| JONGKEY | Oh! My Ninja | #5 – A Hope? |


Title : Oh! My Ninja

Subtitle : A Hope?

Author : Mak Erot IX JKK

A/N : Udah berapa tahun ane telantarin nih ff? huwaaaaaaa

Kalo ga banyak yang nagih, ane ga akan inget pernah nulis ini ff /plak

but, i promise.. bener deh, terusannya g akan selama kaya kemaren lg

Capek ditagih kalian mlulu wahahahaha

Warning! FAILED, TYPOS~

also posted in : JongKey Kingdom Fanfictions

prev story >>

“Ku’so!!!!”

Key mengeluarkan beberapa kagebunshin dengan cepat lalu dia dan semua kagebunshinnya menyerang Woohyun secara bersamaan.

BRUK!

Berhasil. Sepertinya tubuh Woohyun ambruk ke lantai.

Key tersenyum menang, dia mengamati tubuh Woohyun yang tak berdaya di atas lanta—

Eh?!

Kok kosong? Kemana Woohyun pergi?!

“Mencariku? Apa kau sudah rindu padaku?” suara menyebalkan itu membuat Key refleks menoleh ke belakang.

Dia menemukan Woohyun sudah berdiri di samping tubuh Jonghyun, tubuhnya baik-baik saja. Bahkan tidak terluka sedikitpun.

“Tadinya aku akan membiarkan ‘adik’ kecilku ini mati secara perlahan-lahan. Tapi, begitu kau menyerangku tadi, aku jadi tahu betapa berharganya dia bagimu. Jadi..” Woohyun menarik pisau yang tadi sempat dia gunakan untuk memotong apel lalu menyimpannya tepat di atas leher Jonghyun.

“Sepertinya akan menyenangkan kalau aku menghabiskan nyawa ‘adik’ kecilku ini sekarang juga” seringainya lalu menarik pisau itu menjauh, berganti memposisikan tujuannya menjadi tepat di dada kiri Jonghyun. Tempat di mana jantungnya berada.

“ANDWAE! JONGHYUUUUUUUUUUUUUUUUN!!!!!!!!!!!”

CRAS!

“AAAAAAAAAAAAA!”

Tubuhku merosot jatuh ke lantai.

Aku tercekat. Sendi-sendi di tubuhku mendadak lemas. Membuatku tak sanggup untuk berdiri.

Sungguh..

Aku tidak pernah selemah ini jika melihat cairan kental berwarna merah itu.

Tapi, kali ini berbeda. Melihat cairan itu mengalir dari atas kasur..

Mengalir dari tubuhnya..

Dan terus mengalir sampai ke bawah.

Lalu, ketika aliran itu sampai ke ujung lututku, menyentuhnya.

Aku hanya bisa terpaku, tak dapat menahan semua air mata di mataku.

Dengan tangan yang gemetar, ku beranikan diri menyentuh cairan itu. Lalu, kuendus cairan itu dengan hidungku.

Tidak salah lagi.

Tubuhku semakin berguncang karena tangisanku semakin menjadi.

Ini darah..

“JINKI HYUUUUNG!”

Woohyun menarik pisau—yang tadi dia gunakan—dari perut sosok tak berdaya di depannya.

Dapat kulihat sekilas bahwa ada perubahan raut wajah dari Woohyun.

Mungkin dia terkejut, sama seperti aku.

Mungkin dia tidak menyangka kalau ‘dia’ akan datang.

Ya, Mungkin dia tidak menduga kalau Jinki Hyung akan membuat dirinya sendiri menjadi perisai bagi Jonghyun. Menghalangi tubuh Jonghyun dari serangan pisau di tangan Woohyun.

Menyelamatkannya..

Tapi, membahayakan dirinya sendiri.

“Tch. Bodoh” rutuk Woohyun—yang sudah bisa mengendalikan raut wajah dan emosinya seperti sedia kala—sambil menyeringai terhadap Jinki Hyung, “mencoba untuk menjadi pahlawan, hm?”

Woohyun menangkup kedua pipi Jinki Hyung dengan satu tangan besarnya. Ditatapnya wajah Jinki Hyung, dapat kulihat tetesan darah yang keluar dari mulutnya.

“Ada pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?” sindirnya lalu mencengkram pipi Jinki Hyung kasar. Jinki Hyung langsung terbatuk, memuncratkan darah yang ada di mulutnya keluar. Bahkan, beberapa tetesan darah bersarang indah di wajah Woohyun.

Woohyun mengelap darah itu dengan ibu jari dari tangannya yang lain, “Karena kau akan segera mati, kumaafkan perlakuanmu padaku ini” sahutnya sambil menjilat darah Jinki Hyung yang menempel di ibu jarinya, “aku baik bukan? Mungkin, aku sebaik ‘adik’ku yang sedang sekarat itu”

Jinki Hyung menatap tajam Woohyun.

“K-kau hh ti-tidak argh berhak me-hh-ngatakan kalau Jonghyun ada-hh-lah adikmu”

Woohyun tertawa keras, “Hahahahaha masih berani berkata seperti itu di saat ajalmu akan datang? Jongh—aku benci mengatakan namanya, dia begitu berharga untukmu, benar?”

Cukup.

Aku mohon. Cukup!

Hentikan ini semua!

Kalau ini mimpi buruk, bangunkan aku ya Tuhan..

Aku tidak bisa.

Aku tidak bisa.

Aku tidak bis—

“Ternyata dia mempunyai banyak orang yang menyayanginya. Membuatku semakin bersemangat untuk membunuhnya saja..” Woohyun kembali menyeringai, “bagaimana kalau kau kubiarkan hidup sebentar untuk menyaksikan caraku mengakhiri hidupnya?”

“Bagaimana kalau kuakhiri hidupmu sekarang juga?” seru suara di belakang Woohyun. Membuatku dan Woohyun sontak menoleh kaget ke arahnya.

Bugh!

Tanpa basa-basi, sosok itu memukul wajah Woohyun dengan chakranya, tubuh Woohyun langsung terhempas ke sudut kamar saking dahsyatnya pukulan tersebut.

“Sepertinya kau lupa kalau aku adalah ninja”

Poof.

Sosok Jinki Hyung yang terluka tadi pun menghilang tanpa jejak.

“Dan sepertinya kau lupa kalau klanku adalah ninja ilusi, sama seperti Jonghyun”

Orang itu, Jinki Hyung, memandang remeh pada Woohyun yang tersungkur di depannya.

“Kau berharap kalau aku akan mati begitu saja hanya karena pisau itu? Memang, kagebunshinku yang tadi akan menghilang dengan satu tusukan pisau. Tapi, sayangnya, sosokku yang asli tidak begitu. Maaf untuk menghancurkan harapanmu” lanjutnya sambil terus tersenyum sinis.

Woohyun mengelap darah di sudut bibirnya lalu berdiri.

Plok plok plok.

Entah mengapa Woohyun malah bertepuk tangan sesudahnya.

“Kau memang hebat, Lee Jinki. Harus kuakui itu”

Sesaat, tubuh Woohyun dikepung oleh asap lumayan tebal lalu asap itu menghilang diiringi dengan tubuh Woohyun yang tiba-tiba terbungkus oleh pakaian khas Samurai, lengkap dengan pedang samurai yang ada di pinggangnya.

“Sepertinya kau tidak akan membiarkanku untuk ‘mengurus’ adikku begitu saja. Tidak ada pilihan lain selain melawanmu terlebih dahulu bukan?” ujarnya sambil menarik samurai itu dan mengacungkannya tepat di hadapan Jinki Hyung.

Asap tebal juga mengelilingi tubuh Jinki Hyung sebelum dia berakhir dengan pakaian mode ninjanya.

“Akan kupastikan kalau kau tidak akan bisa ‘mengurus’ Jonghyun untuk selamanya” janjinya lalu memasang kuda-kuda juga beberapa simbol binatang dengan kedua tangannya.

“Raikiri!” kumpulan kilat berwarna biru pun berpusat di telapak tangan kiri Jinki Hyung. Tanpa ragu, dia berlari sambil mengarahkan kumpulan kilat itu ke arah Woohyun.

Trang!

Woohyun berusaha menangkis serangan Jinki Hyung dengan samurainya. Tetapi, tidak dapat disangkal kalau kekuatan Jinki Hyung memang besar. Woohyun terpojok, dia memandang punggungnya yang menempel pada jendela kamar.

Melihat itu, Jinki Hyung semakin memperdalam serangannya.

“Ku’so!” Woohyun tidak punya pilihan lain selain keluar dari sana dengan menerobos jendela tersebut.

Prang!

Serpihan kaca pun bertebaran melayang di udara. Jinki Hyung memundurkan langkahnya agar serpihan itu tidak mengenainya.

Ketika melihat sosok Woohyun sudah keluar dari sana, Jinki Hyung segera memanjat jendela, hendak menyusulnya.

“Aku titip Jonghyun, Key..” samar-samar dapat kudengar pesannya itu sebelum dia pergi meninggalkanku.

“Aku pasti kembali..”

Aku menggenggam tangan Jonghyun.

Masih menunggu kedatangan Jinki Hyung.

Sekarang sudah 1 jam semenjak dia dan Woohyun keluar dari sini.

Dan aku cemas.

Tak dapat kupungkiri itu.

Tapi, aku percaya kalau dia akan kembali.

Sekalipun aku sempat berpikir macam-macam tentang kemungkinan terburuk yang akan menimpa Jinki Hyung.

Sekali lagi, aku percaya dengannya.

Aku percaya dengan janjinya.

“Hah..” aku menghela nafasku dengan berat. Ku bawa tanganku yang lain untuk ikut menggenggam tangan Jonghyun sehingga kedua tanganku mengapit satu telapak tangan kekarnya. Setelah itu, ku arahkan kedua tanganku—dengan tangan Jonghyun yang diapitnya—ke arah pipiku.

Aku membiarkan tangan-tangan itu berada disana. Mendiamkannya.

Mataku dengan sendirinya menutup, merasakan hangatnya tanganku yang menggenggam tangan Jonghyun.

Ah.. betapa aku merindukan sosoknya.

“Kapan kau akan bangun, bodoh?” Aku kembali menanyakan hal yang sama pada orang yang sama untuk yang kesekian kalinya.

Sret.

Aku segera membuka mataku.

Aku tidak salah kan?

Tadi aku merasakan bahwa tangan Jonghyun sedikit bergerak di dalam genggamanku.

“Jonghyun..” aku menatap tubuh itu.

Tubuh yang tidak menunjukkan pergerakan apapun lagi.

Tapi, yang tadi.. Jonghyun benar-benar bereaksi!

Ya, Aku yakin! Aku yakin walau pergerakannya hanya sepersekian detik.

Apakah itu tanda kalau Jonghyun ingin memberitahuku bahwa dia masih kuat?

Ah, bukan.. Jonghyun memang kuat.

Sebentar lagi dia pasti akan sadar!

Aku tersenyum. Satu perasaan di relung hatiku terasa sedikit lega.

Aku pun menyibak poni Jonghyun lalu mengelus pipinya.

“Jong—.”

Sret!

“Maaf, Nyonya besar.. Nyawa tuan.. sudah bisa tidak terselamatkan lagi”

PRANG!

“Ke—Kenji?”

“Apa maksudnya ini? Otoo-sama kemana?”

“Kenji, bukankah aku sudah bilang untuk tidak keluar dari kamarmu? Kenapa kamu berdiri disitu?”

“Jawab aku, Okaa-sama! Kemana perginya—.”

“Kenji, tanganmu berdarah!”

“Jangan potong ucapanku, Okaa-sama! Tanganku hanya terkena pecahan vas! Sekarang, jawab aku! Kemana Otoo-sama?”

“..”

“Jawab aku!”

“Dia.. sudah pergi”

Aku menjauhkan tanganku dari pipi Jonghyun.

“A-Apa itu barusan?” Seorang anak laki-laki dengan wanita paruh baya dan seorang lelaki tegap berpakaian pengawal. Percakapan di antara mereka tadi..

Apakah Woohyun dengan Ibunya? Yang dimaksud Kenji disitu adalah Woohyun kan?

Lalu, kenapa aku seperti melihat kejadian di masa lalu..

Jangan-jangan..

Aku kembali mengarahkan tanganku pada pipi Jonghyun.

Sret!

“Me-menikah lagi?”

“Dengar Kenji, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menikah dengannya untuk kebaikan kita”

“Kebaikan katamu? Menikah dengan klan ninja adalah suatu kebaikan bagimu, Okaa-sama?”

“Sudah kubilang, aku tidak punya pilihan”

“Dan menikah dengan klan musuh adalah pilihanmu”

“Kenji..”

“Aku lebih baik mati daripada harus hidup bersama klan ninja sebagai keluargaku”

“Kenji! Jaga omonganmu!”

“Kau harus ingat, Okaa-sama! Mereka—klan ninja adalah orang yang telah membunuh Otoo-sama! Mereka yang telah membunuhnya, membunuh pemimpin dari klan samurai!”

“Kalau aku tidak menyetujui ini, klan ninja dan klan samurai akan selamanya bermusuhan dan hidup dalam kebencian”

“…”

“Sudah kukatakan, aku tidak punya pilihan. Sebagai putri dari klan samurai, aku harus berkorban demi kedamaian yang telah kita idam-idamkan”

“…”

“Kenji..”

“Terserah katamu, aku tidak peduli lagi”

Sret!

“Tuan besar, Nyonya besar sudah melahirkan! Anaknya laki-laki dan sangat sehat!”

“Kenji, kemarilah, nak.. kau harus melihat adik barumu juga”

“Ini anakmu, Tuan. Akan kau beri nama apa?”

“Aku akan memberinya nama—.”

Sret!

“Kenji-nii chan, kau sedang apa?”

“Bukan urusanmu!”

“Aih.. kenapa kau galak sekali? Kalau terus seperti itu, kau akan cepat tua loh!”

“Bukankah sudah kubilang kalau itu bukan urusan—.”

Byur!

“Ya! Berani-beraninya kau menyemburkan air padaku!”

“Hahaha dasar Onii-chan baka! Tangkap aku kalau kau bisa!”

“Kau! Aih.. Chotto matte! Aku akan memukul pantatmu itu!”

“Weeek~ aku tidak takut!”

“Dasar—haha! Tunggu sampai aku menangkapmu!”

Sret!

“Kenji-nii chan.. kenapa selisih umur kita berbeda jauh sekali?”

“Kau pikir begitu? Kurasa selisih 7 tahun tidaklah terlalu jauh”

“Iya kah? Tapi, aku merasa jalan pemikiran kita berbeda. Apakah itu karena umur kita?”

“Hm.. kurasa jalan pemikiran kita berbeda karena kamu itu sebenarnya bodoh haha”

“Ya! Aku serius tahu!”

“Aku juga serius!”

“Nii-chan..”

“Haha baiklah baiklah.. Dengar, tidak ada seorangpun di dunia ini yang mempunyai pemikiran sama dengan orang lain. Kita semua diciptakan berbeda karena kita semua adalah orang-orang spesial”

“Spesial?”

“Iya”

“Apakah aku spesial?”

“Tentu, kau itu spesial dengan jalanmu sendiri”

Sret!

Prang!

“Ti-tidak mungkin! Kau—kau!”

“Kenji, dengar, ini tidak seperti yang kau lihat. Otoo—.”

“Berhenti menganggap bahwa kau adalah ayahku!”

“Kenji..”

“Satu satunya ayahku adalah orang yang telah kau bunuh, bukan kau!”

“Otoo-sama, Kenji-nii chan.. ada apa kalian ribut-ribut? Hoam~ Ini kan sudah malam..”

“Ah.. maaf sudah membangunkanmu.. Aku dan Kenji baik-baik saja kok. Kami baru saja akan pergi tidur. Ya kan, Kenji?”

“…”

“Kenji..”

“Aku pergi keluar sebentar”

Sret!

“Nii-chan, kamu mau pergi kemana?”

“…”

“Nii-chan.. kenapa bawaanmu banyak sekali?”

“…”

“Nii-chan.. Kenji-nii chan..”

“Hush.. aku hanya pergi sebentar, kau tidak usah memikirkanku. Ok?”

“Tapi, kau mau pergi kemana?”

“Aku.. aku..”

“Kau berbohong kan? Buktinya, kau tidak tahu kemana kau akan pergi”

“Aku tidak berbohong. Aku ada misi mendadak dan sangat darurat”

“Benarkah?”

“Hm, masa aku berbohong padamu?”

“Baiklah kalau begitu, cepat pulang ya.. aku tidak ada teman bermain kalau kau tidak ada”

“Ok. Jadilah adik yang baik selama aku tidak ada.. Aku pergi dulu”

Sret!

“Apa?”

“I-iya, tuan besar.. Kenji-sama menghilang”

“Bukankah aku sudah menugaskanmu untuk mengawalnya? Lalu, kemana dia pergi?”

“..”

“Kenapa diam? Jawab pertanyaanku!”

“A-aku tidak yakin, tuan besar.. tetapi, sepertinya.. dia pergi ke dunia nyata”

“Dunia nyata? Apa maksudmu?”

“Itu baru perkiraanku, tuan besar.. Lalu, di tempat terakhir dia berada.. ditemukan beberapa pil penyusut umur”

“P-pil apa katamu?!”

“Pil penyusut umur. Sepertinya.. dia menyusutkan umurnya menjadi.. 7 tahun lebih muda”

Sret!

Aku tahu dia bisa melihat masa depan.

Dan dia bisa melihat masa depan saat aku bertemu denganmu.

Untuk itu, dia menyusutkan umurnya menjadi sama sepertiku dan pergi ke dunia nyata.

Disana, dia berakting seolah-olah dia adalah sahabatmu.

Sampai hari dimana aku bertemu denganmu tiba..

Itulah saat-saat yang dia tunggu.

Dengan memanfaatkan kedekatannya denganmu, dia membuatmu tidak menyadari sosok sebenarnya yang ada dalam dirinya. Sehingga dia bisa menyerangku, lewat kelemahanku.

Yaitu, kamu..

Aku tentu saja tahu kalau Woohyun adalah kakakku, sejak awal.

Tapi, Woohyun tidak menyadarinya.

Untuk itu aku terus diam.

Melihatnya tertawa saat bersamamu, melihatnya dia marah karena aku tidak pernah berhasil memanggil namanya dengan benar..

Melihat semua itu..

Aku jadi teringat saat-saat kami berdua masih kecil.

Dia selalu bersikap dingin padaku. Tetapi, seiring berjalannya waktu..

Dia menjadi sosok kakak terbaik yang pernah kupunya.

Kalau saat itu.. aku memberitahu bahwa aku tahu dia adalah Kenji.

Aku tidak akan pernah melihat senyumnya itu, tawanya itu, sifat konyolnya itu..

Aku tidak akan pernah melihatnya.

Karenanya, walaupun sebentar..

Aku ingin menikmati semua hal itu, meskipun aku harus melihatnya dari jarak yang cukup jauh agar dia tidak menyadarinya..

Yah.. Aku merasa cukup puas..

Biarpun aku tahu, mungkin keegoisanku ini akan menimbulkan dampak yang fatal di kemudian hari.

Dan kalau kau mendengar semua ini, berarti dampak fatal itu benar-benar terjadi.

Tubuhku sekarang seperti orang mati, benar?

Aku memang sengaja merekam semua ini di dalam memori otakku dan semuanya akan terdengar olehmu kalau kondisiku sedang sekarat.

Hah.. Chakraku tidak cukup lagi untuk menceritakan semuanya secara detail.

Tapi, kumohon.. percayalah pada Woohyun.

Hatinya sekarang sedang tertutup oleh kegelapan.

Kegelapan karena dia mengetahui kalau orang yang membunuh ayah kandungnya adalah ayah kandungku, yang tidak lain adalah ayah tirinya.

Aku yakin dia bukanlah orang jahat, kakakku bukanlah orang yang jahat.

Aish.. Chakraku benar-benar sudah tidak kuat lagi..

Baiklah.. untuk yang terakhir, tolong sampaikan padanya bahwa aku menyayanginya..

Dan untukmu..

Maaf..

Untuk semua hal yang telah kami perbuat dalam hidupmu.

Terutama untuk yang satu ini..

Mungkin kau akan tertawa mendengarnya..

Tapi, aku sungguh-sungguh..

Maafkan aku..

Maafkan aku karena aku… mencintaimu, Key..

Sret!

Aku tahu sekarang wajahku pasti sangat berantakan.

Tapi, aku tidak bisa menahan semua air mataku lebih lama.

Saat ini, aku sudah tidak bisa melihat masa lalu Jonghyun atau mendengar suaranya lagi.

Semua kejadian dan semua suara yang tadi bisa kurasakan..

Sudah tidak bisa terdengar lagi..

Jonghyun sengaja memberitahuku semua itu, lalu dia bisa seenaknya pergi tidur kembali..

Begitukah caramu memperlakukan orang yang kau cintai?

Dan setelah aku mengetahui semua ini, apa yang harus kulakukan?

Apa kau akan bangun kalau aku memberitahu Woohyun bahwa kau menyayanginya?

Bodoh..

Bagaimana pula kau bisa berpikir kalau aku akan tertawa di saat seperti ini?

Terlebih menertawakan perasaanmu padaku..

Hei, kau tahu sendiri kan kalau aku itu jodohmu!

Aih..

Tes

Tes

Tes

Air mata sialan ini juga sama-sama bodoh!

Aku kan tidak ingin menangis!

Satu-satunya yang aku inginkan adalah Jonghyun bangun dari tidur sialannya.

Kenapa tidak ada seorangpun yang mengerti keinginanku sih?

“Kau memang lawan yang tangguh, Lee Jinki..” ujar Woohyun seraya menyeka darah yang ada di sekitar mulutnya. Pelipis matanya mengeluarkan darah dan area di sekitar matanya berwarna biru, lebam oleh serangan bertubi-tubi dari Jinki.

Jinki tersenyum sambil mengatur nafasnya yang tersengal. Ia duduk bersender pada sebuah batu besar yang ada di dekat tebing ini, tempat pertarungannya dengan Woohyun.

Kondisi Jinki tidak lebih baik dari Woohyun.

Di bajunya banyak bekas sobekan dan bercak-bercak darah. Pada bahunya terdapat luka dihiasi aliran darah segar serta wajah tampannya tertempeli bekas sayatan dari samurai tajam kepunyaan Woohyun.

“Kau juga lawan yang tangguh, Hyung.. Oops.. Biarpun di dunia ini umurmu lebih muda daripada aku, kau tetaplah Hyungku. Benar?” tanyanya lagi-lagi tersenyum, membuat Woohyun meludah ke arahnya.

Woohyun secara perlahan berjalan ke arah Jinki, setelah jaraknya dengan Jinki sudah lumayan dekat, dia mengacungkan samurainya ke arah Jinki yang saat ini berada dalam posisi yang lebih rendah daripadanya—berhubung Jinki sedang terduduk sementara Woohyun dalam keadaan berdiri—dia mengacungkan samurai itu tepat di dahi Jinki.

“Kau pikir aku peduli dengan semua tata krama dan sopan santunmu itu?” ucapnya setengah berteriak.

“Kuharap kau peduli pada keadaan Jonghyun” jawaban Jinki pun membuat Woohyun geram. Dia menggeretakan giginya lalu menekan samurainya pada dahi Jinki.

Tes

Aliran darah segar kembali mengalir dari tubuh Jinki. Darah dari dahinya itu mengucur turun ke hidung mancungnya, mulutnya, dagunya, dan akhirnya jatuh ke bawah, ke atas tanah gersang yang sedang diduduki oleh tubuhnya.

“Masih bisa mengkhawatirkan keadaannya di saat kondisimu sekarang juga pantas dikhawatirkan? Kau benar-benar orang yang baik, Jinki.. Adikku juga pasti beranggapan seperti itu. Sampai-sampai dia menganggapmu sebagai kakaknya sendiri. Ah, mungkin dia sudah lupa kalau dia mempunyai aku, kakak tirinya”

Jinki menggenggam tangan Woohyun yang sedang memegang samurai, dia lalu memlintir tangan itu hingga samurai Woohyun mengarah ke bawah, ke arah tanah.

Dengan satu dorongan pada tangannya yang teraliri chakra, Jinki menyalurkannya kepada perut Woohyun sehingga tubuhnya terjengkang dan samurai yang berada dalam genggaman Woohyun pun terlepas.

Jinki menancapkan samurai itu pada tanah lalu menghampiri Woohyun yang sedang terduduk karena serangan Jinki tadi.

“Jangan berpura-pura tidak peduli padahal kau adalah orang yang paling peduli padanya lebih dari siapapun”

Woohyun tersenyum sinis sambil menatap kedua mata Jinki yang tajam, “Cih! Kau benar.. Aku adalah orang yang paling peduli pada kematiannya lebih dari siapapun karena aku adalah orang yang paling menginginkan dia terkubur mengenaskan di dalam penderitaannya”

Jinki merunduk lalu megunci pergerakan Woohyun dengan kedua tangannya yang berada di samping wajah Woohyun.

“Jangan berpura-pura. Bukankah aku sudah bilang itu tadi?” dia menatap Woohyun lalu tatapannya berubah sendu, “bagaimana kau bisa tahu kalau Jonghyun menganggapku kakaknya?”

Sesaat, ada ekspresi keterkejutan di wajah Woohyun, tapi dia segera mengendalikannya dengan tersenyum sinis pada Jinki, “Bukankah itu sudah terlihat jelas? Dari kelakuannya”

“Dan bagaimana kau bisa mengetahui kelakuannya?” Woohyun terdiam mendengar pertanyaan Jinki, “jangan kau kira aku tidak tahu kalau selama ini kau terus mengawasinya. Kau selalu memperhatikan gerak-gerik Jonghyun bahkan saat kau pergi ke dunia nyata sekalipun. Kau selalu mengawasi Jonghyun biarpun secara tidak langsung, benar?”

“Tch” Woohyun menendang tubuh Jinki hingga terpental. Dia berdiri lalu menarik samurainya yang tadi tertancap di tanah, “itu semua bukan urusanmu”

Trang!

Pedang yang Woohyun hunuskan pada Jinki langsung ditahan dengan kunainya. Mereka mulai bertarung, beradu semakin sengit. Saling memainkan kedua benda tajam yang mereka pakai dengan lihainya.

Crash!

Tak bisa disangkal, samurai Woohyun yang memang lebih kuat daripada kunai biasa milik Jinki akhirnya memenangkan pertarungan. Kunai itu terhempas jauh, sementara samurai yang digenggam Woohyun berhasil mengenai pipi Jinki hingga menimbulkan sayatan berdarah pada pipi namja itu.

“Kemana ninjutsumu pergi? Sejak tadi kau tidak memakai ninjutsu apapun selain raikiri yang kau pakai untuk membuatku keluar dari rumah. Apa kau meremehkan kekuatanku, hah? Kau pikir kau bisa mengalahkanku hanya dengan mengandalkan taijutsumu? Kau benar-benar naïf, Lee Jinki”

Mendengar hal itu, Jinki hanya bisa tersenyum kecut padanya, “Kau tahu.. Sekarang keadaanmu tidak jauh lebih baik dibandingkan aku. Kalau aku memakai ninjutsuku, aku yakin kau sudah kalah sejak tadi. Lagipula..” dia tersenyum lagi, “Jonghyun tidak akan suka kalau aku menyakiti kakak tiri yang begitu disayanginya”

Woohyun benar-benar geram, dia langsung mengarahkan samurainya lagi pada Jinki yang hanya bisa menghindar dengan melompat ke belakang.

“Tidakkah kau lebih baik menghentikan ini semua, Hyung? Sebenarnya, aku benar-benar masih menghargaimu sebagai Hyungku. Semua orang di dunia ninja juga sudah menjalin hubungan yang baik dengan para samurai, berkat Eommamu. Dan mereka.. tidak mencarimu selama ini karena Jonghyun. Dia yang selalu menolak kalau mereka berencana menginvestigasi kepergianmu. Dia bilang kau kau pasti akan kembali dan kau pergi hanya untuk memperdalam ilmumu. Hyung.. tidak baik terus menerus terobsesi dengan dendammu. Kau—,”

“Diam kau!” potong Woohyun dengan teriakannya, “kau tidak tahu perasaanku. Kau tidak akan mengerti walaupun kau jadi diriku. Aku benci semua orang. Apalagi orang yang bernama Kim Jonghyun itu”

“Tapi Hyung, kau tahu? Sejak awal Jonghyun mengetahui kalau Woohyun adalah Kenji. Dia tahu itu kau. Tapi, dia pura-pura tidak tahu”

Woohyun bersiap mengarahkan samurainya lagi, tapi kali ini Jinki menggunakan ninjutsu untuk berpindah tempat. Dia melingkarkan tangannya pada leher Woohyun dari belakang, di tangannya terdapat sebuah kunai lain yang dia ambil dari tas kecil yang terlingkar di pinggang belakangnya.

“Aku tidak ingin bertarung lagi denganmu. Aku mohon, hentikan semua ini, Hyung”

Woohyun melepaskan diri dari Jinki lalu dia menyimpan samurainya ke dalam sarung pedang yang ada di pinggangnya.

“Kau benar. Aku akan berhenti” senyum Woohyun penuh makna, “tapi aku akan kembali untuk menghabisimu dan juga adikku itu. Ja!”

Dengan itu, sosok Woohyun menghilang dari hadapan Jinki.

Jinki pun hanya bisa menatap kepergiannya sambil menyeka darah yang ada di sekitar mulutnya.

“Kau bisa keluar sekarang” serunya tiba-tiba, entah pada siapa.

Sedetik kemudian, semak-semak di belakangnya terasa bergemerisik dan keluarlah satu sosok perempuan dari dalamnya.

“Sejak kapan..”

“Aku tahu kamu disitu?” tebak Jinki, perempuan itu hanya mengangguk, “sejak kau ada disini”

Jawaban itu membuat sang yeoja menundukkan wajahnya bersalah, “Maaf.. aku tidak bermaksud menguping dan melihat.. semua itu. Tapi, aku tidak bisa keluar”

Jinki tersenyum lalu membalikkan badannya, berhadapan dengan orang yang sedang berbicara dengannya saat ini, “Tidak apa. Kalau kamu bergerak, Woohyun akan mengetahui keberadaanmu dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu kalau hal itu sampai terjadi. Untung dia tidak mempunyai insting ninja yang dapat mendeteksi keberadaan orang lain”

Perempuan itu terdiam, wajahnya masih menunduk.

“Ngomong-ngomong.. kamu siapa?” tanya Jinki sambil memandangnya dari atas kepala hingga ujung kaki, baru ingat kalau dia sebenarnya tidak mengenali sosok cantik di depannya itu.

“Ano.. eto..” Dia pun hanya bisa memainkan jemarinya, bingung, “aku rasa kalian membutuhkanku”

“Kalian?”

Jinki berjalan menaiki tangga, diikuti perempuan yang baru dikenalnya itu.

Tok tok

“Key, ini aku, Jinki. Aku masuk ya” teriaknya sambil memutar knop pintu dari kamar Jonghyun.

Cklek

Dia menemukan tubuh Key yang terlihat menyedihkan, sedang menundukkan kepalanya di atas kasur sambil menggengam tangan dingin Jonghyun. Jinki merasakan bahwa perempuan—yang kini berdiri di sebelahnya—sempat merinding melihat keadaan Key itu. Sungguh berantakan memang, tapi perempuan itu bisa mengontrol dirinya kemudian.

“Key, aku membawa seseorang yang dapat membantu kita.. kalau perkataannya benar, dia bisa membangunkan Jonghyun”

Key sebenarnya enggan berkomunikasi pada siapapun. Tapi, ketika mendengar bahwa ada seseorang yang dapat membuat Jonghyun terbangun, dia segera mengangkat kepalanya.

Ada kelegaan teramat sangat di dalam hatinya, tapi kelegaan itu segera sirna ketika dia melihat siapa orang yang dimaksud Jinki, perempuan yang mungkin bisa membangunkan Jonghyun.

Key membelakakan matanya tidak percaya, genggaman tangannya pada tangan Jonghyun pun terlepas begitu saja.

“J-Junghee..”

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s