JONGKEY | Sequel | Cupid’s Kiss Note


Title : Cupid’s Kiss Note

Author : Mak Erot Kerajaan | @dinopaw

Posted in : JongKey Kingdom on March 17th, 2012

A/N : Ini sequel dari :

PC Ver :

JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 1 of 2

JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 2 of 2

m.fb Ver :

JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 1 of 2

JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 2 of 2

0.fb Ver :

JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 1 of 2

JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 2 of 2

Soalnya ane baru nyadar pas banyak yang ngomen tentang akhirnya sahabat-sahabat si Key ga muncul lagi. Jadi deh ff ini

Warning : Masih terinspirasi dari Etude. GAJE BIN AJAIB!

—————————————————————————

Aku terbang di atas kepala mereka.

“Aku rasa dia tidak akan datang”

“Aku bertaruh dia akan datang”

Sejak tadi kudengar mereka terus memperdebatkan hal itu. Haah.. Kalau saja ini bukan tugas, aku malas pergi ke tempat ramai seperti taman bermain yang sedang ku singgahi sekarang.

Tentu saja taman bermain seperti ini pasti kentara dengan aura cintanya dan seharusnya aku senang dengan hal itu.

Tapi, sekali lagi, aku kesini untuk melaksanakan tugasku. Padahal aku berencana untuk beristirahat hari ini, ya.. Sudahlah..

Oh ya, apa aku belum memperkenalkan diriku? Hehe maaf.. Aku malah sibuk dengan curhatanku.

Namaku.. Uhm.. Kalian pasti sudah bisa menebaknya. Dengan melihat rambut ikal pirangku, sepasang bola mata biruku, sayap putih mungil di punggungku, juga busur dan anak panah yang ada di tanganku.

Yup, aku Cupid.

Mungkin kalian lebih mengenalku sebagai dewa cinta. Biar tubuhku kecil—malah seperti bayi—tapi kalian tidak bisa meremehkan kekuatanku dan aku hanya mempunyai satu kelemahan yang menjadi rahasiaku. Aku lemah terhadap benda manis, terutama gulali dan cokelat.. Oops.. Apa aku baru saja mengutarakan kelemahanku? Aish!

Oke, bisa kita lupakan perkataanku tadi?

Sebagai gantinya, kalian pasti penasaran kan kenapa aku ada disini? Aku akan memberitahu kalian… ㅋㅋㅋ

Hum.. Mungkin ceritanya akan menjadi panjang.

Hari ini adalah genap 3 bulan salah satu pasangan yang kujodohkan berhubungan. Ya, pasangan itu bernama Jonghyun dan Kibum—lebih dikenal dengan nama Key.

Setiap 3 bulan sekali, aku memang bertugas untuk memantau bagaimana perkembangan hubungan dari pasangan yang kujodohkan. Tak jarang aku mendapati kalau hubungan mereka sudah kandas ketika memasuki 3 bulan pertama, tapi aku juga lebih sering menemukan pasangan-pasangan itu hidup berdua sampai kakek-nenek.

Bukan karena panah cintaku yang tidak manjur. Panah cintaku hanya membantu pasangan-pasangan yang sudah digariskan untuk menyatu. Setelah mereka menyatu, aku tidak bisa ikut campur lagi terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan mereka. Maka dari itu, aku perlu memantau perkembangan hubungan mereka dari waktu ke waktu.

Mungkin kalian bertanya-tanya, sebenarnya Cupid itu tidak hanya aku. Tentu saja! Apa kalian berpikir kalau waktuku sepanjang itu hingga bisa menyatukan benang merah semua orang lalu memantau mereka dalam kurun waktu tertentu? Hei, ada berapa banyak orang di dunia ini?!

Baiklah, aku perjelas saja..

Seperti shinigami (dewa kematian), panggilan itu hanyalah sebutan umumnya. Sementara, dewa kematian sendiri tidak hanya satu. Mereka terdiri dari banyak shinigami yang mempunyai nama. Contohnya saja seperti shinigami bernama Ryuk dan Rem yang begitu dikenal di dunia manusia.

Dan yeah.. akupun mempunyai nama.

Tapi..

Ah, aku malu menyebutkan namaku. Tidak apa-apa kan kalau kalian memanggilku ‘Cupid’ saja?

Yang pasti, namaku hanya terdiri dari 3 huruf. Huruf awalnya ‘L’, huruf tengahnya ‘Y’ dan huruf terakhirnya ‘N’.

Hah? Apa? Aku baru saja menyebutkan nama asliku?!

Aigoo, kita kembali ke topik awal deh..

Sekali lagi, aku datang kemari untuk memantau hubungan Jonghyun dan Key—tolong jangan tanyakan padaku mengapa aku menjodohkan kedua orang yang sama-sama laki-laki itu, sungguh aku hanya menjalankan tugasku—dan aku telah memeriksa kalau jadwal mereka hari ini adalah pergi ke taman bermain, pergi berkencan di akhir minggu lebih tepatnya.

“Kalau aku menang, kalian harus mentraktirku hari ini!”

Seruan itu kembali membuyarkan lamunanku. Aku masih terbang di atas kepala mereka, lalu aku putuskan untuk duduk di bahu kanan salah seorang di antara mereka.

Sosokku tidak akan terlihat oleh manusia biasa, sekedar informasi saja.

“Dan kalau kami menang, kau yang harus mentraktir kami!”

Mendengar tawaran dari 3 orang sahabat—dan 3 pacar dari sahabatnya—itu, orang yang sedang kusinggahi terlihat menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu akan isi dompetnya.

“At least, Joon’s in my side. Then, deal!”  kata lelaki yang suka bertingkah layaknya anak kecil ini.

“Baiklah, Mir.. Kami pegang kata-katamu”

Ckck. Mir.. Mir..

Kau itu masih saja sembrono. Sama seperti 3 bulan yang lalu aku bertemu denganmu.

Ah iya, aku jadi ingat!

Kalian tahu?

Orang yang—secara tidak langsung—membantuku menyatukan Jonghyun dan Key itu adalah Mir.

Hm.. Benar kan, ceritanya akan menjadi panjang sekarang.

Apa kalian mau mendengar bagaimana Jonghyun dan Key pertama kali bertemu hingga mereka bisa berpacaran?

Baiklah, karena aku sedang berbaik hati—padahal karena aku tidak mempunyai kerjaan sampai pasangan yang harus ku pantau itu datang—Aku akan menceritakannya pada kalian..

Saat itu..

***

Aku yang memang terkenal sedikit ceroboh dan sedikit pelupa—garis bawahi dan pertebal kata ‘sedikit’—di antara para Cupid lain, sedang terbang di atas langit dengan wajah yang kebingungan.

Para dewa mempunyai catatan tersendiri untuk membantu mereka menyelesaikan tugasnya. Contohnya adalah para Shinigami dengan Death Note yang mereka miliki.

Begitupun dengan para Cupid sepertiku, bedanya hanyalah kalau kami mempunyai beberapa catatan yang harus selalu kami jaga. Cupid mempunyai Couple Note—membantu kami untuk menuliskan siapa saja pasangan yang harus kami satukan, Kiss Note—membantu kami untuk membangun keharmonisan di antara suatu pasangan dengan membuat mereka berciuman, dan Separate Note—oke, kami juga mengurusi perpisahan di antara pasangan-pasangan yang ada di dunia.

Nah, waktu itu aku kebingungan karena salah satu di antara ketiga catatan itu hilang.

Aku mungkin tidak teliti hingga menjatuhkan Kiss Note—catatan yang hilang itu—di suatu tempat ketika aku terbang.

Aku pun memutuskan untuk kembali menyelusuri semua jalan yang kulewati, sampai akhirnya aku menemukan catatan berwarna merah muda itu tergeletak begitu saja pada sebuah jalanan yang sepi.

Untunglah belum ada siapapun yang mengambil catatan itu, karena kalau iya, bisa gawa—

Sesaat sebelum tangan kecilku meraih Kiss Note, ada tangan lain—yang jauh lebih besar dari tanganku—mengambilnya dan akupun langsung terbang, bersembunyi di balik tiang listrik dekat situ.

Sial!! Kiss Noteku dipegang seseorang!

Dan sialnya lagi adalah aku tidak bisa keluar dari tempat persembunyianku!

Masalahnya, siapapun orang yang memegang Kiss Note, dia akan bisa melihat sosokku dan itu pasti akan membuat segala sesuatunya menjadi bertambah rumit.

Lalu, kalau aku mengambil Kiss Note dengan kekuatanku, aku akan dihukum setibanya aku kembali ke atas langit karena salah satu peraturan yang ada disana adalah kami tidak boleh menggunakan kekuatan kami kepada para manusia, apapun yang terjadi dan apapun alasannya.

Aish.. Aku tidak bisa melakukan apapun selain berdoa agar laki-laki yang memungut Kiss Note milikku segera mengembalikan catatan itu di atas jalan.

“Kiss.. Note?” Kulihat laki-laki itu mengerutkan keningnya ketika dia membaca judul yang ada pada cover depan dari Kiss Note.

Laki-laki itu terlihat masih muda, dia juga memakai seragam sekolah dari sebuah SMA dengan tas ransel pada punggungnya. Aku membaca nametag yang tertera pada seragamnya, tertera hangeul ‘Bang Cheolyong’ disana.

Baiklah, Bang Cheolyong.. Kumohon kembalikan catatan itu pada tempat semula, batinku sambil memandang tajam kepadanya—walau kuyakin dia tidak menyadarinya.

Dan semuanya semakin membuatku kacau ketika Cheolyong membuka halaman pertama dari Kiss Note dengan senyuman aneh di wajahnya. Dia malah terlihat tertarik dengan catatan merah muda itu. Aih!

“Kiss Note. Tuliskan nama seseorang yang kamu sukai atau tuliskan nama 2 orang yang kau mau. Tunggu dalam waktu kurang dari 30 menit, kamu dan orang yang kau tulis atau kedua orang yang kau tulis namanya itu akan berciuman..” Cheolyong tersenyum lalu dia memikirkan sesuatu, “haruskah aku menuliskan nama Lee Joon dan kami akan.. Ah!” tiba-tiba saja pipinya bersemu merah, “tidak usah ada catatan ini pun, kami akan melakukannya kalau kami mau. Uhm.. Aku tidak percaya dengan Kiss Note ini sih, tapi.. Aku ingin mencobanya. Nama siapa yang harus kutulis?”

Cheolyong mengeluarkan sebuah pulpen dari sakunya lalu dia berpikir kembali, “Semuanya sudah berpacaran.. Woohyun, Dongwoon, Minho dan.. Ah iya, Key!”

Cheolyong baru saja akan menyoretkan tinta itu di atas Kiss Note ketika gerakannya berhenti entah karena apa.

“Uhm.. Key.. Sama siapa ya?”

Cheolyong kembali berpikir keras. Angin yang berhembus cukup kencang pun meniupkan helai demi helai lembar Kiss Note hingga catatan itu kembali ke halaman pertama.

“Apa ini?” Cheolyong baru menyadari kalau ada sebuah tulisan kecil pada peraturan yang tertera disana, “pastikan kau memikirkan wajah orang yang kau tulis namanya untuk menghasilkan keajaiban. Kalau kau menulis nama secara asal tanpa mengetahui wajah dari orang yang kau tulis namanya itu, semua keajaiban tidak akan pernah terjadi. Ah.. Ini semakin rumit saja. Harus kupasangkan dengan siapa ya si diva itu?”

Cheolyong berdiri sambil menyenderkan punggungnya pada tembok. Dia memainkan pulpen di tangannya.

Tak lama, seorang laki-laki lewat di jalan sepi itu. Dia memakai seragam Sekolah Seni dengan jas yang tidak dikancingkan. Tangan kanannya mengapit sebuah skateboard sementara kedua telapak tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Sesekali mulutnya mendendangkan lagu yang sepertinya sedang dia dengar melalui headphone putih di telinganya.

Cheolyong terus memperhatikan lelaki itu hingga lelaki itu melewatinya dan punggungnya yang tertempel ransel hitam pun menghilang dari pandangan.

“Kim Jonghyun..” gumam Cheolyong.

Kim Jonghyun? Apa dia membaca nametag lelaki tadi? Itu namanya kan? Kalau benar itu adalah namanya, jangan bilang..

“Baiklah, Key.. Aku akan mendatangkan sesosok pangeran untukmu kekeke”

Cheolyong membuka halaman Kiss Note lalu dia menulis sesuatu.

Kumohon.. Jangan sampai dia menulis yang tidak-tidak atau dia akan merusak semua tugasku.

“Selesai!” Cheolyong mengangkat Kiss Note tinggi-tinggi sambil tersenyum puas.

“Apanya yang selesai?” mendengar suara yang tiba-tiba itu, Cheolyong segera menyembunyikan Kiss Note di belakang punggungnya lalu menoleh untuk melihat seseorang yang baru tiba tadi.

“A-ah, Joonie.. Kau mengagetkanku saja” lelaki yang dipanggil ‘Joonie’ itu tersenyum kepada Cheolyong.

“Hehe. Sudah lama disini? Maaf aku terlambat” katanya seraya mengusap pucuk kepala Cheolyong, “aku akan mentraktirmu makan es krim sepuasnya sebagai permintaan maafku. Bagaimana?”

Cheolyong yang terlampau antusias segera menepukkan tangannya senang. Kiss Note pun terlepas dari tangannya, sebelum Kiss Note itu mendarat di atas tanah, aku buru-buru terbang untuk mengambilnya lalu kembali bersembunyi di belakang tiang listrik.

“Johayo! Ayo, kita pergi sekarang!” seru Cheolyong sambil menautkan tangannya pada lengan lelaki itu.

Mereka pun melangkah menjauhiku. Tapi, baru 3 langkah, Cheolyong kembali membalikkan badannya.

“Ada apa, Mir?” tanya lelaki yang dipanggil ‘Joonie’ itu.

“Ah, tidak ada apa-apa.. Aku merasa melupakan sesuatu, tapi.. Memang tidak ada yang kulupakan deh. Ayo, kita jalan lagi”

Fiuh.. Mudah-mudahan Cheolyong tidak akan ingat tentang Kiss Note dan apa yang telah ditulisnya, selamanya.

Setelah memastikan kalau dua orang lelaki itu sudah pergi lumayan jauh, aku keluar dari tempat persembunyianku lalu terbang. Aku pun duduk di dahan sebuah pohon sambil membuka Kiss Noteku.

‘Kim Jonghyun dan Kim Kibum’

Aku membaca tulisan itu sambil menghela nafas berat.

Jinjja.. Kenapa Cheolyong sempat menuliskan ini sih?

Key yang tadi dia maksud itu bernama lengkap Kim Kibum dan Kim Jonghyun yang dia tulis ini lelaki berskateboard yang tadi lewat, bukan?

Kalau aku ketahuan membuat dua orang yang seharusnya tidak berciuman menjadi berciuman, bisa mati aku.

Hah.. Andai saja Jonghyun dan Kibum ini adalah sepasang kekasih atau mereka memang ditakdirkan untuk bersama, aku tidak usah berpusing ria seperti ini.

Sayangnya..

Eh, tunggu dulu.

Kim Jonghyun dan Kim Kibum.

Kok, aku merasa tidak asing lagi dengan nama itu ya?

Aku pernah mendengar nama mereka. Tapi, dimana?

Uhm.. Ah! Sepertinya aku tahu!

Aku membuka Couple Noteku dan kubuka target ke-32ku hari ini.

‘Kim Jonghyun dan Kim Kibum’

Bingo! Ternyata dua orang yang Cheolyong tulis namanya ini adalah targetku selanjutnya untuk dipersatukan.

Kyaaaa.. Cheolyong~

Sungguh, mungkin ini hanyalah suatu kebetulan. Tapi, aku berterima kasih padamu. Semoga dengan insiden dimana kau menulis nama mereka pada Kiss Note ini, aku bisa lebih cepat mempersatukan kedua orang itu.

Semangat!!

***

Aku mengitari rumah kediaman Key lalu aku memutuskan untuk masuk ke dalam sana. Rumah itu bertingkat 2 dengan sebuah kolam renang di dalamnya.

Aku mencari-cari dimana targetku itu hingga kutemui dia sedang tertidur di atas pelampung besar yang mengapung dalam kolam renang.

Dia topless, hanya sebuah boxer yang menutupi bagian bawahnya. Matanya pun tertutup dengan sebuah kacamata hitam yang menempel, sementara sebuah lagu yang berasal dari radio di samping kepalanya mengalun seirama dengan aliran air kolam yang begitu tenang.

Key meminum segelas jus jeruk yang ada di tangannya melalui sedotan—dengan posisi masih tertidur—lalu dia kembali menikmati sinar matahari yang menerpa kulitnya. Tubuhnya dibawa terombang-ambing oleh pelampung itu.

Benar-benar orang kaya, walaupun harus kuakui kalau gayanya memang elegan. Hm.. Mungkin Cheolyong memanggilnya ‘diva’ bukan untuk bermain-main.

Kriiiiiiiiiing~

Tiba-tiba saja handphone yang ada di dekat tubuh Key berbunyi. Dia mengambil handphone itu lalu menyimpannya di dekat telinga, semuanya dilakukan tanpa membangunkan tubuhnya sama sekali.

“Yeoboseyo”

Aku pun terbang merendah untuk mendekatkan telingaku pada handphone itu hingga aku bisa mendengar suara dari seberang.

“Key~”

“Hm”

“Kau ada di rumah?”

“Hm. Jangan bilang kau mau kesini bersama Sunggyu Hyung untuk meminjam salah satu kamar di rumahku. Rumahku bukan hotel, sekedar mengingatkan”

“Ya! Dasar pervert! Jomblo saja sudah pervert, bagaimana kalau kau sudah mempunyai pacar?”

“Jadi kau meneleponku untuk mengejek kejombloanku, Nam Woohyun? Kalau begitu, aku akan menutup teleponnya sekarang”

“Kim Kibum! Aish! Aku meneleponmu karena aku mengkhawatirkan keadaanmu tahu!”

“Untuk apa? Aku baik-baik saja, siputku juga baik-baik saja”

“Dengar, ada tetangga baru di samping rumahmu, benar?”

“Hm. Lalu?”

“Apa kau sudah berkunjung?”

“Tidak. Mereka yang seharusnya mengunjungiku.. Kalau mereka mau sih karena aku tidak peduli pada hal kecil seperti ini”

“Astaga, Kim Kibum.. Kamu tahu siapa tetangga barumu itu?”

“Tidak dan aku tidak peduli”

“Kau harus peduli karena aku mendapatkan info dari Sungie, yang ketua OSIS di sekolah, kalau Kim Seonsaengnim pindah ke sebelah rumahmu”

“Oh, terus?”

“…”

“…”

“Eh, apaaaaaa? Kau bilang apa tadi?!” Key langsung terduduk dengan suara keras yang dikeluarkan mulutnya ketika pikirannya klik dengan apa yang dikatakan orang pada telepon.

For God’s sake, hampir saja gendang telingaku pecah karena mendengar teriakannya itu. Dasar, diva yang satu ini.. Ckck

“Tetangga sebelahmu yang baru adalah Kim Seonsaengnim”

“Jangan bercanda!!”

“Apa aku harus mengulangi pernyataanku lagi?”

“Aish.. Ottohke? Kalau begitu aku harus mengunjunginya agar aku terlihat seperti murid yang baik dong?”

“Maka dari itu aku bertanya tadi, apa kau sudah mengunjunginya atau belum”

“Tapi, aku malas. Kau tahu sendiri kan kalau aku tidak suka berlaku seolah-olah ramah pada orang lain padahal aku tidak?”

“Yep”

“Dan harusnya mereka yang berkunjung ke rumahku!”

“Yep”

“Tapi, aku harus memberikan kesan yang baik pada guruku”

“Yep”

“Ah, aku tidak punya pilihan lain selain mengunjunginyaaa!!!!”

“Bingo! Finally you realized that”

“Sialan kau, Nam Woohyun! Kau senang di atas penderitaanku, hah?”

“Tidak. Kalau aku senang, aku tidak akan memberitahumu semua ini, you know that, right?”

“Whatever”

Aku mencukupkan penelitianku pada Key. Kulirik jam yang ada di sana.

Seharusnya, kurang lebih 15 menit lagi waktu mereka untuk berciuman tiba. Tapi, aku masih belum merasakan tanda-tanda keberadaan Jonghyun di sekitar kediaman Key.

Aku pun memutuskan untuk mencari Jonghyun dan terbang keluar dari sana.

***

“Ye, appa. Hm.. Mengunjungi tetangga di sebelah rumah? Aku.. Um.. Aku ada beberapa pekerjaan rumah, jadi kurasa aku tidak bisa kesan—Jinjja, aku tidak bisa berbohong padamu. Oke, aku akan berkunjung ke rumah tetangga sebelah sekarang, happy now? Apalagi? Hah? Membeli sesuatu untuk mereka? Baiklah.. Annyeong”

Jonghyun memasukkan handphonenya ke dalam saku celana lalu dia kembali berjalan menyusuri kota.

“Tetangga baru.. Merepotkan saja” Jonghyun meniup permen karet yang ada di mulutnya menjadi sebuah gelembung dan meletuskannya, “apa yang harus kubeli?”

Dia menolehkan kepalanya sampai dia menemukan sebuah toko buah di dekat sana.

“Sepertinya, buah tidak buruk juga..”

Ketika Jonghyun sudah akan memasuki toko buah itu, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia membalikkan badannya sambil menatap toko lain yang ada di hadapannya sekarang, keningnya mengernyit karena berpikir.

Aku diam-diam tersenyum memperhatikan gerak-gerik Jonghyun. Aku pun berani bertaruh, keajaiban dari Kiss Note sudah dimulai saat ini karena Jonghyun melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko bunga.

***

Tinggal sekitar 10 menit waktu yang tersisa.

Aku masih mengawasi Jonghyun yang sekarang telah sampai di depan pintu rumah Key.

Ting tong

“Aigoo!” setelah memencet bel rumah Key, tiba-tiba saja Jonghyun memegang dada kiri dimana jantungnya berada, “kenapa aku jadi gugup begini?”

Itu karena kau akan bertemu dengan calon jodohmu.

“Dan kenapa aku bisa berpikir untuk membeli ini sih?” Jonghyun memandang tajam buket bunga yang ada di tangannya, “lebih baik aku kembali ke rumah, sepertinya aku sudah gila”

Kau tidak gila, kau hanya akan bertemu dengan calon jodohmu. Bukankah aku sudah mengatakan itu tadi?!

Oh ya, aku lupa kalau dia tidak dapat mendengar suaraku.

Drap.

Cklek.

Key membuka pintu rumahnya tepat di saat Jonghyun melangkahkan kakinya untuk kembali.

Jonghyun pun membalikkan badannya karena dia menyadari kalau sang pemilik rumah baru saja membuka pintunya.

Dan..

Deg.

Deg.

Deg.

Aku semakin tersenyum lebar ketika mendengar suara jantung mereka yang berdetak tak karuan di saat pandangan mereka bertemu.

Sayangnya, hanya aku yang bisa menikmati suara indah ini karena kedua orang di depanku tidak dapat mendengarnya. Mereka masih terpaku dalam sorot mata masing-masing tanpa berkata apapun.

Satu hal yang kuyakini, mereka memang ditakdirkan untuk jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Uhm..” Jonghyun menggaruk belakang kepalanya menghadapi kecanggungan yang masih melanda dirinya, “hello?”

Key masih terpaku dalam sorot mata Jonghyun, dia mengerjapkan kedua matanya sebelum akhirnya membalas sapaan Jonghyun, “Hello.. too..” katanya sama-sama canggung.

‘What the fuck, Kim Jonghyun! Kenapa kau jadi lembek begini?’

‘My gosh, Kim Kibum! Kenapa suara divamu jadi bergetar seperti ini?! Memalukan sekali!’

Aku terkekeh mendengar suara hati keduanya. Yah, apa boleh buat. Dari apa yang kulihat, Jonghyun adalah murid yang cukup nakal dan tidak suka berbasa-basi sementara Key adalah lelaki yang benar-benar do whatever he wants.

Tapi, siapa yang tahu ketika mereka dipertemukan seperti ini, ternyata mereka bisa bungkam hanya karena sorot mata satu sama lain?

“Ehm.. Aku baru pindah ke rumah sebelah. Namaku Kim Jonghyun. Mungkin aku akan banyak merepotkan, jadi mohon bantuannya” ‘Apa-apaan itu, Kim Jonghyun? Kenapa kau bisa sesopan ini?’

“I-iya. Namaku Kim Kibum. Uhm.. Mohon bantuannya juga”

‘Wake up, Key! What happened to your diva side?!’

Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku langsung tertawa terbahak sampai mengeluarkan air mata, telingaku terus mendengar rutukkan dalam hati mereka kepada diri mereka masing-masing dan itu benar-benar lucu! Hahahahahaha

Tapi, karena mereka, aku mengakui kalau pepatah ‘Cinta itu bisa mengubah peringai seseorang’ memang benar adanya.

Jonghyun terlihat berpikir untuk mencairkan suasana. Dia pun teringat dengan buket bunga lumayan besar yang ada di tangannya lalu dia menyodorkan buket bunga itu ke depan wajah Key.

“Eh?” ujar Key kebingungan.

“Untukmu..” perjelas Jonghyun, berusaha keras untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.

Key menerima buket bunga itu lalu menghirup kumpulan bunga di tangannya, wanginya sangat harum dan membuatnya merasa nyaman.

“Gomawo..” katanya dengan senyuman. Dia mendekap buket bunga itu, membiarkan rona wajahnya terlihat dengan jelas.

Jonghyun sesaat membeku karena dia melihat senyuman manis dari orang di depannya, tapi dia segera berdehem sambil berusaha melupakan bayangan Key—yang tersenyum itu—di dalam memori otaknya.

“Ayo masuk, Jonghyun-ssi” Jonghyun tidak menolak tawaran Key dan dia pun memasuki rumah besar itu dengan Key yang berjalan di depannya.

“Tunggu disini. Aku mau mengambil vas untuk bunga ini” suruh Key sambil menunjuk sebuah sofa empuk. Jonghyun pun duduk disana tanpa berkomentar lebih lanjut.

Untuk seterusnya, matanya mengikuti semua gerak-gerik Key yang sedang mencari vas tak jauh di depannya. Saat ini, tubuh Key memang hanya terbalut sebuah kimono. Sepertinya, dia baru saja keluar dari kolam renang karena aku bisa melihat kalau Key belum mengenakan pakaian apapun di dalam balutan kimononya.

Aku pun bisa mendengar kalau Jonghyun terus menyuruh otaknya agar tidak memandang Key, tapi matanya berkata lain. Dia sampai berkali-kali menelan ludahnya karena pemandangan itu.

“Jonghyun-ssi..”

Jonghyun sedikit terkesiap ketika Key memanggil namanya.

“I-iya?”

“Kau tahu? Aku baru pertama kali mendapat buket bunga sebagai lambang perkenalan dari tetangga sebelah haha”

“Aku malah baru pertama kali ini memberikan buket bunga kepada orang lain”

Key—yang sedang mencari vas bunga —segera menghentikan kegiatannya sambil mengarahkan pandangannya pada Jonghyun.

“Hahahahaha lelucon yang bagus, Jonghyun-ssi” tawanya seraya kembali berjinjit untuk mengambil vas yang ternyata terdapat di atas lemari.

“Hahahaha” Jonghyun ikut tertawa lalu dia berkata pelan kepada dirinya sendiri, “apanya yang lucu? Aku memang baru pertama kali membelikan bunga untuk orang lain kok”

Sementara itu, Key masih mencoba meraih vas. Lemari itu memang mempunyai tinggi 2.3 meter dan tingginya sendiri hanyalah kurang dari 1.8 meter.

“Maaf, kedua orang tuaku sedang di luar saat ini. Jadi, kau belum bisa bertemu dengan mereka—ugh” biar sudah menjinjitkan kakinya sekuat tenaga, vas itu masih belum bisa dicapainya.

“Gwaenchana. Orang tuaku juga masih ada urusan, jadi hanya aku yang bisa berkunjung kemari” ujarnya sambil memainkan skateboard yang sejak tadi dilupakannya dengan kedua tangannya.

“Sepertinya kita impas—ah!” ketika tangan Key berhasil meraih sedikit bagian dari vas bunga, tubuhnya tiba-tiba saja oleng.

Jonghyun yang menyadari itu pun segera berlari menghampiri Key—dengan skateboard yang tidak sengaja dibawanya—lalu meraih pinggang Key tepat sebelum tubuhnya jatuh di atas lantai.

Bruk!

Skateboard yang dipegang Jonghyun terlepas karena tangannya menahan Key dan..

Chu~

Keajaiban Kiss Note pun sedang terjadi di depan mataku.

Tubuh Jonghyun berada di bawah tubuh Key karena Jonghyun memutar posisi mereka ketika dia memegang pinggangnya, membuat Key terlindungi.

Tapi, sebagai gantinya, waktu mereka untuk tidak tertabrakkan satu sama lain memang sangat mepet sehingga wajah mereka pun tak terelakkan lagi untuk bersentuhan. Dan bagian terbaiknya adalah bibir mereka menempel sekarang kekeke.

Perlahan, Key—yang menutup matanya sebelum tubuhnya jatuh itu—membuka matanya lalu dia membelakakan matanya ketika pandangannya bertemu dengan kedua mata Jonghyun—yang sama-sama kaget. Key menggerakkan bibirnya karena dia merasakan keberadaan benda aneh yang menyentuh permukaan benda kenyal itu dan dia semakin terkejut, menyadari kalau benda—yang juga kenyal itu—tidak lain adalah bibir Jonghyun.

Set!

Key segera terbangun. Dia menutup mulutnya lalu berjalan mundur. Kakinya malah menapak pada permukaan skateboard—secara tidak sengaja—dan itu semua membuat tubuhnya kembali oleng.

Tanpa basa-basi, Jonghyun pun ikut terbangun, sekali lagi dia melingkarkan tangannya pada pinggang Key agar tubuhnya tidak jatuh sambil mendekatkan tubuh mereka berdua untuk merapat, mengunci pergerakan Key. Tapi, tindakan yang diambil Jonghyun sepertinya kurang cepat karena hidung mereka berdua sudah bersentuhan sampai..

Chu~

Aku terbengong. Untuk kedua kalinya,  bibir mereka berdua pun menyatu. Kali ini dalam posisi berdiri.

Aku tidak tahu kalau ini suatu kebetulan atau ini keajaiban dari Kiss Note. Tapi, setahuku, Kiss Note tidak pernah membuat kedua ‘korban’nya berciuman hingga dua kali—kecuali kalau nama mereka berdua memang ditulis dua kali pada Kiss Note.

Kedua telapak tangan Key dengan sendirinya tersimpan di atas dada Jonghyun untuk menahan tubuh mereka agar tidak bertubrukan. Perlahan, dia pun menjauhkan dirinya dari Jonghyun. Membuat ‘ciuman’ mereka terlepas.

Mereka tidak berbicara apapun setelah insiden itu. Key menatap Jonghyun yang berusaha sekuat mungkin untuk tidak menatap balik.

Semburat merah pada pipi Jonghyun membuat kening Key mengernyit. Dia melihat kalau Jonghyun seperti sedang mencuri-curi pandang kepadanya. Dia mengikuti arah pandang Jonghyun dan dia langsung terkejut ketika menyadari kalau kimononya terlepas. Key segera menutup tubuh toplessnya dengan mengeratkan kimononya kembali.

“Ma-maaf. Aku tidak bermaksud untuk..” Jonghyun berhenti. Dia memikirkan kata-kata tepat yang harus dilontarkannya pada Key.

“Gwaenchana. Jangan dipikirkan” potong Key.

Jonghyun semakin merasa tidak enak ketika wajah Key berpaling darinya. Padahal, Key sedang menutupi rasa malunya dan Jonghyun tidak menyadari akan hal itu.

“Kibum-ssi.. Maaf, sepertinya aku harus segera pulang karena uhm.. Besok aku ada ulangan! Ya, besok aku ada ulangan bahasa inggris! Tidak apa-apa kan kalau aku pamit sekarang?”

Aku tahu kalau Jonghyun sedang berbohong sekarang.

“Ne, biar ku antar kau sampai pintu depan” Jonghyun mengangguk lalu dia membiarkan Key kembali berjalan di depannya.

Dia mengambil skateboard dan ranselnya secara cepat.

Ketika mereka sudah sampai di ambang pintu, lagi-lagi mereka terdiam satu sama lain.

“Jonghyun-ssi..”

“Kibum-ssi..”

Panggil mereka berdua bersamaan. Mereka terdiam kembali lalu tertawa karena kebetulan yang baru saja terjadi.

“Hahahaha sepertinya kita masih canggung, benar?”

“Hahahaha ternyata kau juga berpikir seperti itu!”

Jonghyun tersenyum, “Untuk permulaan, bagaimana kalau kita berhenti memanggil satu sama lain memakai embel-embel? Aku akan memanggilmu ‘Kibum’ dan kau bisa memanggilku ‘Jonghyun'”

Key menggeleng, Jonghyun sedikit terkejut akan penolakan darinya, “Key. Panggil saja aku Key”

Jonghyun memroses apa maksud perkataan Key sampai akhirnya dia pun mengerti, “Ah, baiklah.. Uhm.. Kalau begitu, Key.. Sampai berjumpa lagi”

“Kau berkata seakan-akan kita tidak akan pernah bertemu lagi padahal kau baru saja menjadi tetanggaku dan kita pasti akan sering bertemu.. Benar?” tanya Key sedikit berharap.

“Hahaha, that’s right. Kalau begitu, akan kuralat pernyataanku.. Ehem. Key, sampai berjumpa..” Jonghyun melirik jam yang melingkar di tangannya, “..3 jam lagi”

“Eh? 3 jam lagi?”

“Tak usah dipikirkan. Sudah, aku pulang dulu dan kau masuklah ke dalam. Nanti kau bisa masuk angin karena tidak memakai baju keke” Key memanyunkan bibirnya yang malah membuat aliran darah di seluruh tubuh Jonghyun kembali berdesir.

“Annyeong” tanpa sadar, Jonghyun mengusap kepala Key dan dia langsung pergi tanpa melakukan pertanggungjawaban apapun pada getaran gempa yang sekarang melanda hati Key.

Key masuk ke rumahnya. Dikuncinya pintu kayu itu dan dia pun bersender disana. Dia memegang jantungnya yang benar-benar berdetak kencang, mengalahkan degup jantungnya ketika dia sedang berlari marathon.

Tangannya ia arahkan pada kepalanya. Masih terasa dengan jelas telapak tangan Jonghyun yang tadi mengusap bagian itu. Key lalu menurunkan tangannya, terus turun hingga sampai pada bibir berbentuk hatinya. Dia mengelus benda kenyal itu.

Heran.

Malah, bibir Jonghyun yang sempat menyapa bibirnya pun masih jelas terasa. Meninggalkan jejak yang tidak akan pernah dilupakannya.

Key tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga, “Annyeong, Jonghyun..”

***

Aku masih berkeliaran di sekitar rumah Jonghyun dan Key.

Sejujurnya, aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan Jonghyun kalau mereka akan bertemu dalam waktu 3 jam.

Untuk itu, aku hanya bisa terbang tidak tentu arah sambil membuang waktu.

Setelah mereka berpisah, aku mengawasi kalau Jonghyun memang mempunyai ulangan bahasa inggris besok, tapi dia hanya membuka catatannya selama 5 menit. Sesudahnya, dia pun menyoretkan sesuatu di atas buku partiturnya sambil sesekali memainkan beberapa nada pada gitar yang ada di pangkuannya.

Sementara itu, Key mencoba untuk memberitahu sahabat-sahabatnya mengenai Jonghyun. Tapi, akhirnya dia tidak jadi memberitahukan apapun pada mereka karena keempat sahabat ‘terbaik’nya itu malah sibuk mencurahkan isi hati mereka perihal pacar mereka masing-masing. Hell yeah, Key got sick of ’em.

Nah, sebentar lagi waktu 3 jam yang dijanjikan Jonghyun tiba. Tapi, aku tidak melihat pergerakan apapun dari Jonghyun. Malah, Key sudah bersiap-siap untuk pergi tidur karena hari sudah malam.

Masa hari ini akan mereka lewati begitu sajaaaa? Aih

Aku memutuskan untuk masuk ke kamar Key. Berkali-kali aku menyuruhnya agar tidak tertidur. Aku sudah berusaha berteriak di telinganya, menarik selimutnya—walau gagal, sampai mengguncang-guncangkan tempat tidurnya—yang juga gagal karena aku tidak bisa melakukan kontak fisik dengan apapun yang ada di dunia.

Bagaimana iniiiii?

Tuk.

Aku mendengar sesuatu, tapi suara itu hanya sekali. Setelah itu menghilang. Mungkin aku hanya salah dengar.

Tapi, tunggu dulu..

Tuk

Tuk

Tuk

Sekarang, suara itu terus berbunyi semakin keras dan cepat.

Key—yang merasa terganggu—segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu dia membuka jendela. Bersiap memarahi siapapun itu yang sudah melempari jendelanya dengan sesuatu hingga tidur indahnya pun terusik begitu saja.

“Hai..”

Semua makian yang hendak Key lontarkan langsung tertelan kembali ke tenggorokkannya.

Dia, Kim Jonghyun tepat di depannya sekarang. Dengan senyuman bodoh menghiasi mukanya yang—sayangnya—sangat tampan.

Yah, biar ku akui kalau Key malah tersihir oleh senyuman bodoh itu sih..

Cinta memang tidak dapat diprediksi.

Tapi, Kim Jonghyun.. Untunglah kau muncul untuk menepati janjimu. Padahal, kalau tidak, aku akan menggunakan sihirku agar kalian menginap di hotel berdua, malam ini juga.

Oops.. Itu bukan pikiranku loh. Aku hanya menyuarakan isi hati—atau pikiran pervert?—yang sempat terdengar oleh pendengaranku. Entahlah itu suara siapa.

“Hai, Jonghyun..” sapa Key akhirnya.

Ah, aku baru menyadari kalau kamar mereka berdua berada pada letak yang sama. Saat ini, jendela kamar Jonghyun tepat menghadap ke jendela kamar Key.

Apa ini yang namanya jodoh?

“Belum tidur?”

Key menggeleng mendengar pertanyaan Jonghyun yang terlalu kuno, “Belum. Menunggumu. Kau sendiri, belum tidur?” candanya.

Jonghyun terkekeh, “Belum. Aku tahu kau menungguku. Makanya aku tidak mau tidur”

Key memangku dagunya pada senderan jendela, “Begitukah? So, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Jonghyun mengedikkan bahunya, “Sepertinya aku tidak mempunyai hal lain untuk dilakukan. Jadi, aku akan diam disini dan memandangi wajahmu. Kalau kau?”

“Hm. Aku akan memakai topeng Kate ku kalau begitu. Memandang wajahku itu mahal, kau tahu?”

“Akan kubayar dengan hatiku. Kalau masih belum cukup, akan kubayar dengan cintaku”

Key menjulurkan lidahnya sambil berakting seolah-olah mual, “You’re so damn fucking cheesy”

“Hahahahahahahaha” Jonghyun tertawa terpingkal-pingkal menghadapi reaksi Key.

Key memutar kedua bola matanya sebelum dia pun ikut tertawa.

Beberapa tetangga pun mulai berteriak kesal karena kebisingan yang mereka timbulkan, membuat mereka meneruskan tawa mereka dalam diam.

Mereka mengingatkan satu sama lain untuk tidak berbicara terlalu keras dengan gaya yang.. I am watching a dorky soon-to-be-couple, for god’s sake!

“Key..” tak lama, Jonghyun kembali memanggil Key—yang jantungnya selalu berdegup kencang ketika suara merdu Jonghyun menyebutkan namanya, “coba kau lihat..”

Key mendongakkan kepalanya ke arah yang sedang Jonghyun lihat, ke arah langit malam.

Bintang bertaburan dengan bulan yang bulat dan putih sempurna. Menerangi gelapnya langit hitam, membuatnya terlihat kontras serta mendamaikan jiwa.

“Apa yang harus kulihat?” tanya Key sarkatis.

Jonghyun kembali terkekeh, “Bintang jatuh. Kalau kau menemukannya, katakan padaku”

“Untuk?”

“Aku ingin meminta suatu permohonan padanya”

Key menggeleng tidak percaya, “Aku tidak tahu kalau kau percaya akan hal-hal childish seperti itu”

“Aku juga. Otakku mungkin sudah gila sejak kejadian dimana bibirku sudah tidak virgin lagi. Kejadian yang berlangsung beberapa jam yang lalu”

Key merunduk, menatap kedua tangannya yang saling berkaitan erat.

‘Jonghyun tidak pernah berciuman sampai.. Insiden tadi? Benarkah? Apa itu tandanya kalau dia tidak menyukainya? Apa dia akan membenciku?’

“Aku berciuman dengan seseorang, sampai dua kali. Aku tahu itu hanya sebuah kecelakaan. Tapi, aku.. Aku rasa aku menikmatinya dan itu membuatku merasa bersalah karena orang itu pasti tidak merasakan hal yang sama sepertiku. Karena itu, aku mau meminta kepada bintang jatuh agar orang itu mau memaafkanku”

Key tertegun mendengar kata-kata Jonghyun.

‘Jonghyun.. ternyata merasakan apa yang aku rasakan? Kenapa dia malah menyalahkan dirinya sendiri! Aih.. Katakan sesuatu, Kim Kibum..’

“Kurasa.. Aku juga harus berdoa kepada bintang jatuh karena aku pun mengalami hal yang sama denganmu. First kissku sudah direnggut. Sampai dua kali. Seharusnya aku marah dan aku benar-benar mengutuk diriku sendiri karena aku tidak bisa marah, seberapa kerasnya pun aku mencoba. Sebalnya lagi, aku merasa ada berjuta kupu-kupu yang terbang menggelitiki perutku. Membuat pipiku refleks memerah setiap aku mengingat kejadian perenggutan itu. Akhirnya, aku sadar kalau aku menyukai kejadian itu. Makanya, aku ingin meminta kepada bintang jatuh agar dia bisa menghukumku atas keegoisanku ini”

Untuk sesaat, mereka terdiam. Hanya suara angin dan binatang-binatang malam yang terdengar.

Aku masih terbang di sekitar mereka, masih menunggu kelanjutan dari pembicaraan itu.

“Ah! Aku mendengar bisikan dari sebuah bintang jatuh. Katanya, aku tidak usah memohon apapun kepadanya karena orang itu pun tidak keberatan dengan apa yang kurasakan. Wuah, lucky me!” Jonghyun tersenyum dengan ekspresi kesenangan di wajahnya. Key mencibir lalu dia menegakkan badannya yang sempat tertunduk.

“Aku juga mendengar sesuatu. Sebentar..” Key mengernyitkan keningnya, telinganya dia arahkan seperti sedang mendengar bisikan seseorang dengan kepalanya yang sesekali mengangguk, “kata bintang jatuh.. Aku tidak usah memohon apapun padanya karena suatu keajaiban sebentar lagi akan terjadi”

“Keajaiban ya..” Jonghyun mendongakkan kepalanya ke atas langit sekali lagi, “kalau begitu.. Aku punya permohonan lain pada bintang jatuh. Aku berharap ada cupid yang akan menyalurkan rasa cintaku pada orang yang ada di hadapanku. Biar aku baru bertemu dengannya hari ini, aku yakin kalau aku mempunyai perasaan berbeda kepadanya. Aku ingin melindunginya dan selalu berada di dekatnya..”

Key berusaha untuk menenangkan jantungnya yang sudah tidak terkendali. Dia tidak pernah mengira akan ‘ditembak’ seperti ini oleh orang yang bahkan—sebenarnya—baru beberapa jam bertemu dengannya.

“Mungkin.. Keajaiban yang dimaksud itu adalah terkabulnya permohonanmu?” tanya Key asal.

Aku hanya tersenyum melihat ketulusan yang ada di hati mereka. Waktu bukanlah persoalan yang penting selama ada rasa saling ingin memiliki yang tertanam dengan berlandaskan kepercayaan. Itulah yang aku pelajari dari mereka.

Baiklah, sekarang waktuku untuk beraksi bukan?

Aku menarik sebuah anak panah yang ada di punggungku lalu aku memasangnya pada busur panahku. Setelahnya, aku memicingkan mataku. Targetku sekarang adalah hati Jonghyun dan hati Key.

Zzzt

Anak panahku meluncur. Tepat di tengah perjalanan, anak panah itu terbagi dua dengan sendirinya lalu mengarah tepat ke target yang tadi kupasang.

Setelah menancap, aku dapat melihat dengan jelas benang merah yang terikat di kelingking Key menyambung dengan benang merah yang terikat di kelingking Jonghyun. Manusia biasa tidak akan bisa melihat benang merah itu, tentu saja.

Nah, tugasku saat ini sudah selesai.

Set

Dan aku pun tersenyum ketika satu bintang jatuh baru saja lewat di atas langit.

Bintang jatuh memang tanda dari satu permohonan yang sudah terkabul.

Iya kan, Jonghyun, Key?

***

“Maaf, aku terlambat!” lamunanku buyar karena suara dari orang yang kutunggu akhirnya muncul juga.

“Ya! Key.. Satu jam dan kau masih bisa meminta maaf?” tanya Dongwoon dengan sinisnya.

“Mau gimana lagi? Siputku minta makan” jawabnya dengan alasan yang tidak berbobot.

Diam-diam, Woohyun dan Minho menyikut kedua lengan Mir sambil membisikkan sesuatu seperti..

“Kau lihat? Key datang sendiri!”

“Berita duka untuk dompetmu”

Mir harap-harap cemas sekarang. Dia menatap Key yang sibuk menyapa semua orang disitu dengan cerianya.

“Hai, kalian! Hai, Joon Hyung, Sunggyu Hyung, Gikwang Hyung, dan hi my baby Taemin~!” ujarnya seraya memeluk Taemin.

Minho tidak melepaskan matanya, terus memperhatikan gerak-gerik Key, “Kau memanggil mereka semua dengan nama tapi kau menyapa aku, Dongwoon, Woohyun, dan Mir dengan ‘hai, kalian!’? Kau memang sahabat yang ‘pengertian'”

“Aku tahu, terima kasih pujiannya” cibir Key sambil memeletkan lidahnya.

“Eh, tapi Key.. Dimana—ehem—pacarmu itu?” Dongwoon sudah tidak sabar untuk menanyakan hal tersebut, apalagi melihat ekspresi Mir yang semakin memburuk.

“Pacarku? Ah, Jjongie?”

“Iya, dia tidak jadi datang?” Key mengernyit lalu dia menunjuk ke arah belakang Dongwoon.

“Dia sudah datang sejak tadi, dia datang bersamaku. Apa kalian tidak menyadarinya?”

Mereka yang ada disana refleks menoleh ke arah yang Key tunjuk. Disana, terlihatlah Jonghyun yang berjalan ke arah mereka dengan sekantung minuman kaleng di tangannya.

“Aku menyuruhnya membelikan minuman untuk kalian” Key berdiri lalu berlari kecil menghampiri Jonghyun. Dia mengaitkan tangannya pada lengan Jonghyun dan berjalan bersamaan menuju meja ke-5 pasangan yang akan melakukan date bersama itu.

“Annyeong” sapa Jonghyun sambil tersenyum.

“A-annyeong, Kim Seonsaengnim” jawab mereka semua serempak—kecuali Key—dengan kakunya. Mereka masih tidak terbiasa dengan sikap Jonghyun yang berubah seratus delapan puluh derajat. Saat masih berstatus menjadi guru mereka,  Jonghyun benar-benar dingin serta jarang bicara. Sebenarnya, ketika Jonghyun dan Key mengakui kalau mereka mempunyai hubungan spesial pun, mereka sudah sangat shock.

Mereka pun bertambah terpuruk karena Mir dan Lee Joon memenangkan taruhan yang mereka bincangkan sejam yang lalu.

“Aigoo~ mau sampai kapan kalian memanggil dia ‘seonsaengnim’? Dia sudah tidak mengajar lagi. Panggil saja dia dengan namanya” kata Key sambil menunjuk-nunjuk pipi Jonghyun.

“Tapi, Key..”

“Key benar. Panggil saja aku Jonghyun, ok?” potong Jonghyun yang sudah tidak bisa dibantah lagi.

“Ne, Seonsaengnim—eh, ne, Jonghyun..” Key menertawakan kecanggungan teman-temannya. Dia mengecup pipi Jonghyun—tanpa tahu malu—lalu meminta izin untuk mengobrol pada Taemin.

Jonghyun sendiri menghampiri Mir yang sedang berhigh-five, merayakan kemenangannya bersama Lee Joon.

“Mir, gomawo..” ucapnya tiba-tiba.

Mir menatapnya kebingungan, “Untuk memberitahumu dimana keberadaan Key waktu itu atau untuk memberitahu Key kalau kau sedang ditembak oleh Eunsook?”

Jonghyun menggeleng sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dia kembali menatap gerak-gerik Key yang sedang bercanda bersama Taemin dan bertengkar kecil dengan Minho, “Tidak keduanya. Aku tidak tahu apa dan kenapa, tapi aku merasa kalau aku harus berterima kasih padamu”

Mir pun hanya bisa mengedikkan bahunya, “Aku tidak mengerti. Tapi, ya sudahlah.. Sama-sama, Hyung”

Aku masih terbang di dekat Jonghyun dan Mir.

Ternyata Mir tidak ingat kejadian 3 bulan yang lalu kekeke

Biarlah menjadi rahasiaku dan Tuhan.. Uhm.. Rahasia kalian juga maksudku.. Hehe

Tapi, aku benar kan?

Kalian tidak akan membocorkan cerita itu pada siapapun. Aku percaya itu, karena kalian mencintai Jonghyun dan Key sama seperti mereka mencintai diri mereka satu sama lain, am I right?

END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s