| JONGKEY | Oh! My Ninja | #6 – Today, You won’t Leave Me Again, Right? |


Title : Oh! My Ninja

Subtitle : Today, You won’t Leave Me Again, Right?

Author : Mak Erot IX JKK, bukan Winnie the Cum atau semacamnya dan ane bukan MANTAN Mak Erot! *cekek Bulgelover

Posted in: JongKey Kingdom on April 27, 2012

Warning : TYPOS, FAILED

prev story >>

Perempuan itu terdiam, wajahnya masih menunduk.

“Ngomong-ngomong.. kamu siapa?” tanya Jinki sambil memandangnya dari atas kepala hingga ujung kaki, baru ingat kalau dia sebenarnya tidak mengenali sosok cantik di depannya itu.

“Ano.. eto..” dia pun hanya bisa memainkan jemarinya, bingung, “aku rasa kalian membutuhkanku”

“Kalian?”

Jinki berjalan menaiki tangga, diikuti perempuan yang baru dikenalnya itu.

Tok tok

“Key, ini aku, Jinki. Aku masuk ya” teriaknya sambil memutar knop pintu dari kamar Jonghyun.

Cklek

Dia menemukan tubuh Key yang terlihat menyedihkan, sedang menundukkan kepalanya di atas kasur sambil menggengam tangan dingin Jonghyun. Jinki merasakan bahwa perempuan—yang kini berdiri di sebelahnya—sempat merinding melihat keadaan Key itu. Sungguh berantakan memang, tapi perempuan itu bisa mengontrol dirinya kemudian.

“Key, aku membawa seseorang yang dapat membantu kita.. kalau perkataannya benar, dia bisa membangunkan Jonghyun”

Key sebenarnya enggan berkomunikasi pada siapapun. Tapi, ketika mendengar bahwa ada seseorang yang dapat membuat Jonghyun terbangun, dia segera mengangkat kepalanya.

Ada kelegaan teramat sangat di dalam hatinya, tapi kelegaan itu segera sirna ketika dia melihat siapa orang yang dimaksud Jinki, perempuan yang mungkin bisa membangunkan Jonghyun.

Key membelakakan matanya tidak percaya, genggaman tangannya pada tangan Jonghyun pun terlepas begitu saja.

“J-Junghee..”

Jinki terdiam. Sayup-sayup terdengar suara deru nafas Jonghyun yang masih terbaring tak sadarkan diri. Jinki mendesah lalu mengambil posisi, terduduk di atas kursi yang berada tepat di samping tempat tidur itu.

Memorinya kembali berputar ke dalam kejadian yang baru saja berlalu. Memori tentang dirinya yang kelepasan membentak serta mengusir Key karena Key seolah-olah lupa akan Jonghyun semenjak kehadiran Junghee. Dia terus tersenyum ketika berbicara ini itu bersama Junghee sementara Jonghyun, orang yang selalu ditangisi dan ditungguinya itu—bahkan Key jarang makan dan mandi karena menunggui Jonghyun, seperti dianggap tak ada hawa keberadaannya.

Jinki mengerti sekarang kenapa waktu itu Jonghyun mengatakan kepadanya kalau Jonghyun ragu akan perasaan Key terhadapnya. Bagaimana dia cemburu sekaligus iri karena jauh di dalam hati Key, Jonghyun bisa merasakan kalau Key masih mencintai Junghee, walau nama Jonghyun sendiri mempunyai tempat spesial di hati Key, tapi sepertinya Key tidak akan bisa melupakan Junghee.

Jinki benar-benar geram, terlebih dalam perjalanan ke rumah Jonghyun tadi, Junghee mengatakan hal yang membuat emosinya membuncah.

“Key tidak akan bisa melupakan aku karena dia terlalu terobsesi denganku. Kau tahu itu?”

Shit.

Saat mengingat kata-kata itulah, nafsu Jinki tidak bisa ditahan lagi. Jinki menggebrak meja dengan keras hingga perhatian Key dan Junghee—yang tadinya sedang asyik mengobrol— teralihkan padanya.

“Kalau kalian mau bercengkrama sambil mengenang masa-masa indah kalian, sebaiknya kalian keluar dari sini karena disini ada orang yang membutuhkan ketenangan”

Raut wajah Key langsung berubah menyiratkan kekhawatiran, sepertinya ia baru ingat kembali dengan kondisi Jonghyun.

“Terlambat kalau kau baru menyadarinya. Aku minta kalian keluar sekarang!”

“Hyung..”

“Keluar kataku!!!” Junghee menenangkan Key yang terkejut mendapat perlakuan kasar dari Jinki. Perempuan itu menatap sinis Jinki ketika dia menyeret keluar Key, entah kemana dan pastinya Jinki tidak peduli.

Jinki sebenarnya menyesal ketika dia membentak dan mengusir Key itu. Tapi, dia kesal.

Apakah Key tidak bisa memilih seseorang di antara Jonghyun atau Junghee?

Kalau dia memilih Jonghyun, Jinki bisa bernafas lega. Tapi, kalau dia memilih Junghee..

Sret.

Jinki menyibak poni yang menutup kening Jonghyun. Wajah tampan ninja itu terhiasi oleh peluh keringat karena kamar bernuansa gelap yang sekarang ditempatinya menjadi semakin pengap ketika gordennya di tutup.

“Jonghyun..”

Jinki mengusap rambut Jonghyun beberapa kali lalu tangannya tiba-tiba berhenti.

“Walau tidak ada seorangpun yang akan membantuku nanti.. Aku akan tetap membuatmu terbangun.. Lalu.. Kita bisa pergi selamanya dari dunia nyata yang penuh kebohongan ini..”

***

“Key..” Junghee menoleh ke samping kiri, tepat dimana namja yang sempat menjadi pacarnya itu berdiri. Rambut bergelombangnya menari-nari tertiup angin. Beberapa helaian rambut mengenai wajah cantiknya yang segera ia singkirkan dengan jari-jari lentiknya.

“Hm..” jawab Key tanpa kata-kata lebih lanjut. Mata kucing namja itu sibuk menatap lurus ke depan.

Ombak hari ini memang lumayan tinggi, terpaannya terdengar berbunyi ketika bersentuhan dengan batu-batu karang sehingga udara di sekitar mereka terasa sejuk dan berbau khas laut.

“Sudah lama kita tidak kemari bersama..”

“Iya. Terakhir kali itu.. Beberapa tahun yang lalu.. Sehari sebelum kau meninggalkanku ke Jepang” Junghee memindahkan arah pandangnya sambil menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah ketika saat itu dia meninggalkan Key. Meminta putus darinya lalu pindah ke Jepang. Hebatnya lagi, Key tidak menerima keputusan Junghee untuk mengakhiri hubungan mereka. Terlebih alasannya adalah Junghee harus segera pindah ke Jepang dan dia tidak mau melakukan hubungan jarak jauh. Key sudah meminta Junghee untuk menunggunya karena dia juga akan melanjutkan study ke Jepang. Tetapi, semua sia-sia, Junghee tetap memilih untuk pergi ke Jepang saat itu juga, ia pun memilih untuk mencampakkan Key.

“Maaf..”

“Sudahlah.. Semuanya sudah berlalu”

Hening melanda. Baik Key maupun Junghee, terdiam mematung memandangi pemandangan di depan mereka. Hamparan langit sore dengan beberapa burung yang terlihat berlomba untuk pulang ke sangkarnya pun memenuhi indera penglihatan mereka dengan warna jingga.

“Sekarang..” Junghee menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dia melanjutkan pertanyaannya, “apa kau masih mencintaiku?”

“M-mwo?” Kali ini, giliran Key yang menolehkan kepalanya pada Junghee. Junghee sendiri sibuk memainkan pasir dengan kaki kirinya yang diputar ke depan dan ke belakang. Kedua tangannya pun ia tautkan ke belakang punggungnya.

“Kau masih mencintaiku apa tidak?”

Key tersenyum, sesaat ketika pita suaranya akan mengatakan kata ‘Ya’, tiba-tiba saja dia teringat oleh suatu sosok. Sosok yang tingginya lebih pendek darinya, dengan rahang sempurna, mata bulat, hidung mancung dan bibir kissable. Sosok itu selalu berlaku konyol dan menyusahkan dirinya. Tetapi, sosok itu adalah sosok yang selama ini selalu berada di sisinya. Sosok yang selama ini selalu melindunginya. Sosok yang selalu membuatnya bahagia dan sosok yang diam-diam terus menumbuhkan benih-benih cinta di dalam hatinya.

“Key? Kenapa?” Junghee membalikkan badannya lalu berjalan mendekati Key. Key—secara refleks—berjalan mundur menjauhi Junghee dan terus mundur ketika Junghee berada dalam jarak yang semakin dekat dengannya.

“Sudah kuduga, kau tidak mencintaiku lagi” sambung Junghee. Key tidak mengelak, tidak juga mengiyakan. Ia hanya diam, terdiam sambil memasang wajah bersalahnya pada perempuan itu.

“Tidak, lebih tepatnya, kau masih mencintaiku, tetapi kau mencintai orang itu jauh daripada kau mencintaiku. Entahlah kau menyadari itu atau tidak”

Key masih terdiam.

“Tidak apa-apa, aku mengerti” Junghee kembali memusatkan perhatiannya pada matahari yang sekarang mulai terbenam lalu dia tersenyum.

“Pergilah, dia membutuhkanmu..” Key tahu apa maksud perkataan Junghee. Dia tersenyum kepada Junghee untuk yang terakhir kalinya sebelum dia berlari dengan kecepatan luar biasa, berlari keluar dari laut yang menyimpan banyak kenangan diantara dirinya dengan Junghee.

Setelah benar-benar sendiri, Junghee mulai menikmati gelapnya malam yang tiba ketika matahari tadi benar-benar kembali ke peraduannya. Dia memegangi rambutnya yang semakin berterbangan disapa oleh angin malam, dan dia pun tersenyum lagi, kali ini dengan senyuman yang sangat tulus.

“Kau berhasil melewati tesnya, Key.. Chukkae”

***

Key menaiki satu persatu anak tangga dengan hati gelisah. Bingung dengan apa yang harus dia jelaskan pada Jinki.

Key tahu, saat ini Jinki pasti sangat marah kepadanya dan Key sendiri mengakui kalau dia salah. Perasaannya memang sulit disembunyikan, ketika dia melihat Junghee lagi setelah sekian lama tidak bertemu, tak terdefinisikan seberapa senang dirinya sehingga semuanya berjalan begitu saja.

Key tidak bermaksud untuk sengaja melupakan Jonghyun dengan bersenang-senang bersama Junghee. Oke, kenyataannya memang terlihat seperti itu, apalagi di mata Jinki. Tapi..

Aah.. Ottohke?

Key memandangi pintu kayu di depannya sambil menggigiti bibir bawahnya.

Haruskah sekarang dia mengetuk pintu kamar Jonghyun? Apakah waktunya tepat?

Key menutup matanya lalu dia mengetuk pintu perlahan, keputusan yang akhirnya ia buat setelah ia berdebat dengan dirinya sendiri adalah..

Now or never.

Tok tok tok.

Tok tok tok.

Tok tok tok.

Beberapa kali dia mengetuk pintu itu, tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar.

Sebegitu marahkah Jinki padanya sampai menyahutnya pun dia enggan?

“Hyung.. Ini aku, Key. Maafkan aku, aku tahu aku salah. Tolong buka pintunya”

Hening.

“Hyung.. Aku ingin..”

Cklek.

Tangan Key tidak sengaja memutar knop pintu hingga pintu—yang sebenarnya tidak terkunci—pun terbuka.

Walau kebingungan, Key melangkahkan kakinya masuk. Ia memunculkan kepalanya dari balik pintu, memerhatikan keadaan di sekitar kamar.

“Jinki Hyung..” panggilnya pelan.

Karena tidak ada jawaban, dia pun meneruskan langkahnya. Mata kucingnya dipasang dalam mode awas, takut-takut Jinki tiba-tiba muncul lalu mengusirnya.

Kasur yang biasa ditempati Jonghyun sudah semakin terlihat. Key tersenyum, merasa berhasil masuk kesana tanpa diketahui oleh Jinki.

“Jinki Hyu—” Key terkejut. Orang yang tadi mengira kalau Key adalah Jinki pun terkejut. Mereka saling bertatapan tanpa suara.

Key lalu mengucek-ucek matanya, meyakinkan penglihatannya sampai dia yakin kalau orang yang duduk menyender pada kasur di depannya adalah nyata.

“J-Jjong..”

“Key..” Jonghyun memijat-mijat pelipisnya, “apa kau melihat Jinki Hyung? Kepalaku terasa pusing, aku..”

Bruk.

Belum selesai Jonghyun berbicara, Key sudah memeluk Jonghyun dengan erat. Kedua tangannya melingkar kuat-kuat pada tubuh Jonghyun yang kekar itu.

“Ya ya ya, Key! Sesak tahu! Kau mau membunuhku, hah? Aduh, mana badanku pegal semua lagi! Key lepas—eh, kok basah?” Jonghyun berusaha mendongakkan kepala Key yang tertunduk di dadanya, tapi baru sedikit wajahnya terlihat, Key sudah menundukkan kepalanya kembali, “kamu nangis? Hei hei, ada apa sih?”

Key tidak mengindahkan pertanyaan Jonghyun. Dia tetap menyembunyikan tangisnya yang sebenarnya semakin terdengar jelas.

“Key, apa yang membuatmu menangis? Apa seseorang menyakitimu? Katakan padaku siapa orangnya, biar kuhabisi dia dengan jurus ninjaku!”

Key menggeleng dengan tangisnya yang telah berubah menjadi isakan.

“Lalu, kamu kenapa?” Jonghyun bertanya lagi karena belum menemukan jawaban yang memuaskan hatinya. Dia mengelus-elus punggung Key, menenangkannya. Helaian rambut Key pun menusuk-nusuk ke wajah tampannya karena dia sibuk menggumamkan kata-kata penenang dan penyemangat ke dalam indera pendengaran Key.

“Kau mau tahu hh kenapa hh aku menangis?” Key berucap patah-patah dengan isakannya yang belum berhenti. Kepalanya masih tenggelam pada dada Jonghyun. Membuat kaos favorit Jonghyun—yang saat ini dikenakannya—basah sudah oleh buliran air mata Key.

“Tentu. Sekarang, katakan padaku alasannya. Kalau benar ada seseorang yang membuatmu menangis, lihat saja, aku tidak akan tinggal diam! Aku..”

“Kau”

“Hah?” Jonghyun seperti mendengar Key mengatakan sesuatu tapi tidak begitu jelas karena perkataan Key akan terdengar seperti gumaman dengan posisinya saat ini.

“Kau, Kim Jonghyun. Kau yang membuatku menangis” ulang dan perjelas Key, membuat Jonghyun mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya.

“Mwo? Aku? Apa yang kulakukan padamu?” Key menangis lagi. Jonghyun semakin bingung. Apalagi Key yang tadinya sudah agak tenang, sekarang mulai mengeratkan pelukan mereka kembali sambil terus menangis. Bahunya naik turun dan badannya berguncang hebat.

Sebegitu bersalahkah Jonghyun hingga Key menjadi rapuh seperti ini?

Tapi, seingat Jonghyun, dia tidak melakukan apapun yang bisa membuat Key marah, khawatir, atau sedih.

Lalu, kenapa?

“Kau tahu? Aku merindukanmu hh aku hh sangat merindukanmu. Kau hh tega sekali padaku hiks” Kebingungan Jonghyun terus berlipat di kala Key mulai memukulkan kepalan tangannya ke dada Jonghyun secara berulang, dia terus berkata betapa jahatnya Jonghyun padanya.

“Key, sst.. Tenangkan dirimu, Key” Jonghyun menggenggam kedua tangan Key yang tadi terus memukul dirinya. Dia menarik tubuh Key mendekat padanya lalu dihapusnya aliran air mata Key dari pipi tirusnya—yang entah kenapa terlihat semakin tirus di mata Jonghyun.

“Aku minta maaf kalau aku memang salah, tapi sejujurnya aku tidak mengerti apa kesalahanku padamu. Lalu, kau tadi bilang kalau kau merindukanku? Bukankah setiap hari kita bertemu di sekolah dan rumah kita bersebelahan?”

Key menyusut air matanya yang masih tersisa sambil terus terisak, “Bodoh! Kau kira beberapa minggu ini tidak mendengar suaramu, tidak melihatmu, tidak berbicara padamu adalah alasan yang kurang untuk aku merindukanmu?”

“Aish, kau berlebihan sekali, Key.. Kemarin kan kita baru saja bertemu di sekolah”

Key memandang penuh tanya pada Jonghyun. Dia berusaha mencari sinar mata Jonghyun, tetapi yang dia temukan hanyalah sinar matanya yang menyiratkan kalau dia tidak tahu apa-apa.

“Jjong, jangan bilang kalau kamu..”

***

“Apakah tidak apa-apa membiarkan mereka berdua saja?”

“Hm, kurasa mereka memang membutuhkan waktu untuk berdua dan aku pun butuh waktu untuk menghirup udara segar. Terlalu lama di dalam kamar pengap itu membuat paru-paruku tidak sehat” Jinki menselonjorkan kakinya sementara tubuhnya duduk menyender pada tembok.

Sekarang, dia dan Junghee sedang berada di atap sekolah Jinki, Jonghyun, Key dan Woohyun. Tadi Junghee menghubunginya untuk bertemu dan dengan ragu, dia menuruti permintaan perempuan itu. Awalnya dia bermaksud untuk membuatkan makanan bagi Jonghyun yang baru saja sadar, dia ingin menghabiskan waktu bersama Jonghyun, tapi Key lebih membutuhkan waktu itu. Karenanya, walau Jinki sangat ingin menemani Jonghyun—biar bagaimanapun, Jinki juga merindukan Jonghyun—dia pun memutuskan untuk mengalah.

“Sudah kubilang kan kalau aku bisa membantumu membangunkan Jonghyun?”

Jinki tersenyum “Baiklah, aku akui itu dan aku.. Hm.. Terima kasih. Sangat. Aku tidak tahu apa jadinya kalau kamu tidak ada”

Pipi Junghee merona. Dia masih berdiri di samping Jinki yang terduduk. Angin malam yang melewati atap sekolah dengan kencangnya pun mulai membuat rambut bergelombangnya menari-nari.

“Sama-sama” jawab Junghee setelah terdiam lumayan lama. Wajahnya dia tolehkan ke arah lain ketika mengatakan itu, takut Jinki menyadari pipinya yang semakin merona.

Lalu, keadaan pun kembali sunyi. Baik Jinki maupun Junghee terlalu sibuk berkutat dengan pikirannya. Tapi, Jinki yang merasakan suasana canggung itu pun berinisiatif untuk memulai percakapan baru.

“Jadi, kau mempunyai kekuatan spesial, huh?”

Junghee mengangguk. Matanya tiba-tiba kosong ketika dia memikirkan keistimewaannya tersebut.

“Apa itu?”

Tarikan nafas Junghee merefleksikan dirinya yang siap tidak siap harus menjelaskan hal yang sebenarnya tidak ingin dia jelaskan, “Indigo”

“Indigo?”

“Ya, aku bisa melihat masa depan dan hal-hal yang.. sulit untuk diterima oleh akal manusia biasa”

Jinki menganggukan kepalanya berulang kali, mulutnya membentuk huruf ‘O’. Dia tahu Junghee sensitif membicarakan hal yang menyangkut kekuatannya, dia pun memutuskan agar tidak menanyakan lebih lanjut. Tapi, tanpa disuruh, ternyata Junghee mulai bercerita tentang kekuatannya dan masa lalunya bersama Key.

“Kami berpacaran lumayan lama. Cukup lama sampai membuat kami berjanji untuk melanjutkan study ke Jepang bersama-sama. Tapi, suatu hari.. Aku melihat sesuatu. Ada seseorang yang menjadi tembok di antara kami. Awalnya aku tidak memikirkan, tapi semakin lama sosok seseorang itu semakin jelas. Seseorang itu merebut Key dariku. Dan aku tidak bisa berkutik karena..”

Junghee menatap langit, terdapat kumpulan bintang yang berbaris dan membentuk rasi dengan indahnya, “Karena dia adalah jodoh Key yang sebenarnya”

“Kim Jonghyun” sambung Jinki, di tambah anggukan dari Junghee.

“Aku pun meminta kedua orangtuaku untuk secepatnya pindah ke Jepang. Sehari sebelum kepergianku ke Jepang, aku memutuskannya sehingga terkesan kalau aku adalah orang yang mencampakkannya. Padahal, dia tidak tahu kalau hatiku sakit saat melihatnya sedih ketika aku memutuskannya, dia tidak tahu bahwa aku menahan tangisku ketika aku mengatakan bahwa aku akan pindah ke Jepang dan aku tidak mau melakukan hubungan jarak jauh dengannya, dia pun tidak tahu bahwa tenggorokanku tercekat ketika aku mengatakan bahwa aku sudah tidak mencintainya. Tapi.. Aku tidak menyesali semua itu. Aku bisa melihat masa depan ketika Key bertemu dengan Jonghyun dan aku tahu kalau Key bahagia bersamanya”

“Lalu, kau kembali ke Korea lagi itu karena..”

“Ya, aku melihat kalau Key sedang dalam keadaan yang menyedihkan. Aku bisa merasakan kesedihan dan rindu yang membuncah di dalam dirinya terhadap Jonghyun. Untuk itu aku mengambil cuti dan pergi ke Korea”

Junghee tersenyum manis, dia menurunkan badannya hingga ia pun duduk menyender pada tembok. Jarak mereka lumayan memudar karena Jinki dan Junghee hanya dihalangi sebuah pintu yang digunakan sebagai akses masuk sekaligus akses keluar dari atap itu, “Beberapa hari yang lalu sebelum aku kembali kesini, aku melihat bahwa ada satu cara untuk membangunkan Jonghyun dan aku ikut andil dalam cara ini. Untuk membuat Jonghyun terbangun, aku harus meyakinkan Key bahwa seseorang yang dicintainya itu hanyalah Jonghyun sedangkan perasaan cintanya padaku tidak lebih sebagai perasaan cinta seorang sahabat pada sahabatnya. Dan yah.. Ternyata cara itu terbukti sekarang”

Jinki tertawa menanggapi perkataan Junghee, “Aku tidak menyangka, penelitianku dan pencarianku selama berminggu-minggu dikalahkan olehmu yang baru saja datang ckck. Ternyata semudah itu caranya agar membuatnya terbangun”

Junghee ikut tertawa, “Tidak semudah yang kau kira, tuan”

Dan mereka pun tertawa bersama, tertawa ditemani bulan yang menyinari bumi dengan keadaan penuh. Seolah-olah ikut merasakan kehangatan yang tercipta di antara mereka.

“Eh.. Ngomong-ngomong, bisa-bisanya kita bertemu disini” Jinki mengernyit mendengar pernyataan Junghee.

“Bukannya kamu emang nyuruh aku kesini?” Sekarang, giliran Junghee yang mengernyit.

“Maksudmu? Aku kan tidak tahu nomor telepon atau hal lain yang dapat kugunakan untuk menghubungimu?”

Jinki membuka mulutnya untuk mengeluarkan suara, tapi dia menutup mulutnya kembali karena kehilangan hal yang akan diucapkannya.

“Tidak mungkin kan kita punya telepati? Hahahahahahaha” candaan Junghee membuat Jinki terbelalak. Jinki menghampiri Junghee secara cepat lalu dia mencengkram kedua bahu Junghee. Junghee yang terkejut tidak punya pilihan lain selain menatap kedua mata Jinki yang berada dalam jarak dekat dengannya.

“Kamu.. Kamu tadi memikirkan sesuatu tentang aku sebelum aku kemari?”

Pipi Junghee kembali merona merah, walau hari sudah gelap, hal itu tetap saja terlihat dengan jelas. Junghee lalu memalingkan mukanya ke samping.

“Apaan sih? Tidak ada hal berguna lain yang dapat aku kerjakan selain memikirkan kamu apa?”

Jinki menolehkan dagu Junghee hingga wajah yeoja itu kembali berhadapan dengan wajah tampannya.

“Aku serius, Junghee.. Apa kau memikirkan aku?”

Karena melihat keseriusan di sorot mata Jinki, Junghee menelan ludahnya sambil berbicara takut-takut, “I-iya. Aku berpikir kalau kau mungkin akan menyukainya ketika aku memberitahumu bahwa aku sudah berhasil membangunkan Jonghyun. Makanya, aku kira.. Akan lebih baik jika kau bisa menemuiku di atap ini. Entah kenapa, saat aku memikirkan itu, aku seperti berkomunikasi denganmu dan tak berapa lama, kau pun datang kesini”

Jinki menghela nafasnya berat. Dia melepaskan cengkraman tangannya pada kedua bahu Junghee lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Ke-kenapa? Apa ada yang salah?” seru Junghee kebingungan. Dari dulu, dia tidak ingin membebani seorangpun dengan keberadaannya, karena itu dia akan sangat merasa bersalah kalau dia melakukan kesalahan pada orang lain.

“Percaya atau tidak, tadi kita memang bertelepati. Aku datang kesini karena aku mendengar suara hatimu itu dan sialnya, aku baru menyadarinya sekarang”

Junghee menatap Jinki dengan tatapan aneh, seolah-olah Jinki adalah makhluk luar angkasa yang mendarat di bumi lalu menjajah seluruh pabrik ayam yang ada tanpa tersisa, “Maksudmu? Aku memang indigo, tapi aku tidak pernah bertelepati dengan orang lain sebelumnya”

“Hah.. Sebenarnya.. Ada suatu peraturan di dunia ninja..” Jinki mulai bercerita tentang peraturan yang juga dilanggar oleh Jonghyun dan Key. Peraturan dimana seorang ninja dapat terikat untuk hidup di dunia nyata selamanya karena seorang manusia yang ditakdirkan sebagai jodohnya, “…intinya, kalau ada manusia biasa yang melihat kami dalam mode ninja, kami harus tinggal bersamanya di dunia nyata dan hidup sebagai pendampingnya”

Junghee menatap Jinki yang sedang menjelaskan tanpa berkedip, “Jadi, maksudmu?”

Jinki menghela nafasnya lagi, “Mau tidak mau, aku harus menerima kenyataan kalau kamu adalah jodohku”

“Jangan bercanda! Kapan aku melihatmu dalam mode ninja? Aku tahu kalau kau ninja juga karena..” Junghee terdiam ketika dia mengingat sesuatu.

“Sepertinya kau sudah menyadarinya, ya saat pertama kali aku bertemu denganmu dan sesudah bertarung melawan Woohyun. Saat itulah kamu melihatku dalam mode ninja”

“Jadi, tanda ini..” Junghee menyibak rambutnya lalu menunjukkan bahunya yang sudah tertempeli suatu simbol.

“Benar, itu adalah simbol bahwa kita sudah terikat”

Junghee—yang masih belum mencerna semua kejadian yang menurutnya terlalu cepat ini— hanya bisa terkejut. Mata bulatnya semakin membulat sementara mulutnya terkunci karena kehabisan kata-kata.

Jujur, Junghee merasakan sedikit getaran aneh pada jantungnya ketika bersama Jinki. Tapi, masih terlalu dini untuk menganggap semuanya sebagai perasaan cinta.

“Apa yang harus kita lakukan?”

Mendengar pertanyaan Junghee, Jinki pun menghela nafas beratnya untuk yang kesekian kali.

***

Jonghyun masih terjaga. Walau jam menunjukkan pukul tengah malam sudah lewat sejak tadi, kedua kelopak matanya enggan menutup dan pikirannya masih melayang entah kemana.

Jonghyun duduk menyender pada tempat tidurnya. Dari tadi dia tidak beranjak darisitu karena terlalu sibuk menenangkan Key.

Key sendiri sudah pergi ke dunia mimpi sekarang. Dia tertidur sambil menyenderkan tubuh kurusnya pada Jonghyun, kepalanya tersender di bahu kanan Jonghyun sementara kedua tangan Key melingkar protektif pada tubuh Jonghyun. Memeluk Jonghyun dengan erat serta menghapus jarak di antara mereka.

Key sepertinya kelelahan karena Jonghyun dapat mendengar deru nafasnya yang sedang tertidur. Sangat damai. Seolah-olah, Key baru saja menanggalkan seluruh beban di hidupnya dan sekarang dia hanyalah seorang namja yang penuh kedamaian karena merasa bebas seperti burung yang terbang di angkasa.

Nyatanya, Key memang kurang tidur selama beberapa minggu ini. Selain kurang tidur, dia juga jarang makan, jarang mandi dan jarang tersenyum.

Tentu saja itu semua karena dia mengkhawatirkan Jonghyun yang tak kunjung sadar. Untuk itu, jelaslah kalau saat ini dia bisa tidur tenang, apalagi dengan keberadaan Jonghyun di sampingnya.

Tik tok tik tok.

Jonghyun memerhatikan pergerakan jarum panjang dan jarum pendek pada jam dinding yang berada di depannya.

Tangan kanannya yang melingkar pada pinggang Key tidak berhenti mengusap-usap tubuh Key. Sesekali dia bernyanyi kecil, beberapa lullaby yang dia harap dapat mengantarkan tidur lelap Key ke depan pintu gerbang bertuliskan ‘Sweet and Nice Dream’.

Setelah beberapa lama, Jonghyun memindahkan pandangannya kepada Key. Wajah namja itu benar-benar polos ketika tidur. Apalagi dengan bulu mata lentiknya dan mulut berbentuk hatinya yang membuat Key seperti seorang Sleeping Angel dengan efek cahaya pada sekitar wajahnya—yang berasal dari lampu kecil di samping tempat tidur.

Tangan kiri Jonghyun mulai menjalar sampai hinggap di wajah Key. Jari-jari Jonghyun mengusapi pipi Key yang menggemaskan itu dengan senyum yang terus terkembang di wajahnya—Jonghyun harus menahan keinginannya untuk mencubiti pipi Key karena dia mau menjaga tidurnya.

“Emh.. Jjong..” Jonghyun terkejut ketika Key mengigau, apalagi memanggil nama panggilan spesial yang dibuat Key untuknya. Jonghyun mengira kalau dia sudah membuat tidur Key terganggu, tapi dia bisa bernafas lega ketika Key kembali terdiam dan kelopak mata indahnya tidak terbuka.

Jonghyun tertawa kecil. Sebenarnya, dia ingin menyentuh Key, tapi dia takut kalau nanti Key akan benar-benar terbangun.

Secara hati-hati, Jonghyun pun memindahkan tangan kirinya sampai bertautan dengan tangan kanannya, sehingga baik Jonghyun maupun Key melingkarkan tangan mereka ke tubuh satu sama lain sekarang.

Jonghyun tertawa kembali membayangkan betapa konyolnya posisi mereka saat ini. Tapi, dia tidak peduli. Toh, karena posisi konyol mereka itu dia dapat menyentuh Key tanpa membuatnya terbangun. Selain itu, tubuh mereka pun hangat dan dia juga dapat menyalurkan rasa cintanya pada Key dengan memeluknya.

Ya, rasa cintanya pada Key yang selalu tumbuh dan tumbuh setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.

Rasa cintanya yang membuat Jonghyun harus berbohong kepada Key.

“Jonghyun.. Kamu ingat kan kejadian apa yang terjadi selama kamu tertidur?” kata-kata Key sore itu masih terngiang di telinganya.

“Em.. Apa ini tebak-tebak berhadiah? Haha tentu saja aku pergi ke sekolah, belajar, istirahat, pulang, makan, mandi lalu aku pergi tidur deh”

Key memandang Jonghyun dengan tatapan tidak percaya, “Terus, kapan terakhir kamu ke sekolah?”

“Kemarin. Aih.. Kau ini, kita kan bertemu di sekolah. Masa sudah lupa?”

Raut wajah Key semakin menyiratkan keanehan, bukan jawaban itu yang harusnya Jonghyun lontarkan.

“Kau tidak sadarkan diri selama beberapa minggu. Kau tahu itu kan?”

“Apa ini lelucon? Aku kan sehat-sehat saja”

“Kau.. Maksudku, kita. Kita melakukan ‘sesuatu’ yang melanggar peraturan di dunia ninja dan kau.. Tak sadarkan diri sampai beberapa minggu. Saat ini, kau baru saja sadar. Jangan bilang kau tidak mengingatnya! Aku sedang tidak ingin bercanda, Jjong..”

“Apa aku terlihat seperti sedang mempermainkanmu? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan”

Hati Jonghyun terasa begitu miris. Dia harus berbohong pada Key dan hebatnya lagi, Key percaya akan kebohongannya.

Dia berbohong karena tentu saja Jonghyun mengingat semuanya, dia mengingat semua kejadian itu. Kejadian dimana dirinya tertidur tidak berdaya serta kejadian yang dia lakukan bersama Key sehingga dia harus menerima hukuman sesuai peraturan di dunia ninja. Bahkan, dia ingat ketika Key terus menungguinya, terus menangisinya selama dia tertidur. Dia ingat betapa tersiksanya dia karena dia tidak dapat memeluk Key di saat-saat rapuhnya itu. Dia ingat semua itu.

Tapi, Jonghyun terpaksa berakting seolah-olah terkena amnesia. Dia memutuskan untuk menutupinya dari Key karena dia tidak mau Key terbebani lagi akan semua kejadian itu.

Jonghyun mengeratkan pelukannya pada Key sambil menciumi rambut halus Key yang beraroma strawberry. Dia memejamkan matanya sambil menikmati semua itu. Bibirnya tak berhenti tersenyum dengan lebarnya.

Jonghyun harus mengingat semua kejadian ini, semua momen indah ini sebelum dia tidak dapat merasakannya lagi.

Ya, dia harus mengingatnya dengan baik karena Jonghyun sudah mengambil sebuah keputusan.

Saat ini, Jonghyun akan pergi. Dia harus menemui Woohyun lalu menyelesaikan semuanya.

Itulah keputusan yang diambil oleh Jonghyun.

Jonghyun sadar, hanya dia yang dapat menghentikan Woohyun. Karenanya dia berani mengambil keputusan tersebut.

Tapi, Jonghyun harus meninggalkan Key. Dia tidak dapat melibatkan Key lebih jauh. Dia juga tidak dapat melibatkan Jinki, satu-satunya yang dapat dia libatkan hanyalah dirinya sendiri.

Detik demi detik yang terlewat terasa begitu berat bagi Jonghyun saat ini. Ternyata memang sulit baginya untuk meninggalkan Key.

Berulang kali dia harus mengingatkan dirinya akan keputusan yang sudah dia ambil sampai akhirnya, hatinya tidak bisa tergoyahkan kembali.

Perlahan, Jonghyun melepas pelukannya dari tubuh Key lalu beranjak. Aura hangat yang tadi melanda seluruh aliran darah di tubuhnya pun langsung menguap di udara.

Kaki Jonghyun sudah menapak di lantai ketika tangan Key—yang malah semakin erat memeluk tubuhnya—menghentikan pergerakan Jonghyun.

“Jangan pergi.. Jjong.. Jangan tinggalkan aku lagi.. Hm..” Jonghyun mengira Key terbangun, tetapi ternyata dia hanya mengigau lagi.

Jonghyun tertawa kecil—sempat terpikir kenapa dia bisa tertawa di saat seperti ini—lalu dia melepas tautan tangan Key di tubuhnya secara hati-hati.

Jonghyun mengamati wajah Key selama beberapa saat. Diambilnya sebuah bantal untuk dijadikan pengganti bahunya yang dijadikan alas oleh kepala Key lalu dia menyelimuti tubuh Key agar tetap terasa hangat.

“Jangan pergi.. Jjong.. Jangan tinggalkan aku lagi.. Hm..”

Igauan Key kembali terngiang di dalam kepala Jonghyun, membuat Jonghyun lagi-lagi tersenyum miris.

Dia pun mendekati tubuh Key, satu kakinya—yang dilipat—menaiki tempat tidurnya lalu wajahnya berhenti tepat di depan wajah Key.

“Aku harus pergi, Key.. Jaga dirimu baik-baik, aku mencintaimu” setelah membisikan itu, Jonghyun mencium bibir Key dengan bibirnya. Ciuman sepenuh hati yang sangat bermakna, kedua pasang mata mereka pun menutup dalam waktu yang cukup lama. Tapi, Jonghyun tidak melakukan apapun selain menempelkan bibirnya di atas bibir Key. Dia menyesapi semua rasa manis ciuman mereka dengan seluruh hatinya. Setelah itu, dia menatap wajah Key, mengelus kepalanya, mencium keningnya dan akhirnya ia pergi keluar dari sana.

Blam.

Di saat pintu kamar Jonghyun tertutup, sebulir air mata pun mengalir tak terizinkan dari sudut mata kanan Key.

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s