JONGKEY | Behind the Facts | Ready to Marry?! | We’re in Kibum’s Hometown


Title : Ready to Marry?!

Subtitle : We’re in Kibum’s Hometown

Author : Mak Erot IX JKK

Warning : SUPER GAJE AND TYPOS EVERYWHERE

also posted in : JongKey Kingdom Fanfictions

prev story >>

“Aku mengatakan ini.. ani, aku bertanya ini bukan sebagai seorang pencari bakat mesum yang menggoda peserta audisinya” Jonghyun tersenyum lembut lalu diraihnya kedua tangan Key sambil digenggamnya erat-erat, “aku mengatakan ini sebagai seorang Kim Jonghyun, kekasih dari Kim Kibum yang hubungannya telah memasuki tahun ke 5..”

Key mengernyit, tetapi tatapannya masih tetap terpaku pada Jonghyun.

“Kim Kibum, Would you marry me?”

Nafas Key langsung tercekat, matanya membulat, mulutnya hendak berkata sesuatu tetapi tidak bisa.

Saat ini Key sedang tidak salah dengar kan?

Saat ini dirinya tidak sedang bermimpi kan?

Saat ini Jonghyun benar-benar bertanya padanya kan?

Saat ini Jonghyun benar-benar berkata bahwa dia ingin menikahinya kan?

Benar kan?

Seseorang, tolong jawab pertanyaan Key!

“J-Jjong..”

“J-Jjong..”

Key masih saja menatap Jonghyun tanpa berkedip. Sementara, orang yang ada di hadapannya itu juga menatapnya dengan intens, lama sekali.

Jantung Key berdetak tidak menentu. Sama halnya dengan pikirannya yang berkecamuk.

Sekali lagi, Key masih beranggapan kalau dirinya tadi salah mendengar.

Ya, dia tidak mungkin mendengar kalau Jonghyun melamarnya.

Tapi..

“Apa kau sedang bercanda, Jjong?” Dirinya tetap ingin memastikan. Boleh kan?

“Apa aku terlihat..” Jonghyun sempat mengeratkan genggaman tangannya pada kedua telapak tangan Key sebelum dia melepaskan tautan salah satu tangannya dengan tangan Key lalu tangannya itu sekarang bergerak perlahan menuju wajah Key yang begitu dicintainya.

Tuk!

“..seperti orang yang sedang serius?” ujarnya sambil menyentil hidung mancung Key dengan telunjuknya. Key hanya bisa meringis lalu dia mulai mengusap-usap hidungnya.

“Jadi kau sedang bercanda hah, Kim Jonghyun? Berani-beraninya kau!” geram Key yang ditanggapi Jonghyun oleh tawa khasnya. Ada kepuasan tersendiri ketika dia berhasil menjahili pacarnya itu.

“Merong~!” ejek Jonghyun kemudian sambil memeletkan lidahnya lalu berlari keluar dari studio.

Sepeninggal Jonghyun, Key memilih untuk tidak mengejarnya dan tetap diam disitu.

Dia masih sibuk menenangkan detak jantungnya karena bercandaan Jonghyun yang harus dia akui.. Err.. sebenarnya Key pikir kalau tadi itu Jonghyun benar-benar berkata serius. Key lalu menangkap sebuah foto pada dinding yang menarik perhatiannya. Dia mendekat untuk melihat foto itu, foto ketika Jonghyun mengamit tangannya di atas panggung lalu dia meletakkan tangan Key itu di atas dadanya.

“Do you feel my heartbeat?” tanya Key sambil memegang dadanya sendiri. Jantungnya masih juga berdetak tidak menentu, padahal kan yang tadi itu hanya main-main.

Oke, Key harus mengakui kalau sebenarnya..

Jauh di dalam hatinya..

Dia berharap bahwa Jonghyun tidak main-main..

Dan dia berharap kalau Jonghyun dapat serius dengan ucapannya itu..

Ya, serius dengan ucapannya untuk melamar Key.

Tanpa diketahuinya, Jonghyun yang sebenarnya berada di balik pintu keluar dapat melihat dan mendengar apa yang tadi Key lontarkan.

Dia menunduk, lalu dia memegang dadanya.

“Yes I do, Key. But my heart’s beating faster than yours” dia lalu memerosotkan tubuhnya sampai posisinya sekarang telah berjongkok.

“Mianhe..”

“Kalian akan pergi sekarang? Kalian tega meninggalkanku sendiri?” Jonghyun menilik Songdam dari sudut matanya sambil sibuk mengikat tali sepatunya.

Sementara itu, Key terlihat kebingungan karena Songdam sedari tadi menarik-narik lengannya, menyuruhnya untuk tetap tinggal karena dia sendirian di rumah.

“Jangan termakan kata-katanya, Key.. Perempuan buas itu sudah biasa ada di rumah sendiri” kata Jonghyun dingin sambil berdiri, sekarang sepatunya sudah terpasang dan dia siap untuk melanjutkan perjalanannya.

Songdam memberi tatapan tajam kepada Jonghyun lalu dia memindahkan pandangannya pada Key, tentu saja tidak berupa tatapan tajam lagi, malah Songdam menatap Key dengan puppy eyesnya.

“Aku benar-benar kesepian~ temani aku~” Key jadi bingung. Dia bermaksud meminta Jonghyun untuk tinggal lebih lama disana karena Songdam, tapi Jonghyun segera menarik tangannya.

“Hentikan aktingmu, noona! Aku tahu kau akan baik-baik saja di rumah sendiri. Bahkan, kalau ada makhluk halus sekalipun, mereka yang akan takut padamu bukan kau yang akan ketakutan” Jonghyun lalu memandang Key yang berdiri di sebelahnya, “dan bukankah kau ingin menemui keluargamu?” Key mengangguk ragu, sedangkan Songdam mempoutkan mulutnya.

Jonghyun tersenyum melihat kelakuan childish noonanya itu, membuat hati Songdam akhirnya luluh.

“Baiklah, hati-hati di jalan!” seru Songdam dapat kembali ke sifatnya yang asli.

Jonghyun dan Key pun berjalan keluar dari rumah, menghampiri mobil yang akan mereka naiki.

“Oh ya, hampir saja aku lupa! Hyun-ah, sini sini!” dia menepuk jidatnya sendiri, lalu memanggil Jonghyun untuk kembali, mencegat kepergian mereka ketika dia mengingat sesuatu yang sepertinya penting.

Jonghyun sebenarnya enggan untuk menghampiri noonanya itu karena sekarang posisinya sudah bersiap untuk masuk ke dalam mobil, tetapi Key mengirim sinyal dari matanya agar dia menuruti apa kata Songdam.

Sepertinya Jonghyun tidak punya pilihan lain.

“Aih.. Apa lagi sih, noona?” gerutu Jonghyun ogah-ogahan. Tangannya mengacak rambut brunettenya ketika dia menghampiri kakak perempuannya itu, sedang berdiri di ambang pintu dari rumah mereka.

“Aku mau ngasih wejangan tahu! Ini penting!” Songdam menarik tangan Jonghyun lalu dia berbisik di telinga Jonghyun.

“Wejangan apa?” tanya Jonghyun masih ogah-ogahan, tangannya sibuk menggaruk-garuk rambut bagian belakangnya saat ini.

Songdam pun mencibir melihat kelakuan tidak peduli Jonghyun, “Kau itu! Ini benar-benar penting untukmu tahu! Penting juga untuk pacarmu itu” Songdam menilik Key yang sedang memandang penuh tanya ke arah mereka berdua, dia tidak akan bisa mendengar obrolan kakak-adik itu karena terhalang oleh jarak. Ketika tatapannya dengan Songdam bertemu, Songdam buru-buru melambaikan tangan ke arah Key sambil tersenyum cengengesan–berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan di mata namja itu–sementara Key langsung merundukkan badannya 90 derajat, merasa canggung untuk berbuat hal lain.

“Dengar, aku hanya akan berkata ini sekali saja..” bisiknya lagi, dia berkata pada Jonghyun dengan sedikit menggumam. Bibirnya tidak bisa terbuka sempurna karena dia masih tersenyum pada Key.

Kalau boleh jujur, sebenarnya kelakuan Songdam yang seperti ini malah membuat Jonghyun merinding.

“Apaan sih?” sebal Jonghyun tidak sabaran.

Songdam pun menoleh ke arahnya lalu dia mendekatkan mukanya pada muka Jonghyun. Berhubung di depan rumah Jonghyun ada beberapa anak tangga sebelum terlihat pintu depan dan saat ini Jonghyun berada pada anak tangga ke tiga sementara Songdam ada pada anak tangga teratas, maka posisi Jonghyun menjadi lebih rendah daripada Songdam. Mulut Songdam pun mengarah tepat pada telinga kanan Jonghyun, mempermudahnya untuk kembali membisikkan adiknya itu.

“Kau tahu? ‘Hal itu’ akan memakan waktu lebih lama daripada waktu salonnya”

Jonghyun mengernyit. Setelah ia mengerti apa maksud Songdam, ia pun menganggukkan kepalanya.

“Lalu?” tanya Jonghyun tidak menemukan sesuatu yang sepertinya penting.

“Waktu kau menemaninya pergi ke salon, kau terus-terusan menguap karena kebosanan..”

Songdam menghela nafasnya berat, “Jangan sampai kau memperlihatkan sikap kebosananmu itu di depannya lagi. Apalagi ketika kalian sedang melaksanakan ‘itu’. Itu mungkin akan menjadi pengalaman pertama dan terakhir bagi kalian. Jadi, berikan kesan yang terbaik untuknya”

Jonghyun tertegun mendengar kata-kata kakaknya. Padahal, selama ini mereka selalu bercanda. Sampai-sampai, Jonghyun merasa kalau ini adalah kali pertama kakaknya itu berbicara serius padanya.

Tapi, Jonghyun mengerti kalau Songdam menginginkan yang terbaik untuk dirinya.

Karena itu, dia tersenyum. Menyampaikan rasa terima kasihnya yang akan selalu tercurahkan pada Songdam.

“Tenang saja, Noona.. Itu pasti” katanya meyakinkan. Songdam tersenyum lalu memeluk adik laki-lakinya itu. Jonghyun pun membalas memeluk Songdam dengan erat.

“Ya sudah, sana pergi. Kasihan putrimu menunggu disana” ucap Songdam.

Jonghyun terkekeh, “Bagaimana aku bisa pergi kalau noona masih memelukku?” Songdam langsung melepas pelukan mereka dengan kasar, ada raut canggung pada muka cantiknya.

Jonghyun terkekeh lagi lalu dia berjalan mundur menuruni anak tangga sambil menatap kakaknya.

“Aku pergi dulu”

“Hati-hati di jalan”

Jonghyun membalikkan badannya, Songdam hanya beberapa detik menatap punggung adiknya itu karena Jonghyun kembali membalikkan badannya ke arah Songdam, membuat Songdam mengernyit.

“Ah ya! Aku lupa menyampaikan sesuatu..” Jonghyun menunjuk sosok Key di belakang lalu dia menyimpan telapak tangannya di dekat mulut, mengcover mulutnya agar hanya Songdam yang bisa mendengar omongannya–lewat gerakan mulutnya–sementara Key tidak bisa.

Dia membisikkan sesuatu, Songdam yang melihatnya pun cekikikan.

Setelah menyampaikan hal itu, dia kembali berjalan ke arah Key–yang terlihat kebingungan.

Dia membuka pintu untuk Key sampai Key duduk di dalam mobil.

Setelah itu, Jonghyun masuk ke kursi pengemudi lalu dia memasang sit belt pada dirinya dan memasangkan sit belt untuk Key.

“Sering-sering main kesini ya!” teriak Songdam ketika mendengar mesin mobil Jonghyun sudah menyala.

Key menunduk sedikit sambil melambaikan tangannya, Jonghyun juga ikut melambai sebelum jendela mobil mereka tertutup sempurna karena AC di dalam mobil mulai menyebarkan anginnya.

“Jjong..” panggil Key yang ditanggapi Jonghyun dengan deheman–terlalu sibuk membenarkan letak kaca spion yang ada di tengah atas kepala mereka.

“Tadi kau bicara apa pada Songdam Noona? Sepertinya kau menunjukku” tangan Jonghyun refleks berhenti bergerak dari aktifitasnya karena mendengar pertanyaan itu.

Sedetik kemudian, dia pun tersenyum.

“Itu..” ujarnya lalu menoleh ke arah Key, “ra-ha-si-a” ejanya sambil menyentil kening Key, Key meringis dan langsung protes.

Jonghyun tidak menanggapi celotehan Key seterusnya karena dia langsung tancap gas, menuju Daegu, tujuan mereka selanjutnya.

Dan ketika mobil yang dikendarai mereka sudah hilang dari pandangan, Songdam mengedikkan bahunya.

Dia tersenyum sepanjang perjalanannya memasuki rumah sambil sedikit menggerutu..

“Bukan ‘putri’ tapi ‘ratu’ katanya? Dasar, otak purbanya benar-benar tidak pernah berubah”

Key sekarang sibuk mengetuk-ngetukkan kakinya, sesekali dia menghela nafas karena lagi-lagi dia mendengar suara operator dari seberang, mengatakan bahwa nomor yang daritadi dia hubungi sedang berada di luar jangkauan.

Jonghyun sendiri sibuk bermain-main dengan anak anjing–entah dari mana dan punya siapa–yang lewat di depan rumah Key.

Ya, akhirnya mereka telah sampai di kampung halaman Key, Daegu. Mungkin mereka telah sampai sejak setengah jam yang lalu, tapi mereka tidak bisa memasuki rumah Key itu karena tidak ada seorang pun yang menyahut ketukan pintu ataupun bunyi dari bel yang mereka tekan.

Jonghyun tahu pacarnya itu sedang bete sekarang, terlihat dari sikapnya yang menggerutu kecil tidak jelas kepada handphonenya yang sebenarnya tidak bersalah. Untuk itu, dia memilih berjongkok di depan teras sambil mengajarkan anak anjing yang dia temukan itu beberapa gaya.

“Jjong, berhenti mengajarkan puppy itu untuk berpura-pura mati, dia bukan Shironya Shinchan!”

Oops

Jonghyun cengengesan sambil melirik ke arah Key. Ternyata sedaritadi Key-nya itu memperhatikan gerak-geriknya. Key hanya memutar kedua bola matanya lalu dia mulai menelepon lagi.

“Jinjja.. Kenapa nomor Eomma dan Appa sama-sama tidak dapat dihubungi sih?” gerutu Key sambil berjalan ke arah Jonghyun.

Dia ikut berjongkok di sebelah Jonghyun sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Jonghyun. Di telinganya masih terdapat handphone yang terus dia gunakan untuk menghubungi orang tuanya.

“Mereka lagi bertemu dengan orang tuaku mungkin hahaha” candaan Jonghyun ditanggapi Key dengan cibiran, telinganya masih terfokus untuk mendengarkan suara dari handphonenya.

“Yeoboseyo”

“Ah, eomma!” teriak Key tanpa sadar, dia bangun dari senderannya pada Jonghyun karena terlalu senang teleponnya diangkat.

“Kibummie! Ada apa menelepon, sayang?”

Key mengerucutkan bibirnya dan entah sadar atau tidak, suaranya tiba-tiba berubah jadi manja, “Aku sudah di luar rumah sejak tadi! Kenapa kau tidak membukakan pintunya?”

“Ah, mianhe Kibummie.. Aku dan Appamu sedang di luar rumah, tidak ada siapa-siapa disana sekarang”

Key kembali mengerucutkan bibirnya, “Aku kan sudah bilang kalau aku akan pulang. Bukannya menyambut kedatanganku, eh kalian malah pergi. Emang kalian kemana sih?”

“…”

“Mwo?” Key bertanya sekali lagi, mungkin dia salah dengar tadi.

“…”

Tapi, ketika Eommanya mengulang pernyataannya, Key jadi yakin kalau pendengarannya tidak salah.

Dia menolehkan kepalanya pada Jonghyun, mulutnya terbuka karena terlalu speechless.

Setelah itu, dia menutup sambungannya dengan Eommanya secara cepat.

“Kenapa?” Jonghyun pura-pura bertanya karena Key menatapnya penuh tanya, padahal dia sudah ingin tertawa melihat ekspresi pacarnya itu.

“Bagaimana kau bisa tahu..”

Jonghyun membungkuk pada kedua orang tua Key, sementara itu dia menyambut kedua orang tuanya sendiri dengan pelukan hangat.

“Jinjja.. Jadi sebenarnya kau sudah tahu kalau orang tuamu pergi menemui orang tuaku?”

“Bingo! Aku cuma berpura-pura bertanya pada Songdam noona tadi, terus aku juga berpura-pura tidak tahu kemana orang tuamu pergi” jawab Jonghyun pada Key, “dan Songdam noona juga sebenarnya tahu pertemuan ini hehe”

Key mendesah lalu mengguncang lengan eommanya, “Jadi hanya aku yang tidak tahu? Kenapa kalian semua melakukan ini padaku?”

Eommanya lalu membelai wajah ditekuk Key dengan sayang, “Ini semua kejutan untukmu, sayang.. Jonghyunnie yang merencanakannya”

Di sebelahnya, Appanya mengangguk-angguk setuju, “Tugas kita disini sepertinya sudah selesai. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat selanjutnya dan kita biarkan mereka memilih sendiri?” Pertanyaan itu ditanggap positif oleh kedua orang tua Jonghyun. Mereka berempat lalu memisahkan diri dari Jonghyun dan Key, pergi entah kemana.

“Mereka mau kemana lagi sih?” gerutu Key ketika tinggal dirinya dan Jonghyun yang ada di tempat itu.

Tanpa Key sadari, sebenarnya mereka berada di butik tempat penyewaan pakaian untuk menikah.

“Walaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu” kata Jonghyun jahil sambil mengedikkan bahunya. Key pun menonjok pelan bahunya yang ditanggapi Jonghyun dengan wajah pura-pura terkejutnya.

“Aish..” Key menyilangkan kedua tangannya di dada lalu membuang muka ke arah lain.

Jonghyun terkekeh, dia menangkup wajah Key dengan kedua tangannya, menolehkan wajah cantik itu agar mengarah kembali padanya.

Cup~♡

Jonghyun memberi kecupan singkat pada bibir kissable itu, membuat Key akhirnya–mau tidak mau–tersenyum juga.

“Nah, kan.. Kalau senyum kaya gitu lebih enak dilihat” Jonghyun mengelus sayang kepala Key, “ya sudah, ayo kita masuk.. Kau harus mencoba dan mengepaskan tuxedomu”

“Tuxedo?” Key bertanya dengan polosnya. Dia menoleh ke belakang dan dia begitu terkejut mendapati kalau tempat yang sedang mereka kunjungi itu adalah butik penyewaan pakaian untuk menikah.

Jonghyun melihat keluar jendela. Saat ini dia sedang berada di lantai 2 dari gedung itu. Membuat dia bisa melihat keadaan di luar sana dimana banyak kendaraan berlalu lalang di bawah sinar matahari yang terik.

“Jjong..”

Jonghyun berbalik, untuk ketiga kalinya ketika dia sampai di tempat itu, jantungnya serasa kembali melompat dari tempatnya berada.

Di depannya terdapat Key yang mengenakan tuxedo berwarna abu-abu, celana yang juga abu-abu, dihiasi sebuah pita kupu-kupu berwarna pink muda yang membuatnya terlihat.. Menawan!

“B-bagus..” komentar Jonghyun sambil menelusuri tubuh Key dari atas kepala hingga ujung kaki. Mulutnya tanpa sadar terbuka karena sudah terhipnotis sempurna oleh pemandangan paling mengagumkan di depannya.

Key menaruh kedua telapak tangannya di pinggang, “Ya! Kau itu.. Ini tuxedo ketiga yang aku coba dan komentar darimu semua sama saja! Yang itu baguslah yang ini baguslah! Sebenarnya kau itu suka yang mana sih?”

Jonghyun sempat menutup telinganya karena teriakan menggelegar Key yang tidak sempat di antisipasinya, “Habis.. Kau memang terlihat bagus memakai apapun, Key.. Aku sendiri bingung kalau harus memilih satu di antara tuxedo-tuxedo itu untukmu” akunya takut-takut.

Key memijat-mijat pelipisnya, pusing karena kelakuan Jonghyun.

Dia lalu kembali ke lemari tempat penyimpanan tuxedo-tuxedo untuk memilih pakaian lain yang akan dicobanya.

Diam-diam, Key tahu kalau Jonghyun mulai merasa bosan. Mungkin dia lelah karena harus terus-terusan stand by untuk mengomentari dirinya.

Sementara itu, Jonghyun sendiri baru merasakan apa maksud wejangan Songdam kala itu.

Menemani Key ke salon tidaklah sebanding dengan selama dia menemani Key mencoba dan memilih pakaian seperti ini.

Bukan, dia tidak merasa kalau Key menyusahkannya. Dia senang, terutama ketika dia melihat Key dalam balutan-balutan tuxedo penuh warna itu. Hanya saja..

Mungkin karena Key mempunyai sense of fashion yang sangat tinggi sehingga perlu waktu lama bagi Key untuk menseleksi tuxedo yang pantas dipakainya. Tiga tuxedo yang sempat dicobanya tadi pun memakan waktu 2 jam untuk diseleksinya. Benar-benar seleksi yang ketat.

Belum lagi waktu untuk mencoba tuxedo, total Jonghyun sudah menunggu di sana selama 3.5 jam. Itu pun Jonghyun sama sekali belum mencoba tuxedonya, melirik-lirik tuxedo yang kira-kira cocok untuknya pun belum, malah tidak sempat terpikirkan. Sepertinya Jonghyun sudah cukup lelah untuk melakukan semua itu.

Tapi, dia tidak boleh memperlihatkan kelelahannya itu di depan Key. Dia mencoba membesar-besarkan bola matanya agar tidak tertutup, sesekali dia menepukkan tangannya pada kedua pipinya agar tetap terjaga.

Key tersenyum melihat tingkah Jonghyun dari jauh. Kali ini, dia menseleksi tuxedo-tuxedo di depannya secara sungguh-sungguh. Bermaksud untuk menjadikan pilihannya sekarang menjadi pilihan terakhir yang akan dicobanya. Dia tidak mau membuat Jonghyun jauh lebih kelelahan daripada ini.

Key terus menggeser gantungan baju berisi tuxedo yang sedang dia lihat.

Sret.

Dan gerakannya terhenti ketika dia menemukan model yang menarik.

Uhm.. Sebenarnya, tuxedo yang kini sedang dilihatnya itu tidaklah mewah, malah terkesan sederhana. Tidak mencerminkan dirinya yang selalu haus akan kemewahan dari produk-produk yang selama ini dia pakai.

Tapi, dia benar-benar tertarik dengan tuxedo itu. Sampai-sampai dia tidak mau melihat tuxedo lain.

Dia pun membawa tuxedo itu ke ruang ganti.

Kali ini, dia membiarkan petugas yang tadi membantunya berganti untuk meninggalkan tugasnya. Dia menyuruh petugas itu untuk meninggalkan ruangan yang mereka tempati karena Key ingin mencoba tuxedo itu seorang diri, Key bisa melakukannya tanpa bantuan dan dia memang tidak mau dibantu.

Ketika Key masuk ke dalam kamar ganti, Jonghyun yang terduduk di sofa dan meja kecil dekat ruang ganti akhirnya bisa merilekskan badannya. Dia merebahkan badannya, lalu tiduran di atas sofa. Untuk sesaat, dia ingin mengembalikan energinya.

Cklek

Di saat hampir saja matanya akan menutup sempurna, bunyi pintu yang dibuka itu segera membuat Jonghyun terduduk lagi. Bisa-bisa Key marah kalau melihat dirinya tidur-tiduran seperti tadi.

Dia lalu menolehkan kepalanya ke belakang untuk bertemu pandang dengan..

“K-Key?” tanyanya tidak percaya dengan sosok yang sekarang berdiri di hadapannya.

Dia memakai tuxedo berwarna putih tanpa kancing, harus memasukkan tuxedo itu dari atas kepala untuk memakainya. Di dalamnya, Key memakai kemeja berwarna hitam yang kerahnya dimasukkan agar tidak terlihat. Pada ujung dari lengan Key, kemeja hitam itu sedikit terlihat karena tuxedo putih di luarnya menggantung. Bukan karena lengan Key yang terlalu panjang, tapi memang modelnya yang seperti itu. Pada bagian bawahnya, Key memakai celana berwarna putih polos yang benar-benar pas dengan kakinya, tidak terlalu longgar dan tidak terlalu sempit. Dia pun mengenakan sepasang sepatu formal yang juga berwarna putih polos.

Oh ya, bagian atas tuxedonya terdapat saku berwarna hitam pada dada sebelah kiri. Mungkin akan terlihat aneh karena tuxedo itu berwarna pure putih dan warna hitam itu akan terkesan salah warna.

Tetapi, karena keberadaan kemeja hitam itu, semuanya malah terkesan unik, apalagi yang memakainya adalah seorang diva fashionista seperti Key.

“Bagaimana?” tanya Key sambil tersenyum. Jonghyun mendekat ke arahnya lalu memeluk Key dari depan. Di tengah-tengah pelukannya, Jonghyun meraih sesuatu yang ada di kepala Key.

“Apa ini?” Key tersenyum penuh makna karena Jonghyun menyadari benda itu.

“Hehe. Ini dari photoshoot Dazed waktu kau photoshoot WLive sama Taemin itu” terangnya sambil menjauhkan diri dari Jonghyun. Dia memegang benda mirip tali yang melingkar di atas kepalanya layaknya bondu itu sambil tersenyum semakin lebar.

“So.. How’s it?” ulangnya.

Jonghyun memundurkan langkahnya lalu dia menilik Key tanpa ada satu sudut pun yang terlewat. Sesekali, dia menganggukkan kepalanya. Ibu jari dan telunjuknya dia simpan di bawah dagu dan alisnya mengernyit layaknya seorang professional yang sedang meneliti barang antik.

Setelah itu, dia menerawang tubuh Key dengan kedua ibu jari dan telunjuknya yang disatukan membentuk persegi panjang, persis seperti gerakan Eunhyuk pada lagu ‘No Other’ saat mengatakan ‘TV Show!’.

“Aish.. Kau itu sedang apa sih?” lama-lama Key kesal juga, ia menyimpan kedua tangannya di pinggang sambil menatap garang Jonghyun di depannya.

“Hehe.. You look absolutely perfect, yeobo..” ucapnya sambil terkagum-kagum.

Key memutar kedua bola matanya, menyembunyikan senyuman yang tidak ingin diperlihatkannya, “And you look absolutely pervert now. I am scary, ya know?”

Jonghyun cemberut, dia menghampiri Key, berjalan mengitarinya lalu memeluknya dari belakang.

“That’s your fault. You are too sexy”

Key terkekeh. Dia menggenggam tangan Jonghyun yang memeluknya lalu dia menolehkan kepalanya ke kanan, tepat di mana wajah Jonghyun tersimpan di atas bahunya.

“I am sexy and I know it” bisiknya seduktif, suaranya berhembus menerpa telinga Jonghyun yang langsung merinding karenanya.

Beberapa detik kemudian, Key melepas pelukan mereka, “Oke, hentikan itu” putusnya takut nanti akan berujung pada hal yang tidak diinginkan.

Jonghyun menggaruk belakang kepalanya sambil memandang Key dengan senyuman canggung.

“Jadi, fix ya aku ambil tuxedo ini?” Jonghyun pun mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju.

“Berarti aku warna kebalikannya?”

“Yup!” mantap Key lalu membawa tuxedo pasangannya. Tuxedo hitam dengan saku berwarna putih, celana hitam, sepatu hitam ditambah dengan kemeja putih.

“Yang pasti aku tidak mau memakai tali hitam di kepala seperti kamu” tegas Jonghyun membuat Key tertawa.

“Tentu saja. Siapa yang mau melihat kau memakai itu?” Key lalu menarik tangan Jonghyun agar berjalan di belakangnya.

“Mau kemana?”

“Mencoba tuxedo ini, tuan Kim Jonghyun. Jangan harap aku akan memanggil para pegawai itu untuk membantumu mencobanya. Aku tidak akan rela kalau mereka melihat absmu” perkataan itu membuat Jonghyun tersenyum sedikit mesum.

“Aih.. Jadi, kau tidak rela kalau mereka melihat tubuhku, hm?” tanyanya sambil menghembuskan nafas di belakang tengkuk Key, “lalu, kamu akan membantuku memakaikan tuxedo ini?” tanyanya lagi sambil memegang tuxedo yang sedang dipegang Key dari belakang.

“Ya ya ya kau bisa menganggap kalau aku pegawai disini. Jadi, tuan Kim Jonghyun.. Silahkan masuk ke ruang ganti. Aku, Kim Kibum akan membantu memakaikan tuxedomu” ucap Key sambil membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Jonghyun. Dia menunjuk ruang ganti yang tadi dia maksud.

“Key.. Kau tidak berpikir bahwa pasti akan lebih gawat kalau kamu yang membantuku mencoba pakaian kan?” Jonghyun diam-diam menyeringai. Key langsung membulatkan matanya ketika Jonghyun berjalan ke arahnya dengan seringaian itu.

Grep.

Jonghyun memeluk pinggang Key dengan cepat.

“Ya! Kim Jonghyun! Mau apa kamu?!” teriak Key sambil meronta. Tapi, Jonghyun tidak mempedulikan itu, dia menyeret Key ke dalam ruang ganti sambil tetap menyeringai penuh makna.

“Tentu saja kita akan mencoba tuxedo itu. Bukankah kau akan ‘membantuku’? kekekeke”

BLAM!

Dan pintu ruang gantipun tertutup.

Key terus cemberut sepanjang perjalanan setelah dari butik. Wajahnya benar-benar ditekuk dan terlihat kusut. Dia terus melihat ke depan jalan dengan tangan yang disilangkan di dada.

Sementara itu, Jonghyun sibuk menyetir sambil menelepon melalui headset.

“Arraso, Appa.. Terima kasih atas bantuannya. Kami sedang dalam perjalanan ke sana. Ah? Kalian sudah membooking dan membayar semuanya? Padahal tidak usah repot-repot seperti itu, aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian kali ini. Ne ne.. Sekali lagi terima kasih. Sampaikan salamku pada eomma serta kepada orang tua Key. Hah? Key?” Jonghyun melirik ke samping dimana Key terduduk, masih dengan muka sebalnya itu, “dia sedang tersenyum sambil menikmati pemandangan di jalan, Appa” katanya berlawanan sekali dengan hal yang sebenarnya. Key menoleh ke arahnya karena mendengar perkataan bohongnya itu, Jonghyun pun tersenyum menanggapi pembicaraan di telepon lalu melirik untuk memeletkan lidahnya pada Key.

“Ne ne. Kami akan berkunjung ke rumah lagi kalau ada waktu. Ne.. Annyeong!”

Jonghyun melepas headsetnya lalu memfokuskan pandangannya ke arah jalan. Dia tidak berbicara pada Key.

Yang dia lakukan hanya mendengungkan lagu NanrinA-nya Block B.

Entah kenapa, lagu itu seperti mengejek Key. Apalagi saat lirik ‘A-aah’ dan ‘Gugu-gaga gugu-gaga’nya.

“Ya! Kau mau mengejekku hah?” tanya Key sambil menonjok bahu Jonghyun.

“Aish..” Jonghyun meringis lalu mengusap bahu malangnya itu, “liriknya kan memang gitu! Kamu sih cemberut melulu daritadi, jadinya semua yang aku lakukan terdengar salah bagimu kan..” Key terdiam. Apa kata Jonghyun memang benar sih..

Saat dirinya sedang badmood begini, dia jadi suka berprasangka buruk pada semua orang, terutama Jonghyun.

Habisnya, Jonghyun tidak mau memberitahu Key untuk apa mereka mengepas tuxedo dan kemana mereka akan pergi selanjutnya. Jadinya, Key sedang dalam kondisi badmood sekarang.

Jonghyun memperhatikan Key yang sedang mengerucutkan bibirnya dari sudut matanya dan dia terkekeh dalam hati. Dia terlihat menggemaskan kalau sedang bersikap seperti ini.

“Baiklah.. Aku menyerah. Akan kuberitahu apa yang ingin kau ketahui”

“Benarkah?” Key langsung tersenyum antusias. Jonghyun pun menganggukkan kepalanya.

“Tapi, cium aku dulu” mendengar itu, Key kembali cemberut, dia menopang dagunya dengan tangan kanannya.

“Kau sudah mendapatkan lebih dari ciuman di ruang ganti tadi. Aku tidak mau menciummu lagi hari ini” putusnya secara final, membuat Jonghyun terkekeh.

“Oke oke. Aku akan memberitahumu. Kita mengepas tuxedo itu untuk melakukan sesi pemotretan di tempat yang sekarang sedang kita tuju. Kedua orang tua kita lah yang sudah susah payah mempersiapkan semua ini”

“Pemotretan? Untuk?” Key bertanya lugu, dia mengesampingkan rasa kesalnya pada Jonghyun agar rasa penasarannya hilang sekarang.

“Pemotretan untuk pra-wedding kita tentu saja. Apalagi?”

Ckit.

“Nah, kita sudah sampai”

Key melingkarkan tangannya pada lengan Jonghyun ketika mereka berdua memasuki gedung bertingkat itu. Dia kehilangan kata-kata ketika seluruh pandangannya terisi oleh foto-foto pra-wedding yang tertempel di seluruh tembok dan terpampang di sepanjang perjalanan yang mereka lalui. Wajah orang-orang yang tercetak di foto-foto pra-wedding itu memancarkan kebahagiaan dan aura cinta yang begitu terasa. Sungguh, apakah ini karena kehebatan sang fotografer dalam menghidupkan karya-karyanya?

Cklek.

Jonghyun membuka pintu salah satu ruangan lalu mereka berdua memasukinya. Di dalamnya, banyak studio dengan berbagai latar dan peralatan yang sangat mendukung.

“Ah, Jonghyun-ssi? Kibum-ssi?” kata seorang pria sambil berdiri lalu menghampiri mereka.

Jonghyun dan Key bergantian menjabat tangan orang itu.

“Aku fotografer kalian hari ini. Panggil saja aku fotografer Kang. Jangan canggung denganku dan tenang saja, semua kejadian hari ini akan kami rahasiakan. Aku akan menjamin kalau berita tentang pemotretan kalian sekarang tidak akan pernah muncul di media” katanya panjang lebar. Jonghyun dan Key hanya menunduk sebagai ucapan terima kasih untuk menanggapinya.

“Nah, sementara para staffku bersiap-siap. Aku ingin bertanya beberapa hal pada kalian mengenai konsep pemotretannya. Silahkan duduk disitu” Fotografer Kang mempersilahkan Jonghyun dan Key duduk di depannya. Sementara dia sendiri duduk menghadap ke arah mereka.

“Kita akan mengusut beberapa tema untuk pemotretan kali ini. Ehm.. Kita mulai dari tema ketika kalian pertama kali bertemu. Bagaimana kesan kalian waktu itu?”

Key memainkan jarinya di atas meja. Entah kenapa dia merasa sedikit nervous.

“Itu.. I almost fell for Jonghyun the first time” akunya malu-malu.

Jonghyun menoleh ke arahnya lalu terkekeh “Bukan ‘almost’ tapi kau memang sudah jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama kan–Aw!” teriak Jonghyun karena Key menginjak kakinya dari bawah meja. Beberapa staff yang sedang bersiap-siap menoleh heran ke arah mereka sementara fotografer Kang hanya mengedikkan bahunya melihat kelakuan pasangan di depannya itu.

“Lalu, bagaimana denganmu, Jonghyun-ssi?”

Jonghyun meringis karena kakinya masih terasa sakit, tapi dia tetap mencoba untuk menjawab pertanyaan fotografer Kang, “Buatku.. The luckiest day of my life was the day I met Key”

Key terenyuh mendengar pengakuan Jonghyun, walau sebenarnya dia sudah pernah mendengarnya. Tapi, tetap saja perkataan itu selalu bisa membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

Fotografer Kang terlihat memikirkan sesuatu, lalu dia menulis-entah-apa-itu pada notes kecil yang ada di tangannya.

“Baiklah. Lalu.. Ehm.. Ada yang sering kalian lakukan bersama?”

Jonghyun menoleh kepada Key yang langsung memandang fotografer Kang, “Kita suka memakai barang couple, terutama baju”

Lagi-lagi fotografer Kang memikirkan dan menulis sesuatu setelah mereka menjawab pertanyaannya.

“Yang kalian tidak suka?”

“Matematika!” hanya butuh sepersekian detik bagi mereka untuk menjawab pertanyaan itu dan mereka menjawabnya secara kompak juga berbarengan.

“Kenangan yang membuat kalian tertawa akhir-akhir ini?”

“Emh.. Sepertinya saat kita memakai topeng William dan Kate” kata Key sambil menoleh ke arah Jonghyun.

“Iya. Kita memakainya dari check out hotel di London sampai ke Korea. Benar-benar membuatku pengap”

Untuk selanjutnya, fotografer Kang terus menanyai beberapa pertanyaan pada Jonghyun dan Key lalu menulis sesuatu di notes kecilnya.

Setelah selesai di ‘wawancara’, sekarang mereka sedang bersiap-siap untuk melaksanakan pemotretan.

“Kalian lakukan seperti apa yang aku katakan tadi. Jangan canggung, berbincanglah seolah-olah kami semua tidak ada disini. Ok?” kata fotografer Kang mulai mengarahkan.

Jonghyun dan Key memakai baju couple hitam-putih lalu berjalan dari arah yang berlawanan sampai mereka tiba di tengah studio.

Mereka berjalan dengan keadaan wajah menunduk. Jonghyun menunduk karena dia sedang memilih lagu di Iphonenya sementara Key sedang membaca denah di tangannya. Sesuai konsep dan jalan cerita yang dibuat fotografer Kang, hari itu adalah hari kedatangan Key di Seoul untuk melaksanakan audisi pada salah satu entertainment ternama di Korea.

Bruk!

Lalu, tanpa sengaja mereka bertabrakan. Denah yang ada di tangan Key pun terjatuh ke tanah.

“Omo!” Key langsung berjongkok untuk mengambil kertas denah miliknya, ketika tangannya meraih kertas itu, tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Jonghyun yang juga bermaksud untuk mengambilnya.

Mereka saling mengangkat wajah dan akhirnya pandangan mata mereka bertemu cukup lama, mengagumi sinar mata satu sama lain.

“Ah, mianhe!” sampai Key berinisiatif mengakhiri semuanya dengan berdiri canggung. Jonghyun ikut berdiri lalu dia menyodorkan kertas denah itu pada wajah Key yang merona merah.

“Ini punyamu” kata Jonghyun sambil tersenyum, Key mengambilnya lalu menunduk sambil mengucapkan terima kasih.

“Aku Jonghyun, Kim Jonghyun. Kamu?”

Key menyambut jabatan tangan Jonghyun lalu tersenyum, “Aku Kibum. Uhm.. marga kita sama”

Jonghyun ber-oh-ria, “Dan baju kita juga sama” tambahnya membuat Key menunduk untuk melihat bajunya yang ternyata benar sama dengan milik Jonghyun. Hanya berbeda warna.

“Wah.. kok bisa kebetulan seperti ini?” tanya Key sambil tertawa, Jonghyun juga tertawa.

“Entahlah.. Mungkin kita jodoh? Hahaha” Jonghyun tidak menyadari bahwa candaannya membuat pipi Key bersemu merah kembali.

“Oh ya, kau bukan berasal dari Seoul? Soalnya kau punya denah itu” Key mengangguk sambil memperhatikan denahnya.

“Iya. Aku dari Daegu. Aku sengaja kesini untuk mengikuti audisi SM Entertainment. Tapi, sepertinya aku tersesat” Jonghyun membulatkan matanya mendengar penuturan Key.

“Jinjja? Kamu juga mau mengikuti audisi SM? Aku juga akan kesana! Ayo kita pergi bersama!” senyum Key langsung merekah mendengar tawaran itu.

“Benarkah? Kau bukan anak nakal yang berpura-pura mempunyai tujuan sama denganku lalu menculikku di akhir kan?”

Jonghyun tidak bisa menahan tawanya mendengar kepolosan Key, dia langsung tertawa terbahak-bahak, bahkan sangat keras. Membuat beberapa staff–yang berperan sebagai pejalan kaki–menoleh keheranan ke arah mereka.

Key menggaruk belakang kepalanya sambil sesekali membungkukkan badannya untuk meminta maaf kepada pejalan kaki yang mungkin terganggu oleh suara Jonghyun.

Setelah beberapa menit, tawa Jonghyun pun mereda.

Tuk!

Jonghyun lalu menyentil dahi Key dengan telunjuknya.

“Apa aku ada tampang penculik hah? Ahahahahaha” dan dia pun tertawa lagi.

“Aduh.. Mian.. Aku sulit berhenti kalau sudah tertawa hahaha”

“Tidak usah dijelaskan pun aku sedang melihat faktanya sendiri sekarang” ujar Key tiba-tiba bersikap diva. Sikap aslinya itu sebenarnya jarang dia perlihatkan jika bukan terhadap orang-orang yang sudah dekat dengannya.

Beberapa menit kemudian, Jonghyun akhirnya bisa mengontrol diri dan berhenti tertawa, “Ya sudah.. Kita ke tempat audisi saja sekarang. Ngomong-ngomong, aku beruntung sekali bisa bertemu denganmu. Aku sedikit gugup untuk audisi nanti” tanpa malu-malu, Jonghyun menarik tangan Key, menggenggamnya, lalu berjalan berdampingan dengannya, “aku akan bernyanyi dan kau mengomentari nyanyianku. Bagaimana?” tanyanya sambil terus berjalan. Tak sadar kalau Key hanya menganggukkan kepalanya sambil menunduk. Dia merona menatap tangannya yang terasa sangat hangat berada dalam genggaman Jonghyun.

“Cut!” teriak fotografer Kang.

“Perfect! Akting kalian benar-benar natural sekali!”

Jonghyun tersenyum lalu mengeratkan tangan Key yang sedang ia genggam. Key menoleh ke arahnya lalu tersenyum puas.

Sementara itu, fotografer Kang sedang melihat-lihat hasil foto Jonghyun dan Key yang berhasil ia tangkap. Dia menangkap ratusan foto mereka dalam scene ini dan hasilnya benar-benar sangat bagus juga terlihat natural.

Fotografer Kang mengambil pulpen yang ada di sakunya lalu dia mencoret sebuah tulisan pada notes kecilnya.

Tulisan itu berbunyi :

‘Konsep Kesan Pertama : Key yang hampir jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Jonghyun dan Jonghyun yang menganggap pertemuannya dengan Key adalah hari paling beruntung dalam hidupnya’

Sekarang, mereka akan mengadakan photoshoot dengan konsep yang paling mereka benci, matematika.

Jonghyun dan Key bersiap dengan seragam Sekolah Menengah Atas yang melekat di tubuh mereka, Jonghyun tidak membawa apa-apa karena buku pelajarannya ada di kolong mejanya sedangkan Key menggunakan tas bling-bling–pemberian Jonghyun saat dia ulang tahun–yang digendong di belakang punggungnya.

Awalnya, baik Jonghyun maupun Key terlihat menikmati semua pelajaran yang guru mereka berikan, tetapi ketika waktunya pelajaran matematika, tiba-tiba saja wajah mereka menjadi suram.

Background yang asalnya bergambar locker sekolah dengan jendela yang memperlihatkan cuaca cerah, segera saja digeser oleh para staff menjadi background berwarna hitam yang tertempeli banyak rumus-rumus matematika.

Key memakai tempelan berbentuk air mata pada kedua bawah matanya, ekspresinya pun seperti orang yang sedang menangis. Sementara itu, Jonghyun memakai kacamata dengan gambar lingkaran spiral pada lensanya, menunjukkan bahwa dia sudah pusing dengan makhluk bernama matematika.

“Cut!” dan setelah mendapatkan banyak foto yang bagus dari scene itu, fotografer Kang pun menghentikan konsep matematika untuk beralih ke konsep selanjutnya.

Langit semakin gelap sementara mereka belum juga selesai melaksanakan pemotretan. Tadi, mereka telah menyelesaikan beberapa konsep dan mereka sempat istirahat beberapa kali. Sehingga, hanya tertinggal 2 konsep yang belum mereka kerjakan sekarang.

Bisa terlihat kalau Jonghyun dan Key sedang sibuk di dalam ruang ganti. Kali ini mereka akan melaksanakan konsep dengan tuxedo pilihan mereka itu.

Ketika sudah selesai bersiap-siap, mereka berjalan keluar dan mereka terkejut mendapati studio tempat mereka melakukan pemotretan sudah diubah layaknya gereja, lengkap dengan beberapa tempat duduk warna hitam juga altar berwarna putih. Tidak ditemukan warna lain selain hitam dan putih disana. Bahkan, beberapa staff yang sekarang bertugas menjadi para hadirin pun memakai pakaian formal berwarna hitam atau putih. Mereka melaksanakan semua upacara seperti upacara pernikahan pada umumnya sampai mereka tiba di depan altar.

Diiringi lagu Marry You-nya Super Junior sebagai backsound, mereka mengucapkan janji sehidup semati sambil tak melepaskan pandangan satu sama lain.

“Cium! Cium!” suara para hadirin mulai menggema setelah janji keduanya diucapkan.

Fotografer Kang sudah menginstruksi mereka untuk melakukan ciuman di dahi sebelumnya, tapi dia tersenyum karena sepertinya instruksi itu hanyalah angin lalu bagi mereka berdua karena saat ini..

Cup~♡

Jonghyun mencium Key tepat di bibir. Mereka saling menuangkan perasaan terdalam mereka melalui ciuman itu sambil terus menyesap, mengulum, menggigit lalu menghisap bibir satu sama lain. Jonghyun mulai memegang tengkuk Key sementara Key mengalungkan tangannya pada leher Jonghyun.

Mereka benar-benar lupa kalau aksi mereka sekarang sedang disaksikan oleh berpuluh pasang mata.

Lalu, karena efek cahaya, cincin di kedua tangan mereka tiba-tiba bersinar terang dengan bantuan sudut yang tepat, ketika mereka berciuman.

“Nice!” bisik fotografer Kang sambil terus mengambil gambar dari mereka berdua.

Key memandang wajahnya yang sekarang terbungkus dengan make up natural, dilengkapi dengan lipstik berwarna pink dan juga wig berwarna blonde lumayan panjang yang menempel di kepalanya.

Dia menempelkan sentuhan terakhir pada rambutnya, mahkota ratu, lalu dia kembali mematut dirinya yang terlihat memakai gaun kerajaan dari pantulan cermin.

Ia meraba bibirnya, masih tidak percaya kalau tadi dia berciuman sangat lama dengan Jonghyun, dia tidak percaya kalau cincin yang berada di jarinya sekarang adalah cincin yang sama dengan kepunyaan Jonghyun, dan dia tidak percaya kalau bibirnya itu sempat mengucapkan sumpah sehidup semati bersama Jonghyun.

Walaupun itu tadi bukanlah hal yang serius, tetapi Key sangat mengharapkan tibanya hari dimana hal tersebut bisa menjadi kenyataan.

Dia menggelengkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti.

Akhirnya, kali ini adalah konsep pemotretan terakhir yang akan mereka lakukan.

Konsep the Royal Couple layaknya William-Kate yang pernah mereka turuti.

Untuk itulah, Key harus mau memakai gaun Ratu karena perannya adalah sebagai Kate.

Ia sedikit menaikkan gaunnya ketika berjalan, lalu ketika menemukan Jonghyun, dia pun menghampirinya.

“J-Jjong..” baik Jonghyun maupun Key sama-sama tercekat memandang penampilan satu sama lain ketika mereka berhadapan.

Jonghyun benar-benar terlihat gagah serta tampan dengan pakaian rajanya, apalagi mahkota rajanya yang bersinar itu.

Key pun terlihat sangat cantik dengan balutan gaun dan mahkota ratu.

“Wow! Kalian sungguh serasi! Sepertinya, William-Kate harus bersiap-siap karena kalian pasti akan mengalahkan keharmonisan mereka!” puji fotografer Kang membuat keduanya tersenyum ke arah satu sama lain.

“So, ayo kita lakukan konsep terakhir ini!”

Jonghyun dan Key mengangguk, mereka memasuki studio yang sudah disulap menjadi kerajaan.

Mereka melakukan pemotretan ketika berjalan berdua di taman kerajaan, menaiki kereta kuda, makan malam bersama hingga berdansa ala kerajaan.

Lalu, sekarang benar-benar akan menjadi scene terakhir untuk pemotretan pra-wedding mereka.

Jonghyun dan Key duduk di kursi raja dan ratu sambil berpose dengan wibawa layaknya sepasang raja-ratu sungguhan.

Fotografer Kang pun terus menerus memotret tanpa henti.

“Oke, ini foto terakhir! Berposelah lebih romantis lagi!”

Mendengar perintah itu, Jonghyun melirik ke arah Key disebelahnya, dia lalu mendekatkan wajahnya pada Key sehingga wajah mereka berhadapan dan sangat dekat. Dengan satu gerakan, dia membawa beberapa helai dari wig lembut Key lalu dia mencium helaian-helaian rambut itu.

“I love you, Keytherine..” katanya tulus.

Key masih sedikit membeku karena perlakuan Jonghyun, tapi dia langsung tersenyum lembut sesudahnya.

“I love you too, Jongilliam..”

Begitulah, proses pemotretan pra-wedding mereka pun selesai. Fotografer Kang bilang kalau foto-fotonya akan dikirim ke mereka jika foto-foto itu sudah selesai dicetak dan dua foto terbaik akan dicetak dalam ukuran jumbo, juga akan diberi pigura.

Nah, saat ini, Jonghyun dan Key sedang menikmati dinginnya laut Daegu dalam keadaan malam. Karena kelelahan, mereka tidak keluar dari mobil, mereka hanya terduduk di dalam mobil dengan pintu yang terbuka. Di tangan mereka terdapat segelas cokelat hangat yang masing-masing tinggal berisi setengah.

“Key..” kata Jonghyun memulai pembicaraan.

“Hm?” respon Key sambil meminum cokelatnya.

“Kau sudah melamarku untuk menikah ketika kita menjadi DJ pada radio Shim Shim Tapa tanggal 11 Januari 2012”

“Kau bahkan melamarku lebih dulu, saat Japan Premium Reception tanggal 23 Juli 2011” kata Key acuh, membuat Jonghyun tertawa kecil.

“Kau benar. Tapi, sebanyak apapun aku ingin menikahimu, keadaan memaksa kita untuk tidak melakukannya. Ya, kau tahu kan.. Aku benar-benar ingin menikahimu. Bukan berarti aku bermain-main ketika aku melamarmu. Aku sungguh ingin melamarmu di dunia nyata. Tapi, maaf.. Mungkin aku sudah membuatmu kecewa” ujar Jonghyun penuh dengan raut wajah penyesalan. Gelas kertas berisi cokelat di tangannya pun tanpa sadar terus ia remas, untung tidak sampai bolong.

“Aku berpikir keras bagaimana cara agar aku setidaknya bisa mengurangi rasa kecewamu padaku. Dan entah ide dari mana, aku tiba-tiba ingin melakukan pemotretan pra-wedding ini. Mungkin tidak akan sama dengan pernikahan yang sebenarnya, tapi.. Aku tidak punya ide yang lebih baik”

Key menundukkan kepalanya mendengar penuturan Jonghyun. Ternyata, selama ini banyak hal yang dipikirkan kekasihnya itu.

Sementara, apa yang dia lakukan untuknya?

Key merasa menjadi orang paling egois di dunia karena dia tidak memikirkan perasaan Jonghyun ketika dia–mungkin–tidak sengaja menyinggung-nyinggung soal pernikahan.

“Maaf..” Akhirnya, hanya satu kata itu yang mampu mewakili perasaan Key, “aku tidak memikirkan perasaanmu sampai sejauh itu. Aku memang egois. Dan kau masih saja bertahan dengan orang egois sepertiku”

Jonghyun menyimpan gelas cokelatnya pada dashboard mobil lalu dia mencengkram kedua bahu Key agar dia menatap ke arahnya.

“Aku mencintaimu. Aku tulus mencintaimu. Itulah yang membuatku bertahan” Jonghyun mengusap pipi Key yang menatap lurus ke arahnya, “lagipula, aku tahu kau juga tidak akan bisa bertahan kalau aku meninggalkanmu kekeke” narsisnya yang dibalas Key dengan toyoran di kepala.

“Jadi, bisa kita lupakan ini semua?”

Key mengangguk sambil tersenyum, “Tentu. Asal kau tidak akan beralasan lagi 9 tahun kemudian karena saat itu kau harus menikahiku”

Jonghyun tertawa sambil mengingat janji mereka untuk menikah 10 tahun lagi pada tanggal 23 Juli 2011.

“Baiklah.. As your wish, My soon-to-be wife” katanya lalu mendekat ke arah Key untuk mendaratkan satu kecupan penuh cinta, tanpa nafsu dan didasari oleh kepercayaan dalam hati mereka di atas bibir kissablenya.

Satu minggu kemudian..

Jonghyun dan Key sudah dalam perjalanan mereka menuju Gimpo Airport. Sementara itu, Taemin masih menemani Minho yang bangun kesiangan di dalam dorm.

Minho sendiri masih berada di dalam kamar mandi ketika Taemin berteriak kalau dia akan menyusul Jonghyun dan Key karena Minho benar-benar terlalu lama.

Akhirnya, tinggallah Minho sendiri.

Ia sempat mendengar suara ketukan pintu dan suara ahjumma–yang biasa mengurusi dorm SHINee–menanyakan apakah para pengantar paket boleh menempelkan sesuatu yang sudah diperintah oleh Jonghyun dan Key.

Minho langsung saja mengiyakan karena dia sedang buru-buru, lagipula itu suruhan kedua hyungnya.

Setelah mandi, dia pun memakai pakaiannya lalu melangkahkan kakinya keluar melewati ruang tengah.

Drap.

Langkahnya tiba-tiba berhenti karena merasakan sesuatu yang janggal, dia menatap ke atas lalu matanya terbelalak penuh horror karena foto ukuran jumbo bergambar Jonghyun dan Key yang sedang memakai pakaian kerajaan–dengan Jonghyun yang mencium helaian wig milik Key–sudah terpasang disana, tidak tahu bagaimana ceritanya.

“Ahjumma, apa-apaan ini?!” teriak Minho. Ahjumma berusia setengah abad itu pun mendekati Minho dengan tergopoh-gopoh dari arah dapur.

“Oh, itu.. Ini foto yang tadi para pengantar paket itu tempelkan. Satu lagi ada di ruang tamu” tenang si ahjumma membuat Minho langsung berlari ke ruang tamu.

Alangkah terkejutnya ia ketika mendapatkan foto Jonghyun dan Key–yang sedang berciuman di atas altar dengan cincin bersinar pada kedua jari mereka–telah tertempel tanpa dosa di ruangan itu.

“What the fuck!” rutuknya.

Ahjumma itu pun datang setelah mengikutinya dari belakang lalu menyodorkan sebuah album foto sangat tebal pada Minho, bahkan tebalnya melebihi novel Harry Potter.

“Ini, masih banyak lagi foto-foto mereka di dalamnya” ujarnya tanpa rasa bersalah.

Minho menatap horror buku itu lalu dia menjambak rambutnya sendiri.

“Argh!!!! Kim Jonghyuuuun! Kim Kibuuuuuuum!”

END.

Advertisements

2 responses to “JONGKEY | Behind the Facts | Ready to Marry?! | We’re in Kibum’s Hometown

  1. seruu ceritanya like it..

  2. endingnya itu buat aku ngakak setengah hidup (lho??)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s