JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 2 of 2


Title : I am your Teacher and You are my Student

Author : Mak Erot IX JKK | @dinopaw

A/N :  Kali ini kita ada bintang tamu, saudara kembar dari Onew (huweeeeeeeeee T^T), Lee Eunsook. Prok prok prok

also posted in : JongKey Kingdom Fanfictions

prev story >>

“Aku tidak menyukainya” Murid-murid yang tadinya masih menertawakan Key langsung bungkam ketika Jonghyun mengatakan itu, Key pun langsung melirikkan pandangan terkejutnya pada Jonghyun.

Sebenarnya, Jonghyun sendiri terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan. Dia tidak berniat untuk berkata seperti itu, sungguh..

“Uh, apakah itu adalah sebuah penolakan dari Kim Songsaenim? Kasihan sekali kau, Kibum.. Sepertinya cintamu hanya bertepuk sebelah tangan hahahahahaha”

Jonghyun tahu kalau Key memandang tidak percaya padanya dengan air mata yang berkumpul di sudut matanya sekarang, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Untuk sekedar menatap balik padanya pun terasa sulit dilakukannya.

Drap drap drap.

Bahkan, ketika Key berlari dari sana, Jonghyun tidak dapat mencegahnya. Jonghyun tidak bisa memanggil namanya.

Yang dia lakukan hanyalah menatap punggung dari orang yang dikasihinya itu hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Menghilang diiringi gelak tawa yang masih menggema secara memuakkan dan—mungkin—menghilang dari kehidupannya. Untuk selamanya.

————————————————

Kriiiiiiiiing~

Jonghyun langsung terduduk begitu mendengar bunyi alarm dari jam weker di samping tempat tidurnya. Rambutnya berantakan, selimut putih tebal yang dia pakai sudah jatuh terabaikan di atas lantai. Dia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

Kriiiiiiiiing~

Jam wekernya terus berdering. Jonghyun pun mengambil jam weker itu, mematikannya, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.

Dia mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar lalu ditundukkannya kepalanya.

Ani, dia tidak memakai pakaian yang biasanya dia kenakan ketika sedang mengajar, lagipula baju hitam tanpa lengan yang kemarin dia pakai ketika tidur masih melekat pada tubuh kekarnya.

Lalu, apa itu tandanya kalau tadi itu dia benar-benar sedang bermimpi?

Apa semua kejadian itu hanya mimpi?

Apa siluet Key yang berlari sambil menangis itu hanya mimpi?

Aih..

Jonghyun mengusap wajahnya lalu dia meremas rambutnya.

Kenapa perasaannya jadi tidak enak seperti ini?

Dia pun teringat dengan handphonenya yang berada di samping jam weker.

Dipandanginya gadget itu selama beberapa detik, lalu dia memutuskan untuk meraihnya, menekan tombol 1 sampai tulisan ‘Calling ♥Key..’ terpampang pada layarnya.

Lebih baik dia memastikan keadaan Key sekarang daripada dia terus berprasangka buruk terhadapnya, benar?

Jonghyun pun menunggu.

Tut..

Nada sambung pertama.

Tut..

Nada sambung kedua.

Tut..

Nada sambung ketiga dan sekarang dia mulai cemas.

Tut..

Nada sambung keempat yang membuatnya bertambah resah.

Tut..

Nada sambung kelima.

Ok, kalau sekali lagi Key tidak mengangkat teleponnya juga.. Lihat saja nanti..

Tut..

Nada sambung keenam.

Bagaimana kalau kejadian dalam mimpinya itu sedang benar-benar terjadi pada Key?

Tut..

Jangan tanya sekarang nada sambung ke berapa! Jonghyun sudah frustasi, bahkan untuk sekedar menghitung saja otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih.

Tut..

 

Key, angkat teleponnya!

 

Tut..

Key, please.. Jangan buat aku gila!

Tut..

“Aish..” Jonghyun hampir saja melempar handphonenya ketika dia mendengar sesuatu dari sana. Dia kembali mendekatkan handphone itu pada telinganya dan jantungnya hampir meledak karena dia mendengar suaranya.

“Morning, baby..” Jonghyun membeku. Mulutnya kelu, aliran darah dalam otaknya terasa berhenti berdesir.

“…”

“Baby? Kau masih disana? Ah iya, maaf aku lupa. Muaaah~ itu morning kissmu pagi ini hahaha”

“…”

“Baby? Apa kau sudah menutup teleponnya?” Jonghyun mendengar suara orang itu menjauh, mungkin dia sedang mengecek apakah sambungannya dengan dirinya masih terhubung atau tidak, “masih tersambung kok. Apa kau tidak bisa mendengar suaraku? Kenapa kau tidak bicara?”

“…”

“Jjong, aku tidak peduli loh kalau saat ini kau sedang mempermainkanku, toh pulsa kamu ini yang bakal habis. Merong~”

Srrr~

“Ah, candaanmu tidak lucu. Aku tutup teleponnya ya..”

“Key..” satu kata itu langsung membuat Key tersenyum, sekaligus menghentikan niatnya untuk menutup sambungan dari Jonghyun.

“Uhm? Apakah kau sudah menyerah? Apa itu berarti aku adalah pemenangnya? Tapi, memang kita sedang bermain apaan sih?” Key terus menyerang Jonghyun dengan berbagai pertanyaan, nada suaranya terdengar ceria seperti biasanya.

“Apa kau tidak apa-apa?”

“Hah? Tidak apa-apa bagaimana? Aku baik-baik saja. Ah, aku tahu! Kamu pasti mau bilang ‘Apa kau tidak apa-apa karena tidak melihatku selama 8 jam 59 menit 30 detik?’ seperti biasanya kan? Aku tidak akan termakan tipuanmu kali ini dan jawabannya tetap ‘tidak’ hahaha”

“Kau ada dimana? Suaramu terdengar aneh”

Srr~

“Pasti suaraku terdengar bergema, iya kan? Aku ada di toilet dan kau menelepon saat aku sedang ‘sibuk’ dengan panggilan alamku. Aku sampai cepat-cepat menyelesaikan ‘urusan’ku itu untuk mengangkat teleponmu, kau tahu? Jangan kegeeran! Aku hanya tidak ingin kalau fansku yang satu ini kecewa karena aku tidak mengangkat teleponnya kekeke”

Srr~

Jonghyun tahu sekarang kalau suara yang sejak tadi terdengar dari belakang Key itu adalah suara aliran air.

“Key.. Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ada apa denganmu? Kenapa suaramu lesu? Dan apa yang mau kau tanyakan? Biasanya juga kau bertanya tanpa seizinku. Ah, jangan bilang kalau kau mau mengeluarkan jurus cheesymu itu sekarang” Key terus berbicara dengan bebasnya, seperti Key yang biasanya.

“Aku serius, Key”

“Ok, silahkan bertanya. Aku memberimu waktu 1 menit untuk berbicara karena sebentar lagi bel masuk berbunyi dan sebagai murid yang baik, aku harus hadir di dalam kelas tepat waktu jadi—”

“Key..” Jonghyun mendesah mendengar rentetan kata-kata yang keluar terus menerus dari mulut Key.

“Ne, songsaenim. Apa yang ingin kau tanyakan? Sepertinya kali ini kau tidak bercanda”

“Sudah kukatakan, aku serius”

“Eh? Nada bicaramu benar-benar terdengar serius. Jangan bilang kalau hari ini April Moop? hahahaha” Key tertawa keras, sementara Jonghyun hanya diam. Mungkin karena mendengar diamnya Jonghyun, akhirnya Key berangsur-angsur menghentikan tawanya itu.

“Jjong, kau benar-benar serius. Ada apa denganmu?” nada suara Key akhirnya berubah khawatir, tidak biasanya kekasihnya ini bersikap serius, “apa kau sakit sehingga tidak bisa mengajar hari ini?”

“Bukan, bukan itu Key. Jadwal mengajarku kan nanti siang”

“Terus, apa dong?”

Jonghyun menghela nafas berat, sementara Key menunggu dengan seksama. Pertanyaan penting dan serius apa yang akan diutarakan oleh Jonghyun?

“Key, apa kau menyimpan atau menempelkan foto-fotoku di dalam lokermu?”

Terdapat jeda yang lumayan lama di antara keduanya sampai tawa Key kembali membahana dari seberang sana.

“Hahahahahahaha itu pertanyaan seriusnya? Seriusan? Hahahahahaha”

Jonghyun meringis pelan karena pertanyaannya malah ditertawakan.

“Aish, aku serius tahu!”

“Dan kau kira aku maniak, begitu? Hahahahaha” Key terus tertawa, tetapi Jonghyun kembali membeku. Maniak, satu kata yang diucapkan oleh Key itu membawa pikirannya terbang ke dalam ingatan tentang mimpi buruknya sekali lagi.

“Darimana kau bisa mempunyai pikiran kalau aku memasang foto-fotomu di dalam lokerku? Aku tidak sebodoh itu untuk membiarkan orang lain curiga tentang hubungan kita”

Jonghyun sekarang bisa bernafas lega, kedua ujung bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman yang sangat memukau. Andai saja Key bisa melihatnya.

Jadi itu semua hanya mimpi kan?

“Eh, sebentar lagi aku masuk. Ehm.. Biar kutebak, kau pasti baru bangun kan? Sana mandi, sudah itu sarapan yang bergizi, sementara itu aku mau bersiap menghadapi pelajaran pertama, matematika for sure, it’s war!” celoteh Key lagi membuat Jonghyun terkekeh karenanya.

“Baiklah, yeobo~ Ingat, kalau butuh bantuan dengan soal matematikamu, jangan hubungi aku karena aku tidak akan bisa menolong kekeke”

“Siapa juga yang mau menghubungimu? Aku kan tidak punya pulsa haha”

“Uh, kasihan.. Bagaimana kalau second morning kiss dan aku akan mengisikan pulsamu?”

Jonghyun tahu kalau Key pasti sedang memutar kedua bola matanya sekarang. Tapi, dia juga tahu kalau Key tidak akan bisa menolak tawarannya.

“Ready to receive my second-morning-kiss?”

“Anytime”

“Baiklah.. Chu—Aw!”

Key berteriak lumayan keras dan terdengar suara sesuatu terbanting dari seberang.

“Key, kau kenap—”

“Jjong—ARGH!”

“Key? Key, kau kenapa? Jawab aku!” Jonghyun berkeringat dingin sekarang. Pikirannya mulai kacau kembali. Ketika sambungannya dengan Key tiba-tiba saja terputus, dia tak perlu waktu lagi untuk menunggu.

Jonghyun segera meraup jaket kulit hitam miliknya dan kunci motornya dari atas meja.

Dia pun turun ke bawah dengan langkah seribu. Dinyalakannya mesin motornya dan dia segera melajukan kendaraan beroda dua itu dengan kecepatan maksimal.

Ya, yang memenuhi pikirannya saat ini hanyalah satu kata, Key.

Kuharap tidak ada sesuatu yang buruk menimpa dirimu..

***

Jonghyun memarkirkan motornya dengan asal. Tak dipedulikannya satpam yang berteriak karena posisi motornya yang menghalangi jalan.

Dia hanya berlari, berlari dan terus berlari.

Ia pun mempercepat larinya ketika plang kelas 2-3 terlihat beberapa meter di depannya.

Dengan sigap, Jonghyun segera menarik seseorang—yang akan memasuki kelas itu—untuk berhenti.

“Eh, Kim Songsaenim?” tanya orang itu keheranan menilik penampilan Jonghyun yang kusut, tidak memakai kacamata, dan hanya mengenakan kaos tipis berwarna hitam tanpa lengan, dilapisi jaket kulit yang juga berwarna hitam di luarnya. Penampilannya benar-benar tidak mencerminkan aura seorang guru, tapi seharusnya Jonghyun ke sekolah untuk mengajar kan?

“Mir..” panggil Jonghyun dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari, “dimana Key?”

“Key? Dia ada di UKS tadi—eh, kok malah pergi?” Mir tambah keheranan karena Jonghyun langsung pergi tanpa mendengar kalimatnya hingga usai.

“Tunggu.. Sejak kapan dia hafal namaku? Lalu, Key? Kok Songsaenim manggil dia pake nama panggilannya sih? Padahal dia kan ga kenal. Atau mungkin kenal? Tapi, darimana bisa kenal? Terus hubungan mereka apa? Aih..”

Mir membiarkan semua pertanyaan itu menjadi tanda tanya besar di benaknya karena bel masuk sudah berbunyi dan dia harus segera bersiap-siap untuk menghadapi pelajaran pertama.

***

Brak!!!!

Jonghyun membuka pintu UKS dengan kasar. Nafasnya masih tersengal-sengal sementara 2 orang yang berada di dalam ruangan itu menatapnya keheranan.

“Kim Songsaenim!! Apa yang terjadi dengan pakaianmu?!” seru Dokter Lee dengan urat disekitar lehernya, tangan kanannya menaik turunkan kacamata yang dia gunakan sementara tangan kirinya berhenti mengobati pasien yang sedang terduduk di atas kasur, siapa lagi kalau bukan Key.

Biarpun posisinya hanyalah dokter UKS di sekolah itu, tapi Dokter Lee memang terkenal dengan sikap tegas dan disiplinnya yang kuat. Makanya, ketika dia melihat Jonghyun yang berpenampilan tidak layak—sebagai seorang guru, dia langsung saja menegurnya dengan keras, tak peduli kalau dia sedang berada di ruang UKS yang seharusnya sangat membutuhkan ketenangan.

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, Kim songsaenim? Kemana pakaianmu—” protesnya terpotong karena handphonenya berbunyi, dia menatap layar handphonenya—sepertinya ada SMS masukla—lalu dia mengembalikkan handphonenya ke dalam saku jas dokter yang ia kenakan—setelah ia membaca SMSnya, “aih.. Aku ada urusan. Kim Songsaenim, jadwal mengajar anda masih lama kan? Tolong obati Kibum. Saya harus pergi sekarang” dokter Lee memberikan pinset yang di ujungnya tertempeli bulatan kapas berbetadine pada Jonghyun lalu dia berjalan keluar dari sana, “dan ingat! Urusan kita belum selesai! Anda belum selamat, Kim Songsaenim!”

Blam.

Pintu ruangan itu pun tertutup kembali.

Jonghyun sebenarnya tidak terlalu menaruh perhatian atas apa yang dikatakan dokter Lee karena yang ada di pikirannya saat ini tetaplah Key. Dia lalu mendekati Key, duduk di atas kasur dan berhadap-hadapan dengannya.

Key menelusuri tubuh Jonghyun dari atas sampai bawah. Mulutnya cemberut, tangannya pun disilangkan di depan dadanya.

“Ya! Kenapa kau berdandan setampan ini ke sekolah? Kau mau membuat yeoja-yeoja itu makin tergila-gila padamu, hah?” Key menyipitkan matanya, alisnya dibuat bertautan, “dan kau melanggar janjimu, kau tahu? Bukankah sudah kubilang agar kau tidak membuka kacamatamu kalau berada di lingkungan sekolah. Aish, jinjja.. Kau ini membuat moodku bertambah buruk saja. Dasar—”

Sret.

Kata-kata Key terputus begitu saja ketika Jonghyun merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya. Key mengernyit, ia menatap keheranan ke arah Jonghyun dari sudut matanya, tapi dia membiarkan Jonghyun untuk tetap memeluknya seperti itu.

Setelah beberapa lama, Key pun berinisiatif untuk melepas pelukan mereka. Dia memegang kedua bahu Jonghyun lalu dia menatap bola-bola mata Jonghyun yang selalu terlihat menyejukkan—baginya dan hanya untuknya—itu.

“Kau kenapa, Jjong?” tanyanya hati-hati.

Jonghyun memejamkan matanya ketika merasakan sentuhan jari-jari lentik Key yang menyapu permukaan kulit wajahnya, dia pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Ani, aku kira ada sesuatu terjadi padamu, tapi syukurlah kau tidak apa-apa”

Key mendesah, “Tidak apa-apa bagaimana? Kau tahu? Gara-gara kau meneleponku di dalam toilet, tanganku yang licin malah membuat handphoneku jatuh ke bawah wastafel dan ketika aku mau mengambilnya, jidatku malah mengenai ujung dari wastafel. Naas sekali” katanya tidak terima. Jonghyun melihat ada sedikit luka biru pada kening kekasihnya, bekas kejadian naas yang dimaksud Key, dia pun mulai mengarahkan pinset berkapas tadi pada bagian yang terluka itu untuk mengobatinya, “dan bagian terburuknya itu ssh.. pelan-pelan, Jjong.. Perih sekali rasanya! Ssh.. Sampai dimana aku tadi? Oh ya! Bagian terburuknya itu adalah aku tidak bisa ikut pelajaran pertama pagi ini gara-gara aku harus mengobati luka sial ini! Uh”

Jonghyun mencubit pipi kiri Key, giginya bergemeretak saking gemasnya, “Tukang bohong!” Ia pun menarik hidung mancung Key, membuat Key kembali meringis, “kalau senang berbohong, hidungmu akan menjadi panjang seperti pinnochio loh kekeke” Jonghyun menggerak-gerakkan hidung Key—yang dia tekan dengan ibu jari dan telunjuknya—ke kiri dan ke kanan, “aku tahu kalau kau senang karena tidak bisa masuk pelajaran pertama, iya kan? Kau itu benci matematika dan luka kecil seperti ini seharusnya bisa kau tahan dengan mudahnya. Tapi, kau sengaja meninggalkan pelajaran pertama dan terdampar di ruangan bau obat ini. Ide yang benar-benar brilliant ckck”

Key mengerucutkan bibirnya kembali, tak lama kemudian, ia pun tersenyum cengengesan, “Hehe. Sepertinya, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu”

Jonghyun menarik belakang kepala Key untuk mendekat ke arahnya lalu dia menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung Key, “That’s right, baby. I know you too fucking well”

Setelah itu, dia mencuri sebuah kecupan kecil dari bibir kissable milik Key, membuat Key tersenyum semakin lebar.

Jonghyun meneruskan pekerjaannya, dia mengobati kening Key secara hati-hati dan perlahan. Sementara itu, Key hanya diam memperhatikan bagaimana seriusnya raut wajah Jonghyun ketika dia mengobati dirinya.

Tanpa sadar, Key terus memandang penuh kagum kepada Jonghyun, lengkap dengan senyuman yang terus mengembang pada wajahnya.

“Like what you see, hm?” kata Jonghyun tanpa memindahkan pandangannya kepada Key, terlalu sibuk dengan luka biru pada keningnya itu. Key langsung salah tingkah, wajahnya merona dan dia refleks menundukkannya.

“Aih.. Jangan bergerak! Aku belum selesai mengobatimu” Jonghyun mengangkat dagu Key dengan tangannya yang sedang tidak bekerja agar kembali berhadapan dengan wajahnya. Setelah itu, ia kembali mengobati kekasihnya dengan tulus.

Key masih salah tingkah, ia tidak berani menatap mata Jonghyun sekarang sehingga pandangannya dia arahkan ke arah jendela.

“Kau bisa memandangku kalau kau mau. Kurasa wajahku jauh lebih menarik daripada jendela yang sedang kau perhatikan itu. Aku akan berpura-pura tidak menyadari kalau kau sedang memandangku agar pipimu tidak merona lagi. Bagaimana?”

Key mencubit kecil perut Jonghyun karena kenarsisannya. Jonghyun menjauhkan tubuhnya sedikit lalu dia tertawa melihat wajah kekasihnya yang di tekuk, mulutnya menggerutu entah apa karena Jonghyun tidak dapat mendengarnya.

Setelah itu, mereka diam cukup lama. Jonghyun masih meneruskan mengobati kening Key sambil sesekali mendengungkan lagu Lovey Doveynya T-Ara lalu dia mengambil sebuah plester polos berwarna pink. Ditempelkannya plester itu pada kening Key.

“Cup~♡” dia pun mendaratkan sebuah kecupan di atas plester yang telah tertempel itu, “cepatlah pergi dari kekasihku, rasa sakit!” katanya seperti sebuah mantra yang akan menyembuhkan luka Key. Key membelakakan matanya atas perlakuan Jonghyun, dia terlalu shock. Apalagi jantungnya, organnya itu benar-benar merasa shock sehingga berdegup kencang tak terkendali.

Jonghyun menyimpan semua peralatan tadi ke dalam kotak P3K lalu dia bangkit, berjalan ke arah lemari untuk menyimpan kotak putih itu di dalam sana. Playlistnya pun tiba-tiba berganti, sekarang dia menggumamkan lagu Shock dari B2ST dengan santainya.

Key yang tahu kalau Jonghyun sedang mengejeknya segera melempar bantal putih yang ada di sebelahnya ke arah Jonghyun.

Bantal itu tepat mengenai tubuh Jonghyun, tapi baik Jonghyun maupun Key malah tertawa dengan lepasnya, mungkin mereka terlalu menikmati kebersamaan yang sedang mereka rasakan saat ini.

Mereka pun terus bercengkerama sampai Jonghyun memutuskan untuk pulang ke rumahnya guna mengganti baju, lagipula waktu mengajarnya belumlah tiba.

Jonghyun juga sudah merasa lega karena mimpinya tidak menjadi kenyataan.

Tapi, selama perjalanan, ada sesuatu yang menyangkut di dalam pikirannya.

 Apa aku harus mengakui hubunganku dengan Key sebelum semuanya menjadi terlambat?

***

“Key! Key! Masa aku dikatakan pembohong! Tadi pagi Kim Songsaenim datang ke sekolah kan? Dia datang menemuimu ke UKS kan? Dan dia tidak mengenakan kacamata! Dia memakai baju hitam tanpa lengan dengan jaket kulit warna hitam. Iya kan? Aku benar kan, Key? Katakan pada mereka kalau aku tidak berbohong!” adu Mir pada Key—yang baru saja datang ke kelasnya—sambil menunjuk-nunjuk ke arah Woohyun, Dongwoon, dan Minho.

“Aku lihat kalau dia baru saja datang ke ruang guru kok tadi, dan pakaiannya normal seperti biasa dia mengajar, dia juga masih memakai kacamatanya” kata Woohyun membuat Mir merengek.

“Tadi dia datang bersamaan denganku kok, aku melihatnya memasuki gerbang sekolah dengan mobil silvernya” tambah Dongwoon. Mir semakin merengek, sekarang dia pun mengguncang-guncangkan lengan Key karena sahabat-sahabatnya malah menyudutkannya.

“Sudahlah, Mir. Lagipula, pas aku ke ruang guru buat ngumpulin tugas, aku lihat kalau jadwal Kim Songsaenim memang baru siang ini adanya. Terus, ngapain coba dia kesini pagi-pagi dengan pakaian tidak formal seperti yang kau katakan itu?” kali ini Minho ikut angkat bicara.

“Tapi tadi aku bertemu dengannya! Dia memanggil namaku dan dia menanyakan dimana Key!” Mir masih tetap pada pendiriannya. Sementara itu, Key melenggang santai dan duduk di kursinya, tidak terlalu mempedulikan perdebatan sahabat-sahabatnya.

“Aku di UKS cuma sama dokter Lee. Lagipula, ngapain juga guru dingin itu peduli pada keadaanku?” harapan Mir satu-satunya pun hancur sudah. Dia semakin terpojok karena pernyataan Key. Padahal, dia berharap kalau Key dapat menyelamatkannya dari ejekan sahabat-sahabatnya.

Key tidak ikut mengolok-olok Mir sesudahnya seperti apa yang dilakukan teman-temannya karena dia diam-diam merasa sangat bersalah pada Mir, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membongkar semuanya, benar kan?

***

Suara yeoja-yeoja yang berteriak entah karena apa membuat seisi sekolah terasa begitu bising. Terlebih, saat ini adalah waktu istirahat dimana semua orang seharusnya butuh ketenangan untuk menyantap makan siang mereka.

Hal itu jugalah yang membuat wajah Key ditekuk, bibirnya cemberut. Selain dia tidak bisa menghabiskan waktu istirahat bersama Jonghyun—karena ada rapat di antara para guru—seperti biasanya, dia juga merasa sangat terganggu karena acara makannya terasa seperti acara fansigning artis-artis Korea yang sedang melesit di dunia. Menyebalkan.

Sementara itu, Mir—yang memang selalu ingin tahu—sibuk memasuki gelombang yeoja-yeoja untuk mengetahui apa yang terjadi.

“Aku sudah tak nafsu makan” ucap Key akhirnya. Dia menyimpan alat makannya di atas piring yang makanannya masih tersisa banyak.

Tak lama kemudian, Mir menghampiri meja dimana sahabat-sahabatnya itu duduk dengan langkah ringan dan wajah yang begitu berseri-seri.

Dia duduk sambil bersenandung lalu dia menyeruput orange juice yang sempat ditinggalkannya.

Hal itu tentu saja membuat keempat sahabatnya menatap dia dengan keheranan.

“Ada apa denganmu?” tanya Key dengan sifat divanya, moodnya sedang buruk saat ini dan sahabatnya itu bukannya ikut merasakan apa yang dia rasakan, malah dia seperti kesenangan di atas penderitaannya.

“Ga, pantes aja yeoja-yeoja itu pada berisik.. Ternyata..” Ujar Mir menggantung.

“Ternyata apa?” sambung Dongwoon yang tidak sabaran.

“Ga penting-penting banget sih. Lagipula, kalian pasti ga tertarik kok buat tahu menahu sama hal yang berhubungan dengan Kim Songsaenim” ketika mendengar nama ‘Kim Songsaenim’ disebut, Key langsung membelakakan matanya sambil menoleh ke arah Mir.

“Apa maksudmu? Kim Songsaenim kenapa?” Mir sedikit menyunggingkan senyumnya.

Sudah kuduga, dia pasti akan terkejut! Kali ini kau tidak bisa menipuku lagi, Kim Kibum..

Memang, sejak pertemuannya dengan Jonghyun tadi pagi, Mir menjadi curiga dengan hubungan di antara Key dan Jonghyun. Makanya, sekarang dia harus memastikannya sendiri berhubung sahabat-sahabatnya yang lain tidak ada yang mempercayainya.

“Biasa, ada yang lagi ‘nembak’ dia disana”

“Hah? Nembak apa?” Woohyun juga ikut-ikutan bertanya, ada raut penasaran di wajah tampannya.

“Iya, itu.. Tahu Eunsook kan? Cewek populer yang cantik luar biasa itu. Dia lagi menyatakan cintanya pada Kim Songsaenim”

Brak!!!

Key bangkit dari duduknya, secara refleks tangannya menggebrak meja, sorot matanya pun berkilat penuh emosi.

“APA KATAMU?!”

“Eunsook lagi menyatakan cintanya pada Kim Songsaenim” ulang Mir dengan santainya.

“JANGAN BERCANDA, BANG CHEOLYONG!” Key kali ini berteriak kencang, urat-urat di sekitar lehernya pun sampai terlihat.

“Ga usah teriak-teriak, Key.. Kayak baru kali ini aja denger orang ditembak” Minho—yang tidak tahu apa-apa—mencoba untuk menenangkan Key, tapi Key sama sekali tidak tergerak, amarahnya benar-benar meluap.

Ketiga sahabatnya—kecuali Mir—pun menjadi bingung ketika Key tiba-tiba berlari darisana. Dan kebingungan mereka semakin menjadi karena Key terlihat masuk ke dalam gerombolan yeoja-yeoja yang sedang berkerumun secara paksa.

“Jadi.. Songsaenim, apa jawabanmu?” seperti apa yang dikatakan Mir, di dalam sana terdapat seorang yeoja berambut cokelat sebahu, mata bulan sabit, gigi kelinci, pipi chubby, dan senyum yang menawan. Benar-benar cantik, pantas saja dia termasuk salah satu cewek terpopuler di sekolah itu.

Sementara, di hadapan yeoja bernama Eunsook itu, Jonghyun berdiri dengan aura yang tetap terlihat dingin. Dia tidak berbicara apa-apa walau yeoja-yeoja yang mengelilingi mereka berdua sudah berteriak-teriak agar Jonghyun menerima pernyataan cinta dari Eunsook.

“JANGAN DEKATI DIA!” secara tiba-tiba, Key meraih tangan Jonghyun lalu dia berdiri membelakangi Jonghyun—dengan tangan yang tetap menggenggam tangan Jonghyun—sehingga posisinya berhadapan dengan Eunsook, tubuhnya seperti membuat barikade agar tak seorangpun dapat berjalan mendekat ke arah Jonghyun, “TIDAK ADA SEORANGPUN YANG BOLEH MENDEKATINYA! KAU DENGAR ITU?” teriaknya kepada Eunsook yang wajahnya terlihat sangat terkejut, langkahnya pun refleks dimundurkan.

Para yeoja yang sedaritadi sibuk menonton mereka turut menunjukkan ekspresi terkejut, bahkan mereka mulai berbisik-bisik, menerka apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Apa maksud perkataan Key Oppa itu?”

“Jangan-jangan dia menyukai Kim Songsaenim?”

“Jangan gila, mungkin Key Oppa menyukai Eunsook Eonnie juga”

“Tapi, kenapa dia menggenggam tangan Kim Songsaenim?”

“Ah, iya! Masa Key Oppa benar-benar menyukai Kim Songsaenim sih?”

Bisikan-bisikan semacam itu terus terdengar. Tentu saja Key dapat mendengarnya dengan jelas, apalagi dia melihat kalau keempat sahabatnya turut memandang aneh ke arah mereka.

Key akhirnya tersadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan, dia langsung membungkam mulutnya.

Otaknya sibuk berpikir untuk mencari alasan yang masuk akal.

“Eh.. Itu.. Maksudku.. Ehm.. Kau lebih baik jangan mendekati Kim Songsaenim karena dia.. Dia.. Uh..” Key menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Jonghyun, “karena dia tidak pernah mencuci tangannya kalau keluar dari kamar mandi! Ya, aku melihatnya tidak mencuci tangan dengan mata kepalaku sendiri. Wanita cantik dan anggun sepertimu masa mau dengan orang yang jorok seperti dia?” Key mengendus tangan Jonghyun yang ada dalam genggamannya lalu dia melepas tautan mereka dengan ekspresi jijik, “iuh! Bahkan aku bisa mencium bau aneh dari tangannya itu. Aih.. Aku harus mencuci tanganku ini selama 7 hari 7 malam agar baunya hilang. Tanganku benar-benar malang..” Key mengusap tangannya dengan akting yang meyakinkan. Beberapa yeoja pun secara turut menurut mulai menjauhkan diri dari Jonghyun karena aktingnya itu.

“Aku kesini hanya mau memperingatimu tentang hal itu kok, Eunsook-ah.. Nah, sekarang aku pergi dulu ya.. Aku harus mencuci tanganku. Sampai jumpa, semuanya!” Dengan itu, Key melambaikan tangannya lalu dia pun melesat, berlari entah kemana.

Sepeninggal Key, Eunsook terlihat semakin shock, dia turut memundurkan langkahnya untuk menjauhi Jonghyun.

“Ma-maaf, songsaenim.. Anggap saja aku tidak mengatakan apapun padamu tadi” ujar Eunsook sambil membungkukkan badannya lalu dia pergi dari sana secara kilat. Kerumunan yeoja-yeoja juga membubarkan diri dengan tertib.

Jonghyun yang akhirnya tertinggal sendiri di dalam kantin itu hanya bisa mengedikkan bahunya lalu dia mulai berjalan untuk mencarinya.

***

Tak salah lagi, Jonghyun menemukan Key di atas atap sekolah. Posisinya membelakangi Jonghyun ketika dia datang, mungkin dia tidak sadar dengan keberadaan Jonghyun.

“Berhenti!” satu kata yang diteriakkan Key—yang ternyata menyadari sosok Jonghyun—membuat langkah Jonghyun terhenti.

“Key..”

“Diam!” teriak Key lagi. Jonghyun terkejut mendapat bentakan dari Key, dia tak pernah membentaknya sebelumnya. Keterkejutan Jonghyun pun belum berhenti sampai disitu, dia kembali dikejutkan dengan bahu Key yang terlihat naik turun.

“Key, kau menangis?” tanya Jonghyun berhubung dia tidak bisa melihat keadaan Key dari depan. Diam-diam, Jonghyun memajukan langkahnya secara hati-hati.

“Hentikan langkahmu, Kim Songsaenim!” dan lagi-lagi langkah Jonghyun terhenti dengan paksa. Hatinya entah kenapa terasa sakit ketika Key memanggilnya ‘Kim Songsaenim’, padahal sekarang mereka sedang berdua.

Key terlihat menenangkan dirinya, bahunya perlahan sudah tidak naik turun lagi dan diapun menyusut sisa air mata pada sudut matanya.

“Kau bilang.. Kau tidak bisa istirahat bersamaku karena ada rapat guru dan aku malah melihatmu disana, bersama Eunsook..”

“Itu tidak seperti yang kau bayangkan, Key! Rapat guru dibatalkan dan aku bermaksud menghampirimu untuk istirahat bersama. Karena aku tidak melihatmu di dalam kelas, aku berinisiatif untuk mencarimu ke kantin. Benar saja kau ada disana, tapi sebelum aku menyadarinya.. Tiba-tiba saja yeoja itu menghampiriku sehingga semuanya terjadi seperti tadi..”

Key tertawa pelan, dia menggenggam pagar kawat—pembatas atap sekolah—kuat-kuat, posisinya masih memunggungi Jonghyun.

“Tapi kau tidak menolaknya, kau hanya berdiri dan diam disana seperti patung. Sementara, yeoja-yeoja itu mengerumuni kalian dan menyemangatimu agar kau menerimanya. Hmph, aku curiga kalau kau akan benar-benar menerima Eunsook jika aku tidak datang”

Jonghyun membelakakan matanya mendengar perkataan naif dari mulut Key, “Apa yang kau katakan? Aku pasti tidak akan menerimanya! Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

“Aku cemburu!” potong Key sambil membalikkan badannya menjadi berhadapan dengan Jonghyun, “aku cemburu! Kau dengar itu? Orang lain merestui hubunganmu dengan Eunsook, padahal kekasihmu itu adalah aku! Tch, bahkan mereka tidak mungkin mempunyai pikiran bahwa kau adalah kekasihku. Sementara kau!” tunjuk Key pada Jonghyun, “kau! Kau tidak bisa bersikap tegas pada semua yeoja yang mendekatimu! Yang kau lakukan hanyalah diam dan diam. Kau kira, diamnya dirimu akan membuat mereka berhenti mengejarmu? Aku sudah cukup bersabar selama lebih dari seminggu ini, tapi kau tetap tidak menunjukkan keseriusan..”

“Key, kau salah paham. Aku—”

“Apa kau malu mengakui kalau aku adalah kekasihmu yang sebenarnya?” potong Key sekali lagi. Ucapannya yang sekarang membuat Jonghyun benar-benar tak habis pikir, ia sudah kehilangan akal untuk membalas omong kosong tidak masuk akal yang sedang diucapkan oleh Key.

“Key! Kau itu kenapa? Bukankah kita sudah berkomitmen untuk merahasiakan hubungan kita di sekolah sejak awal?”

Key tahu itu, sangat tahu. Tapi, dia sendiri tidak bisa mengontrol perasaan cemburunya yang saat ini mengontrol semua emosinya.

“Apa ulanganku kemarin mendapat nilai 100?” Jonghyun heran dengan pertanyaan Key yang membalikkan topik pembicaraan mereka, tapi dia menganggukkan kepalanya pelan.

Key lalu memindahkan arah pandangnya ke atas langit yang terlihat mendung, “Kalau begitu, lupakan taruhan di antara kita berdua kemarin karena aku sudah tidak menginginkannya”

***

Tiga hari kemudian..

Saat ini adalah hari dimana Jonghyun harus meninggalkan sekolah karena ayahnya sudah pulang dan siap untuk kembali mengajar.

Para siswa pun sibuk mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai rasa terimakasih mereka dan sebagai ucapan selamat tinggal kepada Jonghyun.

Sementara itu, Key sengaja menyibukkan dirinya di dalam lapangan basket. Sudah tiga hari ini ia mengacuhkan semua pesan maupun panggilan dari Jonghyun. Dia juga tidak datang ke bukit sekolah ketika istirahat tiba dan dia sengaja mengacuhkan Jonghyun ketika mereka—tidak sengaja—berpapasan.

Biarpun dia tahu kalau hari ini adalah hari dimana Jonghyun akan meninggalkan sekolah, tapi dia menyeret paksa Minho untuk menemaninya bermain basket. Dia tidak ingin mengingat apapun tentang Jonghyun dan basket akan membantunya melupakannya. Mungkin.

“Hosh.. Hosh.. Aku capek, Key.. Ayo kita istirahat” ini sudah kali ketiga Minho meminta waktu untuk beristirahat, nafasnya terdengar tidak beraturan.

“Kemana semangat membaramu itu, kodok? Masa baru segini saja sudah capek?” dan ini pun sudah kali ketiga Key menolaknya.

Bayangkan saja, mereka sudah bermain basket selama 4 jam nonstop, wajar kalau Minho meminta waktu untuk beristirahat.

“Tapi, Key.. Hosh hosh.. Aku benar-benar capek..”

Key pun memantulkan bola basket di tangannya dengan kasar, “Ya sudah, sana pergi! Aku bisa bermain sendiri!” Minho geleng-geleng melihat kelakuan sahabat sekaligus partner tim basketnya itu, tapi dia benar-benar capek sehingga dia memutuskan untuk pergi dari sana, lagipula Key mungkin butuh waktu untuk sendiri.

Drap drap drap.

Dunk!

Key terus berlari dan memasukkan bola. Peluh keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya, tapi dia tidak mempedulikannya.

Dunk!

Dunk!

Dunk!

Entah sudah berapa ratus kali dia memasukkan bola ke dalam keranjang hari ini, yang dia tahu, dia masih belum merasa puas.

Dia belum puas untuk mengeluarkan seluruh emosinya.

Nyut.

Key memang merasakan sedikit nyeri pada kakinya, tapi, sekali lagi, dia masih belum mau berhenti.

Dunk!

Rasa kesalnya kepada Jonghyun benar-benar sudah di ambang batas.

Dunk!

Apalagi, Jonghyun pasti tidak akan bisa menebak apa yang akan dimintanya dalam taruhan mereka—yang sudah dibatalkan itu.

Drap drap drap.

Dunk!

Three point shoot.

Setelah melakukan three point shoot, Key terdiam. Bola yang tadi dilesakkannya secara sempurna, menggelinding secara pasti dan berhenti tepat di sebelah kakinya.

 

Aku ingin semua orang tahu kalau kau adalah kekasihku!

Ya, andai saja Key bisa meneriakkan permintaannya itu, dia pasti akan melakukannya.

Tapi, sekarang semuanya sudah terlambat.

Mungkin, semua orang tidak akan pernah mengetahui kalau sang diva sekolah sudah mempunyai seorang pacar dan mereka semua akan mencap dirinya sebagai perjaka tua.

Miris sekali.

Key lalu menunduk untuk mengambil bola, dia bersiap untuk memasukkan bola itu kembali sebelum suara ribut-ribut tiba-tiba datang mendekat ke arahnya.

Dia sedikit terkejut karena fans-fans yeojanya masuk ke dalam lapangan basket sambil membawa banner yang biasa mereka pakai untuk menyemangatinya.

Tapi, dia semakin terkejut karena banner-banner itu bukan berisi kata-kata semangat untuk dirinya.

‘We support you, Kim Songsaenim, Key Oppa!’

‘Jonghyun’s only for Key and Key’s only for Jonghyun’

‘JongKey Jeil Jalnaga’

‘ ㅎㅅㅎ ♡ ‘ㅂ’ ‘

‘Get married, you two!’

Key membungkam mulutnya karena terkaget dengan apa yang dia lihat, saking terkejutnya, bola basket yang tadi ada di dalam genggamannya menggelinding terjatuh di atas lantai.

Tanpa dia sadari, bola basket itu diambil oleh seseorang yang sekarang berjalan mendekatinya.

“Key..” Key menoleh ke suara itu, suara yang amat dirindukannya dari orang yang juga sangat dirindukannya.

“J-Jjong..” ucap Key masih terkaget-kaget. Jonghyun tersenyum di hadapannya.

Dia lalu mendekat untuk membisikkan sesuatu ke telinga Key.

“Jeongmal bogoshipo..”

Kata-kata Jonghyun segera membuat bulu kuduknya berdiri. Jonghyun menjauhkan mulutnya dari telinga Key, lalu dia tersenyum lagi.

Tik!

Jonghyun menjentikkan jarinya ke atas. Seketika, semua suara bising di dalam lapangan itu berubah menjadi keheningan yang luar biasa. Yeoja-yeoja tadi segera bungkam meneriaki kejadian dimana Jonghyun membisiki Key karena satu jentikan jari dari Jonghyun.

Key kebingungan. Dia menoleh ke arah orang-orang yang mendadak bungkam itu lalu dia kembali memandang Jonghyun.

“Jjong, apa yang terjadi?” bisiknya sepelan mungkin. Karena lapangan basket benar-benar sunyi, ia khawatir kalau suaranya bisa terdengar oleh yang lain.

Jonghyun tidak menjawab, dia hanya tersenyum penuh makna.

“Key..” katanya bergema. Biarpun dia berbicara dengan suara normal, tapi kesunyian disana membuat suaranya terdengar begitu lantang.

“Mianhe.. I love you” sambungan perkataan Jonghyun membuat semua orang disana kembali berteriak histeris.

Key sendiri bingung harus berkata apa karena semuanya begitu tiba-tiba.

“Maafkan aku.. Aku mungkin salah karena tidak mengatakan ini semua dari awal” Jonghyun berjalan mendekati Key, wajah mereka pun berada dalam jarak yang sangat dekat sehingga mata mereka bisa saling melihat pantulan diri mereka pada sinar mata satu sama lain, “I really love you, my Student.. Saranghae”

Jonghyun mencium bola basket yang ada di tangannya lalu dia menyodorkan bola basket itu pada Key yang juga langsung diciumnya.

Dengan diiringi tepuk tangan para ‘penonton’, tubuh mereka semakin merapat sampai bibir mereka pun bertaut sempurna. Jonghyun kemudian melempar bola basket yang ada di tangannya ke arah para penonton dan mereka pun sibuk berebutan bola oranye itu, seolah-olah bola itu adalah buket bunga yang dilempar oleh pengantin wanita pada suatu acara pernikahan.

Key tersenyum di balik ciuman mereka karena melihat keributan yang telah mereka perbuat lalu dia berbisik sambil tetap mencium Jonghyun.

“Me too, I love you, nae songsaenim..”

Sesudah itu, Key melingkarkan tangannya pada leher Jonghyun untuk semakin memperdalam ciuman mereka yang dibalas Jonghyun dengan memegang pinggang Key.

Mereka terus berciuman dengan backsound suara-suara bising para penonton yang tetap berperang untuk mendapatkan bola basket itu.

“Yeah! Aku mendapatkan bolanya!” teriak seorang siswi sambil mengacungkan bola basket yang—akhirnya—ada pada tangannya. Dia segera mendapat death glare dari orang-orang yang menginginkan sang bola, membuatnya buru-buru melarikan kakinya darisana.

“Ya! Berhenti kau, Eunsook-ah!!!”

 

END.

Advertisements

One response to “JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 2 of 2

  1. hah, untglah cma mimpi..
    hidup jongkey,lol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s