JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 1 of 2


Title : I am your Teacher and You are my Student

Author : Mak Erot IX JKK | @dinopaw

also posted in : JongKey Kingdom Fanfictions

Cekidot~

“Kyaaaaa Key Oppa!”

“Oppa, I love you!!”

“Kyaaaa kyaaaa”

Aku hanya menebarkan senyumku ketika mereka mulai mengelu-elukan namaku dengan kerasnya.

Yah, kali ini tim basket kami menang lagi.

“Yo, Key! Umpanmu tadi bagus sekali! Thanks ya” ujar Minho sambil menepukkan tangannya di bahuku.

Point terakhir penentu kemenangan tim kami memang dihasilkan oleh Minho yang mendapat operan dariku.

“Tentu. Kau pun mengeksekusinya dengan sempurna, seperti biasa” aku tersenyum padanya dan bisa kurasakan kalau perempuan-perempuan itu semakin meneriakkan namaku, juga nama Minho. Aku bahkan bisa melihat kalau mereka membawa serta handbanner yang berisi kata-kata penyemangat untukku pada tangan mereka.

Aku memberikan senyumku pada mereka sambil meneruskan perjalananku menuju ruang ganti pemain. Di sana, para pemain timku terlihat sedang mengganti pakaian. Peluh menghiasi tubuh mereka yang kebanyakan berabs.

Cklek.

Aku membuka lokerku dan tersenyum kecil. Sebuah handuk kecil berwarna pink kesukaanku sudah berada disana, lengkap dengan botol air minum yang juga berwarna pink. Di sela-sela handuk itu terselip sebuah note kecil, lagi-lagi berwarna pink.

‘Congrats, baby! ㅎㅅㅎ

 

“Gomawo” gumamku pelan.

Aku menangkup kedua pipiku di atas meja dengan sebuah pensil menggantung manis di bibirku. Kudengar beberapa murid mulai membicarakan orang yang sebentar lagi pasti akan datang.

“Key.. Key..” aku memutar badanku ke belakang. Kulihat Dongwoon dan Woohyun yang duduk di belakang mejaku sedang berbisik-bisik dan menyuruhku untuk terlibat dalam entahlah-apa-itu-yang-sedang-dibicarakan-mereka.

“Apa?” tanyaku acuh.

“Aish.. Berhentilah bersikap diva pada kami! Kami kan sahabatmu” protes Mir—teman sebangkuku—sambil menepuk jidatku. Aku meringis lalu ku arahkan tanganku melayang di udara, bersiap memukulnya, tapi tentu saja aku tidak melakukannya. Biar bagaimanapun, mereka memang sahabatku.

“Kudengar guru pengganti Kim Songsaenim yang sedang pergi keluar kota itu adalah anaknya, benar?” Mir memulai lagi pembicaraan itu.

“Lalu?” kataku masih tak acuh.

“Aish.. Bagaimana kau ini!” Dongwoon geleng-geleng sendiri karena ulahku, “itu berarti kalau Kim Jonghyun songsaenim, si guru pengganti yang baru mengajar di sekolah kita selama seminggu ini adalah anaknya dan Kim Songsaenim pernah bilang kalau umur anaknya hanya terpaut satu tahun dari umur kita”

“Hoaem.. Terus?” lagi-lagi aku membuat mereka mengeluarkan wajah kesalnya gara-gara aku sengaja menguap.

“Umur anak Kim Songsaenim yang paling besar itu cuma beda satu tahun sama kita, Key.. Dan dia itu guru kita sekarang!”

“Iya, aku tahu. Terus apa? Aku tidak mengerti dimana letak masalahnya”

“Aish..” Dongwoon tidak tahu lagi harus mengatakan apa padaku.

“Begini, Key.. Maksud kami itu.. Kim Jonghyun Songsae—tuh kan aku mulai tidak bisa memanggilnya ‘songsaenim’ lagi gara-gara aku tahu fakta ini” Woohyun berusaha menjelaskan apa yang sepertinya mereka maksud, “nah, dia kan cuma beda satu tahun sama kita. Apa kamu biasa aja gitu diajar sama dia? Kita sih ngerasa yah.. Gimana ya? Abisnya kalau cuma beda setahun sih.. Aish, aku jadi bingung sendiri. Lagipula, Kim Songsaenim ga dapat pengganti lain apa? Kok malah anaknya yang disuruh ngajar”

Aku menghela nafasku lalu mulai membaca buku pelajaran yang kubawa dari atas meja, “Kalau ternyata pengetahuannya memang diakui oleh ayahnya ya mau gimana lagi? Lagipula, pihak sekolah setuju kan? Terus, biarpun dia baru mengajar sekali di kelas kita, aku merasa kalau dia memang berbakat kok” kataku tanpa memandang ke arah mereka, terlalu asyik membulak-balik buku pelajaran yang kini berada di tanganku.

“Tapi, Key..” ketika mereka akan protes lagi, orang yang sedaritadi mereka perdebatkan pun masuk ke dalam kelas. Seketika, kelas langsung berubah menjadi hening.

Brak.

Dia menyimpan dokumen tebal yang dibawanya ke atas meja lalu dia terduduk, matanya menelusuri kumpulan kertas yang ada di dalam dokumen itu.

“Baiklah, seperti apa yang saya umumkan minggu kemarin, hari ini akan diadakan ulangan. Semua buku pelajaran yang berhubungan dengan pelajaran saya, silahkan dimasukkan ke dalam tas” semua orang di dalam kelas langsung mengerjakan apa suruhan itu sambil berbisik-bisik.

“Ulangan tidak akan dimulai kalau kalian masih ingin bicara” katanya lagi dengan tegas. Kelas pun kembali hening dalam waktu sepersekian detik.

Sesudahnya, orang berkacamata dengan pakaian formal ala guru sungguhan itu mulai membagikan kertas ulangan ke setiap meja.

Dia membagikan kertasnya tanpa melakukan kontak mata apapun pada semua murid, tersenyum pun tidak.

Aku memeriksa kertas ulanganku ketika sudah mendapatkan soal yang dibagikan, takut ada soal yang kurang atau soal yang tidak jelas di dalamnya. Ketika aku sudah yakin tentang kelengkapan soal di halaman pertama, aku membalik kertas ulangannya untuk berpindah ke halaman dua.

Dan aku pun kembali tersenyum.

‘Hwaiting, baby! ㅎㅅㅎ

 

Riiiiing~

Akhirnya, bel istirahat berbunyi. Aku merenggangkan otot-ototku, capek setelah bertarung dengan soal-soal ulangan tadi.

“Jinjja.. Soalnya sulit sekali” keluh Mir di sebelahku sambil menselonjorkan tubuhnya di atas meja. Aku hanya terkekeh melihat tingkahnya.

“Tidak ada yang sulit kalau kau mau berusaha” nasehatku.

Mir mencibir, memunculkan sedikit muka kusutnya dari balik meja.

“Tadi aku mau meminta bantuanmu, tapi kau malah asyik sendiri mengerjakan semua soal itu. Soal-soal itu sudah seperti pacarmu saja, sampai kau melupakan sahabat baikmu yang sedang kesusahan ini” aku pun tertawa mendengar perkataannya.

“Ah, sudahlah. Itu kan sudah berlalu. Lebih baik kita istirahat sekarang” ajak Woohyun disertai anggukan dari Dongwoon.

Mir tidak punya pilihan lain selain bangkit dari duduknya.

“Ayo, Key..” ajak Woohyun sekali lagi, menilik kalau aku tidak beranjak dari kursiku sama sekali.

Aku menggaruk belakang kepalaku, “Uhm.. Kalian duluan saja. Aku mau ke bukit belakang”

“Hah? Untuk? Itu kan jauh, Key..”

Lagi-lagi aku menggaruk belakang kepalaku, “Uhm.. Aku mau berjalan-jalan sambil berlari, itung-itung latihan. Aku kan pemain inti tim basket sekolah kita” alasanku sambil bernarsis ria.

“Tapi kau selalu ke bukit belakang sekolah ketika jam istirahat seminggu belakangan ini. Bukankah itu mencurigakan?” ujar Minho—sahabatku yang lain—yang baru muncul. Dia duduk terpisah dengan kami karena kursinya berada pada barisan paling depan sedangkan kami duduk pada dua bangku paling belakang.

“Aku cuma mau olahraga kok, ga percayaan banget sih kalian..” Minho menatapku dengan mata bulat bak kodoknya itu.

“Kalau begitu, aku mau ikut! Aku kan pemain inti tim basket sekolah kita juga! Malah, aku kaptennya”

“Aku juga! Aku juga mau latihan supaya tubuhku sehat!” semangat Mir diikuti oleh Dongwoon dan Woohyun. Aku tahu, mereka pasti benar-benar curiga dengan kebiasaanku akhir-akhir ini, makanya mereka ingin mengikutiku, dengan berbagai alasan. Tapi, aku tidak bisa jujur..

Aku tidak bisa..

Setidaknya untuk saat ini, karena sekarang belum waktunya.

Gosh, lalu apa yang harus kukatakan pada mereka?

Aku menggigit bibir bawahku, menolehkan mukaku ke luar jendela.

‘Bagaimana ini?’

“Ah!” tiba-tiba saja otakku mengingat sesuatu—setelah cukup lama berkutat dengan pikiranku, “kalau kau ikut, Taemin bagaimana, Minho? Kau juga, bagaimana dengan Lee Joon Hyung, Mir? Dan kau, bagaimana dengan Sunggyu Hyung, Woohyun? Lalu, bagaimana dengan Gikwang Hyung, Dongwoon? Kalian tidak akan melewatkan waktu istirahat dengan pacar-pacar kalian itu?”

Sesuai perkiraanku, wajah mereka langsung pucat pasi karena mendengar nama-nama itu. Memang tidak salah, pacar mereka adalah kartu truft terampuh untuk melawan mereka.

Kau dan otak jeniusmu, Kim Kibum!

“Aih, kau pasti menyembunyikan sesuatu! Ini benar-benar aneh!” yakin Mir lalu menunjuk mukaku.

“Aku tidak menyembunyikan apapun. Terserah kalian mau percaya atau tidak” aku mengedikkan bahu, kusembunyikan senyum kemenanganku dari penglihatan mereka.

“Jinjja.. Baiklah. Kita istirahat sama pacar-pacar kita aja sekalian Kwartet Date” asal Woohyun lalu menyeret ketiga temanku yang lain biarpun muka mereka masih ditekuk.

“Hati-hati di jalan!” aku melambaikan tanganku sambil tersenyum sebisaku ke arah mereka.

“Carilah pacar, Key! Supaya kau bisa ikut ngedate juga!” teriak Mir tidak terlalu terdengar karena jarak di antara kami sudah semakin menjauh.

Aku menurunkan tanganku lalu bergumam kecil, “Cari pacar ya?”

Murid-murid perempuan bergumul di depan ruang guru dengan jinjingan berisi kotak bekal di tangan mereka.

Key yang berjalan melewati ruang guru segera menghentikan perjalanannya sesaat. Dia melihat kalau Kim Jonghyun keluar dari sana—yang langsung dikerumuni murid-murid itu—sepertinya mereka ingin mengajak guru pengganti itu untuk memakan bekal bersama mereka.

Key menggelengkan kepalanya melihat reaksi super dingin yang ditanggapi gurunya. Jonghyun hanya terus berjalan tanpa menjawab sepatah katapun tentang ajakan murid-murid itu.

Key merasa sedikit iba kepada mereka. Dia juga selalu ditawari fans-fansnya untuk makan bersama ketika jam istirahat, tetapi setidaknya dia akan menolak dengan cara yang halus, tidak didiamkan layaknya Jonghyun.

Memang tidak salah kalau Jonghyun mendapat gelar ‘guru paling susah didekati’ seantero sekolah. Yah, biarpun fansnya sama sekali tidak berkurang. Atau mungkin bertambah? Who knows.

Key berjalan-jalan kecil sambil menaiki bukit sekolah, tangan rampingnya dia ayunkan ke depan dan ke belakang.

Entahlah, kalau dia berada di bukit ini.. suasana hatinya tiba-tiba berubah menjadi tenteram, damai, dan menyejukkan.

Angin berhembus sepoi-sepoi, udaranya pun bersih—berhubung banyak pohon dan tumbuh-tumbuhan yang ada disitu—ditambah oleh sinar mentari yang terasa hangat menerpa permukaan kulit.

Mungkin, suasana hati seperti itu jugalah yang dirasakan seseorang di depan Key. Dia sedang terduduk di atas hamparan bukit dengan santainya. Kakinya terlihat di selonjorkan, kedua tangannya berada di belakang, dan matanya terpejam sambil mencium aroma alam yang begitu menggelitiki hidungnya.

Key tersenyum tipis melihat sosok orang yang terduduk memunggunginya itu.

Dia menjijitkan kakinya sambil melangkah ke arahnya secara pelan-pelan.

“Aku tahu kamu sudah datang, Key.. Wangi tubuhmu sudah tercium sejak tadi” sontak saja Key mendengus kesal karena niatnya untuk mengagetkan orang itu pun langsung buyar seketika. Dia mengerucutkan bibirnya lalu mengambil posisi untuk terduduk di sebelahnya.

“Kau menyebalkan! Sama sekali tidak ada romantisnya” kesalnya masih dengan wajah cemberut. Orang di sebelahnya pun terkekeh, Ia mengambil sesuatu dari sakunya lalu menyerahkan benda itu ke depan wajah Key.

“Masih bisa mengatakan kalau aku tidak romantis, hm?” tanyanya melihat mata Key yang berbinar-binar ketika benda itu sudah sampai di tangannya.

“Woaaah! Ini mirip sekali denganmu! Wajahnya dan cheesynya!”

Orang itu mengerutkan dahinya, “Kalau kau bilang wajahnya mirip denganku sih aku masih bisa mengerti. Tapi, cheesynya?”

Key tertawa, dia mengangkat tangannya yang sedang memegang benda itu ke atas lalu menatap benda—yang berupa boneka kecil—itu lekat-lekat.

“Wajahnya mirip denganmu, tentu saja karena ini boneka dinosaurus. Lalu, cheesynya.. Lihat saja apa yang tertulis disitu” Key menunjuk hati bertuliskan ‘You’re the Key to my Heart’ yang sedang di pegang oleh boneka dinosaurus di tangannya, “cheesy sekali bukan? Boneka ini benar-benar mirip denganmu” katanya sambil mencibir.

Orang itu pun tertawa lalu mengacak-acak rambut halus Key dengan tangan kekarnya, “Uhm, it sounds very cheesy. But you like it, right?”

Key menggeleng, membuat orang di sebelahnya menatap heran kepadanya.

“No, I don’t like it but Yes, I do love it” Key memeletkan lidahnya sambil mencium boneka itu dengan hidungnya.

“Aw! You’re tickling me right now. Stop it!” Key menghentikan kegiatannya mencium boneka dinosaurus itu lalu dia menatap keheranan dinosaurus di sebelahnya yang sedang tertidur sambil memegang perutnya, berpura-pura kegelian.

“Aku memang mengatakan kalau wajah kalian mirip. Tapi, tidak usah bertingkah seolah-olah kau merasakan apa yang boneka ini rasakan, bodoh” Key memicingkan matanya karena dinosaurus itu tidak berhenti bertingkah kegelian padahal dia sudah tidak melakukan apapun pada boneka dinosaurusnya.

“Baiklah kalau itu maumu, Kim Jonghyun” Key bergerak mendekatinya lalu dia menduduki perut orang itu sambil mulai menggelitiki tubuhnya tanpa ampun.

Ya, orang itu adalah Kim Jonghyun. Gurunya. Kekasihnya.

Mereka selalu bertemu di bukit itu ketika jam istirahat untuk tidak menimbulkan perhatian warga sekolah terhadap hubungan mereka.

Tentu saja tidak ada yang tahu soal hubungan mereka di sekolah. Lagipula, mereka tidak mau kalau hubungan mereka akan menimbulkan kesan yang tidak-tidak di antara semua orang.

Mereka sebenarnya sudah berpacaran sebelum Jonghyun bertugas menggantikan ayahnya untuk mengajar, tapi Key tidak pernah menceritakan soal Jonghyun kepada teman-temannya. Lagipula, teman-temannya tidak akan tahu siapa itu Jonghyun sehingga hubungannya dengan Jonghyun tidaklah begitu penting untuk diceritakan. Begitulah pikiran Key saat itu.

Ayah Jonghyun yang menjadi guru pelajaran musik di sekolah pun sudah mengetahui perihal hubungan mereka, tapi Key dan ayah Jonghyun menyadari posisi mereka di sekolah. Karena itu, mereka jarang—malah hampir tidak pernah—berkomunikasi walaupun sering bertemu.

Di sekolah, Key adalah salah satu murid terkenal dengan prestasi di bidang olahraga—tepatnya basket. Dia mempunyai sifat diva-ish yang kadang membuat orang di sekitarnya jengkel, tapi tidak mengurangi jumlah fansnya.

Sementara itu, Jonghyun sudah menjadi primadonna sekolah sejak dia menginjakkan kakinya disana. Apalagi ketika para murid tahu kalau umur Jonghyun kurang lebih sama seperti mereka. Bukannya Jonghyun tidak bersekolah, tetapi dia mendapatkan izin dari pihak sekolahnya untuk mengajar di sekolah Key. Berhubung sekolah Jonghyun adalah sekolah khusus seni sementara sekolah Key adalah sekolah umum dan Jonghyun memang murid yang sangat berbakat dalam bidang seni. Lagipula, ayah Jonghyun memang mempunyai relasi yang dekat dengan kepala sekolah dari sekolah Jonghyun.

Lalu, di mata semua warga sekolah selama seminggu ini, Jonghyun dikenal tegas dan tidak banyak bicara. Malah dia tidak pernah tersenyum sehingga menimbulkan kesan yang dingin.

Walau, sekali lagi, hal itu tidak mengurangi jumlah fansnya.

Tapi, siapa yang tahu kalau sifat mereka itu akan luntur begitu saja jika mereka sudah mempunyai waktu berdua, seperti saat ini.

“Ahahahahahahaha, Key! Hentikan! Aku menye—hahahaha aku menyerah!” Key menyeringai lebar lalu dia pun menghentikan gerayangan tangannya pada tubuh Jonghyun.

Tanpa disangka-sangka, Jonghyun menyeringai lalu melemparkan tubuh Key hingga tertidur menyamping, berhadapan dengannya. Setelah itu, dia pun menggelitiki tubuh Key dengan jari-jarinya.

“Ampun aah! Kau hahahaha sialan, Jjong! Hahaha baik—baiklahahahaha aku kalah!”

“Kau tidak akan berbuat seperti itu lagi padaku?”

“I-iya hahaha aku janh-janji! Lepaskan aku hahahahahaha” Jonghyun pun melepaskan jari-jarinya dari tubuh Key. Dada Key naik turun karena kebanyakan tertawa sedangkan Jonghyun terdiam memandangi wajah kekasihnya itu dari jarak yang begitu dekat.

Menawan.

Sungguh, tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan Keynya.

Tak sadar, tangan kanan Jonghyun bergerak mendekati pipi kiri Key lalu mulai mengelusnya lembut. Dalam posisi tiduran seperti itu, angin terasa berhembus menerpa helaian rambut mereka yang terbang seirama.

“Key..” Key—nyang tadinya menutup mata karena merasakan sentuhan Jonghyun pada pipinya—mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menatap tepat ke arah mata bulat-like-a-puppy milik Jonghyun. Dia pun tersenyum sambil berdehem, menanggapi panggilan orang yang disayanginya itu.

“Jangan tunjukkan senyuman seperti itu pada orang lain..” Jonghyun memindahkan jari tangannya dari pipi Key ke atas bibir pink kissable milik Key, “aku yakin siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati padamu dan aku tidak suka itu”

Key terkekeh, ia menyentil hidung mancung Jonghyun lalu menjawilnya gemas, “Kau yang jangan menunjukkan tatapan puppy seperti itu pada orang lain..” dia menelusuri lekuk hidung Jonghyun sampai jari tangannya berhenti pada frame kacamata yang dipakai Jonghyun, “dan jangan sekali-kali kau membuka kacamata ini di sekolah. Aku yakin siapapun yang melihat sinar matamu pasti akan langsung jatuh hati dan aku benci itu” ujarnya seraya membuka kacamata Jonghyun, sebenarnya mata Jonghyun itu normal, hanya saja dia memakai itu agar aura tegas dari dalam tubuhnya keluar.

Sekarang, Key dapat melihat dengan jelas sepasang mata bulat berwarna cokelat milik kekasihnya itu. Benar-benar indah dan memabukkan, rasanya Key ingin selalu memandang dalam, lebih dalam, lebih dalam lagi sampai dia bisa melihat bagian terdalam dari diri Jonghyun. Dia ingin memastikan apakah nama dirinya terpahat disana? Seperti apa yang selama ini Jonghyun katakan.

“Ulangan tadi bagaimana?” Jonghyun bertanya lagi setelah sekian lama mereka terdiam sambil memandang satu sama lain, mengagumi makhluk yang tercipta untuk mereka itu lagi dan lagi.

“Ck, terlalu mudah! Aku bahkan bisa mengerjakan semua partitur sulit itu dengan memejamkan mata!” sombong Key sambil mengusap bagian bawah dari hidungnya dengan ibu jarinya.

“Semudah itukah? Kalau begitu, kau harus mendapatkan nilai sempurna”

“Pasti”

“Kalau tidak?”

“Kalau tidak, aku akan memakai baju pramugari lalu menari Genie di tengah lapangan sekolah. Tapi itu tidak akan terjadi”

“Siapa tahu? Kan hasilnya belum keluar”

“Tapi aku yakin nilai ulanganku tadi 100. Kecuali..” Key menatap tajam pada Jonghyun yang menyeringai.

“Kecuali apa?”

“Kecuali kalau kau sengaja menyalahkan jawabanku sehingga nilaiku berkurang!” geram Key sambil mencubit pipi Jonghyun, “akan ku smackdown kau kalau berani melakukan itu!”

Jonghyun meringis, ada bekas merah pada pipinya karena ulah Key, “Aku tidak akan berbuat selicik itu. Aih.. Kau kejam sekali pada pacarmu yang tampan luar biasa ini”

Kekasihnya itu hanya bisa memeletkan lidahnya, “Tapi.. Kalau nilaiku benar-benar 100.. Aku mau kau mengabulkan satu permintaanku. Bagaimana?”

Jonghyun berpura-pura berpikir lama, sengaja membuat jengkel orang di hadapannya.

“Ya! Kalau tidak mau juga aku tidak memaksa kok!” Key bangun dari tidurnya lalu terduduk sambil menyilangkan tangan di dada, wajahnya ditekuk dan tatapannya mengarah ke arah lain—asal bukan Jonghyun.

Jonghyun ikut terduduk, dia memeluk bahu Key agar tubuh ramping itu merapat kepadanya.

“Jangan marah dong.. Aku kan bercanda” tapi Key masih mendengus, “baiklah.. Aku mau. Aku akan mengabulkan satu permintaanmu kalau kau mendapat nilai 100. Happy now?”

Key tersenyum sebentar lalu senyuman itu dia sembunyikan ketika tatapannya dengan Jonghyun kembali bertemu.

“Janji?” tanyanya sedikit ketus.

Jonghyun menganggukkan kepalanya lalu mendaratkan kecupan singkat di atas bibir Key yang mengerucut lucu.

“Janji”

Mendengar itu, senyum Key pun segera merekah sempurna. Senyuman yang membuat Jonghyun tak tahan untuk tidak mendaratkan bibirnya di atas bibir itu sekali lagi.

“Sekarang kita makan saja, oke? Lagipula, sebentar lagi waktu istirahat akan habis” Jonghyun mengambil 2 kotak makan siang yang cukup lama terabaikan lalu mulai membukanya.

Orang yang membuat makanan itu adalah Jonghyun. Mereka memang mempunyai kebiasaan membuatkan makanan untuk satu sama lain dalam selang waktu satu hari. Kalau hari ini Jonghyun, besok adalah giliran Key, besoknya lagi giliran Jonghyun, Key, Jonghyun, Key, dan begitu seterusnya. Untuk selanjutnya, Kotak-kotak bekal itu akan mereka bungkus oleh tas kecil agar tidak terlihat mencurigakan di mata orang lain.

Jonghyun menyunggingkan senyumnya, “Coba tebak, menu hari ini apa?”

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Jonghyun masih berkutat di atas meja belajarnya. Dengan bantuan penerangan dari lampu belajar di sebelahnya, dia masih memaksakan diri untuk memeriksa hasil ulangan dari siswa-siswa yang ada di kelas Key.

Satu persatu kertas telah ia corat-coret dan ia bubuhkan nilai dengan tinta merah di atasnya.

Sampai ia menemukan kertas ulangan milik Key. Ia tersenyum sendiri mengingat taruhan yang telah mereka buat di bukit sekolah tadi siang, lalu dia mulai memeriksa hasil pekerjaan kekasihnya itu.

Dia tidak menemukan kesalahan apapun dalam jawaban Key di halaman satu. Hatinya mulai khawatir kalau nanti Keynya itu akan meminta yang aneh-aneh jika dia benar-benar mendapat nilai sempurna.

Sret.

Jonghyun membalikkan kertas ujian Key dan dia mulai memeriksa jawabannya pada halaman dua.

Tiba-tiba, ia mengernyit karena matanya menangkap sesuatu.

Jonghyun ingat betul kalau tadi dia memang memberikan kertas ulangan spesial pada Key, kertas dengan semangat berbunyi ‘Hwaiting, baby! ㅎㅅㅎ yang dia tulis tangan sendiri pada bagian pojok bawah dari kertas itu.

Tapi, dia tidak ingat kalau dia menuliskan kata ‘Jangan memaksakan diri. Tidurlah cepat kalau semua pekerjaanmu sudah selesai, Love You ‘‘ ~’.

Ah, ternyata itu balasan dari Key. Jonghyun terkekeh sambil mengusap tulisan tangan kekasihnya itu.

Ia lalu memandang jam dinding yang berada tepat di atas kumpulan piala dan penghargaan yang pernah diraihnya sambil menghela nafas berat.

“Yosh, sedikit lagi dan aku akan langsung tidur! Aku janji”

“Ada apa ini?” Jonghyun menembus kerumunan para siswa yang sedang mengelilingi sebuah loker dan dia terkejut mendapati kalau Key lah yang ada di dalam kerumunan itu. Ia terlihat menundukkan kepalanya sambil memegang lokernya yang tertutup, berdiri memunggunginya.

“Ada apa katanya?” seru seorang siswa dengan nada sinis, disambut dengan gelak tawa mengejek dari semua siswa yang berkumpul disitu.

“Yah, mungkin dia tidak tahu kalau selama ini Kim Kibum adalah seorang maniak dari Kim Jonghyun, gurunya sendiri. Aku tahu kalau dia itu salah satu murid terpopuler disini, tapi apa ada yang masih menyukainya setelah mengetahui kalau dia adalah seorang maniak? Ih, aku sih ogah” timpal seorang siswi yang kali ini disambut teriakan setuju dari siswi-siswi lainnya.

“Ya! Apa yang kalian maksud sebenarnya?” kata Jonghyun, masih tidak mengerti apa maksud dari semua ini.

“Ckck. Songsaenim.. Songsaenim.. Kau mungkin muda dan kau sangat tampan. Tapi, aku tidak pernah mengira kalau kau itu ternyata bodoh. Kau tahu? Murid yang sekarang berdiri di sebelahmu itu menyimpan banyak foto-foto dirimu yang dia tempelkan di dalam lokernya. Sepertinya, dia benar-benar maniak pada dirimu. Mungkin dia terobsesi agar kau membalas cintanya hahahahaha” lagi-lagi tawa mengejek menggema di ruangan itu.

Jonghyun menilik Key yang masih menundukkan kepalanya dan berdiri berhadapan dengan lokernya, memunggungi orang-orang yang ada disana.

“Songsaenim, jangan bilang kalau kau juga diam-diam menyukainya ahahahahahaha” dan perkataan itu membuat jantung Jonghyun maupun Key serasa melompat keluar dari tempatnya. Mereka membelakakan mata mereka, tapi mereka tidak tahu harus berkata apa.

Jonghyun menelan ludahnya sendiri, dia melirik ke arah Key biarpun Key tak kunjung menatap ke arahnya.

Ottohke?

Kalau sekarang dirinya berkata jujur, apa masalahnya akan langsung selesai?

Kalau dia tidak berkata jujur..

Kalau dia diam saja..

Kalau..

Kalau..

Ah, terlalu banyak kemungkinan.

“Aku tidak menyukainya” Murid-murid yang tadinya masih menertawakan Key langsung bungkam ketika Jonghyun mengatakan itu, Key pun langsung melirikkan pandangan terkejutnya pada Jonghyun.

Sebenarnya, Jonghyun sendiri terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan. Dia tidak berniat untuk berkata seperti itu, sungguh..

“Uh, apakah itu adalah sebuah penolakan dari Kim Songsaenim? Kasihan sekali kau, Kibum.. Sepertinya cintamu hanya bertepuk sebelah tangan hahahahahaha”

Jonghyun tahu kalau Key memandang tidak percaya padanya dengan air mata yang berkumpul di sudut matanya sekarang, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Untuk sekedar menatap balik padanya pun terasa sulit dilakukannya.

Drap drap drap.

Bahkan, ketika Key berlari dari sana, Jonghyun tidak dapat mencegahnya. Jonghyun tidak bisa memanggil namanya.

Yang dia lakukan hanyalah menatap punggung dari orang yang dikasihinya itu hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Menghilang diiringi gelak tawa yang masih menggema secara memuakkan dan—mungkin—menghilang dari kehidupannya. Untuk selamanya.

To be continued…

Advertisements

2 responses to “JONGKEY | I am your Teacher and You are my Student | 1 of 2

  1. apa alsan u jonghyun?
    knp tga bgt..
    q hrap u pny jwbn yg dpt dtrima,.

  2. huweee, jjong tegay tegay tegay..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s