JONGKEY | Gimme a Time Machine | Part 2 of 2


Posted inJongKey Kingdom Fanfictions on May 10, 2012
 

Gimme a time machine

“Tao..” Jonghyun memasuki kamar yang ditempati Tao secara hati-hati. Dilihatnya Tao yang sedang duduk menyender pada tempat tidur, pandangannya kosong, menatap lurus ke depan.

“Apa kau sudah membaik?” tanyanya yang tidak dijawab oleh Tao. Jonghyun menghela nafasnya lalu dia duduk di samping tempat tidur itu.

“Kau belum makan kan? Mau kusuapi jeruk?” pertanyaannya lagi-lagi tidak diindahkan oleh Tao. Dia pun membuka kulit jeruk yang ada di samping tempat tidur lalu menyodorkannya pada Tao.

“Aa~” Tao melirik sekilas pada Jonghyun, tapi dia tidak membuka mulutnya untuk memakan jeruk yang Jonghyun sodorkan. Jonghyun mengerti kalau Tao sedang tidak bernafsu melakukan apapun, dia pun segera menurunkan tangannya dan menyimpan kembali jeruk yang tadi dikupasnya.

“Apa.. Tidak ada jejak?” tanya Tao, masih menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

Jonghyun menggeleng dengan berat hati, “Aku sudah mengautopsi seluruh tubuhnya, tapi tidak ada jejak yang tertinggal. Mianhe..”

Tao menghela nafasnya lalu tersenyum getir, “Jadi, sudah ada orang yang mengincarnya kan?”

Jonghyun mengangguk, “Sepertinya, ada orang yang mengincar jantungnya, menilik hanya organ itu yang menghilang dari tubuh Kris. Dan orang ini adalah professional, dia.. membedah jantung Kris dengan sangat rapi”

Tao menangis. Entah sudah berapa juta tetes mata yang dia keluarkan, sampai-sampai di saat diam pun, dia merasa kalau matanya tetap menangis.

“Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu, ge?”

“Maaf.. Ini sudah kehendak Tuhan, Tao. Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi”

“Terus, apa gunanya kau belajar kedokteran? Apa gunanya kau menjadi dokter spesialis jantung? Apa gunanya? Katakan, ge!” Jonghyun terdiam mendengar teriakan Tao. Jujur, dia ingin menjawab semua itu, tapi dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk menjawabnya.

Tao menjambak rambutnya, dia menengadahkan kepalanya ke atas dengan mata terpejam, sebisa mungkin meredam semua emosinya agar tidak meledak, “Bahkan kau tidak bisa menyelamatkannya, ge.. Kau tidak bisa menyelamatkan kekasihmu sendiri..”

Mendengar hal itu, hati Jonghyun seketika berdegup kencang. Nafasnya memburu dan pikirannya dirasa kosong. Dia pamit kepada Tao untuk pulang, tak peduli Tao mendengarnya atau tidak.

Blam.

Ketika sudah berada di luar, Jonghyun tidak segera pulang seperti pernyataannya tadi. Dia diam di balik pintu, lama kelamaan tubuhnya merosot sampai ia berjongkok, punggungnya menyender dan dia pun menangis. Air mata yang sedari tadi—bukan, air mata yang sudah dia tahan sedari dulu, semenjak ia berjanji untuk tidak menangis lagi setelah hari kematiannya, akhirnya tumpah membasahi seluruh wajahnya. Jonghyun tidak mempedulikan tatapan aneh orang-orang yang melewatinya. Untuk sesaat, dia ingin meluapkan emosi di dalam jiwanya. Jadi, biarkan dia melanggar janjinya kali ini. Biarkan dia menangis kali ini.

Biarkan dia mengingatnya lagi kali ini..

Prang!

Di dalam kamar, Tao melempar vas bunga yang ada di samping tempat tidurnya ke lantai sehingga vas itu hancur berkeping-keping. Bunga putih yang tadinya segar pun turut mendarat di atas lantai, menambah kekacauan yang terjadi.

Tao menekuk kedua lututnya, membenamkan kepalanya di antaranya lalu dia pun meneruskan tangisnya.

Hati mereka semakin pilu karena mengingat seorang yang pernah berada di samping mereka, seorang yang pernah mengisi kekosongan hati mereka dan seorang yang kini meninggalkan mereka.

Seorang bagi Jonghyun dan seorang lain bagi Tao.

***

Gimme a time machine 

Setahun kemudian, keadaan Tao sudah mulai membaik. Dia sudah bisa tersenyum dan beraktifitas seperti biasanya walau terkadang, Jonghyun menemukan mata Tao yang membengkak sehingga lingkaran hitam di sekitar matanya semakin terlihat jelas.

Selama setahun ini pula, Jonghyun adalah orang yang selalu menemani Tao, memberinya semangat dan tak absen untuk menjaganya.

“Gege, hari ini kau akan mengajakku kemana?” tanya Tao kepada Jonghyun yang tengah menyetir di sampingnya.

Jonghyun tertawa lalu mengusap sekilas rambut hitam Tao, dia sudah menganggap Tao seperti adiknya sendiri, “Nanti juga kau tahu”

“Aish! Kau itu.. Selalu saja sok misterius” Tao melempar pandangannya keluar jendela, berpura-pura marah, mulutnya pun dimajukan agar akting marahnya terlihat semakin nyata.

“Jangan marah..” Jonghyun tiba-tiba saja menghentikan mobilnya lalu memarkirkannya, “kita sudah sampai”

“Benarkah? Disini?” tanya Tao sambil melihat-lihat ke sekitarnya. Tampak lapangan rumput yang luas dengan sebuah pabrik berdiri di atasnya.

“Tentu saja tidak, aku mau menemui temanku dulu. Ayo!” Jonghyun keluar dari mobilnya diikuti Tao yang mengekor di belakang. Tao semakin keheranan melihat pabrik yang menurutnya aneh itu. Tapi, dia tidak berani bertanya lebih lanjut, untuk sekarang lebih baik dia menuruti kata-kata Jonghyun saja.

Blam.

Pintu pabrik itu tertutup ketika mereka sudah masuk ke dalamnya. Keadaan di dalam bahkan lebih aneh dan mencurigakan daripada keadaan di luar. Tao merasa kalau tidak ada seorangpun selain mereka berdua di dalam sana. Padahal, seharusnya pabrik ini dipenuhi oleh para pekerja yang sibuk menyelesaikan produknya. Selain itu, penerangannya pun kurang, sangat kurang, Tao hampir tidak bisa melihat apapun kalau saja beberapa ventilasi disana tidak ada. Cahaya hanya berasal dari sinar matahari yang merambat melalui ventilasi-ventilasi itu, sedangkan semua lampu yang tertempel di atap tidak dinyalakan sama sekali, malah terlihat sudah tidak berfungsi.

Tao dapat melihat banyak sarang laba-laba dan debu di sudut-sudut ruangan, bukankah berarti kalau pabrik itu sudah lama tidak dipakai?

“Gege, kau mau bertemu dengan siapa di tempat seperti in—”

Sret.

Dengan instingnya, Tao menahan kepalan tangan Jonghyun yang sedikit lagi mengenai wajahnya.

“Gege, kau kenapa?”

Pertanyaan Tao dibalas dengan serangan bertubi-tubi dari Jonghyun. Biar tidak mengerti, Tao pun tidak membalas serangan Jonghyun, ia hanya menahan dan menangkis semua serangan itu.

“Hosh hosh..” Nafas Jonghyun terdengar putus-putus setelah 15 menit dia menyerang Tao tanpa henti. Sementara itu, tidak satupun serangan Jonghyun mengenai Tao. Tao pun terlihat biasa saja, tapi wajahnya memandang Jonghyun, semakin keheranan.

“Jangan memandangku seperti itu, kau tidak perlu heran..” Jonghyun menegakkan badannya lalu mengusap peluh di sekitar keningnya, “ternyata pengalamanmu belajar wushu memang tidak bisa diremehkan, hm?”

“Ge, apa maksud semua ini?” Tao menatap Jonghyun serius, membuat Jonghyun tertawa keras. Tawa keras yang sangat menakutkan. Tawa itu menggema ke seluruh ruangan, memenuhi pendengaran dan akan membuat bulu kuduk berdiri ketika sinyalnya merambat ke seluruh tubuh melalui indera pendengaran. Tapi, dari tawa itu pula, akan dirasakan sebuah kesakitan, kerinduan, dan kebencian yang mendalam yang sangat menyesakkan hati siapapun.

“Kau bertanya apa maksud semua ini, Huang Zitao? Hahaha kamu lucu sekali!” Jonghyun terus tertawa menakutkan sampai-sampai ia menutup sebelah wajahnya dan memegang perutnya.

“Gege..”

“Oke oke.. Haha. Kau terlalu polos, Tao.. Bahkan setelah satu tahun berlalu, kau tetap tidak menyadarinya” Jonghyun menghentikan tawanya lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ia tersenyum sambil menatap merendahkan kepada Tao—yang berdiri cukup jauh darinya, “kalau begitu, sekarang kau menyadarinya?”

“Gege, aku tidak mengerti apa maksud—”

“Kekasihmu. Aku yang menghilangkan nyawanya” potong Jonghyun membuat Tao membelakakan matanya.

“Apa?!”

“Ck. Apakah kau tuli sekarang? Aku bilang, aku yang menghilangkan nyawa kekasihmu. Dengan kata lain, aku yang membunuh Wu Yifan. Aku yang membunuh Krismu. Mengerti?”

Tao mengernyit, jantungnya seketika berdegup tak karuan ketika dia mendengar nama kekasihnya. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha menahan air mata yang siap tumpah dari sudut matanya sekaligus menghilangkan apa yang baru saja di dengarnya, “Be-bercandamu tidak lucu, ge.. A-aku capek. Ayo kita pulang..”

Jonghyun berlari menghampiri tubuh Tao yang berjalan linglung lalu menyudutkan tubuh itu ke tembok secara kasar.

“Aku kira kau pura-pura tidak menyadarinya, tetapi ternyata kau memang tidak menyadarinya, hm? Kau benar-benar tidak menyadari kalau aku adalah orang yang membunuh Kris?” bisik Jonghyun, tepat di telinganya, “aku bingung, kau itu terlalu baik atau terlalu bodoh..” Jonghyun menyeringai, dia pun menahan wajah Tao dengan mencengkram kedua pipinya.

“Apa mataku ini terlihat suci sehingga kau masih bisa menganggap kalau semua ini adalah lelucon?”

Tao tidak mengatakan apapun, dia menatap mata Jonghyun dengan mata tajamnya. Beberapa detik kemudian, dia menendang tubuh Jonghyun hingga tubuh Jonghyun terpelanting ke belakang.

Belum sempat Jonghyun berdiri, Tao sudah menyerangnya dengan membabi buta. Kali ini Tao tidak segan-segan, dia tidak membiarkan Jonghyun untuk menyerangnya satu kali pun.

Dia memukul, menendang, menonjok seluruh anggota tubuh Jonghyun hingga wajah tampan Jonghyun babak belur, terhiasi oleh luka biru dan darah di sekitar pelipisnya.

Ketika Jonghyun sudah tidak bisa melawan, ia berjalan mendekati Jonghyun, dicengkramnya kerah baju Jonghyun dan langsung ditariknya tanpa belas kasihan.

“Kenapa? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?! Aku begitu mencintai Kris! Dia adalah orang yang paling berarti bagiku! Di saat aku sudah mulai bangkit, karena kamu.. Kamu yang terus menyemangatiku, berada di sampingku.. Kamu yang ku anggap kakakku sendiri..” Tao menangis, buliran air matanya jatuh di atas wajah Jonghyun yang menatapnya dingin, “kamu yang telah mengembalikan semangat hidupku. Kenapa harus kamu juga yang membuatku kecewa? Kenapa kamu harus membunuh Kris? Kenapa harus kamu, Ge?” Air mata itu terus mengalir tanpa henti. Jonghyun membiarkan Tao menangis sampai cengkramannya melonggar dan dia pun menubruk tubuh Tao hingga Tao berada di bawahnya sekarang.

“Kau tahu? Saat aku meneleponmu waktu itu.. Sesaat sebelum aku ke rumahmu..” Jonghyun tersenyum merendahkan, “aku meneleponmu tepat ketika aku sedang membedah dan mengeluarkan jantung Kris yang sudah mati. Tentu saja aku melakukan semua itu untuk membuat alibi sehingga aku tidak akan dicurigai”

Tao membelakakan matanya lagi.

“Dan kau tidak lupa kan siapa orang yang telah mengautopsi mayat Kris?” Jonghyun mencengkram kerah Tao lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Tao, “aku. Aku adalah dokter spesialis jantung yang ditugaskan untuk mengautopsi mayat Kris. Tentu saja ini sudah kurencanakan sehingga aku bisa membersihkan seluruh jejak kejahatanku pada tubuhnya. Mudah sekali bukan?”

Tao menendang Jonghyun lagi. Dia menarik rambut Jonghyun dengan kasar lalu menjedukkan kepalanya ke tembok berulang kali.

Ser~

Darah segar mengalir dari kepala Jonghyun, tetapi Tao masih belum merasa terpuaskan.

“Kenapa.. Kenapa kau harus membunuhnya, Ge? Kenapa harus melakukan ini? Bukankah kau seharusnya mengerti perasaanku? Aku.. Perasaanku yang kehilangan Kris sama dengan perasaanmu ketika kau kehilangan Key Gege!”

Mata Jonghyun berkilat penuh emosi ketika dia mendengar nama itu, dia mengepalkan tangannya dan langsung menonjok wajah Tao. Tao yang tidak mengantisipasi keadaan ini pun terpelanting dengan keras.

“Kau tidak akan mengerti bagaimana perasaanku ketika kehilangan Key sebelum aku membunuh Kris! Kau tahu kenapa?” Tao berusaha bangkit, dia menyusut darah dari sudut bibirnya sambil memandang tajam Jonghyun—yang juga sedang memandangnya tajam, “kau tidak akan mengerti karena Key meninggalkanku duluan! Cih.. Sejujurnya, aku tidak bermaksud agar kau merasakan bagaimana penderitaanku hidup tanpa Key. Tapi, mau tak mau kau pasti merasakannya ketika Kris mati. Kau harus tahu, tujuan utamaku membunuh Kris adalah untuk..”

Jonghyun mendekati Tao lagi, dia berhenti tepat di depan Tao lalu berjongkok hingga kedua pasang mata mereka kembali bertemu, “Aku membunuhnya untuk mendapatkan jantungnya”

“Kau..” geram Tao.

“Ya. Aku masuk jurusan kedokteran spesialis jantung memang bukan kebetulan semata, tetapi memang sudah garisan takdir. Setelah Key tidak ada, aku fokus pada satu pelajaran untuk pencapaian finalku, transplantasi jantung”

“Kau gila!”

“Mungkin, aku memang sudah gila. Aku membutuhkan waktu lama untuk menguasainya, sampai-sampai aku terus menerus mengawetkan tubuh kaku Key. Oh ya, kau jangan bilang siapa-siapa kalau aku membongkar makam Key lalu merawatnya di ruangan bawah tanah dari rumahku ya..” Jonghyun tersenyum, Tao sudah tidak bisa melihat sosok Jonghyun yang dia kenal lagi di balik senyuman itu. Yang dia lihat hanyalah sosok Jonghyun yang seperti dirasuki oleh setan.

“Aku membunuh Kris untuk melakukan transplantasi jantungnya pada Key. Tapi, sayang sekali.. Jantungnya tidak cocok. Padahal kukira akan cocok, mereka kan sepupuan”

Tao menggelengkan kepalanya, bibirnya bergetar melihat keadaan Jonghyun yang seperti ini, “Gege.. tubuh Key gege pasti sudah tidak bisa lagi.. Dia sudah meninggal, ge.. Terimalah kenyataan itu”

Jonghyun mencekik leher Tao, berusaha untuk tidak mendengar pernyataan Tao yang sebenarnya realistis, “Untuk itu, ‘pendonor’ selanjutnya adalah kamu, Tao.. Kau mau kan?”

Tao menatap prihatin pada Jonghyun. Dia terpaksa melawan Jonghyun lagi, menilik Jonghyun tidaklah sedang bercanda, sorot matanya menyiratkan keseriusan bahwa dia akan membunuh Tao.

Di saat Jonghyun sudah terdesak, Jonghyun mengeluarkan sebuah pistol yang sedari tadi disembunyikannya. Dia menarik pelatuknya lalu menyodorkan pistol itu kepada Tao.

“Kau tahu bahwa aku tidak takut dengan senjatamu itu kan? Kau tidak bisa meremehkan jurus-jurus wushuku”

Jonghyun tersenyum kecut, ia tetap menyodorkan pistol itu kepada Tao sambil mengawasi pergerakannya.

“Tidak bisakah kau diam saja? Kau tahu, Kris bahkan dengan mudah menyerahkan dirinya padaku”

“Maksudmu?”

“Kami sempat bertarung sengit, tetapi setelah mengetahui tujuanku yang sebenarnya.. Dia menyerah. Dia bilang kalau dengan itu aku bisa menyelamatkan Key, maka dia merelakan hidupnya” Jonghyun melihat bahu Tao yang sudah berguncang kembali, “dan sebagai gantinya.. Dia menitipkanmu padaku. Dia juga sempat mengatakan sesuatu kepadaku..”

Jonghyun menurunkan pistolnya, untuk sesaat, Tao dapat melihat sinar ketulusan dari mata Jonghyun, “Dia bilang.. Kau harus makan yang teratur, jangan suka memanfaatkan orang lain dengan keaegyoanmu, jangan terlalu capek berlatih wushu, belajarlah bahasa Korea yang baik sehingga kau tidak perlu repot menanyakan artinya pada orang di sekitarmu. Dan dia bilang supaya kau menjadi Tao yang mandiri karena tidak akan ada lagi dia di sampingmu, tidak akan ada lagi Kris yang bisa kau andalkan”

Buliran air itu jatuh kembali dari kedua sudut mata Tao. Di sela-sela tangisnya, Jonghyun mendengar bahwa beberapa kali Tao memanggil nama Kris.

“Lalu, pesannya yang terakhir..” Jonghyun menatap sosok Tao yang menangis sambil berjongkok di hadapannya, “dia bilang.. Dia bahagia karena di saat terakhirnya, kau lah orang yang mengisi hatinya. Cintanya yang terakhir adalah kamu, Huang Zitao..”

Tao tidak bisa lagi mendengar semua itu, tangisnya meledak, dia menangis dengan teriakannya yang membahana di seluruh sudut pabrik itu.

Jonghyun kembali menarik pistolnya, “Kurasa, waktu satu tahun itu sudah cukup untukku merawatmu. Saat ini, aku benar-benar akan menghabisi nyawamu. Oh ya, kurasa kalian memang berjodoh. Dulu, aku bersandiwara untuk meminta bantuan Kris dan membawanya kemari untuk menghabisinya. Sekarang, tempat ini juga yang akan menjadi perisitirahatan terakhirmu..”

“Ucapkan selamat tinggal..”

Ctak.

Jonghyun menarik pelatuknya, sekali lagi mengarahkannya pada tubuh Tao yang masih berguncang hebat.

Ketika Jonghyun akan menembak Tao, tiba-tiba saja Tao berdiri lalu berjalan mendekatinya.

“Aku sungguh-sungguh, Tao” peringat Jonghyun, tetapi langkah Tao tidak berhenti.

Jonghyun pun terpaksa memundurkan langkahnya, tetapi Tao berhenti tepat di hadapan Jonghyun.

Tanpa diduga-duga, Tao meraih tangan Jonghyun yang sedang memegang pistol lalu mengarahkannya pada kepalanya sendiri.

“Aku juga mencintainya dan aku akan menjadikannya yang terakhir bagiku. Gege.. Terima kasih karena kau telah menyampaikan semua pesan darinya. Lain kali, kita berempat akan berkumpul kembali. Aku menyayangimu, Jonghyun Gege.. Aku juga menyayangi Key Gege.. Semoga, ‘hadiah’ dariku bisa berguna baginya. Selamat tinggal”

DOR!!

***

Gimme a time machine 

Jonghyun memasuki ruang kerja rahasia yang terletak di bawah tanah dari rumahnya dengan sebuah tabung berisi organ di tangannya.

Jantung Tao.

Dia menyimpan tabung itu di samping tempat tidur lalu beralih menatap orang yang sudah berbaring disana selama beberapa tahun ini.

Ya, orang itu adalah Kim Kibum.

Parasnya masih terlihat sama seperti terakhir kali Jonghyun mendengar nafasnya. Walaupun terlihat lebih pucat, tetapi itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.

Dia memakai tuxedo hitam-putih yang dia gunakan pada saat pemakamannya dan matanya tertutup, membuat Jonghyun selalu, selalu, selalu merindukan sorot mata tajam dari si pemilik mata rubah itu.

Pada seluruh tubuhnya pun terdapat selang yang tertempel, hasil dari penelitian Jonghyun. Tubuh itu juga terlihat sangat bersih, sepertinya Jonghyun tak pernah absen merawatnya. Lalu, di sekitar sana terdapat banyak sampah makanan, menandakan Jonghyun yang—mungkin—lebih sering menghabiskan harinya di dalam ruangan gelap ini. Dia pasti lebih senang menghabiskan harinya bersama Key.

“Key..” Jonghyun mengelus rambut Key, beberapa helai rambut Key yang menempel di tangannya segera dia singkirkan dan dia simpan di dalam sebuah kotak kecil di atas meja. Kotak kecil itu ternyata sudah terisi oleh banyak helaian rambut yang diyakini milik Key dan Jonghyun yang mengumpulkan semua itu selama ini, bahkan dia tidak rela melepas satu helai rambut pun dari diri Key.

“Aku akan melakukan operasi ke-2. Kuharap, kali ini kau akan bangun dan memarahiku karena aku tidak segera membuang sampah bekas makanku, marahi aku seperti biasanya, Key.. Kumohon..”

***

 

Gimme a time machine 

“Apa, dok?! Sakit jantung katamu?” Jonghyun berteriak sambil menggebrak meja dokter spesialis jantung di hadapannya. Sorot matanya benar-benar menyiratkan emosi, sepertinya dia sudah lupa kalau orang yang saat ini dibentaknya adalah salah satu dosen yang mengajar di kelasnya.

 

“Iya. Apa kau baru tahu, Jonghyun? Kibum sepertinya sudah mengetahui penyakit yang di deritanya karena aku menemukan reaksi dari beberapa obat penyakit jantung di dalam tubuhnya”

 

Jonghyun mengangakan mulutnya tidak percaya, “Tapi, Key bisa sembuh kan?”

 

Dokter itu menggelengkan kepalanya lemah, “Berdoa saja, penyakit jantungnya benar-benar parah. Dia terlalu memaksakan aktivitasnya, apalagi kudengar kalau dia mengambil kelas menari”

 

Jonghyun menundukkan kepalanya. Saat ini dia mengantarkan Key ke rumah sakit pun, itu semua karena Key sempat pingsan setelah melakukan latihan dance. Dia kira Key hanya kecapekan, tetapi dia malah mendapat kabar seperti ini. Sungguh, di dalam mimpinya pun, Jonghyun tidak pernah membayangkan bahwa orang yang dicintainya mengidap penyakit jantung. Kalau bisa, dia akan memohon pada Tuhan untuk melimpahkan penyakit Key padanya saat ini juga.

 

“Berapa lama lagi..”

 

“Maksudmu?”

 

“Jangan menganggapku bodoh. Aku muridmu, aku tahu mana orang yang masih bisa bertahan dan mana orang yang..” Jonghyun tidak dapat meneruskan ucapannya. Kalau satu kata saja dia lontarkan lagi, ia yakin air yang membuat matanya panas akan segera merembes keluar, membuatnya terlihat lemah.

 

Dokter di depannya pun hanya bisa menghela nafasnya berat, “Kurang lebih, seminggu..”

***

 

Gimme a time machine 

Ckrek.

 

Jonghyun memasuki kamar pasien yang ditempati Key dengan gusar. Di dalamnya, Key yang sudah siuman langsung tersenyum karena kedatangannya.

 

“Jjong~” panggilnya manja. Jonghyun tersenyum lemah sembari duduk di sebelahnya. Dia membantu Key duduk menyender sehingga kasur itu ditempati oleh mereka berdua sekarang.

 

“Sudah bangun, sayang?”

 

Key melingkarkan tangannya pada lengan Jonghyun, menyimpan kepalanya pada pundaknya lalu mengangguk sambil berdehem.

 

Sesudah itu, mereka berdua terdiam cukup lama. Jonghyun sendiri sibuk memikirkan kata-kata yang dikatakan oleh dosennya sekaligus dokter yang memeriksa Key.

 

“Kau sudah mengetahuinya ya?” pertanyaan Key membuyarkan semua lamunan Jonghyun. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang, membuatnya bingung harus menjawab apa.

 

“Tahu apa? Eh, kau belum makan kan? Aku suapi kamu makanan ya.. Tadi, seorang suster mengantarkannya kemari ketika kamu masih belum sadar” Jonghyun berusaha mengalihkan pembicaraan sebisa mungkin, dia turun dari kasur lalu mengambil sepiring makanan yang ada di atas meja.

 

Jonghyun sibuk memotong makanan itu sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa kedua bola mata Key memandangi semua pergerakannya dengan seksama.

 

“Aa~” Jonghyun menyodorkan sesuap nasi beserta lauk pauknya pada Key. Key memandangi sendok itu dan mata Jonghyun bergantian sebelum akhirnya dia memakannya dengan tersenyum.

 

“Good boy..” ucap Jonghyun, sedikit lega karena melihat senyuman Key.

 

“Hm..” Key mengunyah makanan itu sampai tertelan dan masuk ke sistem pencernaannya, “lagipula.. Mungkin ini adalah kali terakhir aku bisa merasakan rasanya disuapi olehmu”

 

Trak.

 

Pergerakan Jonghyun yang sedang memilah makanan langsung terhenti. Dia lalu memandang Key yang tersenyum ke arahnya.

 

Sungguh, betapa bencinya Jonghyun melihat senyum Key saat itu. Senyum itu adalah senyum yang paling menyakitkan bagi Jonghyun. Senyum terpaksa yang terasa mengoyak hatinya.

 

“Ya! Apa yang kau katakan, bodoh?”

 

Key tersenyum lagi, membuat emosi Jonghyun semakin terkumpul di ubun-ubun.

 

“Kali ini adalah kali pertama aku membiarkanmu mengataiku bodoh. Lagipula, ini pasti akan menjadi kali terakhir haha”

 

Bruk.

 

Jonghyun menghentikan ucapan Key dengan memeluknya erat. Sangat erat sampai-sampai sekujur tubuh Key mendapat kehangatan yang luar biasa dari pelukannya.

 

“Hentikan, Key.. Kumohon.. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku pasti akan menyelamatkanmu. Kau percaya padaku kan?”

 

Mata Key berkaca-kaca mendengar kata-kata Jonghyun, ia hanya bisa membalas pelukan Jonghyun sambil berkata, “Tentu, aku mempercayaimu, Jjong..”

 

Jonghyun tersenyum puas, tetapi ia tidak dapat mendengar suara hati Key saat itu.

 

‘Aku mempercayaimu, Jjong.. Tetapi, Tuhan berkehendak lain’

***

 

Gimme a time machine 

Sudah 8 jam Jonghyun melakukan operasi transplantasi jantung. Dia juga sudah melakukan berbagai cara, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa detak jantung Key akan kembali.

Jonghyun terus memaksa, keringat yang ada pada wajahnya tidak lagi dipedulikannya.

Yang dia inginkan hanyalah melihatnya lagi..

Tersenyum bersamanya lagi..

Menghabiskan waktu bersamanya lagi..

Menggenggam tangannya lagi..

Memeluknya lagi..

Menciumnya lagi..

Mencumbunya lagi..

Lalu, mencintainya lagi..

Apakah itu sulit?

Bahkan, Jonghyun rela kehilangan semua yang dimilikinya selama Key ada di sampingnya.

Selama Key memperhatikannya.. Memarahinya.. Mencintainya..

Tidak. Bahkan dia rela kalau Key tidak mencintainya.

Tapi, biarkan dia hidup.. Jonghyun rela kalau Key tidak akan membalas perasaannya.

Selama Jonghyun yakin kalau rasa cintanya pada Key tidak akan pernah hilang, dia hanya membutuhkan sosok Key di hidupnya.

Lagipula, rasa cintanya pada Key tidak akan bisa hilang. Jonghyun bahkan berani bertaruh, bila suatu saat nanti dia dilahirkan kembali, satu sosok yang akan terus dicintainya adalah Key. Satu sosok yang akan selalu menjadi oksigennya adalah Key. Hanya Kim Kibum. Tidak ada yang lain.

Tapi, dia tidak bisa kalau Key terus menutup mata seperti ini.

Mereka akan terpisah..

Tidak ada satu cara pun yang bisa membuat mereka menyatu kembali.

Key harus hidup kalau Jonghyun masih hidup.

Kalau Key meninggal..

Jonghyun harus meninggal agar mereka bisa menyatu, begitu?

Bagai disengat listrik, Jonghyun langsung tercengang ketika menyadari sesuatu.

Dia segera menyimpan semua peralatan kedokterannya lalu tertawa dengan sangat keras.

“Hahahahahahahahaha”

Jonghyun tertawa sampai-sampai dia memukul lantai, air matanya pun turut keluar.

“Bodoh! Kenapa kau baru memikirkan hal ini sekarang, Kim Jonghyun?”

Dia menyimpan jantung Kris dan jantung Tao pada dua buah tabung lalu menyimpannya bersebelahan. Setelah itu, dia memanjatkan doa di depan tabung tersebut.

“Maafkan aku.. Semoga kalian berdua bahagia di alam sana”

Setelah itu, Jonghyun menghampiri Key. Dia menggenggam dan mengecup tangannya bergantian.

“Aku sudah mengambil keputusan, Key.. Kalau kita berdua tidak bisa hidup di dunia. Maka, kita bisa hidup di sana kan? Tunggulah..” ujarnya seraya mengambil sebuah pistol dari saku bajunya.

If I’m able to meet you passing through time and space Even if it’s heading to The same conclusion, I’m sure There won’t be any regrets remaining

 

Right now, if I could ride a time machine and go to meet you I wouldn’t wish for anything else Before the memories become distant and fleeting… Yeah, before the memories of us are forgotten… Gimme a time machine oh Gimme a time machine oh Gimme a time machine 

***

Hari itu hujan turun dengan lebatnya. Jonghyun berniat untuk tidur seharian di dalam rumah sebelum Key menghubunginya. Kekasihnya itu bersikeras meminta mereka untuk bertemu saat itu juga. Jonghyun sudah berusaha untuk menolak karena cuacanya benar-benar tidak mendukung, terlebih Key baru saja keluar dari rumah sakit kemarin. Tapi, Key mengejutkan Jonghyun dengan mengatakan bahwa dirinya sudah berada di tempat yang Key maksud.

 

Tanpa pikir panjang, Jonghyun menerobos derasnya air hujan sambil berlari menyusuri kota. Dia tidak peduli pada makian beberapa orang yang tidak sengaja di tabraknya atau beberapa orang yang menawarinya payung untuk disewa. Walaupun sekujur tubuhnya sudah basah kuyup, yang ada di dalam pikirannya hanyalah Key.

 

Akhirnya, Jonghyun sampai di taman tempat mereka berdua sering bertemu. Dia mengedarkan pandangannya sampai ia menemukan sesosok tubuh yang sudah tidak asing lagi bagi penglihatannya.

 

“Key!” Dia menarik tangan Key lalu membalikkan badannya hingga mereka bertatapan.

 

“Jjong..” Key tersenyum dengan mulutnya yang menggigil. Sekujur tubuhnya basah, keadaannya tidak lebih baik daripada Jonghyun.

 

“Kenapa tidak menepi dan malah hujan-hujanan, hah? Jangan sok kuat!” Jonghyun menggendong tubuh Key bridal style lalu membopongnya ke dalam ruang perosotan yang tertutup.

 

Ruangan itu cukup sempit untuk ditempati oleh mereka berdua, tetapi mereka merasa hangat berada di dalamnya.

 

“Jjong, aku kedinginan.. Peluk aku” Jonghyun segera memeluk tubuh Key hingga merapat padanya. Key tersenyum ketika wangi Jonghyun menggelitik hidungnya.

 

“Kau tahu? Tubuhku juga basah, sepertinya sia-sia kau memelukku”

 

Key menggeleng sambil mempererat pelukannya pada Jonghyun, “Tidak.. aku merasa hangat karena memelukmu. Mungkin hangatnya berasal dari pancaran cintamu untukmu”

 

“Ck. Cheesy” amarah Jonghyun akhirnya mereda. Dia mengangkat wajah Key lalu menciumnya tepat di bibir.

 

“Kau tidak bisa bohong, sayang.. kau kedinginan. Kita pulang sekarang” katanya. Tetapi, Key menarik Jonghyun untuk kembali duduk ketika dia berdiri.

 

“Aku tidak mau, di rumah tidak ada kamu. Aku mau disini saja”

 

Jonghyun menghela nafasnya mendengar permintaan childish Key.

 

“Aku akan ikut ke rumahmu untuk mengeringkan badan, ok? Kita pulang” Tetapi, lagi-lagi Key menggeleng.

 

“Kau kenapa sih, Key?”

 

“Waktuku tidak lama lagi, Jonghyun.. Maka dari itu, temani aku disini”

 

Jonghyun terbelalak mendengar kata-kata itu, “Ya! Sudah kubilang kan? Jangan mengungkitnya lagi!”

 

Key cemberut karena merasa tidak adil, “Aku tidak akan mengungkitnya lagi, tapi temani aku disini sekarang”

 

Jonghyun tidak punya pilihan lain, dia pun terpaksa menemani Key disitu.

 

Setelah duduk bersebelahan, Key menyenderkan kepalanya pada bahu Jonghyun lalu mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing.

 

“Jjong..”

 

“Hm..”

 

“Andai saja aku adalah Doraemon yang sesungguhnya. Aku akan memakai satu alatku”

 

“Oh ya? Apa itu?”

 

“Mesin waktu”

 

“Mesin waktu?”

 

“Iya, aku ingin kembali ke masa-masa kita sekolah dulu. Mengenang dan menikmati semuanya sebanyak yang aku bisa. Menghabiskan waktu denganmu setiap saat. Ah.. pasti akan sangat menyenangkan”

 

“Kenapa tidak pergi ke masa depan saja?”

 

“Karena di masa depan, tidak akan ada aku di sampingmu”

 

“Ya!!”

 

“Hehe. Bercanda”

 

Jonghyun memandang rintik air hujan yang sudah mulai mereda di luar lalu dia pun berucap pelan, “Kalau seperti itu kenyataannya.. Aku akan membenci mesin waktu itu selamanya”

 

“Hah? Kau mengatakan apa?”

 

“Tidak ada”

 

“Oh”

 

Suasana kembali hening.

 

“Jjong, aku kedinginan. Peluk aku lebih erat lagi” Jonghyun mengeratkan pelukannya pada Key, tetapi dia terkejut ketika menyadari sesuatu.

 

“Key.. tubuhmu benar-benar dingin” Jonghyun meraih dagu Key agar wajah Key menatap ke arahnya, “tubuhmu menggigil! Kita pulang sekarang!”

 

Jonghyun menggendong Key di punggungnya. Tubuh Key benar-benar lemas sampai dia tidak bisa lagi melawan perkataan Jonghyun.

 

“Pegangan yang erat, Key..”

 

Jonghyun dapat merasakan nafas Key menerpa lehernya, nafasnya benar-benar hangat, tetapi tubuh Key terus menggigil semakin hebat.

 

“Jjong..”

 

“Diam, Key.. Jangan banyak bicara”

 

“Aku takut, Jjong.. Kalau aku tidak bicara sekarang, aku takut tidak bisa lagi berbicara denganmu”

 

‘Shit’, rutuk Jonghyun.

 

“Kalau begitu, bicaralah..”

 

“Baiklah.. hm.. Harus kumulai dari mana ya? Em.. Kau ingat waktu pertama kali kita bertemu, Jjong?”

 

“Hm”

 

“Waktu itu, kita bertengkar gara-gara aku tetap bersikukuh kalau lokermu adalah lokerku hehe. Padahal kita adalah murid baru, tetapi orang-orang hanya bisa melihat pertengkaran kita sambil menggelengkan kepala, tanpa ada yang berani melerai kita. Akhirnya kepala sekolah datang dan dia menjelaskan bahwa lokerku adalah loker yang tepat ada di sebelah lokermu. Aku tentu saja malu ketika mengetahui hal itu, terlebih semenjak itu ternyata kita sekelas dan kau terus mengejekku. Dan kau tahu, Jjong? Hal yang baru terpikirkan olehku sekaligus membuatku tertawa akhir-akhir ini adalah kenapa sampai kepala sekolah yang turun tangan untuk melerai pertengkaran kita? Hahaha”

 

Jonghyun tersenyum simpul, dia tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai hal itu.

 

“Lalu, saat kita jadian hm.. Kita satu sekolah selama 3 tahun berturut-turut dan selalu sekelas tetapi kita terus bertengkar. Sampai ketika kita masuk perguruan tinggi, ternyata kita satu perguruan tinggi. Tetapi, kau mengambil jurusan Kedokteran dan aku jurusan Seni. Aku mulai jatuh cinta padamu ketika aku tidak sengaja mendengar suaramu yang sedang bernyanyi sesudah pulang dari latihan menari.. Kau ternyata ikut ekstrakurikuler di fakultasku.. Suaramu.. engh.. sa-sangat.. ba—ah—gus..” Nafas Key tiba-tiba tersengal, kata-katanya pun terpatah-patah.

 

“Terus apa, Key? Ceritakan lagi” Mata Jonghyun sudah memanas, dia tahu kalau waktunya akan segera tiba. Tapi, dia masih berharap kalau keajaiban akan muncul kepada mereka berdua.

 

“A—aku.. menghamp.. iri.. mu.. d—an k—ita te-terjebak di dal—am s-san—ah!.. a—ku ti-tid.. ak ku.. at la.. gi.. hm..”

 

“Teruskan, Key.. aih, kau ketiduran ya? Baiklah, biar aku yang melanjutkan ceritanya”

 

Jonghyun merasakan kalau pegangan Key di lehernya semakin melonggar hingga akhirnya kedua tangan Key—yang tadinya tertaut—terlepas begitu saja. Jonghyun juga sudah tidak merasakan hembusan nafas Key di lehernya.

 

“Waktu itu, kita terjebak di dalam sana gara-gara lagi-lagi kita bertengkar sampai kita tidak mendengar suara pintu studio yang dikunci oleh penjaga disana.Lalu, kita terpaksa menginap karena handphoneku mati sedangkan tasmu masih berada di ruangan tari sehingga kita tidak bisa menghubungi siapapun. Lalu..” Jonghyun menarik nafasnya, berusaha menahan air matanya yang ternyata sudah merembes keluar, entah sejak kapan, “dalam keadaan terkurung.. hh..seperti itu, kita malah hh saling melontarkan kesalahan kita selama 3 tahun terakhir hh dan kita meminta maaf.. Waktu itu hh, aku tidak tahu kenapa, tapi sesudah mengucapkan kata maaf, aku mengucapkan kata itu dan tanpa di duga, kau membalasnya hh.. Kau ingat kan ‘kata’ yang aku ucapkan itu?”

 

Jonghyun tersenyum, air matanya mengalir semakin deras. Tubuh Key yang berada di punggungnya terasa dingin, sedingin hatinya. Pandangan matanya buram karena tertutup oleh air matanya sendiri, tetapi dia terus berjalan, berjalan menembus hujan yang masih turun ke atas bumi, walau sudah berupa rintikan, hujan-hujan itu sudah cukup menemani perjalannya yang terasa begitu sunyi.

 

“I love you, Key..”

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s