JONGKEY | Behind the Facts Special | Our Quarrel


Title : Our Quarrel

Author : DR(Death Rose) – Eruka, Kirarin, & Misachand

Author for this part : Eruka

Berhubung fakta JongKey numpuk. So, Death Rose-yang terdiri dari 3 orang-yang akan membuat FF Behind the Facts kali ini menjadi berpart.

Terus, untuk judul setiap partnya kemungkinan akan berbeda dengan genre berbeda juga tentunya.

Happy reading~! ㅋㅋㅋ

also posted in : JongKey Kingdom Fanfictions

—————————————————————————————————-

Sret.

Key menarik lengan baju Jonghyun, membuat langkah Jonghyun terhenti.

“Ada apa?”

Ada apa? Mengacuhkanku selama di panggung dan… Argh, masih sempatnya bertanya ‘ada apa’ dengan tampang stupid-dinonya itu?!, rutuk Key dalam hati.

“You know what is the problem, Sir”

“I am sorry. I am too tired for knowing what is your problem”

Sret.

Jonghyun menepis tangan Key dengan dinginnya.

Berani sekali kau! Kuharap kau sudah mempersiapkan segalanya untuk menerima amukanku, Tuan Kim Jonghyun!

Sret.

Key menarik lengan baju Jonghyun sekali lagi. Membuat tampang Jonghyun terlihat kesal karena perjalanannya kembali diganggu.

“Kau dalam masalah besar, dino..” Ancam Key dengan tatapan tertajam yang pernah dia keluarkan, tak lupa dia membumbui sekitar tubuhnya dengan aura membunuh.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan”

Tangan Key berpindah mencengkram lengan Jonghyun, “Jangan berpura-pura bodoh! Kau kira aku tidak melihat apa yang kau lakukan di panggung tadi?”

“Aku hanya menyanyi dan menyanyi. Melakukan apa yang memang sudah menjadi tugasku”

“So, selca berdua dengan Jonghyun CN Blue juga termasuk dari tugasmu? Cih”

Jonghyun mengernyit menatap Key. “Dan melindungi juga berbisik mesra di telinga Luhan termasuk dari tugasmu yang lain, begitu?”

“Bicara yang sopan, Key! Biar bagaimanapun, mereka berdua itu hyungmu”

“Bingo! Dan mereka 90liners sepertimu. Itu kan yang sebenarnya kau maksud?” Jonghyun memandang tidak mengerti kepada Key.

“Lepas, Key!” rintihnya, tetapi Key malah semakin mengeraskan cengkramannya pada Jonghyun.

“Kau mengerti apa salahmu sekarang?”

“Aku capek. Biarkan aku lewat”

Jonghyun menepis paksa tangan Key lalu berjalan acuh melewatinya.

Sret.

Lagi, Key menghentikan langkah Jonghyun dengan berjalan cepat mendahului Jonghyun lalu menghadang jalannya dengan badan rampingnya.

“Aku belum selesai berbicara dan.. what the hell are you talking about? Capek? Kau capek bermain-main dengan temanmu sampai kau melupakan pacarmu yang ada di atas panggung yang sama denganmu, begitu?”

Jonghyun mendesah pelan, “Kau bukan anak kecil lagi, Key..”

“Aku bukan anak kecil lagi? Fine, I am. Lalu, Luhan—oops Luhan Hyung yang notabene satu tahun di atasku kau anggap masih anak kecil, iya? Makanya kau sibuk mengurusinya di atas panggung” ejek Key sambil melipat kedua tangannya di depan dada, senyum sinisnya terpampang di wajah mulusnya.

“Key..”

“Ah! Luhan Hyung butuh penjagaan sampai-sampai seorang Kim Jonghyun melindunginya dari orang-orang kan?” Key masih menyilangkan tangannya, kepalanya mengangguk-angguk dengan ekspresi mengejek yang terus kental di pancarkan.

“Luhan belum debut dan hari ini adalah penampilan perdananya. Dia juga tidak terbiasa untuk bergaul dengan orang yang belum dikenalnya. Wajar kan kalau aku, seniornya, menjaganya agar dia merasa nyaman?”

“Dengan cara pindah tempat dan terus berada di sisinya? Bingo! Kurasa itu cara yang bagus” sinis Key lagi, nadanya terdengar sarkatis, “oh iya, apa yang kau bisikkan dengan mesra padanya itu juga mungkin kata-kata penyemangat ya?” katanya dengan penekanan di kata ‘mesra’.

“Key..”

“Tunggu-tunggu.. mungkin.. lebih dari kata penyemangat, apa aku benar?” lonjak Key berakting seolah-olah kegirangan padahal matanya terus menatap tajam dan nadanya penuh ejekan.

“Aish.. kau salah paham..” Jonghyun mengacak-acak rambut brunette miliknya yang tadinya rapi.

“Salah paham? Baiklah. Sibuk mengambil selca dengan Jonghyun CN Blue padahal ada aku di atas sana juga termasuk dalam kesalahpahamanku, hm? Aku mengira kau lupa mengambil selca dengan pacarmu ini karena kau sudah mendapatkan obyek yang lebih baik bersama teman-teman 90linersmu” Key mengedikkan bahunya.

Kali ini, Jonghyun terbawa emosi. Lelah karena semua performance di atas panggung di tambah semua kata-kata tajam dari Key sudah cukup membuat otaknya berasap serta akal sehatnya menguap.

“Kau tidak bisa menyangkal, Kim Jonghyun.. Teman-teman 90linersmu—“

“Kau yang sibuk dengan teman-teman 91linersmu, Kim Kibum!” bentakan Jonghyun membuat Key melangkahkan kakinya satu langkah ke belakang secara refleks. Dia kaget karena ini pertama kalinya Jonghyun membentaknya. Selama ini, biarpun mereka bertengkar, Jonghyun akan menenangkan dirinya atau hanya diam mendengarkan semua perkataan Key sampai Key merasa puas lalu di akhir mereka akan menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik, bicara secara baik-baik. Tidak seperti sekarang.

Key mengerutkan alisnya sambil tersenyum sinis untuk yang kesekian kalinya, “See? Lihat apa yang mereka lakukan padamu? Sejak kapan kau berani membentakku, hah?”

“Cukup, Kim Kibum! Ini tidak ada hubungannya dengan mereka!” Jonghyun makin meninggikan suaranya. Beberapa staff di backstage mulai keluar mengerumuni mereka. Mungkin penasaran atas keributan yang sudah mereka buat.

“Kau membelanya bahkan di saat mereka berlaku salah”

“Harusnya aku yang berkata begitu, kau dan teman-teman 91linersmu”

Key menggeretakan giginya mendengar Jonghyun yang menurutnya mengalihkan pembicaraan, “Jangan bawa-bawa mereka, mereka tidak ikut campur dalam masalah kita!”

“Lihat? Kau yang seharusnya berkaca. Dirimu yang berubah, Key!”

“Kim Jong—“

“Apa aku tidak tahu kalau kau mengambil foto dengan semua teman 91linersmu sebelum perform tadi? Lalu, apa bedanya dengan aku yang selca bersama Jonghyun?” Jonghyun masih berbicara dengan nada yang tinggi. Staff-staff yang memilih berdiri untuk mendengarkan pembicaraan mereka pun terdengar sesekali berbisik-bisik.

“Itu adalah dua hal yang berbeda!”

“Apa bedanya? Sejak awal kau sibuk bersama teman-teman 91linersmu, terutama Nam Woohyun. Kalian terus berdua dari rehearsal sampai di atas panggung. Foto-foto kalian berdua ketika di backstage pun tersebar. Dan jangan kira aku tidak melihat kalau kalian saling memeluk pinggang ketika ending tadi. Aku yang berbisik di telinga Luhan bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kelakuanmu!”

“Jangan berusaha membuat dirimu terlihat tidak bersalah, Jonghyun!”

“Aku memang tidak bersalah! Dan oh.. satu lagi..” Jonghyun melangkahkan kakinya sehingga jaraknya dan Key semakin mengecil, mata mereka saling menatap. Key terpaksa memandang tepat ke dalam mata Jonghyun karena dia tidak mau kalah dengan namjanya itu saat ini, “tanggal 28 Desemer 2011.. Pukul 6 pagi, bertemu dengan Woohyun untuk jalan-jalan berdua di tengah cuaca dingin. Kencan, benar?”

Kali ini Jonghyun yang tersenyum sinis.

“Kau tidak tahu apa-apa!”

“Aku memang tidak tahu apa-apa karena itu urusan orang-orang 91liners!”

“Stop that! Teman-teman 90linersmu benar-benar membuat peringaimu buruk”

Key dan Jonghyun saling menunjuk muka keduanya sambil terus melontarkan balasan-balasan dari perseteruan mereka tanpa mempedulikan suara mereka yang terdengar sangat keras dan mengganggu.

“Kau! Aish, Jinjja..” Detik di saat amarah mereka semakin melonjak, Minho dan Taemin segera menerobos kerumunan orang-orang lalu berdiri menengahi mereka berdua.

“Hyung!” Taemin memandang Jonghyun dan Key bergantian. Mengirimi sinyal apa-yang-kalian-lakukan?-disini-backstage!. Sementara itu, Minho sibuk membungkuk 90 derajat kepada orang-orang yang tadinya menonton Jonghyun serta Key, dengan sopannya dia meminta mereka semua membubarkan diri secara tertib. Tak lupa, dia memberi alasan kalau kedua hyung tersayangnya itu sedang melatih dialog drama yang mungkin akan mereka lakukan di masa depan nanti. Memang tidak masuk akal, mungkin karena para penonton itu tidak mau membuat wajah tampan Minho cemberut mendengar alasan anehnya, mereka pun memilih mengikuti apa suruhan Minho untuk membuatnya tidak curiga.

“Hyung! Kalian berdua ini kenapa?” Taemin bertanya serius setelah akhirnya hanya ada mereka berempat di ruang tunggu backstage ini.

“Tanyakan padanya!” kata Jonghyun dan Key bersamaan sambil menunjuk diri satu sama lain.

“Oh ayolah, kalian bukan JongKey Choding!” desah Minho, memposisikan dirinya di samping Taemin.

“Ya setidaknya aku bukan seseorang yang akan bersenang-senang dengan teman 90linersnya sementara pacarnya ada di sekelilingnya” Key menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil berkata sinis dan membuang mukanya ke arah lain, ingin memberitahu pada Jonghyun—secara tidak langsung—kalau dirinya masih sangat marah akan kejadian itu.

“Dan aku bukan orang yang akan berpelukan di atas panggung dengan teman 91linersnya padahal pacarnya ada disana” balas Jonghyun membuat Key menatap sinis kepadanya.

“Ya! Neo! Jinjja..” Key bersiap akan meledak lagi, begitupun dengan Jonghyun. Mengamati keadaan disana yang memang sedang banyak artis dari girlband dan boyband lain, Minho dan Taemin segera mempunyai inisiatif untuk melerai mereka.

“Sudah, Hyung!” Taemin menahan lengan Jonghyun. Dia mengirim sinyal kepada Minho yang ditanggapi Hyungnya itu dengan anggukan. Tanpa sepatah katapun, Taemin menyeret Jonghyun dan Minho menyeret Key ke arah sebaliknya. Untuk beberapa waktu, keduanya itu memang butuh waktu untuk tidak bersama.

Setelah pisah dengan Minho serta Key, Jonghyun menepis tangan Taemin yang sejak tadi menahannya lalu berjalan dengan langkah sebal ke arah ruang lain, ruangan EXO.

Taemin mendesah karena Jonghyun bukannya masuk ke ruangan SHINee melainkan masuk ke ruangan yang mungkin saja dapat membuat permasalahan di antara Key dan dirinya semakin mengeruh. Tak ada pilihan lain, Taemin pun ikut masuk ke ruangan EXO.

“Ah, Taemin!” Kai yang melihat Taemin masuk ke sana langsung menyapanya sambil berhigh five.

“Hyun-Ah..” Luhan tidak tahu harus berbicara apa ketika Jonghyun menghampirinya, “aku tadi mendengar suara ribut di luar.. maaf..” sesalnya sambil menundukkan kepala.

Jonghyun tersenyum sambil mengusak rambut Luhan, “Ini bukan salahmu” ucapnya lemah.

Sesudah itu, Jonghyun terduduk sambil menenggelamkan kepalanya di antara kedua telapak tangannya. Sepertinya dia benar-benar kehilangan arah.

Taemin, Kai, Luhan, Tao, dan Chen yang berada disana hanya bisa menatap bingung dan prihatin kepada Jonghyun.

“Dengar, Hyung.. kalian berdua seperti anak kecil, memperdebatkan hal kecil seperti ini..” seru Taemin ambil suara.

“Kau tidak mengerti, Taem..” Jonghyun mengangkat kepalanya, suaranya terdengar parau, “aku sejak dulu selalu menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal tadi. Aku selalu diam ketika Shawol meributkan kedekatan Key dengan teman-teman 91linersnya. Terutama dengan Nam Woohyun itu..”

“Hyung..” Taemin menatap sedih melihat ekspresi kesakitan di wajah Jonghyun.

“Aku selalu diam. Bahkan ketika mereka mulai membandingkan diriku dengan Woohyun. Aku tidak pernah mengungkitnya di depan Key, aku selalu berusaha mempercayainya. Sungguh.. aku juga tidak mau melukai perasaan Key jika aku bertanya tentang teman-temannya padanya. Mungkin dia akan merasa risih dan aku tidak mau hal itu terjadi”

Luhan—yang duduk di sebelah Jonghyun—memegang bahu Jonghyun. Mengalirkan semangat padanya. Meyakinkan padanya kalau dia dan semuanya selalu ada di sampingnya untuk dijadikannya sandaran terhadap problem yang dihadapinya.

“Sampai ketika dia mengungkit kedekatanku dengan Jonghyun dan Luhan..” Jonghyun menatap Luhan seakan mengatakan permohonan maaf padanya karena dirinya sudah terlibat dalam pertengkarannya dengan Key, Luhan menanggapinya hanya dengan senyuman lemah seakan berkata kalau dirinya memaklumi dan dia baik-baik saja.

“Ini bukan kali pertama terjadi. Dulu juga Key marah ketika aku dan Donghae Hyung bermesraan pada acara Flower Boys Generation dan dia juga marah ketika Jaejin lebih memilih aku padahal Key bertanya pada Jaejin untuk memilih Key atau Jinwoon. Dia marah ketika G.O memposting selcaku dengannya pada akun twitternya. Dia marah ketika mengetahui kalau Lee Joon sering meneleponku jika aku tidak ada jadwal. Dia marah ketika aku mencolek dagu Gikwang dan menghabiskan waktu berdua dengannya. Bahkan, dia marah ketika aku lebih memperhatikan Onew Hyung, Minho, atau Taemin daripada dirinya..”

Jonghyun menidurkan kepalanya ke belakang sofa, “Dulu aku merasa kemarahan Key itu adalah suatu hal yang menggemaskan. Dia akan cemberut seharian sebelum aku mengabulkan keinginannya agar dia tidak marah lagi. Ani.. aku tahu waktu itu dia tidak marah, dia hanya cemburu. Dan aku pun senang dia cemburu karena itu berarti dia mencintaiku. Dia mencintaiku hingga dia tidak rela melihat kebersamaanku dengan orang lain selain dirinya. Tapi, sekarang..” Mereka yang ada di ruangan itu masih setia mendengar cerita yang Jonghyun lontarkan saat ini.

“Aku merasa dia berlebihan. Aku melakukan hal-hal yang wajar dengan teman-temanku. Aku tidak sepertinya yang jalan-jalan berdua dengan Woohyun, teleponan sampai larut malam, bahkan berpelukan. Seharusnya dia berkaca, dia yang melakukan hal-hal tidak wajar itu dengan teman-temannya. Aku yang seharusnya marah padanya, bukan dia! Aish..” Kai menahan Taemin yang hendak memotong ucapan Jonghyun. Dia menggelengkan kepalanya pada Taemin, menyuruhnya untuk bersabar. Tapi, Jonghyun tidak terlihat akan melanjutkan ucapannya kembali sehingga Taemin pun berinisiatif untuk berkomentar.

“Tapi, Hyung.. Kau juga seharusnya tidak melakukan hal yang bisa membuat Key Hyung cemburu atau marah”

“Jadi, kau membelanya?” sindirnya.

“Aku tidak membela siapa-siapa. Kurasa kalian berdua salah. Harus ada salah satu dari kalian yang mengalah”

Jonghyun menghela nafasnya berat, “Haruskah aku lagi yang mengalah? Aku capek”

“Pertamanya memang akan seperti itu, tapi lama-lama kau akan terbiasa, Hyung..”

“Sudahlah, Taem.. kau tidak mengerti. Kau tidak merasakannya”

“Aku justru merasakannya! Karena aku merasakannya, aku mengerti apa yang kau maksud, Hyung” Taemin tersenyum lemah kepada Jonghyun, “kau tentu tahu kan sebutan ‘Hyung-whoring’ yang selalu di alamatkan pada Minho Hyung itu? Bukankah posisiku saat itu sama dengan posisimu saat ini?”

Jonghyun tertegun. Ucapan Taemin memang ada benarnya.

“Awalnya, aku selalu menangis ketika Minho Hyung berdekatan dengan Hyung-hyung dari grup lain. Tapi, seiring dengan waktu.. aku percaya bahwa perasaan Minho Hyung terhadapku dan perasaannya terhadap mereka berbeda. Perlakuannya terhadapku dan perlakuannya terhadap mereka berbeda. Cintanya untukku dan cintanya untuk mereka berbeda. Minho Hyung mungkin menyayangi mereka, tapi Minho Hyung hanya mencintaiku. Untuk itulah aku tidak pernah menangis lagi. Karena aku percaya akan cinta Minho Hyung untukku”

Jonghyun tertegun untuk yang kedua kalinya. Magnae SHINee yang dulu selalu mereka lindungi ini ternyata sudah besar. Malah, Jonghyun menjadi malu dengan dirinya yang masih bersifat kekanakkan di saat Taemin bisa melihat semuanya dari sudut pandang yang positif.

“Kau benar, Taem.. mungkin.. aku tidak harus bertengkar dengannya seperti tadi” Taemin mengangguk dan Jonghyun tersenyum tulus padanya, senyum terima kasih.

“Lalu, setidaknya kau juga harus memperhatikan perasaan orang lain selain Key Hyung” Pernyataan Taemin kini membuat Jonghyun mengernyit.

“Maksudmu?”

“Iya..” Taemin melirik Kai yang berdiri di sebelahnya. Kai hanya bisa membalas menatap Taemin dengan tatapan kebingungan, “Kai pasti cemburu melihat kedekatanmu dengan Luhan Hyung”

“Eh?” Kaget Kai dia segera meluruskan pernyataan Taemin, “tidak, Hyung! Aku tidak apa-apa. Sungguh” jelasnya pada Jonghyun dengan ekspresi yang kelabakan.

“Kau jangan berbohong, Kai.. Kita sudah berteman sejak lama dan aku tahu sifatmu” Taemin membuat Kai menghela nafasnya karena dia sudah tidak bisa mengelak lagi. Sebenarnya, dia hanya tidak ingin menambah masalah Jonghyun dengan rasa cemburunya itu.

“Maaf..” sesal Kai yang membuat Jonghyun tersenyum kembali.

“Tidak, harusnya aku yang meminta maaf. Padahal aku tahu kau melihatku dan Luhan di atas panggung, tapi aku tetap mengawasinya”

Kai menggeleng, “Ani, Hyung.. Aku tidak bisa berduaan dengan Luhan Hyung di atas panggung. Aku takut semakin gugup karena keberadaannya di sisiku. Dan aku berterima kasih karena kau mau melindunginya”

Luhan yang melihat itu hanya bisa tersenyum, “Kalian membicarakanku seperti aku ini barang saja sampai harus dilindungi”

Sontak semua yang ada disana tertawa mendengarnya.

“Kau bukan barang, Hyung.. Tapi kau adalah orang yang selalu dicintai oleh Kai—Aw!” Kai menginjak kaki Taemin karena mulut besarnya itu. Sebenarnya, Kai tidak pernah bersikap malu-malu seperti ini. Bahkan, biasanya dia akan mengungkapkan rasa sukanya pada Luhan secara gamblang. Entahlah, mungkin karena disana sedang berkumpul anggota EXO yang lain, terutama ada Jonghyun yang mendengarnya, kadar malunya tiba-tiba naik dengan drastis.

Luhan tertawa keras melihat perubahan wajah Kai yang bersemu layaknya buah apel, “Benarkah itu? Apakah kau mencintaiku, Jongie?”

Minho menghampiri Key yang terduduk di kursi meja rias dengan mukanya yang tertutup. Minho tahu saat ini Key sedang menangis, bahunya naik turun karena isakan yang keluar dari mulutnya.

Minho pun mendiamkan Key cukup lama, memberikan waktu bagi sahabatnya itu untuk tenang sedikit saja.

Saat ini mereka sedang berada di ruangan Infinite. Untunglah seluruh anggota Infinite sudah pulang ke dormnya, kalau tidak, Key akan bertemu dengan Woohyun dan masalah—mungkin—akan menjadi semakin runyam.

“Key..” panggil Minho akhirnya dengan sentuhan lembut di bahu namja berambut blonde itu.

Key langsung menghapus air matanya sebelum melihat ke arah Minho, “Eh, Minho.. Kenapa kau ada disini?”

Sepertinya Key tidak menyadari bahwa sejak tadi Minho membuntutinya dan mengikutinya.

“Untuk meminjamkan bahuku? Sepertinya kau sedang membutuhkannya”

Key menonjok pelan bahu Minho dengan senyum yang dipaksakan, “Aku sudah tidak membutuhkannya. Kau terlambat datang”

Minho lalu tertawa hambar, “So, apa yang bisa kulakukan sekarang agar sahabatku ini ceria kembali?”

“Tidak ada. Aku sudah baikan”

“Benarkah?”

“Iya, setelah menangis tadi, aku merasa lebih tenang. Aku akan meminta maaf pada Jonghyun” tegas Key membuat Minho terperangah.

“Jin-jinjjayo?” Key menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Minho. Tapi, Minho masih saja terbengong-bengong dengan mulutnya yang terbuka, antara percaya dan tidak. Masalahnya, Key itu terkenal dengan sifat divanya sehingga dia tidak mudah mengakui kesalahannya pada orang lain, apalagi akan meminta maaf duluan seperti saat ini.

Ajaibnya lagi, dia tidak dipengaruhi siapapun dalam membuat keputusan bahwa dirinya akan meminta maaf pada Jonghyun. Dia membuat keputusan itu seorang diri.

Berarti, dia membuat keputusan itu berdasarkan kata hatinya kan?

Key lalu menganggukkan kepalanya mantap, “Iya. Kurasa rasa cemburuku sedikit berlebihan tadi”

Akhirnya, Minho tersenyum benar-benar lega.

“Jadi, sekarang kita akan kemana?”

“Pergi menemui dinosaurus itu dan meminta maaf padanya!” seru Key semangat.

Setelah itu, mereka berdua berjalan keluar dari ruangan Infinite. Mereka berjalan menuju ruangan SHINee tapi mereka tidak menemukan siapapun disana.

Sampai seorang staff memberi tahu mereka kalau Jonghyun dan Taemin sedang berada di ruangan EXO.

Minho sempat melihat ekspresi Key yang berubah ketika staff itu menyebutkan kata ‘EXO’. Seketika, Minho menepuk bahu Key.

“Aku tidak apa-apa, Minho. Mereka mungkin sedang berbincang-bincang” serunya tidak ingin membuat Minho khawatir walau sorot matanya mencerminkan kesedihan.

Akhirnya, Minho dan Key pun memutuskan untuk pergi ke ruangan EXO yang berjarak beberapa ruangan dari ruangan SHINee.

Key bersiap akan memutar knop ruangan EXO ketika dirinya mendengar sesuatu yang membuat jantungnya terasa berhenti berdetak.

“Benarkah itu? Apakah kau mencintaiku, Jongie?”

Pergerakan tangannya pada Knop pintu pun terhenti. Key mematung di tempat. Dia tahu persis kalau itu suara Luhan dan.. Jongie?

Hei, itu kan panggilan sayangnya untuk Jonghyun!

Lalu.. bukankah Jonghyun bilang kalau panggilan itu hanya panggilan dari Key untuknya?

Bukankah Jonghyun sudah berjanji bahwa tidak akan ada orang lain lagi yang akan memanggilnya seperti itu kecuali Key, namja yang dicintainya?

Key mencengkram dada sebelah kirinya yang terasa begitu sakit. Tangannya yang lain dia gunakan untuk berpegangan pada tubuh Minho.

Entahlah, dia merasa kalau dirinya akan ambruk kapan saja jika tubuhnya tidak berpegangan.

“Key..” Minho kembali khawatir melihat keadaan Key. Apalagi mata namja itu mulai berkaca-kaca.

“Aih! Lebih baik aku keluar dan menemuinya” sekarang suara Jonghyun yang terdengar dari dalam sana. Tak lama, knop pintu itu berputar dan..

Ceklek.

Terpampanglah Jonghyun yang berdiri di ambang pintu. Dia menatap Minho dan Key yang ada di depannya dengan tatapan yang.. err..

Masalahnya, dia melihat tangan Key yang berpegangan begitu kuat pada Minho dan itu membuat emosinya kembali membuncah.

“Kalian..” geram Jonghyun, “sedang apa disini?” niatnya untuk meminta maaf kepada Key beberapa detik yang lalu pun sudah hilang entah kemana.

Key—yang sama-sama telah kehilangan niat untuk berbaikan karena mendengar perkataan Luhan—memandang tajam ke arahnya.

“Harusnya aku yang bertanya, untuk apa kau disini? Kau mau menemuiku hanya untuk membicarakan hubunganmu dengan Luhan kan?” bentaknya keras, “kau tidak perlu bersusah-susah, aku sudah mendengar sendiri semuanya tadi”

Jonghyun yang semakin emosi karena dibentak dan dituduh Key juga menatapnya tajam, “Kau yang sedang apa disini? Ingin memperlihatkan kemesraanmu dengan Minho, hah? Aku tahu dia 91liners juga, tapi dia itu sudah punya Taemin, Key! Buka matamu!”

Minho dan Taemin—yang sudah keluar dari ruangan bersama semua anggota EXO—ingin membela diri ketika nama mereka diungkit-ungkit di dalam pertengkaran Hyung-hyungnya, tetapi baik Jonghyun maupun Key tidak memberi kesempatan siapapun untuk berbicara karena mereka terus menyalahkan satu sama lain. Bahkan, masalah mereka yang sudah lalu kembali mereka umbar di dalam perseteruan ini.

Luhan sudah menyembunyikan diri di belakang Kai sejak tadi. Dia merasa bersalah atas apapun-itu yang membuat Key kembali marah. Padahal, sepertinya dia tidak mengucapkan kalimat yang dapat menyulut pertengkaran kedua dari Jonghyun dan Key itu.

Tao dan Chen juga hanya bisa diam. Mereka bingung harus berbuat apa.

“Fine, Kim Kibum! Sekarang, apa yang kau mau?” Jonghyun berteriak dengan nada yang benar-benar tinggi. Urat di sekitar lehernya sampai terlihat karena tinggi suaranya itu.

“Aku tidak mau apapun darimu! Sebaiknya kau tanya pada Luhan apa yang dia mau!” bentak Key dengan suara yang tak kalah tinggi.

“Sudahlah, Hyung..” Minho berusaha melerai, tetapi Jonghyun malah menatapnya dengan sinis.

“Lihatlah, teman—oops selingkuhan 91linersmu sepertinya sudah ingin mengajakmu keluar dan berkencan. Bawalah dia dan Nam Woohyun itu sekalian!”

“Kau! Benar-benar..” geram Key lagi.

“Apa?  Kau ada masalah denganku? Tak usah pikirkan aku, pergilah kemanapun yang kau mau bersama teman-temanmu itu!” Key mengepalkan tangannya dengan erat, giginya bergemeretak menahan amarah mendengar semua perkataan Jonghyun.

“Kenapa masih berdiri disini? Kau boleh pergi ke tempat teman-temanmu berada sekarang..” Key akan mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya kembali menutup. Air matanya hampir keluar karena dia mendengar kata-kata yang begitu menyakitkan dari mulut Jonghyun saat ini.

“Aku tidak peduli”

Sungguh, itu adalah kalimat yang paling membuat Key merasa sakit. Semua kata-kata Jonghyun sebelumnya pun langsung terlupakan dengan keberadaan kalimat itu. Kalimat yang membuat Key merasa kalau Jonghyun sudah tidak mencintainya lagi sehingga dia tidak peduli pada dirinya.

Tapi, bukankah memang begitu keadaannya?

Jonghyun mungkin sudah tidak mencintai Key lagi.

Key memandang Jonghyun untuk yang terakhir kalinya lalu dia berbalik, berlari keluar dari sana. Berlari dengan air mata yang akhirnya tumpah membanjiri seluruh wajahnya.

Berlari dari masalahnya..

Berlari entah kemana..

Minho segera mencengkram kerah baju Jonghyun ketika punggung Key sudah hilang dari pandangan mereka.

“Apa yang kau lakukan, bodoh?” ucapnya dengan kilat emosi di mata bulatnya.

Jonghyun tersenyum tipis sambil menepis kasar tangan Minho, “Apa yang kau lakukan katamu? Kau khawatir padanya, hah? Kalau kau khawatir, sebaiknya kau pergi menyusulnya!”

Minho langsung ditahan oleh Kai, Chen, dan Tao ketika tangannya mengepal, bersiap untuk memukul Jonghyun.

“Cih! Kau berani bermain fisik denganku? Kau kira aku takut?” tantang Jonghyun. Taemin dan Luhan segera menahan tubuh Jonghyun sebelum mereka berdua benar-benar beradu fisik.

Lama Jonghyun dan Minho berdebat dalam keadaan seperti itu. Mereka berusaha melepaskan diri dari pegangan orang-orang yang menahan mereka, tetapi mereka masih saja bisa ditahan.

“Lepaskan aku! Aku mau pergi!” kata Jonghyun akhirnya. Taemin dan Luhan bingung, antara harus menuruti permintaan Jonghyun atau tidak.

“Lepaskan si pengecut itu! Biarkan dia pergi kemanapun dia mau” Minho berujar sambil menyeringai. Taemin dan Luhan tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti perintah Minho.

Sebelum Jonghyun benar-benar pergi dari sana, Minho dan dirinya sempat berpandangan sinis cukup lama.

Sampai akhirnya Jonghyun pun melenggang pergi. Ketika berjalan, Ia memukulkan tinjunya pada pintu dengan keras sebagai salam terakhir darinya.

Mereka yang tersisa disana pun menatap tubuh Jonghyun hingga punggungnya tak tampak lagi di pandangan mereka.

“Bagaimana ini, Hyung?” tanya Taemin takut-takut. Minho melihatnya lalu dia melihat raut wajah Luhan yang menunjukkan penyesalan.

“Tidak apa-apa, besok juga mereka sudah berbaikan kok. Lagipula, kita bisa meminta bantuan Onew Hyung. Biasanya orang-orang bebal itu lebih mendengar perkataan Onew Hyung daripada kita” Minho berusaha mencairkan suasana. Terutama pada Luhan. Biar Luhan itu adalah Hyungnya, tapi perasaan Luhan saat ini pasti begitu tertekan. Memang, Minho juga dijadikan tumbal dalam pertengkaran Jonghyun dan Key, tapi Luhan pasti tidak pernah mendapatkan perlakuan ini. Jiwanya mungkin saja sedang terguncang karena raut wajahnya terlihat sangat kacau.

“Kau tidak apa-apa kan, Hyung?” Kai menghampiri Luhan lalu mengusap pipinya lembut. Luhan hanya mengangguk dengan tatapannya yang kosong.

Untung saja manager EXO menjemput mereka saat itu sehingga mereka dapat dibawa pulang.

Ketika tinggal Minho dan Taemin disana. Tak berapa lama kemudian, Manager SHINee pun datang menghampiri mereka.

“Eh? Onew Hyung kenapa?” Minho dan Taemin terkejut melihat Onew yang dipapah jalannya oleh sang manager.

“Dia sakit. Aku harus membawanya ke dokter sekarang untuk mengetahui apa penyakitnya. Kalian bisa pulang duluan bersama EXO kan? Aku sudah memberitahu manager mereka untuk mengantarkan kalian” Minho dan Taemin pun mengangguk.

“Jonghyun dan Key.. dimana?” tanya Onew susah payah. Wajahnya terlihat memprihatinkan. Bahkan, di saat sakit seperti ini pun, Onew masih saja memperhatikan semua anggota SHINee.

Minho menoleh kepada Taemin, begitupun sebaliknya. Mereka sepakat untuk membuat kebohongan putih karena keadaan Onew tidak memungkinkan untuk mengetahui hal yang sebenarnya.

“Mereka mau jalan berdua kemana gitu. Biasalah, kencan kali” Minho berakting dengan senyum di wajahnya.

“Begitu ya? Ya sudah, aku titip dorm sama kalian berempat malam ini. Aku akan pulang secepatnya” dan sosok Onew beserta manager SHINee pun menjauh dari hadapan mereka.

“Kita tidak bisa meminta bantuan Onew Hyung..” racau Taemin yang dibalas anggukan oleh Minho.

Cklek.

Jonghyun membuka pintu dorm lalu segera melepas sepatunya. Sebenarnya, dia malas pulang ke dorm, tapi dia tidak punya pilihan lain karena dia lupa membawa dompetnya—yang dia simpan di dalam mobil manager SHINee—sehingga dia tidak bisa menyewa kamar hotel atau menginap di tempat penginapan.

“Dari mana saja kau?” kedatangannya di sambut oleh tolakan pinggang dari Minho. Jonghyun melihat tubuh terlelap Taemin yang terlilit selimut di atas sofa. Sepertinya mereka berdua memang menunggu kedatangannya.

“Kau tidak perlu tahu” ketusnya sambil berlalu melewati Minho.

Karena tidak punya uang, sebenarnya tadi Jonghyun pergi ke sebuah taman sambil merenungkan semua kejadian yang dialaminya.

“Kami mengkhawatirkanmu, Hyung! Bahkan, Taemin terus bersikeras tidak mau tidur di kamar sampai kalian berdua pulang!” Minho sedikit membentak Jonghyun, tapi suaranya dikontrol. Dia tidak mau membangunkan Taemin yang akhirnya ketiduran karena lelah menunggu.

“Oke, sekarang Key dimana? Kau pergi menyusulnya kan?”

Jonghyun menatap Minho tajam, “Aku tidak berniat menghabiskan waktuku untuk mencarinya. Biarkanlah dia pergi kemanapun yang dia mau”

Minho membelakakan matanya mendengar itu, “Kau bercanda kan, Hyung? Kau mencarinya kan?”

“Sayangnya aku tidak bercanda. Kau tidak perlu khawatir, mungkin dia ada di dorm Infinite, tepatnya berada di kamar Nam Woohyun”

Minho menarik kerah baju Jonghyun kembali, kali ini lebih keras, “Ya! Bodoh! Kau masih saja mengungkit masalah itu? Kukira otakmu sudah bisa berpikir jernih, ternyata aku salah. Lihat jam!” Minho—dengan tidak sopan—melirikkan wajah Jonghyun ke arah jam yang tertempel pada dinding dorm mereka, “sekarang sudah pukul 1 malam sementara Key belum kembali. Dia tidak mengabarkan apapun dan aku sudah mencoba menghubunginya sejak tadi, tapi handphonenya mati. Apa kau tidak khawatir padanya?!”

Jonghyun menepis tangan Minho lagi, “Untuk apa? Dia pasti selamat. Bahkan, mungkin dia sedang bersenang-senang dengan teman-teman 91linersnya”

Minho sudah mengepalkan tangannya untuk melayangkan pukulan telak pada Jonghyun. Tapi, sekali lagi aksinya kembali tertahan.

Minho melihat tangan yang menahan tangannya itu ternyata adalah Taemin yang entah sejak kapan terbangun dari tidurnya. Pasti karena mendengar suara pertengkaran di antara Jonghyun dan Minho.

“Hyung..” ujarnya seraya memberikan tatapan pada Minho untuk tidak meneruskan niatnya.

“Tch, maaf aku mengganggu mimpi indahmu, Taem.. Makhluk bermata kodok ini yang masih saja ribut mempermasalahkan hal tidak penting. Ya sudah, aku mau tidur. Annyeong!” Jonghyun membalikkan badannya sambil melenggang santai ke arah kamarnya dengan Minho.

Blam!

Dia menutup pintu dengan keras, membuat Taemin hanya bisa mendesah karena kelakuannya itu.

2:00 AM

 

Cklek.

Key masuk ke dalam dorm sambil melepas sepatunya.

Di atas sofa ruang tamu terlihat Minho dan Taemin yang meringkuk ketiduran. Mereka benar-benar capek. Biarpun orang yang mereka tunggu daritadi akhirnya muncul, tapi mereka tidak menyadari itu.

Suara dengkuran pun terdengar dari mulut Minho dimana bahunya ditiduri oleh kepala Taemin.

Key tidak bergeming melihat itu, Ia melangkahkan kakinya ke dalam. Ia lalu berjalan linglung ke arah sebuah kamar dimana terdapat seseorang yang dicintainya, kemungkinan sedang tertidur.

Cklek.

Benar saja, Jonghyun sudah tertidur ketika Key sampai di kamarnya.

Ia duduk di sisi tempat tidur sambil memandangi wajah damai Jonghyun. Tidakkah Jonghyun khawatir akan dirinya sampai-sampai orang itu bisa tertidur sepulas ini?

Setelah lama memandangi Jonghyun, Key berdiri lalu mulai menanggalkan seluruh kain yang menutupi tubuhnya hingga hanya tersisa kaus kaki dan beberapa gelang yang masih menempel.

Key lalu naik kembali ke atas ranjang Jonghyun. Dia meringkuk sampai mulutnya mendekat pada telinga Jonghyun.

“Jonghyun..” bisiknya seduktif. Jonghyun tidak bergeming, dia hanya menggerakkan sedikit tubuhnya setelah itu kembali tertidur.

“Jongh—hik—hyun..” Key kembali berbisik. Kali ini disertai dengan gerakan melingkar jari telunjuknya pada pipi Jonghyun.

“Engh..” berhasil, Jonghyun akhirnya membuka matanya walaupun kepingan nyawanya masih belum terkumpul.

“Hik! Jonghyun..” panggil Key sambil tersenyum.

Jonghyun menoleh ke arahnya. Dia mencium sesuatu seperti bau alkohol dan seluruh nyawanya langsung berkumpul ketika dia menyadari kalau semua itu berasal dari tubuh Key.

“Key..” kagetnya sambil terduduk. Jonghyun bertambah kaget melihat keadaan Key yang bertelanjang bulat di depannya.

“Apa yang kau lakukan?”

Key hanya tersenyum dan secara tiba-tiba memeluk tubuh Jonghyun, “Jonghyun hik saranghae hik!” racaunya tidak jelas dengan suara cegukan sebagai efek dari minuman keras di antara kalimatnya.

Jonghyun berusaha melepas pelukan Key, tetapi dia merasakan bajunya basah.

Betapa terkejutnya ia mendapatkan Key yang sedang menangis di bahunya.

“K-Key..” Jonghyun tidak tahu lagi harus berbuat dan mengatakan apa. Hatinya langsung luluh melihat keadaan Key yang sangat lemah seperti saat ini.

“Jonghyun hik kamu.. hiks” suara Key bercampur antara cegukan dan isakan, “kenapa kamu.. hik tidak mempercayaiku?”

Jonghyun membiarkan Key memeluknya, dia juga tidak membalas perkataan Key.

“Kau tahu—hik? Aku dan Woohyun.. tanggal.. hik.. 28 Desember itu pergi bersama untuk mencari kado Natal untukmu. Kami hik tidak berkencan” Jonghyun tercengang.

Apakah dia sudah salah paham?

“Bahkan.. hik.. Woohyun ikut membantuku untuk memilihkan hadiah natal untukmu. Dia sangat hik mendukung hubungan kita”

Jonghyun menatap mata Key yang sedang menatap matanya dengan mata yang begitu berair, mata kucing yang nampak berkilau karena air mata yang menggenangi pelupuknya, setetes, dua tetes cairan bening itu meluncur tak terkendali dari mata Key, membasahi pipi tirusnya dan jatuh ke dagunya. Hati Jonghyun terasa seperti diremas-remas melihat air mata itu, air mata yang membuatnya tak berdaya, air mata yang membuatnya lemah, hatinya kembali mencelos mendengar apa yang selanjutnya meluncur dari bibir pink Key, “Tapi.. hik.. kenapa kamu berselingkuh dengan Luhan hiks?” isakan itu kembali terdengar dari mulut kecilnya, isakan yang terdengar menyakitkan begitu sampai di telinga Jonghyun.

“Aku tidak berselingkuh dengan Luhan” aku Jonghyun akhirnya.

“Ta-tapi.. hiks dia bilang kau mencintainya hik bahkan dia memanggilmu Jongie.. hiks” Jonghyun mengusap kepala Key dengan sayang, dibawanya Key ke dalam dadanya. Dipeluknya tubuh rapuh tidak berbaju itu dengan sangat erat.

“Kau lupa? Kai dan Luhan itu mempunyai hubungan spesial” Jonghyun mencium rambut Key hingga wangi khas Key menyeruak masuk penciumannya, “dan kau pasti lupa juga.. Nama asli Kai itu kan Kim Jongin. Jongie yang Luhan maksud bukan aku, tapi Kai”

Key langsung melepaskan diri dari pelukan Jonghyun. Matanya kembali bersinar.

“Benarkah itu? Hik Berarti Jongie masih milik Kibummie?” tanyanya polos layaknya anak kecil. Jonghyun hanya bisa tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

“Horeee—hik!” Key berteriak kesenangan. Dia menaiki meja belajar di dekat kasur lalu mulai menari-nari tidak jelas. Mungkin untuk mengungkapkan kesenangannya.

“Key, hentikan itu.. Nanti kau akan jatuh, ayo cepat turun!” suruh Jonghyun, tapi Key tetap menari-nari di atas meja.

“Key, kalau kau tidak mau turun juga, aku akan merekammu!” ancamnya sambil mengeluarkan kamera, Jonghyun tidak bercanda, dia benar-benar merekam apa yang Key lakukan. Ia terkekeh melihat tingkah Key yang menurutnya campuran antara konyol-kyeopta-seksi jadi satu, bagaimana tidak? Key nampak konyol menarikan tarian-tarian yang tidak jelas, kyeopta karena ekspresi di wajah Key—senyumnya yang nampak berbunga-bunga dan matanya berbinar bagai bintang, dan seksi. Jelas seksi, Key melakukan semua adegan ‘berbahaya’ itu dengan keadaan polos tanpa sehelai kain pun melilit di tubuhnya—kecuali aksesoris dan kaos kakinya.

“Key!” Key menoleh ke arah Jonghyun, karena gerakan tarinya tadi banyak berputar dan pikirannya memang sedang berputar-putar karena efek alkohol, Key merasa tubuhnya sangat oleng. Dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya, tetapi ternyata dia tidak kuat.

“Key! Awas!” Jonghyun terkaget melihat tubuh Key yang akan jatuh. Dia segera menangkap tubuh Key sehingga tubuh Key mendarat di atas tubuhnya yang telentang.

Plak!

Kamera yang tadi Jonghyun gunakan untuk merekam Key terlempar cukup jauh. Tetapi, kamera itu tidak mati, malah kamera itu sekarang sedang memunculkan Jonghyun dan Key di layarnya.

Kamera itu pun merekam bagaimana Jonghyun menatap mata Key yang begitu membuatnya terlena. Jonghyun mulai mengusap pipi Key dan tatapannya berubah menjadi sorot mata yang menyiratkan nafsu birahi, entah sejak kapan.

“Key..”

To be continued…

Death Rose Eruka

 

Advertisements

One response to “JONGKEY | Behind the Facts Special | Our Quarrel

  1. bood thor, ngena banget bacanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s