya. Sebentar lagi, kalau sebentar lagi hujan masih turun, dia akan menerobos paksa dan melanjutkan perjalanan. Tak peduli Jinki dan Junghee ikut bersamanya atau tidak, lagipula Key sudah terlalu merepotkan keduanya. Itulah keputusan yang akhirnya Key tetapkan.

“Jangan membual! Kau kira ayahku apa sampai mengorbankan hidupnya pada ayahmu?”

“Hyung! Aku berkata yang sebenarnya, tolong dengarkan penjelasanku sampai selesai”

Tetapi, permohonan Jonghyun yang sekarang sama sekali tidak diindahkan oleh Woohyun.

Woohyun menarik samurai yang berada di pinggangnya dan langsung mengibaskannya pada Jonghyun.

Trang.

Samurai Woohyun mengenai sarung besi yang ada di pergelangan tangan Jonghyun. Jonghyun bertahan, tangannya masih menangkis samurai Woohyun yang dirasa semakin menekan.

“Hyung, aku benar-benar tidak mau bertarung denganmu. Kita bisa menyelesaikan ini semua baik-baik kan?”

Woohyun menarik samurainya dan mengarahkannya kembali ke perut Jonghyun. Jonghyun melompat menjauhi Woohyun sebelum benda tajam itu mengenai organnya.

Woohyun tidak menghentikan semua serangannya pada Jonghyun sementara Jonghyun sendiri hanya terus menghindarinya tanpa ada perlawanan.

“Jjong!” teriakan itu membuat pandangan keduanya teralihkan. Mata Jonghyun membulat melihat Key sudah berdiri disana, tubuhnya basah karena hujan masih belum berhenti walaupun sudah tidak sederas tadi.

Jonghyun merasakan seringaian muncul di wajah Woohyun dan tanpa aba-aba, dia langsung menghilang.

Trang.

Dan muncul kembali di hadapan Key. Saatnya sungguh tepat karena Woohyun memindahkan sasarannya pada Key. Untunglah, Jonghyun lagi-lagi menangkis samurai Woohyun sehingga Woohyun tidak sempat melukai Key.

Kali ini, Woohyun menekan sekuat tenaga sehingga sarung besi di pergelangan tangan Jonghyun retak. Retakannya semakin lebar sampai sarung besi itu pecah dan tangan Jonghyun terkena ujung dari samurainya.

Jonghyun berpikir cepat sambil merogoh sakunya.

Poof!

Sekumpulan asap tiba-tiba saja muncul di sekitar mereka bertiga. Woohyun yang tidak mengantisipasi ini hanya bisa menggeram ketika asap dari bom asap yang dilempar Jonghyun menghilang dan dia tidak menemukan keberadaan dua orang yang tadinya berada disana.

Jonghyun menggenggam tangan Key sambil terus berlari secepat yang dia bisa. Key sempat kesulitan menyeimbangi kecepatan berlari Jonghyun, tapi dia tidak dapat berkomentar apapun. Dia merasa kalau Jonghyun sedang berada pada mood yang luar biasa buruk.

Dan itu semua karena dirinya.

Mereka akhirnya berhenti pada sebuah danau yang terletak di tengah hutan. Jonghyun melepas genggamannya pada Key. Posisinya berdiri membelakangi Key dan dadanya naik turun karena berlari, sama halnya dengan Key.

“Jjong..”

Jonghyun menoleh, membalikkan badannya berhadapan dengan Key. Matanya berkilat tidak bersahabat.

Bruk.

Dia mendesak Key sampai punggung Key mengenai pohon di belakang mereka, tangan kanannya tersimpan di sebelah kiri wajah Key, mengunci pergerakannya.

“Apa yang ada di pikiranmu hah? Kenapa kau datang kemari?!” teriaknya emosi. Seluruh saraf di tubuh Key tiba-tiba saja melemah karena bentakan Jonghyun, tetapi dia menguatkan keyakinannya kembali.

“Apa yang ada di pikiranku katamu? Seharusnya aku yang bertanya, apa yang ada di pikiranmu hingga kau pergi kesini sendirian?”

Jonghyun menautkan alisnya, tatapannya tajam menusuk ke dalam mata Key, “Itu bukan urusanmu”

Key menatap Jonghyun tidak percaya. Jonghyun melepasnya lalu berjalan ke depan memunggungi Key. Jonghyun menatap danau di hadapannya yang terjatuhi oleh tetesan-tetesan air hujan yang berubah menjadi gerimis kecil sambil menenangkan dirinya sendiri.

Bibir Key bergetar. Entah karena cuaca yang dingin, entah karena emosinya yang meluap. Dia hanya bisa menatap punggung Jonghyun sambil terdiam.

“Itu bukan urusanmu”

Kata-kata Jonghyun beberapa menit yang lalu kembali terngiang di dalam memori otaknya.

“Bodoh! Kau kira bisa melawan Woohyun sendirian hah?” teriak Key akhirnya. Dia tidak melihat pergerakan berarti dari Jonghyun dan kembali mendesah kesal.

“Setengah dari kekuatanmu masih ada padaku! Untuk itulah aku datang kemari! Masih bisa mengatakan kalau ini semua bukan urusanku?”

“Key..” suara Jonghyun tiba-tiba melemah, “aku bisa menghadapi Woohyun sendirian bahkan dengan setengah kekuatan yang ada padaku sekarang..”

Jonghyun berbalik, tatapannya sendu dan penuh dengan kasih sayang. Tatapannya yang menatap jauh ke dalam mata hati Key, membuat jantung Key berdegup dengan sangat kencang.

“Untuk itu, pulanglah..”

“J-Jjong..”

“Kumohon..”

Key menundukkan kepalanya, menahan emosinya dalam-dalam lalu berjalan mendekati Jonghyun.

Plak!

Satu tamparan keras pun mendarat di pipi Jonghyun, membuat Jonghyun kebingungan.

“Aku mengkhawatirkanmu, bodoh! Begitu juga dengan Jinki dan Junghee, untuk itu kami datang kemari. Tak bisakah kau berpikir bagaimana perasaanku? Aku mencintaimu, Kim Jonghyun!!!” teriak Key tepat di muka Jonghyun dengan keras, saking kerasnya, urat di sekitar lehernya nampak keluar. Key menarik area leher sekitar baju Jonghyun, membuat tubuh Jonghyun sedikit terangkat dan mata mereka menatap satu sama lain.

Jonghyun terdiam, dirasakannya cengkraman Key pada bajunya begitu kuat. Salahnya membuat Key menjadi semarah ini. Apalagi, tadi Key baru saja mengatakan bahwa dia mencintai Jonghyun kan?

Ah, andai saja keadaannya tidak seperti ini, Jonghyun pasti akan sangat bahagia mendengar kata itu meluncur dari mulut Key.

Tapi, saat ini tidaklah tepat. Semua yang terjadi tidaklah tepat. Jonghyun harus menghentikan semua debaran aneh pada jantungnya karena semuanya tidaklah tepat.

Jonghyun menggenggam tangan Key yang masih mencengkram bajunya sambil tak henti menatapnya. Tatapan Jonghyun sudah jauh lebih halus daripada sebelumnya, tetapi ada sinar ketegasan yang tetap terpancar “Tadi kau bilang.. Jinki dan Junghee juga ikut denganmu? Ada dimana mereka sekarang?”

“Aku sengaja meninggalkan mereka karena hujan, tetapi karena sekarang sudah reda, mungkin saja mereka sudah pergi ke..” Key tercengang, genggamannya pada Jonghyun terlepas. Ia membalikkan badannya, menatap ke tempat dimana air terjun berada, “..tempat Woohyun”

“Gawat!”

Nafas Jinki sudah tak beraturan menghadapi semua serangan dari Woohyun. Setengah kekuatannya yang berada pada Junghee ternyata membuat fisiknya cepat lelah. Junghee sendiri tidak bisa membantu banyak karena Jinki terus menerus melindunginya, tak membiarkan dirinya terjun ke lapangan untuk menyerang Woohyun.

“Hyung!” Jonghyun yang baru datang segera bergabung dengan Jinki sementara Key menghampiri Junghee yang terduduk dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Junghee, ikut aku! Kau harus bersembunyi di tempat yang aman” merasa akan ada penolakan dari Junghee, Key segera melanjutkan ucapannya, “Jonghyun tidak akan mengizinkanmu bertarung, apalagi Jinki. Hemat kekuatanmu! Kau bisa menggunakan teknik penyembuhanmu kalau kita terluka. Tak ada lagi yang bisa kau perbuat, kali ini turutilah ucapanku”

Pasrah, Junghee akhirnya mengikuti apa kata Key dan bersembunyi di balik semak-semak.

Key dan Junghee mengamati pertarungan di depan mereka dengan seksama. Entah kenapa, Woohyun hari ini begitu tangguh padahal Jinki dan Jonghyun terus menerus menyerangnya

“Sepertinya Woohyun mengonsumsi sesuatu. Aku melihat di seluruh aliran darahnya teraliri chakra yang meledak-ledak” gumam Junghee.

Bruk!

Tiba-tiba saja Jinki ambruk ke tanah dan dia tidak bergerak, padahal matanya masih terbuka.

“Ada apa dengan Jinki Hyung?” tanya Key.

Jonghyun membuat perisai di sekitar tangannya lalu melindungi tubuh Jinki yang masih terkapar.

“Key! Bawa Jinki Hyung menjauh dari sini!” teriaknya. Tanpa menunggu lama, Key segera mengambil tubuh Jinki dan membawanya ke balik semak secepat kilat.

Junghee segera mentransfer energinya untuk melakukan penyembuhan pada luka dalam di tubuh Jinki.

“Sekujur tubuhnya mengalami lumpuh total. Butuh waktu lumayan lama untuk menyembuhkannya” kata Junghee sambil tak berhenti mentransfer energinya, dia melirik Key dengan ekspresi khawatir, “sepertinya Woohyun menebarkan racun, tapi.. Aku tidak yakin darimana itu berasal”

“Aku harus kesana dan memberitahu Jonghyun!” niat Key dihentikan oleh Junghee. Dia menggeleng dan memaksa Key untuk kembali duduk.

“Jangan! Lebih baik kau disini. Perhatikan semua gerak gerik mereka sampai kita tahu persis darimana racun itu keluar. Lagipula, Jonghyun pasti lebih berhati-hati melihat jatuhnya Jinki tadi. Kalau kau gegabah, bisa-bisa kalian berdua ikut-ikutan lumpuh dan pertarungan ini akan berakhir dengan kematian kita semua”

Key mendesah, lagi-lagi dia harus melihat Jonghyun berjuang sendirian. Parahnya lagi, sebenarnya dia punya kekuatan untuk melawan Woohyun, tapi dia masih tidak bisa berbuat apa-apa.

Trang!

Samurai Woohyun beradu dengan kunai milik Jonghyun. Jonghyun lalu memutar dan melempar kunainya yang telah tertempeli bom kertas.

Duar!

Dia pun melompat menjauhi kepulan asap.

Sret.

Ternyata Woohyun sudah berada di belakangnya, menempelkan samurainya pada leher Jonghyun.

Cras!

Poof!

Bayangan Jonghyun pun lenyap. Woohyun menggeram kesal karena menghadapi Jonghyun ‘palsu’. Dia melihat sekitarnya, mencari keberadaan Jonghyun yang asli.

“Keluar kau!” tantang dan teriaknya.

Key turut mengedarkan pandangannya, mencari Jonghyun.

“Key..” tiba-tiba saja telepatinya dengan Jonghyun tersambung.

“Jjong! Kau dimana?”

“Aku sedang bersembunyi. Woohyun akan memakai jurus terlarang klan samurai, kalau aku tidak memakai mode ninjaku sepenuhnya, aku tidak akan menang melawannya”

“Jurus terlarang? Jurus apa itu?” tanpa sadar, Key menyuarakan pertanyaannya, membuat perhatian Junghee tertuju padanya.

“Aku akan memberitahumu nanti. Bisakah kau mengalihkan perhatian Woohyun? Lima menit saja.. Setelah mode ninjaku sudah sepenuhnya, aku akan kembali untuk melawannya dan kau harus kembali ke tempat Jinki beserta Junghee” ucap Jonghyun dengan penegasan kalau Key harus kembali ke tempat Jinki dan Junghee lalu membiarkan Jonghyun dan Woohyun bertarung berdua lagi nanti.

Key sedikit kesal karena tidak dibiarkan bertarung hingga selesai, tetapi dia bangkit, setidaknya dia harus menolong Jonghyun untuk yang satu ini.

“Woohyun!” Woohyun berbalik lalu tersenyum kecut melihat kedatangan Key.

“Wah wah.. Lihat siapa yang datang.. Sahabatku yang aku cintai. Ingin memberikan jawaban atas pernyataan cintaku, hm?”

Key tidak menggubris ocehan Woohyun, tatapannya tajam memandang mantan sahabatnya itu.

“Ayo kita selesaikan masalah kita” Key memasang beberapa simbol binatang dengan tangannya lalu menempelkan telapak tangan kanannya di atas tanah.

Tiba-tiba saja tanah yang dipijak oleh Woohyun menghisap tubuhnya dan membawanya masuk ke bumi.

Key tersenyum menang, tetapi senyumannya luntur ketika Woohyun sudah berdiri di belakangnya, entah sejak kapan.

Brrt!

Lengan baju Key tersobek ketika ujung samurai Woohyun mengenainya. Untung Key cepat menghindar sehingga benda tajam itu tak melukai tubuhnya lebih lanjut.

“Kau tahu? Racun di tubuh Jinki itu berasal dari ujung samuraiku. Aku hanya bisa menggunakan racunnya tiga kali di saat yang aku mau. Tadi aku sudah menggunakannya pada Jinki, kedua aku menggunakannya padamu tetapi kau malah menghindar dan sekarang tinggal tersisa satu kali lagi racun yang aku punya” Woohyun tersenyum sinis dan tiba-tiba saja Key tidak bisa bergerak. Bola matanya menangkap bahwa bayangan Woohyunlah yang menghentikan pergerakannya.

“Aku berniat memberikan kesempatan terakhirku untuk menggunakan racun turun temurun klan samurai pada Jonghyun. Tapi.. Sepertinya lebih mengasyikkan kalau aku menyayat tubuh Jonghyun dengan kondisinya yang normal. Karena itu, aku akan memberikan racun terakhirku padamu. Bagaimana? Kau senang kan?” Woohyun menyodorkan samurainya pada wajah Key yang menutup matanya.

“Ucapkan selamat tinggal..”

“Jonghyuuuun!!” teriak Key dalam hati.

Crasssss!

Key mendengar suara samurai beradu dengan sesuatu, tapi itu bukan dengannya. Bukan dengan tubuhnya.

Perlahan-lahan Key membuka matanya dan mendapatkan seorang lelaki berdiri di hadapannya. Membuat tameng untuk melindunginya.

Lelaki itu menoleh ke belakang dan Key membelakakan matanya melihat mata merah itu. Mata merah yang sangat familiar untuknya.

“Jonghyun..” Key merasakan aura yang begitu kuat dari tubuh Jonghyun. Inikah mode ninja sepenuhnya yang Jonghyun maksud?

“Key, kembali ke tempat yang aman! Biar aku yang urus sisanya!”

“Tapi—”

“Kembalilah” Jonghyun memfokuskan pandangannya ke depan lagi, “aku pasti akan menang. Aku janji”

Key tidak punya pilihan lain, dia menggigit bibir bawahnya dan pergi darisana.

Dia akan mempercayai kata-kata Jonghyun. Untuk saat ini, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain itu.

Woohyun mengerang sambil mengusap punggungnya yang terlempar mengenai pohon. Perisai yang tadi Jonghyun buat benar-benar sulit ditembus sampai-sampai tubuhnya terlempar ke belakang.

“Cih, aku benci mata merahmu. Mengingatkanku pada ayahmu” Woohyun menelusuri samurainya dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, “aku tidak bisa setengah-setengah melawanmu. Akan kugunakan mode sepenuhnya dan menang darimu secepatnya”

Setelah berkata seperti itu, kumpulan asap mengelilingi tubuh Woohyun dan bajunya sudah berubah ketika asap-asap itu menghilang. Luka-luka di tubuh Woohyun pun menghilang, lenyap. Seakan-akan dia baru saja bereinkarnasi.

Set.

Dan bukan hanya penampilannya saja yang berubah, kecepatan Woohyun pun meningkat berkali-kali lipat. Sayangnya, tidak hanya Woohyun yang berkembang. Jonghyun bisa memprediksi gerakan Woohyun 1x lebih cepat sebelum Woohyun menggerakannya dengan mata merahnya, sehingga semua serangan Woohyun mudah dihindarinya.

Jonghyun menjauh, berlari menaiki air terjun dengan Woohyun yang mengekor di belakangnya.

Cras!

Tiba-tiba saja langit menurunkan ribuan air ke bumi, seakan-akan turut menyaksikan pertarungan di antara kedua kakak-beradik itu.

“Woo.. Hyun..” Perkataan Jinki membuat Junghee tersenyum sedikit lega, akhirnya Jinki bisa bereaksi walau hanya berbicara. Sekujur tubuhnya masih lumpuh dan Junghee masih terus mentransfer energinya kepada Jinki.

“Ada apa, Jinki?”

“Woo.. Hyun.. Di-a.. Me.. makai.. J-jurus t-terlarang.. Hh.. J-jurusnya ha.. nya.. a-akan ber.. tahan.. sela.. ma.. sepuluh.. menit..” Jinki menutup matanya lalu kembali berbicara, “seperti.. nya.. aku.. s-sudah bi.. sa.. bertelepati de.. ngan.. Jung.. hee.. Nan.. ti.. kau.. suara.. kan.. a-apa.. yang.. kukatakan.. pada.. Key..”

Junghee mengangguk lalu ikut menutup matanya. Key sendiri sibuk memperhatikan jalannya pertarungan di atas sana. Sepertinya Jonghyun dan Woohyun sedang berbicara.

“Hyung.. percayalah. Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Itulah alasan mengapa ayahku membunuh ayahmu”

Woohyun terlihat bimbang. Jonghyun tahu kalau Woohyun turut memikirkan kebenaran dari perkataannya, tapi Jonghyun memang tidak berbohong. Walau sulit, itulah kenyataannya.

Air hujan turun semakin deras, Jonghyun terdiam memandangi Woohyun yang saat ini jatuh terduduk. Kepalanya menunduk dan Jonghyun merasa miris melihat keadaan kakaknya yang seperti ini.

Dia berjalan perlahan, terus mendekati Woohyun lalu berjongkok. Tangan kekarnya sedikit demi sedikit meraih punggung Woohyun.

Bruk!

Sebelum Jonghyun sempat menenangkan Woohyun, Woohyun tiba-tiba saja menghempaskan Jonghyun ke belakang sehingga mereka lagi-lagi terpisah oleh aliran air terjun di tengah mereka.

“Woohyun hanya bisa bertahan selama sepuluh menit dengan mode seperti ini, tapi mode ini adalah jurus terlarang” Junghee mulai menyuarakan suara Jinki di kepalanya. Key hanya mendengarkan, firasatnya bertambah buruk menyaksikan pertarungan di atasnya, “dia bisa mengeluarkan satu serangan puncak yang benar-benar akan menghabisi nyawa Jonghyun”

Ctaaar!

Bunyi kilat membelah langit di tengah Jonghyun dan Woohyun. Turut merasakan aura pertarungan keduanya yang saat ini terus berlanjut.

“Serangan puncak itu sulit ditangkis bahkan dalam kondisi Jonghyun yang sekarang sedang memakai full mode. Dan hanya ada dua kemungkinan, pada akhirnya..”

Key hampir saja menjerit ketika samurai Woohyun hampir menebas kepala Jonghyun.

Ctaaar!

“Woohyun akan mati karena kehabisan waktu atau kedua-duanya..”

Ctaaar!

“Mati”

Perkataan Junghee yang ini sukses membuat Key mengalihkan pandangannya padanya.

“Apa maksudmu?”

“Kenapa dinamakan jurus terlarang? Itu semua karena jurus ini beresiko bagi siapa saja yang memakainya. Si pemakai akan menghasilkan satu jurus mematikan yang membuat sang lawan mati, tapi jurus hanya bisa digunakan satu kali. Lalu, bayaran memakai jurus ini adalah.. berhasil atau tidaknya sang pemakai membunuh sang lawan, ketika waktu menggunakan jurusnya sudah habis maka sang pemakai akan tetap mati”

Key mengangakan mulutnya mendengar hal itu. Beberapa air mata tiba-tiba saja tergenang di sudut matanya.

Biar bagaimanapun, selama bertahun-tahun ini, Woohyun adalah sahabatnya. Orang yang selalu ada di sampingnya ketika dia senang, sedih, menangis, ataupun tertawa. Key tidak tahu apakah selama ini Woohyun juga bersandiwara atas semua sikapnya ketika mereka bersahabat, tetapi Key masih menyayanginya. Dia masih menganggap Woohyun sahabatnya. Untuk mendengar bahwa dalam kurun waktu beberapa menit lagi dia tidak bisa bertemu dengan Woohyun selamanya.. Itu adalah hal yang tidak pernah terbayangkan olehnya.

“Dan lebih parahnya.. Persentase lawan yang bisa menghindari jurus terlarang ini adalah.. 0.0001%” Junghee menarik nafas lalu kembali berbicara, “Jonghyun.. Aku berharap dia dapat bertahan dan membuat keajaiban, tetapi kali ini.. mungkin akan menjadi kali terakhir kita bisa melihatnya”

Tes.

Satu buah air hujan jatuh dari atas pohon mengenai kelopak mata Key lalu air hujan itu turun mengenai sudut mata Key dan bercampur dengan air mata yang akhirnya tumpah, mengalir di pipi mulusnya.

Key mendongak, menatap dua orang yang berarti di hidupnya itu.

Kedua orang tersebut masih terus bertarung, sampai dia melihat Woohyun mengacungkan samurainya, menggumamkan entah apa itu di mulutnya sebelum ia mengarahkannya pada Jonghyun dan waktu seolah-olah ikut melambat..

Inilah saatnya.

Inilah saatnya Woohyun menggunakan jurus terlarang itu..

“Jonghyuuuuun! Woohyuuuuuun!”

Craaaaaas!

Teriakan Key ikut melebur bersama dahsyatnya suara ledakan dari serangan puncak Woohyun.

“Hh.. Hh..” Woohyun merangkak dengan nafasnya yang terasa semakin pendek. Dia mendekati tubuh Jonghyun yang terbaring tak bernyawa di depannya lalu berhenti setelah berada tepat di sebelahnya.

“Waktuku.. Sebentar lagi habis..” katanya, mengajak berbicara Jonghyun yang tentu saja tidak akan pernah menyahutnya lagi.

Woohyun memutar tubuhnya sehingga dia terlentang menatap langit, langit yang sebentar lagi tidak akan bisa dilihatnya.

Sayang sekali, padahal hujan sudah berhenti dan sekarang udara begitu sejuk. Tapi, beberapa burung gagak berwarna hitam legam sedang menunggui kematiannya. Woohyun dapat melihat mereka bertengger di atas bebatuan air terjun yang terus mengalir, menciptakan suara damai di telinganya. Tetapi, suara burung-burung gagak itu hampir saja menutup kedamaian dari suara alam yang sedang dinikmatinya, seolah-olah burung-burung gagak itu sudah tidak sabar untuk memakan hidangan utama mereka hari ini, mayatnya.

Di detik-detik terakhirnya, Woohyun.menggigit jari telunjuknya hingga berdarah lalu mengarahkan jarinya di depan mulut Jonghyun.

Ia tersenyum, senyum yang hangat sekali sebelum akhirnya dia berkata, “Maafkan aku, adikku.. Aku hanya bisa memberikanmu darahku”

Gak gak gak!

Suara burung-burung gagak pun saling bersahutan ketika akhirnya sang mangsa sudah tertidur lelap, tertidur untuk selamanya.

Satu tahun kemudian..

Key sedang membaca buku dengan khusuknya. Sebuah kacamata berbingkai penuh berwarna hitam bertengger manis di hidungnya. Sesekali ia menyeruput minuman yang ada di mejanya, sesekali ia membetulkan letak kacamatanya..

“Ya!!” Dan sesekali ia berteriak kepada sepasang sejoli di depannya yang terus menerus mengganggu kegiatannya membaca.

Key menutup bukunya dengan keras, membuat sang lelaki dari sejoli itu memundurkan duduknya.

“Kalian bisa berhenti bersikap lovey dovey dan membiarkanku menyelesaikan bacaanku? Seminggu lagi aku akan menghadapi ujian akhir, sekedar mengingatkan” ucapnya dengan nada sarkatis.

“Salahmu sendiri pergi menyusul kami kemari. Lagipula ini restoran, bukan perpustakaan, for your information” balas Junghee sambil menaruh kepalanya di pundak Jinki.

Key mendengus. Yah, memang ada benarnya perkataan Junghee itu. Andai saja dia mempunyai seseorang untuk menemaninya belajar, dia pasti tidak akan memilih terjebak disini bersama keduanya.

“Terserah kalian deh” Key kembali membuka bukunya dan mulai tenggelam ke dalam bacaan sebelum sebuah suara tidak tahu malu menyapa pendengarannya.

“Keeeey!”

Key mendongak kesal, satu lagi pengganggunya datang.

Hah.. bisakah satu hari saja dia lewati dengan ketenangan?

Key menatap tajam sang pengganggu yang baru datang itu. Ia berjalan memasuki cafe dengan senyuman—yang harus Key akui—tidak pernah gagal membuat jantungnya berpacu lebih cepat, mata bulatnya, rahang tegasnya, semuanya sungguh mempesona. Setidaknya itulah yang mungkin orang-orang pikirkan. Dari dulu dia mengenalnya, dia masih menjadi pusat perhatian. Terkadang Key merasa cemburu dengan semua orang yang terasa ingin memilikinya, tapi tak jarang pula Key merasa sangat beruntung karena orang yang memilikinya seutuhnya, detik ini dan selamanya, hanyalah dirinya seorang.

“Ayahmu.. menyuruh ayahku untuk membunuhnya. Saat itu, mereka sudah berada di ujung pertarungan, ayahmu sedang berada pada posisi yang menang. Tetapi, dia tiba-tiba saja berlutut di depan ayahku yang sedang terkapar penuh darah” Jonghyun menatap Woohyun dengan tatapan yang sendu, “Dan itu adalah saat dimana ayahmu.. menyuruh ayahku untuk membunuhnya”

Ctaaar!

Suara kilat lagi-lagi membahana di angkasa.

“Dia bilang.. Dia ingin mati sebagai seorang samurai dalam kondisi yang terhormat dan dia menitipkanmu beserta ibumu kepada ayahku. Dia yakin ayahku bisa menjaga kalian dan meneruskan impian ayahmu yang juga merupakan impian ayahku”

Jonghyun melihat bahu Woohyun yang sudah berguncang hebat. Seluruh air hujan menimpa tubuhnya yang terlihat semakin rapuh.

“Ketika aku bertemu dengan ayahmu.. Dia mengatakan bahwa dia menitipkan salamnya untukmu. Dia bilang bahwa dia sangat menyayangimu dan juga ibumu. Lalu, hal terakhir yang dia katakan setelah itu adalah..”

“Jjong!” Key menonjok pelan bahu Jonghyun setelah kekasihnya itu duduk di sebelahnya.

“Ya! Untuk apa pukulan ini?” protes Jonghyun sambil meringis dan mengelus pelan bahu malangnya.

“Itu untuk senyumanmu yang menyebalkan” Key cemberut, kembali terhanyut dengan buku bacaan yang ada di tangannya.

“Senyumku?” Jonghyun mengalihkan pandangannya kepada Jinki dan Junghee yang duduk di hadapan mereka, “ada apa dengan senyumanku?” tanyanya kebingungan.

Jinki dan Junghee hanya cekikikan kecil, apalagi ketika Key semakin menekuk wajahnya yang masih cemberut.

“Sudah, pesan makanan dulu gih” saran Jinki. Jonghyun mengangguk dan memanggil pelayan, memesan makanan yang sudah tidak asing lagi, apalagi kalau bukan steak.

“Masih belum bisa menaklukannya?” tanya Junghee setengah mengejek. Jonghyun memeletkan lidahnya.

“Lihat saja, kali ini pasti berhasil!”

“Terimalah nasibmu yang hanya bisa makan dengan sumpit, Jjong..” gumam Key, tatapannya tak lepas dari buku yang sepertinya menarik itu. Atau lebih tepatnya, buku itu harus Key anggap menarik kalau dia mau hapal apa-apa saja yang ada di dalamnya.

“Key! Kau seharusnya membelaku!”

Pertengkaran kecil di meja itu terhentikan oleh deheman seorang pelayan yang mengantarkan pesanan Jonghyun.

“Terima kasih” kata Jinki ramah. Dia sebenarnya bingung kenapa dia yang harus berterima kasih dan kebingungannya bertambah ketika pelayan perempuan itu tersenyum penuh arti kepadanya.

Junghee memandang sinis si pelayan perempuan lalu dia menyumpal mulut Jinki dengan ayam goreng yang ada di piringnya secara kasar.

“Ya! Apa-apaan ini?” protes Jinki, tetapi Junghee hanya diam, memandang keluar jendela sambil memanyunkan bibirnya.

“Phft” Key berusaha menahan tawanya menyaksikan semua itu dari sudut matanya, tetapi ia tidak bisa lagi menahannya. Sedetik kemudian, tawa renyah khasnya membahana di restoran itu.

Junghee menatap sinis Key yang sedang menertawakannya, tetapi melihat tawa Key yang begitu lepas, akhirnya dia ikut tertawa keras.

Orang-orang di restoran itu mulai menatap aneh ke arah meja mereka, Jinki pun semakin kebingungan.

Dia mendekatkan tubuhnya pada Jonghyun yang ada di hadapannya sambil berbisik “Mereka kesurupan?”

Tapi, yang ditanya hanya diam. Tatapannya fokus kepada sepiring steak di hadapannya. Dia mengambil pisau dan garpu secara perlahan lalu..

Trang!

Lagi-lagi satu potongan daging melayang di udara. Potongan itu merendah sampai akhirnya..

“Hap!” Key yang sedang membuka mulutnya dengan lebar, tiba-tiba saja terjejali daging yang mendarat tepat ke mulutnya dengan indah.

Key tidak punya pilihan lain selain mengunyah daging itu lalu dia kembali memukul Jonghyun, “Ya! Bodoh!”

“Maaf yeobo.. Hehe” Jonghyun nyengir tak bersalah, dia memasang peace sign senatural yang dia bisa agar amarah Key tidak meluap.

“Hahahahahahahahaha” Jinki dan Junghee berhenti tertawa ketika Key menatap mereka dengan sinis.

Key lalu mengambil pisau dan garpu yang ada di tangan Jonghyun secara paksa, tangannya memotong steak, memasukannya ke ujung mulutnya dan meraih tengkuk Jonghyun.

Cup.

Bibir mereka pun menyatu. Jinki dan Junghee hanya bisa membelakakan matanya melihat kedua orang di depannya, sama seperti Jonghyun yang terkejut mendapat ‘serangan’ dari Key. Di tengah ciuman mereka, Jonghyun merasakan lidah Key yang memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya sebelum akhirnya Key melepaskan tautan bibir mereka.

Jonghyun mengunyah daging steak yang tadi Key berikan lalu menelannya. Setelahnya, dia memandang wajah Key yang memerah dan menunduk karena malu.

“Ehm..” Key berdehem, matanya seperti berpikir dan setelah menemukan kata yang tepat, dia kembali mengembalikan pandangannya pada Jonghyun, “err.. Kau bisa meminta ‘bantuan’ku kalau kau kesulitan memakannya” ujarnya sambil menunjuk sepiring steak di hadapan Jonghyun.

Jonghyun menautkan alisnya sambil menyeringai. Mata Key terlihat tidak nyaman melihat seringaian itu, buru-buru dia meralat perkataannya, “Aku tidak mau orang lain bernasib sama sepertiku tadi. Bisa-bisa ada orang yang terbunuh karena tersedak daging steak milikmu”

Key membuka buku bacaannya kembali dengan wajah yang semakin merah.

“Key, bukumu kebalik tuh” cerocos Jonghyun yang membuat Key melirik ke arahnya dengan tatapan tajamnya.

“A-aku memang sengaja kok”

Jinki dan Junghee tertawa keras. Jinki memeluk Junghee dan menenggelamkan wajahnya di punggung Junghee. Meredam tawanya sebelum orang-orang menatap aneh ke arah meja mereka lagi.

Key mencibir kepada mereka, “Kenapa? Belum pernah melihat orang membaca buku dengan terbalik?” tanyanya dengan segala sifat kedivaan yang dimilikinya.

Key hampir saja melemparkan buku yang ada di tangannya sebelum sebuah garpu tiba-tiba muncul di depannya.

Dia melirik kepada Jonghyun yang memegang garpu tersebut.

“Apa?” serunya sedikit kesal.

“Aku perlu ‘bantuan’mu”

Jinki dan Junghee tertawa semakin keras mendengar pernyataan Jonghyun, sementara itu Key memukulkan bukunya pada Jonghyun secara berulang-ulang.

“Ya! Kim Jonghyun!!”

“Lalu, hal terakhir yang dia katakan setelah itu adalah.. ‘Darah seorang samurai sejati dapat menghidupkan kembali seorang ninja yang mati. Aku mau kau menghidupkan orang-orang tidak bersalah yang mati konyol dalam peperangan ini dengan darahku. Dan ingat, ninja yang hidup kembali tidak akan tetap menjadi ninja. Mereka akan memulai kehidupan barunya sebagai seorang manusia biasa. Tapi, bukankah itu bagus? Bukankah lebih baik kita hidup sebagai manusia biasa daripada tersesat dalam nafsu memiliki kekuatan yang lebih? Ketika kita mengenal kekuatan, maka disitulah peperangan akan muncul. Tapi, seorang manusia biasa akan merasakan suatu rasa yang lebih dalam daripada kita. Suatu emosi yang lebih berharga daripada kekuatan yang kita ketahui. Ya, mereka akan hidup dan disayangi dalam suatu kekuatan hati bernama cinta'”

END

Advertisements

One response to “| JONGKEY | Oh! My Ninja | #7 – The Last Man Standing (END) |

  1. Hiks, sedihnyaaa!! Tapi keren, banget malah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s