[JONGKEY] Last Fantasy


A/N : Diperuntukkan untuk Alexandria Park Chinsun yang berulang tahun di bulan Oktober kemarin. Maaf ane baru sempet bikin nih ff. Ucapan selamat ultahnya udah ye wktu itu xp n maaf kalau ffnya ga sesuai harapan wkwk oh ya, ini juga buat 8monthsarynya JongKey Kingdom yang jatuh pada hari ini!! Saengil Chukae our Kingdom!

We Love you, Jongilliam, Keytherine..

tertanda,

Makhluk Tuhan Paling Lucu si Mak Erot JongKey generasi IX yang kecapekan gegara nulis ff super panjang ini dari HP *jempol bolong dah*

——————————————————

Pernahkah kamu berpikir?

Mungkin saja..

Jodohmu yang sekarang adalah jodoh orang lain di masa lalunya.

Dan pernahkah kamu berpikir?

Mungkin saja, dia akan kembali pada jodohnya yang dulu..

..Lalu pergi meninggalkanmu..

“Kau mau Jonghyun sembuh kan?”

Kudengar suara itu untuk yang ke sekian kalinya.

Aku memutuskan untuk tidak menjawab, seperti yang aku lakukan sebelumnya. Tapi, lama kelamaan aku merasa risih, suara itu terus terngiang di dalam kepalaku.

Entah dari mana suara itu berasal. Aku juga tidak tahu apakah ini mimpi atau bukan karena suara itu seperti hembusan angin yang lewat, terdengar tetapi tidak terlihat.

“Jonghyun pasti sembuh”

“Dia tidak akan bangun”

Cih! Sok tahu sekali.

“Dia tidak akan bangun kecuali kamu mau ikut denganku”

“Kemana?”

Pandangan mataku tiba-tiba gelap. Semuanya terlihat hitam.

“Kau akan tahu nanti..”

Cit cit cit

Suara burung bernyanyi memenuhi pendengaranku, membuatku membuka mata perlahan.

Aih.. Lampu yang tepat berada di atasku membuat penglihatanku silau. Refleks, aku kembali menutup mataku lalu kutimpa mataku yang tertutup dengan telapak tanganku.

“Kau sudah bangun?”

Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari samping.

Aku mengingat-ingat memori dalam otakku hingga kuyakini satu hal..

Aku kenal suara ini.

Suara yang sangat kurindukan..

Dari orang yang juga kurindukan..

Aku membuka mataku lalu mengerjap-ngerjapkannya. Kutolehkan kepalaku ke samping dan dapat kulihat dia.

Dia yang selama ini ku tunggu.

Dia yang selama ini ku jaga.

Dia yang selama ini ku damba.

Dia..

Masih terlihat sama.

Garis wajahnya yang sempurna, mata indahnya, rahang tajamnya, dan bibirnya.

Bibirnya yang selalu membentuk senyuman tulus, dengan deretan gigi rapi yang mengagumkan.

Benar, tidak pernah gagal membuatku mengaguminya.

Tapi, kenapa dia duduk di sampingku dan kenapa aku yang tertidur di ranjang rumah sakit ini? Yang sakit kan dia!

Jangan bilang kalau dia sudah sadar sejak semalam, lalu dia melihatku terduduk ketiduran di sampingnya sehingga dia menidurkan tubuh lelapku di atas ranjangnya.

Ah! Jangan bilang juga kalau dia menjaga tidurku semalaman.

Jinjja, yang sakit itu siapa sebenarnya? Seharusnya kau tidak lengah mengamatinya, Kim Kibum!

“Kau tidak apa-apa kan? Apa ada yang sakit?” Apa lagi yang ditanyakan dinosaurus ini? Harusnya kan aku yang bertanya begitu padanya!

Ingin mempermainkanku, hah?

“Maaf, aku tidak tahu dimana rumahmu. Makanya aku tidak mengantarmu pulang, biarpun dokter bilang kalau kau sudah boleh pulang sejak kemarin malam”

Dia mendekat padaku lalu menempelkan keningnya pada keningku.

“Masih sedikit demam. Kenapa kau diam di tengah hujan salju? Tubuhmu pasti tidak akan kuat. Untung saja aku menemukan tubuhmu yang pingsan itu dan membawanya kemari. Kalau tidak, kau mungkin akan berubah jadi patung es dan mati kedinginan” ujarnya sambil tertawa renyah, tawa khasnya. Sebenarnya, aku tidak mengerti apa yang baru saja dia katakan, tapi aku tetap diam, seakan tersihir karena perlakuan lembutnya yang tiba-tiba mengelus rambutku sambil menatap lurus ke arah manik mataku.

“Aku Jonghyun, Kim Jonghyun. Siapa namamu?”

Kim Jonghyun, permainan seperti apa sih yang sedang kau lakukan padaku?

Tentu saja aku mengetahui namamu dan kau mengetahui namaku, bodoh!

“A–” Eh? Kenapa suaraku tidak mau keluar?

“A.. Kh..” Aku memegang leherku.

Apa ada yang salah dengan tenggorokanku?

Kenapa suaraku tetap tidak mau keluar?

Jonghyun memandangku keheranan, alisnya bertautan.

“Kau..” Dia menatap miris ke arahku.

“A–akh..” Aku masih mencoba mengeluarkan suaraku, tapi kenapa tidak ada satu katapun yang keluar?

Sial, apa yang terjadi padaku?!

Kalau ini adalah salah satu permainan bodoh darimu, aku bersumpah akan melempari muka reptilmu dengan satu ton keranjang cucian kotor, Kim Jonghyun!

“Sudahlah..” Dia memegang tanganku yang masih berada di atas leherku lalu menyingkirkannya, “jangan memaksakan diri. Aku mengerti kalau kamu..”

Dia menggaruk belakang kepalanya dengan tangan lainnya yang bebas sambil menggigit bibir bawahnya, “Tidak bisa.. bicara”

Aku terdiam. Seluruh tubuhku mendadak kaku. Pikiranku kosong.

Apa sih yang Jonghyun mau dariku?

Ini sudah benar-benar keterlaluan! Candaannya kelewatan!

Apa maksudnya mengataiku bisu!

Hei, dia kenal aku lebih dari siapapun kan? Kenapa dia.. Aish, jinjja!

Aku merasa mataku panas.

Entahlah.. Kata-katanya barusan terasa menusuk hatiku dan aku.. Kenapa aku harus merasa sakit hati? Aku kan tidak bisu!

“Maaf..” Dia mendekatkan dirinya padaku, duduk di sampingku.

Dia lalu membantuku duduk dan menghapus aliran air yang berasal dari kedua mataku.

Sejak kapan aku menangis?!

“Aku tidak bermaksud.. menyinggung hal itu” ucapnya lembut.

Jonghyun mengusap pipiku lalu tersenyum lagi.

“Tiga hari lagi, tahun baru 2009 akan datang dan kau pasti akan menerima keajaiban-keajaiban baru di dalam hidupmu”

Eh? Tahun baru 2009?

Aku menghentikan tangisku sambil menatap aneh ke arahnya.

Tiga hari lagi kan tahun baru 2012.

Otak dinonya terbentur apa sih? Masa hal sepele seperti itu saja tidak ingat?

Mataku tiba-tiba menangkap papan nama yang tertempel di atas tempat tidur, tepat di belakang kepalaku.

Disitu tertulis dengan jelas tanggal dimana Jonghyun masuk ke rumah sa–

Eh?

29 Desember 2008?

“Karena aku tidak tahu namamu, nama pasiennya masih kosong” Jonghyun menunjuk kolom kosong di papan itu. Mungkin, dia berusaha menjelaskan kepadaku yang terdiam menatap papan itu.

Tapi, kenapa harus namaku yang tertulis disitu? Yang sakit kan Jonghyun!

Tunggu, dia bilang kalau dia menemukan tubuhku yang pingsan pada hari dimana hujan salju turun.

Lalu, suaraku..

Dan.. Tanggalnya..

Tidak mungkin!

Aku menggerak-gerakkan tanganku dan mulutku walau tidak mengeluarkan suara.

“Sekarang tanggal berapa?” Jonghyun menyuarakan gerakan tubuh dan mulutku tadi secara tepat.

Aku mengangguk, meyakinkan bahwa dia telah menebak dengan benar apa yang ingin kutanyakan.

“Tentu saja sekarang tanggal 30 Desember 2008” jelasnya membuat mataku terbelalak. Dapat kurasakan mulutku pun sedikit terbuka.

Apa aku tidak salah dengar?

Tapi, telingaku masih normal.

Tapi, tapi, tapi..

Ini semua tetap tidak masuk akal!

“Ehm.. Boleh aku bertanya?” Tanya Jonghyun ragu-ragu, menilik sedari tadi aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

“Rumahmu di sebelah mananya Daegu?”

Daegu?! Apa aku sedang berada di Daegu sekarang?

Aku menatap Jonghyun dengan wajah yang kuyakini sangat konyol.

“Jangan bilang kalau kau lupa ini adalah Daegu hahaha” tawanya lagi, kali ini sangat lepas.

Lama kelamaan, dia memelankan tawanya lalu berhenti karena melihatku yang tidak merespon ucapannya. Matanya menatap tidak percaya kepadaku.

“Serius? Kau tidak tahu kalau ini Daegu?”

Aku menggeleng.

“Lalu, rumahmu?”

Aku menggelengkan kepalaku untuk yang kedua kalinya.

Hah..

Sejak kapan aku masuk ke dalam permainan Jonghyun ini?

Tapi, aktingnya terlalu nyata.

Aku yakin dia tidak sedang bercanda.

Dan percaya atau tidak..

Sepertinya..

Aku kembali ke masa lalu.

Aku berada di rumah Jonghyun sekarang.

Setelah keluar dari rumah sakit, dia bilang kalau aku boleh menginap di rumahnya sampai aku mengingat semuanya.

Rumahnya besar dan.. Mewah!

Iya, aku tentu saja pernah–malah sering–ke rumah Jonghyun, tapi tidak disini. Tidak di masa lalunya.

Sekarang, aku dan Jonghyun tidak lebih dari dua orang yang baru saja bertemu dan saling kenal. Aku mungkin tahu tentangnya karena dia tidak berubah, tapi dia tidak mengenalku.

Miris memang.

Dan yang lebih miris adalah mengetahui kalau itu adalah bukan mimpi–walau aku berharap ini semua mimpi.

Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa setenang ini, tidak tahu bagaimana caranya kembali ke masa depan.

Mungkin, aku harus berusaha menikmatinya.

Lagipula, aku bisa melihat wajah Jonghyun yang masih muda kkkk. Dia tetap tampan, ani, dia sangat tampan. Aih, kalau aku mengatakan bahwa dia tampan, pasti dia akan tersenyum lebar dan memelukku erat seperti waktu itu.. Tapi, itu tidak akan terjadi sekarang karena kita baru saja mengenal dan berteman.

Deg!

Teman..

Ya, sekarang aku adalah temannya.

Hanya temannya.

“Kau sedang apa?”

Aku terhenyak. Kutolehkan kepalaku ke samping untuk bertemu dengan wajahnya yang menyembul dari balik pintu.

Aku tersenyum lalu kukibaskan tanganku. Menyuruhnya masuk ke kamarku.

Dia menurut lalu berjalan.

“Daritadi senyam-senyum sendiri. Gila ya?” Godanya sambil duduk di atas kasur, di sebelahku.

Kutonjok bahunya pelan sebagai aksi protes walau senyum tetap tak bisa kusembunyikan dari wajahku.

Aku ingin mengomelinya. Tapi, sekali lagi, aku harus menerima kenyataan bahwa.. Aku bisu.

Ya, aku bisu di sini. Saat ini, pada masa ini.

“Emh.. Key..”

Aku melirik tajam ke arahnya.

“Eh, maaf. Aku membuat panggilan sendiri untukmu tanpa meminta persetujuanmu, Kibum”

Aku menggeleng.

Dia benar-benar Jonghyun. Bahkan, di masa lalu pun, dia tetap Jonghyun yang ku kenal.

“Kenapa? Kau mau kupanggil ‘Key’?”

Aku mengangguk lalu tersenyum.

Sebelumnya, aku memberitahu nama asliku lewat tulisan di atas secarik kertas.

Dan dia malah membuat nama panggilan tersendiri untukku.

Persis seperti apa yang dilakukan Jonghyun ketika aku pertama kali bertemu dengannya dulu, bukan di masa ini.

“Baiklah, Key. Aku hanya ingin memberi tahu kalau di rumahku ini jarang ada orang. Orang tuaku sibuk bekerja di luar negeri. Jadi, jangan heran kalau suasananya sepi”

Aku membulatkan mulutku membentuk huruf ‘O’ sebelum mengangguk lagi.

Jonghyun tersenyum lalu mengacak-acak rambutku yang tadinya tertata rapi. Dia benar-benar hobi merusak rambutku, membuatku menggembungkan pipiku, pura-pura marah.

“Jangan marah..” Serunya sambil mencubit kedua pipiku lalu tertawa.

“Oh ya, Key.. Terima kasih” katanya tiba-tiba setelah tawanya berhenti.

Aku mengernyit heran sambil memandangnya.

Seakan mengerti keherananku, dia pun melanjutkan perkataannya.

“Terima kasih karena sudah menemaniku disini. Hm.. Mungkin ini terdengar gila, tetapi aku merasa sudah sangat mengenalimu. Dan.. entahlah” Jonghyun mengusap pipiku, tangannya turun hingga sampai di daguku. Dia lalu menarik daguku ke atas, membuat mataku semakin menatap lurus ke dalam matanya. Matanya yang memancarkan pantulan diriku. Hanya diriku.

“Sepertinya.. wajahmu tidak asing lagi bagiku”

Aku merasakan dinginnya hembusan angin malam yang masuk melewati jendela kamar yang kubiarkan terbuka.

Seiring dengan degup jantungku yang berdetak cepat karena tatapan matanya, jarak di antara kami pun perlahan memudar.

Terus memudar..

Dan semakin memudar.

Mata Jonghyun sangat meneduhkan, membuatku terhipnotis. Akal sehatku lenyap entah kemana.

Aku pun tidak munafik.

Aku bersiap menutup mataku ketika kulihat Jonghyun telah menutup secara perlahan kedua matanya.

“Jonghyun!” teriakan yang kemungkinan berasal dari lantai bawah rumah Jonghyun itu–sepertinya–membuat akal serta pikiran Jonghyun kembali. Dia segera menjauhkan tubuhnya dariku, begitu pun aku.

Aku dapat melihat semburat merah yang ada di pipinya, hal yang mungkin tak luput juga dari kedua pipiku saat ini.

“Jonghyun!” panggil orang yang berteriak itu untuk kedua kalinya.

Jonghyun segera terkesiap sambil menampar kedua pipinya dengan tangannya, berusaha membuat otaknya sadar.

“Maaf, Key.. Sepertinya Hyungku datang. Aku akan menemuinya dulu” ujarnya cepat lalu pergi keluar dengan sedikit berlari.

Meninggalkanku sendirian dengan degup jantungku yang masih berdegup sangat keras.

Belum sempat detakan jantungku kembali normal, aku telah dikejutkan oleh suara pintu kamarku yang dibuka secara kasar.

Aku memandang orang yang membuka pintu itu dengan bingung. Dia terdiam di ambang pintu, kedua tangannya terlentang menahan sisi pintu.

Rambut orang itu berwarna cokelat, matanya sipit membentuk bulan sabit dan pipinya chubby. Aku tidak mengerti mengapa matanya menelusuriku dari atas sampai bawah sambil sesekali tersenyum. Aneh.

“Aih, Hyung! Sudah kubilang tidak ada apa-apa!” Aku mendengar celotehan Jonghyun dari arah belakang namja itu. Namja itu tersenyum sekali lagi kepadaku lalu berbalik menatap Jonghyun. Mereka berdua masuk ke kamarku, berdiri di dekat pintu.

“Ini yang kau bilang ‘tidak ada apa-apa’?” Tanya namja itu sambil menunjukku.

“Dia cu-cuma.. A-aku hanya..”

“Tuh kan, kenapa suaramu bergetar kalau tidak ada apa-apa?”

“Aku hanya menyuruhnya tinggal disini untuk sementara waktu karena suatu alasan. Puas?”

“Alasan?”

“Aku tidak mau memberitahukannya padamu”

Namja itu menggelengkan kepalanya karena Jonghyun tidak meresponnya dengan baik. Dia lalu berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku.

“Annyeong.. Aku Lee Jinki. Aku Hyungnya Jonghyun. Namamu siapa?” Aku bingung harus menjawabnya dengan apa. Ku cari suatu alat yang bisa membantuku untuk memberitahukan namaku padanya, tapi nihil.

“Namanya Kim Kibum” bantu Jonghyun dengan tangan yang disilangkan di dada.

“Aku tidak bertanya padamu, makhluk purba! Aku bertanya pada si manis ini” aku dapat melihat Jonghyun memutar kedua bola matanya dari ekor mataku.

Sementara itu, Jinki Hyung mengamatiku dengan senyuman.. antusias?

Membuatku bertambah bingung harus mengatakan apa.

Aku lalu menggerak-gerakkan tanganku, berusaha memberi tahu keadaanku.

“Kau..?” tanya Jinki Hyung menggantung. Dia memindahkan arah pandangnya pada Jonghyun yang hanya bisa mengedikkan bahu.

“Ah, maaf.. Aku tidak tahu” ucapnya menyesal sambil menyalahkan Jonghyun dengan gerakan matanya.

Aku menggeleng pelan lalu tersenyum hambar.

“Em.. Ya sudah, aku hanya ingin mengecek keadaan Jonghyun, tapi ternyata dia sudah ada teman. Aku tidak perlu khawatir lagi untuk meninggalkannya sendirian, benar? Aku titip Jonghyun ya, Kibum..” putus Jinki Hyung seenaknya sambil beranjak dari atas tempat tidur.

Dia lalu menghampiri Jonghyun yang masih berdiri di dekat pintu.

“Mau kemana lagi, Hyung?”

“Aku masih ada pekerjaan. Lagipula, kau kan sudah ada teman. Jadi, aku bisa tenang mengurusi pekerjaanku hihihi” Jinki Hyung mengacak rambut Jonghyun, persis seperti cara Jonghyun mengacak rambutku, “aku pergi dulu, Ok? Jangan berbuat yang macam-macam pada Kibum” pesannya sambil terus cekikikan.

“Kalau orang ini melakukan hal tidak senonoh padamu, jangan sungkan untuk melapor padaku, Kibum!” teriak Jinki Hyung sambil berlari menghindari lemparan sepatu dari Jonghyun.

“Awas kau, Hyung! Pulang nanti, kau pasti tidak akan selamat!” ancam Jonghyun. Aku tertawa kecil melihat tingkah dua orang di depanku.

Tapi, aku menyadari sesuatu yang menjanggal.

Tatapan Jonghyun.

Ya, tatapannya yang mengikuti arah kepergian Jinki Hyung.

Tatapannya itu.. terlihat..

..tidak biasa.

Aku terduduk di balkon kamarku bersama Jonghyun yang berada di sebelahku.

“Dia bukan kakak kandungku” cerita Jonghyun membuatku tercekat.

Pantas saja marga mereka berbeda.

Lagipula, Jonghyun yang ku kenal juga tidak pernah mengatakan bahwa dia mempunyai seorang kakak.

“Orang tuaku mengadopsinya untuk menemaniku” lanjutnya sambil menengadahkan kepala ke atas langit, menatap taburan bintang-bintang, “tapi, sepertinya itu hanya alasan mereka saja. Jinki Hyung sangat pintar dan akhirnya dia mengurus perusahaan Appa yang berada di Korea sementara Appa mengurusi perusahaan lainnya yang berada di luar negeri” tambahnya dengan raut wajah yang.. Err.. Sulit diungkapkan.

Jujur, Aku tidak pernah melihat Jonghyun yang seperti ini.

Matanya pun menyiratkan kesepian yang mendalam.

“Ah, kenapa aku malah mengeluarkan keluh kesahku padamu? Maaf, Key.. Ini semua gara-gara kelinci berpipi chubby itu! Dia benar-benar menyebalkan!” tawanya. Aku hanya terdiam, memerhatikan mimik mukanya.

Ada yang berbeda.

Aku tahu betul semua tentang Jonghyun, bahkan Jonghyun yang ada di hadapanku sekarang sekalipun.

Aku mengenalnya dan mengerti tentangnya.

Karena mereka orang yang sama dari masa yang berbeda.

Aku menarik ujung lengan bajunya agar dia melihat ke arahku. Setelah mendapat perhatiannya, aku pun mulai menggerakkan tanganku.

“Kamu..” Jonghyun menebak gerakan tanganku.

“Me..” Dia terlihat kesusahan mengartikan kata selanjutnya, “me-nyu..”

Jonghyun mengernyit, “Kamu menyukainya?”

Aku mengangguk karena akhirnya Jonghyun tahu apa yang ingin kutanyakan.

“Kamu siapa? Dan ‘menyukainya’? ‘Nya’nya itu siapa?” Aku membuat muka terserius yang aku bisa sambil menatap tajam kepadanya.

Aku tahu kamu tahu, Kim Jonghyun.

“Baiklah, baiklah. Aku mengerti maksudmu” Jonghyun menarik nafasnya dalam sambil terlihat berpikir, “apa sebegitu jelasnya kah perasaanku?” tanyanya akhirnya.

Aku tidak tahu harus senang karena tebakanku benar atau aku harus.. sedih. Sejujurnya, aku tak dapat menyangkal perasaan sakit yang tiba-tiba menghujam hatiku saat ini.

“Dia.. dia adalah sosok kakak, teman, sahabat, bahkan orang tua bagiku. Dia selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang. Di saat aku membutuhkan orang tuaku, tetapi mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Dia menghiburku di kala aku sedih dan dia selalu membuatku bahagia. Dia melakukan itu semua padahal aku tahu, banyak pikiran yang ada di dalam otaknya. Tapi, dia tidak pernah mengatakan hal itu padaku. Dia hanya membagi kebahagiaan padaku, sedangkan kesedihannya dia simpan sendiri. Dia bilang dia menyayangiku lebih dari siapapun. Dan dia berjanji akan selalu membuat orang yang disayanginya tersenyum. Maka dari itu.. Ah, maaf.. Air mataku keluar” Jonghyun menyeka air matanya dengan punggung tangan sementara aku masih terdiam menunggu kelanjutan kisahnya.

“Hah..” Jonghyun menarik nafasnya lagi, “maka dari itu.. Aku ingin membuatnya bahagia karena aku juga menyayanginya lebih dari siapapun”

Lagi.

Perasaan sakit itu kembali melanda hatiku.

Aku tidak bisa bohong.

Aku tahu kenapa perasaan itu muncul.

Aku tahu.

“Untuk itu, aku tidak tahu sudah berapa ucapan ‘maaf’ yang kukatakan padamu. Tapi, untuk hal yang ini, aku benar-benar meminta maaf” Jonghyun kembali memandangku, “maaf atas perlakuanku tadi sebelum Jinki Hyung datang. Aku terbawa suasana. Seharusnya, kau melakukan ‘itu’ dengan seseorang yang benar-benar kau cintai, bukan aku”

Jlegar!

Langit yang tadinya teduh tiba-tiba berubah mendung.

Ribuan, bahkan jutaan tetesan hujan langsung mengguyur permukaan bumi tanpa kompromi.

“Ah, hujan! Ayo, Key.. Kita kembali ke dalam. Nanti kita kedinginan” ajak Jonghyun sambil menarik tanganku masuk ke dalam.

Aku hanya pasrah, perkataan Jonghyun selanjutnya tidak terdengar oleh telingaku karena aku terlalu sibuk menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku.

Kau tidak mengerti, Jonghyun..

Tubuhku tidak akan kedinginan.

Ya, setidaknya tidak akan sedingin hatiku saat ini.

Hatiku yang sudah kau hancurkan.

“Aku menyerah”

“Kalau kau menyerah, ketika kau kembali ke masa depan, orang itu akan benar-benar meninggalkanmu”

“A-apa?! Tapi, dia yang disini sudah mencintai orang lain!”

“Karena itu kau harus meyakinkannya kalau kau adalah orang yang tepat baginya. Kau mencintainya kan?”

“Ta-tapi.. Dia sudah bahagia. Yang terpenting untukku adalah kebahagiannya”

“Kau yakin?”

“Aku..”

Ya, aku hanya ingin dia bahagia.

“Sangat yakin”

“Baiklah, semua keputusan ada di tanganmu. Tapi, kau tidak bisa kembali ke masamu yang sebenarnya sampai malam tahun baru tiba”

“Eh? Tapi aku mau pulang sekarang! Aku takut tidak bisa melepaskannya kalau aku terlalu lama berada disini!”

“Aku tidak bisa. Nikmati saja saat-saat terakhirmu bersamanya karena saat pulang nanti, kau tidak akan bertemu dengannya lagi, kalian sudah tidak mempunyai ikatan yang dapat membuat kalian bersatu”

Hari ini aku memasakkan Jonghyun sarapan pagi.

Ya, aku hanya perlu bersabar selama beberapa jam lagi sampai tahun baru tiba dan semuanya akan berakhir.

“Pagi..” sapa Jonghyun sambil berjalan menuju dapur.

Aku hanya tersenyum membalas sapaannya.

“Eh? Kenapa kau memasak, Key? Kan ada ahjumma yang bertugas untuk memasak, kau tidak perlu..”

Aku menghentikan ucapannya dengan menggelengkan kepalaku.

“Tapi, Key..” Aku mendorongnya duduk di meja makan sambil mengisyaratkan dirinya untuk diam.

“Baiklah..” serunya menyerah.

Aku kembali menyibukkan diriku dengan bahan-bahan dan alat-alat masakan yang ada di depanku.

Tanganku yang sedang memotong sayuran tiba-tiba berhenti karena aku merasa ada yang memperhatikan gerakanku. Ketika kutolehkan kepalaku ke belakang, benar saja, Jonghyun sedang menatapku sambil tersenyum aneh.

“Ehehehe, ketahuan deh. Abisnya, kau terlihat lihai sekali dengan urusan dapur, Key..” katanya berusaha menjelaskan, “membuatku terpesona saja”

Deg!

Tenang, Key. Ini hanya kebetulan.

Jangan mengingatnya lagi.

Oke, fokus dengan pekerjaanmu.. Fokus..

15 menit kemudian, aku sudah menghidangkan makanan yang kumasak di atas meja.

Jonghyun menatap masakanku dengan takjub dan mulai melahapnya.

Aku ikut memakan masakanku, duduk berhadapan dengannya.

Tes tes tes.

Aku terkejut melihat air yang tiba-tiba keluar dari mata Jonghyun. Segera saja kuhentikan aktivitas sarapanku.

Apakah masakanku tidak enak?

“Ah, maaf Key.. Masakanmu enak. Sungguh. Aku tidak tahu mengapa air mataku keluar” Jonghyun menyusut air mata dengan ujung baju tidurnya, “aku merasa.. Begitu familiar dengan rasa masakanmu. Sepertinya ini bukan kali pertama aku merasakannya. Dan aku.. Entahlah, kenapa aku merasa kalau aku tidak akan pernah merasakan masakanmu ini lagi ya, Key?”

Deg!

Jangan berkata seperti itu Jonghyun, kumohon.. Itu hanya akan mempersulit diriku untuk melepaskanmu.

“Ah, sepertinya air mata ini keluar karena rasa masakanmu benar-benar enak..”

Bruk!

Aku segera bangkit dan berlari. Tak kupedulikan suara teriakan Jonghyun yang memanggil namaku. Aku masuk ke dalam kamar mandi lalu menguncinya.

Menangis dalam diam.

**

“Morning, Yeobo..” Seorang laki-laki bertubuh kekar melingkarkan lengannya di pinggang namja lain–yang terlihat lebih feminim–dari belakang.

“Aish, Jjong.. Berhenti menggangguku, aku sedang membuat sarapan untuk kita” risih laki-laki yang lebih feminim itu.

“Aku kan hanya memeluk pinggangmu, Yeobo.. Bukan mencium tanganmu. Jadi, tanganmu masih bisa membuat sarapan kan? Lagipula, aku selalu terpesona akan sosokmu yang sedang memasak”

“Tapi, Jjong..”

“Ayolah, Key.. Aku hanya ingin memelukmu di cuaca pagi yang dingin ini” lelaki bernama Jonghyun itu memberikan alasan sejujurnya, tak lupa ditambah dengan seulas senyum manis di wajah-baru-bangun-tidur miliknya.

“Ck. Terserahlah” jawaban Key membuat Jonghyun–kali ini–tersenyum menang lalu mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Key.

Andai Jonghyun bisa melihat, sebenarnya Key juga tak kuasa menyunggingkan senyumnya sambil terus menyibukkan diri.

Setelah beberapa menit, masakan Key pun jadi.

“Jjong.. Lepas pelukanmu dan bantu aku menyiapkan sarapan kita” Jonghyun cemberut ketika pelukannya pada Key terlepas, tetapi ia tetap membantu Key menyiapkan alat makan mereka.

Setelah siap, mereka makan dengan percakapan-percakapan ringan di antara mereka.

“Key, kau tahu? Masakanmu adalah yang terbaik! Tidak ada satu koki pun yang dapat menandinginya!”

“Gombal”

“Aku serius, Key.. Aku yakin, aku pasti akan menangis jika membayangkan bahwa hari esok aku tidak bisa dan tidak akan pernah memakan masakanmu lagi”

“Hentikan gombalanmu, Tuan Kim Jonghyun..”

“Aku benar-benar serius.. Aku mungkin akan menangis ketika aku mencicipi masakan terakhir darimu”

Key tak kuasa menahan tawa mendengarnya, “Hahaha baiklah.. Aku berjanji tidak akan membuat kau menangis karena aku akan membuatkan masakan untukmu selamanya”

“Benarkah? Kau janji?”

“Janji”

Aku tidak bisa, Jonghyun..

Aku tidak bisa menepati janjiku..

Maafkan aku..

**

“Key.. Kau tahu? Aku ingat cerita tentang putri duyung karenamu”

Aku mengernyit.

“Iya, kau tahu kan? Putri duyung itu mengadakan kontrak dengan penyihir licik agar dia mengubah sirip si putri duyung menjadi sepasang kaki. Dia rela melakukan itu demi bertemu pangeran pujaannya walaupun ketika bertemu dengan sang pangeran, putri duyung itu kehilangan suaranya sehingga dia tidak bisa mengutarakan perasaannya”

Ah, cerita itu! Tentu saja aku tahu!

“Bukankah dia sama sepertimu? Kehilangan suara. Tapi, kau tidak mengadakan kontrak dengan penyihir licik dan akan menghilang ketika waktumu sudah tiba kan? Hahaha” aku tersenyum miris mendengar perkataan Jonghyun.

Kau salah, Jonghyun..

Aku akan menghilang dan waktuku hanya tinggal beberapa jam lagi.

Lagipula, putri duyung itu tidak memiliki nasib yang sama sepertiku.

Sang pangeran membalas perasaannya sehingga suaranya kembali dan dia dapat menjadi manusia, selamanya berada di sisi pangeran.

“Tapi, ada yang lebih penting. Cerita itu.. Yang sekarang menyebar bukanlah cerita yang asli” ucapan Jonghyun tersebut sontak membuat perhatianku kembali padanya.

“Kalau kau coba menelusuri sejarah cerita anak-anak. Kau akan tahu, akhir kisah dari cerita-cerita itu sudah dimanipulasi karena terlalu kejam dan akan menyebabkan mental yang buruk bagi anak-anak” Jonghyun menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, “tidak ada cerita yang berakhir bahagia. Semua cerita itu berakhir tragis, tak terkecuali putri duyung. Kau tahu apa akhir kisahnya yang sebenarnya?”

Aku menggeleng pelan. Entah kenapa aku merasa.. Entahlah. Aku sendiri sulit menjelaskannya.

“Putri duyung itu terlambat mengutarakan rasa sukanya pada sang pangeran. Sang pangeran terlanjur menikah dengan putri lain yang tidak dia cintai dan putri duyung itu.. menghilang. Dia berubah menjadi buih-buih air lalu meletus. Keberadaannya pun sama seperti buih-buih air lainnya. Setelah meletus, dilupakan begitu saja. Sang pangeran tidak pernah mengingatnya, ani, bahkan memori tentang putri duyung sama sekali menghilang dari ingatannya, ingatan orang-orang di kerajaan, bahkan hilang dari ingatan-ingatan keluarganya. Tragis sekali, bu–eh, kenapa kau menangis Key?”

Jonghyun kelabakan karena aku lagi-lagi menangis di depannya.

Jjinja, kenapa aku lemah sekali?

“Ah, Key.. Jangan menangis. Kau menangis karena ceritaku? Hush.. tidak seharusnya aku menceritakan kisah itu padamu. Aku hanya baru menemukan fakta itu kemarin dan aku bermaksud membaginya padamu karena orang-orang jarang mengetahui fakta itu. Ssh.. Maafkan aku”

Jonghyun memelukku. Aku semakin tidak bisa menahan tangisku.

Pelukannya benar-benar hangat seperti biasa, membuatku ingin selalu merasakan pelukan ini selamanya.

Tapi, aku tidak boleh egois.

“Sudah, sudah, Key.. Lagipula, kau tidak akan menjadi buih seperti putri duyung itu kan?”

Kau salah lagi, Jonghyun..

Aku akan menjadi buih dan kau akan melupakanku.

Putri duyung, nasib kita berdua memang benar-benar tragis. Iya kan?

Setelah menenangkanku tadi, Jonghyun pun pergi.

Sebelumnya, dia bertanya padaku apakah Jinki Hyung mempunyai perasaan yang sama dengannya dan aku tentu saja menjawab ‘iya’. Bahkan, aku yang menyuruhnya pergi kepada Jinki Hyung untuk mengutarakan perasaannya itu.

Bodohnya aku.

Padahal hatiku teriris setelah aku mengatakan itu. Padahal air mataku turun ketika aku mengatakan itu.

Ya, biarpun aku mengatakannya tidak dengan lisanku melainkan dengan bahasa isyarat dari tubuhku. Tapi, tetap saja rasa hancur di dalam hatiku tidak akan hilang.

Berkurang pun tidak.

Hah.. Aku jadi ingin tahu..

Bagaimana Jonghyun di masa ku bisa menyukaiku ya?

**

“Jjong..”

“Hm?”

“Kenapa kau bisa suka padaku?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Jawab saja pertanyaanku!”

“Jawab dulu pertanyaanku”

“Jjong..” Key memelaskan mukanya di hadapan Jonghyun. Membuat Jonghyun menghentikan kekehannya.

“Kenapa ya? Aku juga bingung kenapa aku bisa suka padamu” jawaban Jonghyun pun membuat Key menekukkan mukanya.

“Hahaha jangan menunjukkan wajah seperti itu, yeobo.. Kau terlihat tambah menggemaskan hahaha” tawa Jonghyun sambil mencubiti pipi Key.

“Jjong.. Aku serius” melihat raut muka Key yang benar menunjukkan keseriusan, akhirnya Jonghyun pun berhenti tertawa.

“Em.. Kau serius ingin tahu, Key?” Key menganggukkan kepalanya dengan tidak sabar.

“Hm.. Aku.. Aku menyukaimu karena.. Karena kejujuranmu” aku Jonghyun malu-malu.

“Kejujuran?”

“Sebenarnya, banyak yang membuatku menyukaimu. Tapi, aku paling suka dengan kejujuranmu. Kau tidak pernah berbohong walau kejujuranmu akan ditentang orang lain. Kau akan menjadi dirimu sendiri yang apa adanya. Dan aku menyukai Kim Kibum yang apa adanya itu. Aku mencintaimu, Key..”

**

Aku juga mencintaimu, Jonghyun..

Tapi, aku tidak bisa jujur akan hal itu sekarang..

Eh?!

Tidak bisa jujur?

Jonghyun tidak akan menyukaiku kalau aku tidak jujur bukan?

Tapi.. Saat ini..

Ah, kenapa kau kalah dengan pribadi yang mudah menyerah di dalam hatimu itu?

Tentu saja Jonghyun tidak akan melirikmu sekarang karena kau tidak jujur padanya!

Aish..

Aku harus jujur padanya.

Walau pada akhirnya dia tetap akan memilih Jinki Hyung, setidaknya aku harus jujur padanya dan jujur pada perasaanku.

Kulirik jam kecil yang ada di atas mejaku.

Sial, waktuku tinggal 5 menit lagi! Dan yang lebih parah adalah aku tidak tahu dimana Jonghyun serta Jinki Hyung berada!

Bagaimana ini?

“Key.. Aku kembali untuk membawa kunci mobilku yang tertinggal”

Bingo! Ternyata aku masih diberi kesempatan.

Segera kularikan kakiku keluar dari kamar. Aku pun menuruni tangga dengan langkah yang benar-benar cepat.

Sesampainya di bawah, aku melirikkan pandanganku dengan peluh yang berada di sekitar keningku.

Kemana perginya Jonghyun?

Shit! Di saat seperti ini, suaraku malah tidak ada! Padahal aku ingin memanggil namanya!

Tik tok tik tok tik tok

Ya tuhan! Tinggal 3 menit lagi.

Kenapa rumah ini luasnya seperti istana sih? Aku harus mencari Jonghyun di mana?

Oke, tenang Key, tenang..

Jonghyun tadi bilang kalau dia akan mengambil kunci mobilnya yang tertinggal.

Tempat paling mungkin dimana kunci mobil itu berada adalah..

Kamar Jonghyun!

Aku berlari lagi dengan kecepatan yang terus kupercepat.

Kenapa kamar Jonghyun jauh sekali sih?!

Bruk!

Ah! Tubuhku terjatuh karena tidak sengaja tersandung kursi.

Serr~

Darah segar pun mengalir dari lutut kananku.

Aku meringis sebentar lalu mencoba berdiri, meneruskan lariku. Lututku benar-benar ngilu, tapi aku tidak boleh menyerah.

2 menit lagi..

Brak!

Kubuka pintu kamar Jonghyun dengan kasar.

Hosh hosh

1.5 menit lagi..

Jonghyun yang sepertinya hendak pergi keluar dengan kunci mobil yang sudah berada di tangannya terheran-heran melihatku serta keadaanku yang berantakan.

“Key? Kenapa kau keringatan seperti itu?” Dia memandangku dari atas ke bawah lalu matanya terbelalak horror ketika melihat darah di lututku.

“Key, lututmu berdarah! Astaga, ayo kita obat–”

Aku menahan langkahnya yang hendak menyeretku.

Dia menatapku bingung karena aku hanya menggelengkan kepalaku sambil terus mengatur nafas beratku.

1 menit lagi..

God, please give me a miracle in this injury time. I have to tell him!

“A..”

God, please..

0.5 menit lagi..

“A.. Kh..”

Please..

“Key? Kau mau mengatakan sesuatu?”

Ya, bodoh! Kenapa kau tidak diam saja dan menunggu mulutku mengeluarkan 3 kata itu?!

15 detik lagi..

“Mm.. A-kh.. A-ku..”

Sedikit lagi, Key.. Ayo, sedikit lagi!

“A-Aku cinta kamu!”

Duaaaaar~

Suara kembang api yang menandakan tahun baru telah tiba langsung membahana di sekitar kami.

Suara yang juga menandakan bahwa waktuku disini telah habis. Aku menatap tanganku dan beberapa bagian tubuhku yang sudah berubah menjadi transparan. Sebentar lagi, aku akan menghilang.

Kutatap Jonghyun, mungkin untuk yang terakhir kalinya karena aku tidak tahu apa keputusan yang akan di ambilnya. Dia memandangku keheranan, tubuhku terus bertambah transparan.

Pada saat-saat terakhir, aku mendengarnya berteriak.

“Apa yang tadi kau katakan, Key?”

Ah, dia tidak mendengarnya kah? Apa karena suara kembang api yang begitu keras itu?

Kalau begitu, saat kembali ke masa ku..

Aku harus mempersiapkan diri ketika Jonghyun tidak lagi ada di sisiku.

Cit cit cit

Aku membuka mataku dengan berat.

Aneh.

Aku bermimpi aneh sekali, rasanya seperti nyata.

“Hoaem~” aku mendudukkan tubuhku sambil menguap lalu merentangkan otot-otot di tubuhku.

Ketika menyadari bahwa ruangan serba putih yang sedang kutempati bukanlah ruangan kamarku, aku pun mencoba kembali mengingat.

Dimana aku sekarang? Apa hal terakhir yang sedang aku lakukan?

Ah, aku ingat..

Aku sedang menunggui Jonghyun yang..

“Jonghyun!” Mataku segera terbuka sempurna ketika mengingatnya, seluruh kepingan nyawaku berkumpul menjadi satu secara cepat.

“Jonghyun!” Panggilku lagi, ku arahkan arah pandangku ke semua arah dan mataku berhenti tepat di sebuah papan yang berada di belakang kepalaku.

29 Desember 2011.

Terpampang dengan jelas tanggal dimana Jonghyun memasuki rumah sakit itu.

Tapi.. Kenapa nama Jonghyun tidak ada disitu? Kenapa kolom namanya kosong?

Tes tes tes

Air mataku tiba-tiba turun walau tak kuhendaki.

Begitu ya..

Suaraku yang kembali, juga.. Tahun yang sudah menjadi normal..

Aku pulang..

Aku telah kembali ke masa ku.

Tapi, aku tidak menemukannya.

Aku tidak menemukan Jonghyun di sisiku.

Apa itu berarti bahwa aku telah kalah?

Apa itu berarti kalau perasaanku tidak dibalasnya?

Jonghyun..

Mungkin kau sedang bahagia sekarang dan aku turut bahagia atas itu.

Tapi..

Maafkan aku..

Aku sudah berjanji bahwa aku harus siap dengan semua ini. Aku harus siap..

Walau hatiku berkata lain.

Tes

Kupandangi tangan kiriku.

Tes

Lingkaran emas yang seharusnya berada di jari manisku pun ikut menghilang.

Tes

Tentu saja.. Karena Jonghyun tidak memilihku.. Kejadian itu pun hanya sekedar mimpi disini.

Tes

Ikatan di antara kita pun hanyalah sekedar mimpi yang tidak akan menjadi nyata. Tidak akan.

Tes

Tes

Tes

Ya, cengeng sekali kau, Kim Kibum!

Ini keputusanmu kan?

Kenapa malah kau yang menangis?

Kenapa malah kau yang merasa sakit?

Kenapa malah kau yang..

..Menyesalinya?

Kau benar-benar menyedihkan, Kim Kibum!

Hiks..

Aku tak tahan lagi, kutundukkan kepalaku lalu kututup wajahku.

Menangis sejadi-jadinya disana.

Menangis dalam semua penyesalanku.

“Jonghyun.. Hiks.. Jjong..”

Percuma, Kibum.. Dia tidak akan mendengar seruanmu. Dia tidak akan menghampirimu.

Dia tidak akan.. kembali padamu.

Cklek.

Aku mendengar pintu ruangan ini terbuka, tapi aku tidak tertarik untuk mendongakkan wajahku dan melihat siapa orang yang masuk kesini.

Paling, itu suster rumah sakit yang akan mengusirku karena disini tempat dimana orang sakit dirawat, bukan tempat dimana orang sakit hati menyesali keputusannya.

“Maaf, Tuan Kim..” Benar kan? Suster ini pasti mau mengusirku.

“Aku sudah berusaha menahan Tuan Kim, tapi dia tidak mau mendengarkanku”

“Ih, kau itu cerewet sekali! Key tidak akan protes tahu! Lagipula, aku ini sudah sembuh! Sudah, singkirkan tanganmu! Aku bisa membawa ini seorang diri”

Ah, bahkan aku masih bisa mendengar suara menyebalkannya itu.

Kenapa sulit sekali menghapusnya dari ingatanku?

“Tapi, tuan Kim..”

“Aku bilang aku tidak apa-apa. Sudah, pergi sana! Aku mau berduaan dengan Key”

“Tapi, aku hanya menjalankan tugasku..”

“Tinggalkan ruangan ini atau kau mau melihat kami bermesraan?”

“Tapi.. Aih. Baiklah kalau begitu. Maafkan aku, Tuan Kim. Mungkin perkataan anda akan lebih di dengar oleh Tuan Kim. Aku permisi dulu, tuan Kim.. Tuan Kim..”

Blam.

“Huh! Dasar suster keras kepala! Terus berkata ‘Tuan Kim’ dan ‘Tuan Kim’, tidak jelas yang dia maksud itu aku atau Key”

Aku menengadahkan kepalaku.

Ah, ternyata aku masih bermimpi.

Kenapa ada Jonghyun dengan sebuah nampan di depanku?

“Pagi, Yeobo..”

Sret.

Dia pun menyimpan nampan yang tadi dia bawa di pangkuanku.

“Aku membawakan sarapan untukmu..” serunya riang, tangannya sibuk memotong makanan yang ada di piring lalu menyendokkannya.

“Ah, aku hampir lupa..” ujarnya tiba-tiba seraya menyimpan kembali sendok berisi makanan yang sudah siap dia sodorkan padaku.

Chu~♥

Bibirnya menempel lembut di keningku, membuatku merasa hangat dan.. Hei, ini terlalu nyata untuk dikatakan mimpi!

“Morning kiss.. Hehehe” cengengesnya dengan senyuman lebar khasnya.

Setelah itu, dia kembali mengambil sendok makanan lalu menyodorkannya pada mulutku.

“Aa~” dibukanya mulutnya lebar-lebar, menyuruhku untuk mengikuti gerakannya.

Tapi, yang bisa kulakukan hanyalah diam. Aku mematung.

Tatapanku terpaku pada matanya. Matanya yang selalu memandangku penuh cinta.

God, kalau ini mimpi.. Jangan pernah bangunkan aku.. Kumohon..

“Key?” Bahkan, suaranya yang memanggil namaku benar-benar terdengar nyata.

Aku benar-benar merindukan suaranya.. Aku.. Aku..

Aku merindukan semua hal dari dirinya..

“Eh.. Kok malah nangis? Hush.. Kau kenapa Key?” Jonghyun kelabakan melihat air mata yang meluncur dari mataku. Dia segera meletakkan sendoknya dan menghambur memeluk tubuhku.

“Hush.. Jangan menangis.. Aku disini, Key..” Ucapnya lembut sekali. Tangannya yang berada di punggungku bergerak seirama, mengelus punggungku dengan bisikannya yang menenangkan.

“J-Jjong.. Hiks..” Aku masih menangis. Perlahan, kudekap tubuh Jonghyun, memeluknya balik.

Seketika, aroma tubuhnya menghambur memenuhi penciumanku.

Aroma yang nyata.

Dan.. Dia benar-benar nyata!

“Jjong.. Ini be-hiks benar-benar kamu kan? A-aku tidak bermimpi kan?” isakku sambil menyelipkan wajahku di antara leher Jonghyun, membuat air mataku jatuh ke kemejanya yang sekarang menjadi basah.

“Tentu saja ini aku, Kim Jonghyunmu”

Kim Jonghyunmu.

Kim Jonghyunmu.

Kim Jonghyunmu.

Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.

“Be-benarkah i-ini kamu, Jjong? Lalu.. Bagaimana dengan Jinki Hyung?”

“Jinki Hyung? Siapa itu?”

“Bagaimana dengan kakak laki-lakimu itu?”

“Kakak laki-laki?”

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau punya kakak angkat?”

“Kakak angkat?”

“Kenapa kau tidak bilang kalau 3 tahun yang lalu kau tinggal di Daegu? Kenapa kau tidak bilang kalau orang tuamu tinggal di luar negeri? Kenapa.. Kenapa kau tidak bilang kalau kau mencintai orang lain selain aku?”

“Hah? Apa sih yang kau bicarakan?” Aku mengeratkan pelukanku pada Jonghyun ketika dia akan melepas pelukannya padaku.

Aku tahu, dia pasti ingin menanyakan semuanya, tapi.. Aku tidak siap. Aku tidak siap untuk menatap matanya.

Aku tak sanggup.. Sungguh..

“Kenapa kau meninggalkanku untuk bersama dengan orang lain?”

Set.

Jonghyun melepas pelukan kami secara paksa dan kasar.

“Ya! Apa sih omong kosong yang kau bicarakan itu?” Sekarang, aku bisa melihat matanya yang memancarkan emosi. Matanya yang juga memancarkan kesedihan.

Apakah aku yang menyebabkan kesedihan itu terpantul di matanya?

Aish, apa yang sebenarnya kau lakukan, Kim Kibum?

“A-aku berkata hal yang sebenarnya! Kau mencintai orang lain sebelum aku 3 tahun yang lalu, benar kan?”

Jonghyun berusaha meredam amarahnya sebelum kembali menatap mataku.

“Key, kau pasti habis bermimpi buruk”

“Aku tidak bermimpi, Jonghyun! Kamu.. Hiks.. Kamu meninggalkanku 3 tahun yang lalu”

Dia mengacak rambutnya sendiri, sementara tubuhku berguncang lagi, menangis lagi..

“Key..” Panggilnya lembut sambil mencengkram kedua bahuku, “tatap mataku”

Aku menuruti perkataannya walau kuyakini bahwa sekarang mataku penuh dengan gumpalan air.

“Pertama, aku tidak pernah tinggal di Daegu. Kedua, orang tuaku ada di Seoul, kau sering bertemu mereka kan? Lalu, aku tidak punya kakak laki-laki baik kandung ataupun angkat. Satu-satunya kakakku adalah Kim Songdam dan dia perempuan, kalian sering pergi shopping berdua. Kau ingat? Aku juga tidak mengenal siapa itu ‘Jinki Hyung’ yang kau maksud” aku tercengang mendengar penjelasan Jonghyun. Mulutku ingin berkata sesuatu, tapi tidak tahu apa itu sehingga kuputuskan untuk diam saja.

“Apakah kau ingat kalau umur hubungan kita hampir menuju tahun ke 5 sekarang? Bagaimana bisa aku mencintai orang lain dan meninggalkanmu 3 tahun yang lalu sementara saat itu aku sudah terikat denganmu?”

“…”

“See? Kau hanya bermimpi, Key..”

“Tapi, Jjong.. Kata suara itu.. Aku harus kembali ke sana untuk menyelamatkanmu. Dia juga bilang kalau kau tidak akan bangun..”

Jonghyun menghentikan ucapanku dengan mencium bibirku lembut.

Sangat lembut.. Bahkan aku tidak bisa merasakan hawa nafsu di dalamnya.

“Kau hanya berimajinasi. Aku tidak mungkin mati hanya karena terjatuh dari tangga. Yang ada, tanganku patah dan itu akan segera sembuh. Ara?”

“Lalu.. Kenapa namamu tidak ada di papan itu?”

“Tentu saja karena aku akan keluar dari rumah sakit hari ini. Aku sudah sadar semenjak semalam yang lalu. Ketika aku melihat sampingku, aku menemukan dirimu yang duduk tertidur. Aku merasa kau begitu lelah sehingga aku menggendongmu dan menidurkanmu di atas kasurku”

“Dengan tanganmu yang patah?”

“Hei, tangan kiriku patah tapi aku masih punya tangan kananku. Aku cukup menggunakan satu tanganku untuk membawakan nampan sarapanmu. Aku juga cukup menggunakan satu tanganku untuk menggendong dan menidurkan tubuh kurusmu di atas kasurku hihihi”

Segera saja kuhentikan tawanya dengan memeluknya lagi, kali ini sangat erat.

Seakan-akan aku tidak ingin kehilangannya.

Benar, aku tidak ingin kehilangannya lagi untuk yang kedua kalinya.

“K-Key.. A-aku sulit bernafas d-dan.. t-tanganku s-sakit..”

Mendengar itu, aku pun melepas pelukanku sambil tersenyum kecil.

“Maaf.. Aku terlalu bahagia” Jonghyun mengumpat mendengar alasanku, tangan kanannya sibuk mengelusi tangan kirinya yang di-gypsum.

“Kau mau memasukkanku lagi ke rumah sakit bau obat ini ya?” Sindirnya dengan senyuman.

“Tidak. Kau kan masih mempunyai tanggung jawab untuk menikah–.” Aku menyadari sesuatu, tangan kiriku, “ya! Kalau ini benar-benar nyata, kenapa jari manisku kosong? Kau bukan Jonghyun! Kau bohong!”

Dia mengernyit keanehan padahal aku tidak sedang bercanda.

“Key..”

“Kau bukan Jonghyun! Jangan mendekat padaku!” Aku terus bergerak mundur, padahal aku tahu kalau punggungku sudah menempel pada tembok.

Dia juga ikut bergerak maju dan tersenyum menakutkan ketika mengetahui kalau aku sudah tersudut.

Dia menjulurkan tangannya ke arahku.

Aku pun segera memejamkan mataku.

Apa yang akan dia lakukan padaku?!

“Ck. Kalau yang kau maksud tadi itu adalah cincin tunangan kita, kau sendiri kan yang mengalungkannya?” Aku terkejut. Ketika membuka mataku, aku melihat bahwa Jonghyun sudah memegang sebuah cincin yang terkalung di leherku.

“Bahkan kau juga menyuruhku mengalungkan cincin yang kupunya” serunya sambil mengeluarkan sebuah kalung dengan cincin pasangan dari cincinku tergantung disana, “kau itu.. Sejak kapan jadi paranoid seperti ini, hm?”

Aku hanya bisa tertawa garing sambil menggaruk belakang kepalaku, “Sejak.. Aku takut kehilanganmu?”

Kami pun tertawa akan jawaban konyol-walau-benar dariku.

“Hahaha kau tidak akan kehilanganku”

“Benarkah?” Tanyaku berpura-pura tidak percaya. Aku mengerucutkan bibirku dengan imutnya. Membuat Jonghyun tidak tahan untuk mencubit pipiku dengan gemasnya.

“Selamanya. Kau tidak akan kehilanganku karena aku akan bersamamu selamanya”

Aku tersenyum semakin lebar lalu mengalungkan tanganku di lehernya, membuat jarak di antara kami terhapus.

“Tunggu” Jonghyun terlihat sedikit kesal karena aku menghentikan semuanya di saat dia sudah siap untuk menciumku.

“Kau tidak akan meninggalkanku walau orang bernama Jinki itu mungkin saja ada kan?”

“Aish, kau berhenti hanya untuk menanyakan itu?”

“Aku butuh kepastian” Jonghyun mendesah karena kekeras-kepalaanku.

“Aku tidak akan meninggalkanmu dan akan selalu bersamamu walau orang bernama Junki”

“Jinki” ralatku.

“Whatever. Pokoknya aku akan selalu bersamamu walau apapun yang terjadi. I am all yours forever. Ok?”

Senyum segera mengembang di wajahku. Aku kembali mendekatkan wajah kami untuk melanjutkan adegan yang sempat tertunda–

Tok tok tok.

Aish!

“Maaf, aku dokter yang akan mengecek keadaan pasien bernama Jonghyun dan memastikan bahwa dia sudah boleh pulang sekarang, namaku Jinki, Lee Jinki”

END.

Advertisements

6 responses to “[JONGKEY] Last Fantasy

  1. Jinki selalu muncul disaat yang ga tepat, cockblocker dasar

  2. AUTHOORRR SAYA DISINIIIII XD
    FANFIC NYA ITU SESUATUUUUUUU.
    Di awal awal sampe pertengahan itu degdegan ga karuan. Sumpah. Kadang ketawa sendiri ga jelas ih sumpah merinding U.U

    KEREN THOR!! LANJUTKAN!! JONGKEY SIPPER YANG IMUT, UNYU DAN SESUATU INI MENUNGGU XD

    Aku juga nunggu Oh My Ninja part selanjutnya lohh thooor (><)v

  3. aq mah jongkey ajj dehh…
    hahahaha..
    keren niii..
    *ngsh jempol bnyk

  4. kaka.. kalo nulis ubah title.a.. jongkey fantasi 1.. jongkey fantasi 2.. dst..biar gampang nyari kelanjutan ceritanya.. makasih..

  5. ceritannya keren 😀 kok si key mendadak linglung begitu yak hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s