| JONGKEY | Oh! My NINJA | #1 – The Red Eyes |


Title : Oh! My Ninja

Sub-title : The Red Eyes

Main Cast : Masih dengan couple kita tercintah, JongKey *dikulub Key* Iya deh iya, KeyHyun ._. *ngalah

Author : (pasti tau siapa) /plaks/ Author dengan code name Makhluk-Tuhan-Paling-Lucu X’DD

Genre : Yaoi, Fantasy, Romance, Fluff, Angst, Action, Abstract

Rating : PG-16 until … (fill In the blank)

A/N : (tolong yang malas membaca ini langsung aja skip ke cerita karena ane mau curhat, jadi agak panjang (?))

Firstly, Ini ff udah ane simpen lumayan lama, mungkin semingguan. Rencananya mau di post pas hari-H yaitu tanggal 10 Oktober 2011 tapi kampus dan tugas tidak mengizinkan (?).

Pasti tahu dong ya kenapa ane mau ngepost nih ff tanggal segitu? *Cuma jangkrik yang jawab*. Yup, hari itu adalah hari ulang tahun suami pertama ane yang paling ane cintai, UZUMAKI NARUTO!! *tiup terompet sambil lari keliling mesjid /diarak orang sekampung*

Jadi, sekarang pasti udah pada tahu kenapa judul nih ff begitu (?) dan pasti udah tahu apa isi nih ff. Yang pasti bukan sayuran, lu kate ff gua kue pastel hah? *nyari gara-gara*.

Nah, kenapa ane ga buat ff Naruto aja? Tanyakan pada awan yang berarak mengapa semua orang meminta ane bikin SASUNARU haaaaaaaaah? Perlu dicamkan, ane fujoshi tapi ane paling ga suka suami pertama (khusus suami pertama) ane YAOI! Apalagi sama Sasuke *di chidori Sasuke*. Naruto itu straight huweeeee trus trus.. yang paling parah, KENAPA DIA HARUS JADI UKE? *lempar shuriken ke setiap arah*

Oke, berhenti galaunya. Intinya, ada beberapa hal yang ngebuat ane ga bisa buat ff Naruto. Untuk itu, ane minta izin sama Minato dan Kushina (ortu Naruto/ mertua ane huehehe *ketawa mesum*) buat bikin ff JongKey *digaplok pake bakiak* maksudnya KeyHyun (._.) sebagai lambang (?) peringatan hari lahirnya jinchuuriki Kyuubi itu. Dan mereka menyetujui, -terutama Kushina- soalnya dia ngebisikkin ane kalo dia juga ternyata JongKey *dilempar meriam* maksudnya KeyHyun Shipper ._.v (tolong semua kamera dimatikan, ini bukan gossip ya. Jadi tidak perlu direkam).

Finally, ane ga tau di atas ane ngebacot apa aja sampai panjang gitu. Pokoknya, buat Uzumaki Naruto, OTANJOUBI OMEDETOU!!! Ai shiteruyo.. zutto…  demo Ai takuttebayo!! T^T

Moga ente bisa ngeraih impian ente buat jadi Hokage (biarpun itu udah pasti). Semoga Sasuke bisa sadar dan bersukur punya temen subhanalloh baek n pengertiannya kaya ente. Semoga Sasuke jadi ama Sakura. Semoga ente sadar kalo ente itu sukanya Hinata trus kalian nikah n ensian (eh). Semoga semoga dan semoga semua yang terbaik buat ente! Yang lebih spesial, semoga ente dapet 1000 tiket Ichiraku Ramen sebagai hadiah ultah hihihi (Kakashi sensei, jangan hadiahin Naruto Novel Icha-Icha Paradise ato Icha-Icha Tactics ato sejenisnya ya *death glare)

Oh ya.. yang terakhir (ane janji ini yang terakhir) ane mau ngucapin terima kasih sama Naruto.. Sungguh, terima kasih telah mengajarkan semua hal bodoh (?) dan prinsip hidupmu itu sehingga ane bisa jadi ane yang sekarang. Walau mungkin ga baik, tapi ane selalu berusaha menjadi yang terbaik. Benar kan? ‘Aku tidak akan menarik kata-kataku karena itu adalah jalan hidupku’ adalah salah satu hal yang kau ajarkan pada ane. Hontou ni arigatou telah menemani ane selama 8 tahun ini! Moga di tahun-tahun selanjutnya juga kita bisa terus bersama (?)!! Datteba-datteba-dattebayoooooo~

—-Oh! My Ninja – Eps.1 The Red Eyes—-

“Kibum! Kim Kibum!” Aku mengintip dari balik pohon. Melihat beberapa orang yang mulai memanggil namaku.

Huh, suruh siapa mereka menyuruhku ikut ke dalam hutan malam-malam begini! Sekarang, rasakan akibatnya! Aku akan keluar dari hutan ini sendirian lalu pulang. Sesudah itu, besok, di sekolah, akan kutertawakan mereka semua. Mungkin, mereka akan mengira kalau aku tersesat di dalam hutan lalu mati dimakan babi hutan. Bagus sekali, itu artinya kalau mereka adalah orang yang pasti disalahkan, berhubung aku sudah memberi tahu orang tuaku kalau aku menginap di sekolah. Lebih tepatnya, berkemah di dalam hutan yang ada di samping sekolah karena acara ekstrakurikulerku.

Dari awal, aku tidak mengerti apa hubungan antara ekskul seni dan berkemah, makanya aku memutuskan untuk tidak ikut. Tapi, karena aku adalah ketua sub-ekskul dance dan diwajibkan ikut untuk menseleksi calon anggota kami yang baru, mereka memaksaku. Makanya, sekarang aku akan menjahili mereka. Persetan dengan acara seleksi ini!

Aku mendengar mereka terus memanggil namaku dengan nada suara yang semakin khawatir. Aku sempat menertawakan mereka pelan sebelum akhirnya kulangkahkan kakiku menjauh, berjalan menerobos gelapnya malam dalam diam.

Aku berbohong kalau aku bilang ‘aku tidak takut’, sekarang sudah tengah malam dan aku berjalan di dalam hutan seorang diri, tanpa penerangan sama sekali. Aku lupa membawa senterku yang kusimpan didalam ranselku. Mau bagaimana lagi? Ide untuk menjahili mereka ini datang begitu saja beberapa menit yang lalu, jadi aku belum mempersiapkan apa-apa.

Ya, tapi aku tahu kalau Tuhan selalu bersamaku.. Bukankah beg—

Kresek.

Tuhan, kau ada bersamaku kan?

Kresek.

Ah, aku pasti berkhayal, salah dengar.

Kresek.

Tidak ada suara apa-apa, tidak ada, tidak ada. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil menutup mataku dan kupercepat langkahku.

Kresek. Kresek.

Cuma kucing, kumohon ya Tuhan.. Lindungi aku.

Kresek. Kresek. Kresek.

Sial, suara itu semakin mendekat. Aku sedikit berlari kecil, mulai berpikiran yang tidak-tidak.

Kresek. Kresek. Kresek. Kresek.

Kenapa semakin cepat? Suara apa itu?

Ah, aku tidak peduli dan tidak mau tahu! Lari Kibum, lari!

Drap drap drap.

Segera kuikuti kata hatiku dan kularikan kakiku, secepat yang aku bisa. Tapi, suara itu malah tambah mendekat, seperti ikut berlari bersamaku.

Apakah ini karma? Habislah sudah riwayat—

Bruk.

Tiba-tiba, sesuatu terjatuh di depanku. Ani, itu bukan ‘sesuatu’ tapi ‘seseorang’.

Aku tidak tahu darimana asalnya, tapi dari posisinya sekarang, dia terlihat seperti orang yang baru saja loncat dari tempat yang tinggi. Mungkin dari atas pohon?

Aku berdiri terpaku menatap punggung orang itu, dia berjongkok memunggungiku. Posisinya mirip dengan posisi awalan start jongkok pada lari jarak menengah.

Sejenak kemudian, orang itu berdiri.

Aku tidak tahu apa yang membuatku masih terpaku disitu, memandangi punggungnya yang terlihat bidang. Pakaiannya serba hitam dan rambutnya berwarna cokelat, bahkan mata kucingku melihat pantulan warna itu dengan jelas di malam yang segelap ini.

Set—

Dia menolehkan mukanya ke arahku. Membuatku terkejut bukan main.

Matanya… merah menyala, dengan sinar mata yang begitu tajam. Hei, tapi kenapa matanya berwarna merah? Bukan, yang jelas itu bukan darah apalagi kontak lens. Dan aku yakin orang ini manusia, bukan makhluk gaib.

Set—

Dalam sekejap, orang itu menghilang dari pandanganku.

Kemana di—

“Kau melihatku” kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang aku ingat sebelum semuanya menjadi gelap. Kata-kata yang berasal dari mulut orang itu, entah sejak kapan dia sudah berdiri di belakang tubuhku.

Cit cit

Suara burung bernyanyi menyambut pagiku,ditemani oleh terangnya sinar mentari yang masuk melalui ventilasi kamarku.

Aku terbangun, dengan rasa enggan yang begitu luar biasa.

Bolehkah hari ini aku tidak berangkat ke sekolah? Kurasa jawabannya ‘tidak’ kalau aku tidak mau dipecat menjadi anak oleh orang tuaku.

Tak ada pilihan lain, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar mandi dan kubuka bajuku satu persatu.

“Argh” Kurasakan pundakku terasa ngilu. Padahal –seingatku—aku tidak melakukan pekerjaan berat apapun.

Karena merasakan aura aneh, aku memandangi cermin dan kutolehkan pundakku pada cermin.

“Apa ini?!” seruku kaget karena kutemukan sebuah tanda ada di pundakku. Seingatku lagi, aku tidak pernah mentattoo bagian manapun dari tubuhku.

Yang pasti, ini bukan luka, lebam atau apapun, karena bentuknya benar-benar menggambarkan sebuah simbol yang—aku tidak tahu gambar apa ini!

“Key! Kau baik-baik saja?” suara Eommaku sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Aku buru-buru mengalirkan air agar terdengar kalau aku sedang melakukan aktivitas di dalam sini dari arah luar.

“Ne, eomma! Aku baru mau menyikat gigiku!” seruku agak kencang.

“Ok, kalau sudah siap, segera turun ke bawah ya! Kita sarapan bersama!”

“Hm”

Untung saja, sepertinya Eommaku tidak curiga lebih lanjut. Kurasa dia sempat mendengar teriakanku yang terkaget tadi sehingga dia naik ke atas untuk mengecek keadaanku.

Kupandangi simbol itu lagi. Mencoba mengingat dari mana tanda itu berasal.

Jinjja.. aku tetap tidak ingat apapun!

“Heh! Ketua Sub-ekskul Dance! Kemana kau semalam hah?” Aku disambut oleh rangkulan tidak sedap pada pundakku ketika ku masuki ruang kelasku, kelas 2-B.

“Aish, Woohyun! Lepaskan! Sesak tahu!” Woohyun cengar-cengir lalu melepaskan rangkulannya padaku.

“Itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa khawatir semua anggota ekskul ketika kau menghilang tahu!” Aku mengernyit. Aku? Menghilang?

Tunggu.. tadi Woohyun bertanya kemana aku semalam kan? Memangnya—

Astaga, aku ingat! Tadi malam kan aku kabur dari acara ekskul!

Tapi.. aku tidak ingat kalau aku berjalan pulang ke rumahku. Terakhir yang aku ingat..

Sret.

Ku tolehkan kepalaku ke belakang, sekejap aku merasa kalau ada sesuatu yang lewat, tapi aku tidak menemukan apapun.

Aku mengedikkan bahuku.

Eh.. ngomong-ngomong.. Terakhir tadi aku lagi mikir apa ya?

“Key! Key!” suara Woohyun membuyarkan lamunanku. Ku tolehkan kepalaku padanya.

“Kau dengar ucapanku?”

Aku cengengesan kecil sambil membentuk huruf ‘V’ dengan jariku, “Sorry.. aku lagi ngelamun..”

“Aih..” dia merangkul pundakku lagi dan menyeretku untuk berjalan lalu duduk di bangku kami berdua, “dari awal sudah kuduga kalau kau hanya mempermainkan kita semua tadi malam, tapi tidak ada yang percaya padaku..”

Omongan Woohyun tidak terlalu terdengar olehku karena pandanganku tertarik oleh sepasang mata dari seorang anak yang sedang berjalan di luar kelas. Dia juga menatap mataku, pandangan kami berdua bertemu cukup lama.

Aku tidak pernah melihat wajahnya.. Apakah dia..

Ah, dia masuk ke kelasku bersama Kobayashi sensei.

“Ohayou gozaimasu! Hari ini sensei membawa murid baru.. ehm.. jikoshoukai shite kudasai” Sensei mempersilahkan anak itu untuk mengenalkan dirinya.

“Kim Jonghyun desu” kami semua menunggu apalagi yang akan dikatakan oleh anak itu tetapi dia tak kunjung membuka mulutnya lagi. Sensei juga sepertinya masih menunggu sampai akhirnya dia mengambil alih semuanya.

“Baiklah, Jonghyun.. kamu duduk di—.”

“Aku mau duduk disana” potong Jonghyun tidak sopan sambil menunjuk mejaku dan Woohyun. Tatapan kami bertemu lagi.

“Bagaimana ini Key? Kau tidak apa-apa pindah?” bisik Woohyun kegeeran.

“Aku mau duduk dengan dia” Jonghyun menunjukku yang membuat Woohyun langsung shock karena dia mengira Jonghyun  ingin duduk dengannya, “soalnya aku punya trauma, aku hanya bisa duduk di bangku paling belakang dan paling pojok yang berhadapan langsung dengan jendela” alasan Jonghyun membuat murid lain ber’oh’ria. Tak heran, sejak kedatangannya tadi, aku memang mendengar hampir seluruh siswi disini berbisik-bisik karena tertarik dengannya. Mungkin mereka lega karena Jonghyun mempunyai alasan tersendiri untuk duduk denganku. Kasihan Woohyun sih.. posisi duduknya memang berada paling pojok dan terbelakang serta tepat menghadap jendela.

Woohyun mengucapkan beberapa kalimat perpisahan yang menurutku sama sekali tidak penting sebelum dia pindah duduk di seberang meja bersama Niel, tetap bersebelahan denganku biarpun terpaut sedikit jarak.

“Douzo” Sensei menyuruh Jonghyun duduk. Dia berjalan tenang, membuat bisik-bisikkan itu terdengar lagi. Jujur, setelah dia sampai di sebelahku, wajahnya memang terlihat sangat tampan. Terutama matanya, entah mengapa aku ingin selalu melihat ke arah matanya itu.

“Kibum, Kim Kibum. Panggil saja Key supaya lebih singkat” ujarku memperkenalkan diri.

“Jonghyun” singkatnya tanpa ada senyum atau apapun.

Huh, wajahnya saja tampan, tapi sepertinya sombongnya bukan main.

Aku tidak tahu, sungguh, aku tidak tahu apa-apa.

Aku tidak tahu mengapa Jonghyun terus membuntutiku kemanapun aku pergi. Ku ulangi lagi, KEMANAPUN! Bahkan, dia sekarang ada di luar pintu toilet, menungguku yang memang sudah kebelet sejak tadi.

Kalau saja aku tidak menyuruhnya untuk menunggu di luar, pasti dia akan ikut masuk bersamaku.

Setiap aku bertanya alasan mengapa dia mengikutiku, Jonghyun pasti hanya diam. Dia lebih banyak diam malahan, sulit sekali di ajak bicara.

Teng teng teng teng

Sekolah memang sudah bubar, tapi bel itu berbunyi pertanda tidak boleh ada satu orang siswa pun berada di lingkungan sekolah. Sekolah akan ditutup.

Setelah aku menyelesaikan panggilan alamku, aku pun memutuskan untuk pulang.

Dan anehnya, Jonghyun tetap mengikutiku.

“Kau pulang arah sini juga?” tanyaku mencairkan suasana. Sebenarnya, dengan sifat divaku, bisa saja kuteriaki Jonghyun agar berhenti mengikutiku, tapi berhubung dia murid baru, aku berusaha maklum.

“Hm” jawabnya benar-benar seperti tidak ada niat untuk menjawab.

Kami diam lagi.

“Ini rumahku. Kau mau mampir?” akhirnya, setelah beberapa lama berjalan, sampai juga aku di rumahku. Jonghyun menggeleng.

“Kalau begitu, aku masuk dulu.. ja mata ne”

Jonghyun tidak membalas, dia memperhatikanku masuk ke dalam rumah. Setelah aku menutup pintu, kubuka sedikit hordeng jendela dan kuintip dia. Jonghyun masih tetap terpaku disana, memandangi rumahku beberapa saat sebelum akhirnya dia melangkah pergi.

Aneh sekali orang itu. Aku mengangkat kedua bahu dan melangkah masuk menaiki tangga, ke arah kamar tidurku.

Bruk.

Seketika aku robohkan tubuh lelahku di atas kasur secara kasar. Pikiranku melayang. Aku seperti melupakan sesuatu.. tapi, apa?

Kupejamkan kedua mataku, lebih baik tidur daripada aku mengingat-ingat hal yang tidak jelas. Tidak, aku mengingat sedikit sih. Hal itu.. sepertinya terjadi pada malam hari, aku berada di tengah hutan dan aku.. bertemu seseorang? Entahlah, aku hanya mengingat matanya.. mata orang itu..

Eh, iya! Mata orang itu..

“Kau sudah mengingatku?”

Bisik suara seseorang tiba-tiba. Aku segera bangkit dan mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar. 

Aku sendiri.

Ah, sepertinya aku mulai berimajinasi yang tidak-tidak. Mana mungkin aku mendengar suara—

“Hei! Kau ingat aku kan?”

Lagi. Aku yakin, ini bukan imajinasi ataupun halusinasi.

Aku benar-benar mendengar bisikkan suara seseorang yang terasa begitu dekat dengan ragaku. Tapi, aku tidak kalah yakin kalau aku berada seorang diri di dalam kamar ini. Lalu, darimana suara itu berasal?

“Lihatlah keluar jendelamu”

Penasaran, aku menuruti apa kata suara itu lalu segera membuka jendela yang ada di kamarku.

“Annyeong, Key..”

Disanalah, tepat di hadapanku, aku melihat muka dinosaurusnya. Dia sedang memandangku dari jendela dari rumah sebelah. Kamar yang dia tempati menghadap lurus ke arah kamarku, letak kamar kami berhadapan.

“Jonghyun? Sedang apa dia disitu?”, batinku.

“Aku memang tinggal di sebelah rumahmu, Key..”

Eh? Itu suara Jonghyun? Tapi kan.. mulutnya menutup. Lalu, mengapa kata-katanya itu seakan menjawab pertanyaan yang kulontarkan di dalam hati? Tidak mungkin kan ini..

“Telepati”

Jawab suara itu. Aku menoleh ke arah Jonghyun dan mengerutkan keningku karena dia sedang tersenyum penuh makna kepadaku.

“Hati kita tersambung, Key.. karena itulah, aku bisa bertelepati denganmu”

“Bagaimana bisa?”

“Tentu saja, kau sudah mengingatku kan? Jadi, kau pasti ingat ,waktu malam hari itu..”

Set.

Sosok Jonghyun tiba-tiba menghilang dengan amat cepat.

“Kau melihatku” bisik sebuah suara dari arah belakangku, membuat bulu kudukku merinding dan jantungku berdetak cepat.

Suara ini… Aku ingat! Aku ingat semuanya..

Semua kejadian malam itu, sosok bermata merah itu.. dia.. Jonghyun?! Benarkah?

“Ya, Key.. itu aku” jawab Jonghyun. Aku langsung membalikkan badanku dan berjalan mundur, menjauh dari sosoknya yang kini berada di kamarku.

Satu hal yang pasti.. kalau itu Jonghyun, Apakah.. apakah dia manusia?

“Jangan berpikir seperti itu, kau membuatku sedih. Aku ini manusia”

Sialan. Aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku. Tapi, aku yakin dia bukan manusia biasa.

“Tak usah takut.. aku akan menjelaskan semuanya padamu”

“Jadi, kamu.. benar-benar.. ninja?!” tanyaku setelah Jonghyun selesai menceritakan semuanya padaku. Kami kini duduk berhadapan, dengan Jonghyun berada di atas kasur bersamaku.

Kini rasa takutku sudah hilang. Jonghyun sama sekali tidak berbahaya walau aku masih meragukan pengakuan tentang jati dirinya itu.

“Hm, tapi kau jangan menceritakan hal ini pada siapapun”

Aku mengangguk, masih terlalu kaget dan masih mencerna kejadian-kejadian ini di dalam otakku.

“Dan tanda itu..” dia menunjuk pundakku, “selama ada tanda itu, kau bisa bertelepati denganku dengan syarat kau harus memikirkan aku, seperti tadi. Jadi, tenang saja.. selama kau tidak memikirkan aku, aku tidak akan bisa membaca pikiranmu. Kecuali kalau kau tidak bisa menghapus aku dari pikiranmu hihihi”

Jinjja..

“Kenapa kau jadi narsis begini?” Aneh sekali, sifat Jonghyun yang sekarang benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Biasanya kan dia jarang – ralat, sama sekali tidak berbicara padaku.

“Huh? Ini sifat asliku”

“Sifat asli?”

“Iya, aku dilarang berbicara padamu sampai kau mengingat pertemuan kita di hutan itu”

Aku mengernyit keheranan, “Dilarang? Oleh? Terus, ngapain aku harus mengingat hal itu?”

“Saat ini bukan saat yang tepat untukku mengatakan siapa yang menyuruhku, dan kau harus mengingatnya karena—.”

“Kibum, ini ada cemil—eh, ada tamu?” Eommaku membuka pintu kamar secara tiba-tiba dan sekarang dia menatap bingung ke arah Jonghyun, mungkin dia tidak ingat kalau ada orang yang mengetuk pintu dan berkunjung ke rumah. Tentu saja, Jonghyun kan tidak masuk melalui pintu depan.

“Ah, Eomma.. Kenalkan, ini Jonghyun. Dia murid baru di kelasku. Oh ya, tadi eomma kemana? Pas aku dan Jonghyun datang, Eomma tidak ada di dapur seperti biasanya” Eommaku membentuk mulutnya seperti huruf ‘O’ tanpa bersuara, untunglah aku ingat kalau tadi Eomma sempat keluar ketika aku pulang dan sepertinya Eomma menerima alasanku.

“Kau berhutang padaku, Jonghyun!”

“Kurasa tidak”

Menyebalkan.

“Tadi Eomma ke toko sebelah sebentar. Jonghyun-kun, kebetulan sekali kamu berkunjung, Eomma baru saja membeli cemilan. Kalau kalian mau, ambil sendiri di kulkas ya.. Eomma ada urusan sebentar”

“Ne, ahjumma.. Gomawo” Jonghyun tersenyum manis sekali sambil menunduk sopan.

“Jadi, kau juga berpikir kalau senyumku manis, eoh?”

Ah, sial! Kenapa aku tadi memikirkan dia?!

“In your dreams”

Setelah mengucapkan beberapa hal seperti aku harus jadi anak baik dan menjamu Jonghyun sebagai tamu dengan baik, Eomma pun pergi meninggalkan kami berdua.

“Kau menyebalkan”

Jonghyun nyengir lebar, “Aku lapar”

“Ga nyambung” seruku sambil bangkit dari kasur, hendak pergi ke lantai bawah untuk mengambil cemilan yang Eomma maksud. Yah.. biar bagaimanapun dia itu tamu, aku harus menjamunya dengan baik seperti pesan Eomma.

“Mau kemana?” Jonghyun menarik tanganku secara cepat dan tiba-tiba, membuat tubuhku terduduk kembali di atas kasur.

“Katanya lapar? Aku mau ngambil cemilan”

Jonghyun nyengir lagi “Cemilan yang itu?” tunjuknya pada meja belajarku yang di atasnya sudah tersedia sekotak kue keju lengkap dengan piring dan sendoknya.

Sejak kapan ada itu semua?!

“Aku kan ninja kkk transformasi ruangan adalah hal yang mudah bagiku” Jonghyun berjalan menuju meja belajar dan terdiam memandang kue keju itu.

“Bagaimana cara memakannya?” tanyanya dengan suara dan wajah terpolos yang pernah kulihat. Sungguh, aku ingin tertawa, tapi..

“Kau benar-benar tidak tahu cara memakannya? Serius?” aku membulatkan mataku dan wajah bingungnya—secara tidak langsung— menjawab pertanyaanku.

“Bagaimana bisa kue sebesar ini masuk ke dalam mulut?” aku tidak tahan lagi, segera saja aku tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutku yang mulai terasa sakit.

“Hahahahahahahahahahahaha”

“Hei, jangan tertawakan aku! Aku tidak pernah memakan hal seperti ini, aku hanya memakan ramen!” protesnya sambil mengerucutkan bibir dengan sangat lucu.

“Oke oke hahaha” aku menyusut air di sudut mataku lalu memotong kue itu dengan Jonghyun yang mengkunci matanya pada gerakan tanganku. Apa dia segitu terpesonanya dengan tanganku yang cekatan memotong kue?

“Aku pernah lihat benda yang mirip seperti itu, ketika paman penjual ramen memotong naruto” katanya sambil menunjuk pisau yang kugunakan.

“Naruto?”

“Iya, itu.. sayuran berwarna pink berbentuk bunga yang di tengahnya ada bentuk spiral, pelengkap ramen”

“Oh.. kukira Naruto ninja Konoha itu” Aku masih serius memotong kue-kue keju yang ada di hadapanku sampai tidak menyadari tatapan bingung Jonghyun kepadaku.

“Ninja Konoha? Apa itu? Kau mengenal ninja lain selain aku?”

Aku menyerahkan sepiring kue keju yang sudah terpotong dengan sendoknya kepada Jonghyun. Dia menerima piring itu tanpa melepas pandangan herannya padaku.

“Itu loh, yang ada di komik”

“Komik?”

Aih.. apa dia ini benar-benar tidak tahu apa-apa?

Aku mengubek-ubek rak buku yang ada di sebelahku lalu menyodorkan sebuah komik padanya.

“Ini loh.. komik Naruto” Jonghyun menyimpan piring yang ada di tangannya ke sebelahnya lalu mulai membuka satu demi satu halaman yang ada di komik tersebut, dengan muka yang super serius.

“Ba-bagaimana bisa kehidupan kami di dunia ninja dibukukan seperti ini di dunia nyata? Itu kan hal yang sangat rahasia”

Aku memutar kedua bola mataku sambil menyantap kue keju, “Itu kan cuma cerita, imajinasi dari penulisnya. Lagipula, mana ada yang percaya sama ninja di jaman seperti sekarang”

Jonghyun menutup komik yang dibacanya lalu menatap ke arahku lagi, “Jadi, kau tidak percaya kalau aku ini ninja?”

“Sejujurnya.. tidak” jawabku seadanya.

Dia terlihat mengacak-acak rambutnya, entah kenapa.

“Bagaimana cara agar kau percaya kalau aku ini benar-benar ninja?”

“Bagaimana kalau kau memperlihatkan salah satu jurus yang ada di komik itu?” tantangku.

“Oke” katanya sambil menyerahkan komik Naruto padaku. Aku membulak-balikkan komik itu, mencari jurus tersulit –menurutku—.

“Key.. ini gimana cara makannya?” dia merusak konsentrasiku sambil memegang piring kue di tangan kanannya dan sendok di tangan kirinya.

“Gini nih..” aku terpaksa memotongkan kue itu dan menyendokkannya, “kau biasanya makan pake apa si—.”

Am~

Jonghyun memotong ucapanku karena dia langsung memakan kue yang kusendokkan dan masih berada di tanganku. Membuatku kaget dan mematung beberapa saat.

“Biasanya pake sumpit” ujarnya sambil mengunyah kue keju dengan semangat.

Ah, apa dia tidak menyadari kalau jantungku sempat berdetak tak karuan ketika aku –tidak sengaja—menyuapinya tadi?

.

.

.

Eh, apa yang baru saja kupikirkan? Buang jauh-jauh pikiran tadi, Kim Kibum..

“Oh ya, jadi jurus mana yang mau kau lihat?” aku buru-buru membuka komik Naruto lalu menunjuk sebuah halaman dengan asal, takut Jonghyun menyadari apa yang tadi kupikirkan.

“Ini?” Jonghyun melihat ke arahku seolah-olah aku ini maniak, “kau yakin?”

Aku mengangguk, benar-benar tidak peduli jurus apa yang akan dia tunjukkan padaku.

“Ehm.. sejujurnya aku tidak tahu mengapa ada orang yang bisa membuat cerita seperti ini. Terlalu aneh, tingkatan jutsunya benar-benar sama dengan yang ada di dunia ninja tempatku berasal. Ninjutsu, Genjutsu dan Taijutsu. Kau tahu kan apa perbedaannya?”

Aku menggeleng.

“Singkatnya, Ninjutsu itu jutsu yang paling banyak digunakan, seperti jurus-jurus yang dikeluarkan Naruto ini. Lalu, Taijutsu itu jutsu fisik, jadi tidak menggunakan kekuatan chakra yang ada di dalam tubuh dan hanya mengandalkan serangan fisik biasa. Lalu, Genjutsu itu.. untuk lebih jelasnya, anggap saja Genjutsu itu jurus ilusi, yang bisa menciptakan imajinasi dan khayalan”

“Lalu? Untuk apa kau jelaskan hal itu padaku?” tanyaku dengan wajah yang malas mendengarkan penjelasan panjang lebarnya. Toh, tidak akan keluar di Ujian Nasional.

“Itulah.. pada dasarnya, aku bisa ketiga jutsu itu. Tapi, aku lebih ke pengguna Genjutsu. Jadi..” Jonghyun menyodorkan ke depan mukaku halaman komik yang tadi kutunjuk, “aku ragu kalau aku bisa melakukan Harem no Jutsu yang kau suruh ini”

“Harem—MWOYA?!” Shock. Pasti Jonghyun benar-benar menganggapku maniak! Sungguh, kenapa halaman yang tadi kutunjuk adalah halaman dimana Naruto menggunakan Harem no Jutsu?!

Kalian tahu kan Harem no Jutsu? Itu loh, jurus dimana Naruto berubah jadi wanita telanjang. Aku ulangi –supaya lebih terdengar dramatis—, TELANJANG! Oh My God!

“Bagaimana kalau aku menunjukkan Henge no Jutsu saja?” tawarnya sambil menahan tawa karena melihat wajahku yang memerah karena malu. Pada dasarnya, Henge no Jutsu sama dengan Harem no Jutsu, yaitu jurus perubahan bentuk. Hanya saja, Henge no Jutsu bukan jurus Hentai/ Yadong karena jurus ini jurus perubahan bentuk biasa. Tidak perlu berubah menjadi telanjang untuk menggunakan jurus ini ._.

“Te-terserah” sial, dia makin menahan tawa karena mendengar suaraku yang bergetar.

“Tapi, karena aku lebih ke pengguna Genjutsu, aku akan sedikit memodifikasi jurus Henge no Jutsu. Aku akan masuk ke alam bawah sadarmu dan berubah menjadi seseorang yang selalu kau pikirkan sehingga menciptakan sedikit ilusi. Bagaimana?”

“Oke”

Jonghyun menyeringai, “Akan sangat lucu kalau aku tidak berubah sama sekali. Itu berarti kau selalu memikirkan aku”

Entah mengapa aku merasakan pipiku panas mendengar ucapannya, “Coba saja! Itu tidak akan terjadi!” tantangku.

“Baiklah, aku akan mulai sekarang”

Jonghyun membuat beberapa simbol binatang dengan tangannya.

“Henge no Jutsu!”

Poof~

Asap tebal memenuhi sekeliling tubuhnya.

Jujur, aku sedikit waswas.. Bagaimana kalau dia memang tidak berubah?

Aih, tapi aku kan tidak selalu memikirkannya! Bertemu dengan dia pun baru hari ini.

Tik tok tik tok

Detik demi detik pun berlalu..

Perlahan-lahan, asap itu menghilang. Mulai dari bagian bawah.

Aku menarik nafas lega. Untunglah.. Dia berubah. Bagian bawahnya memakai rok dan aku yakini itu kaki perempuan.

Eh, tapi.. Perempuan? Siapa yang selalu kupikirkan? Eommaku?

Asap itu terus menghilang, sekarang tinggal wajahnya saja yang tertutup asap.

.

.

Aku mulai melihat rambutnya. Rambut itu bergelombang sebahu.

.

.

Mulutnya.. Bibir itu.. Mungkinkah..

.

.

Hidung itu.. Tidak mungkin! Tidak mungkin!

“Nah, selesai. Bagaimana? Kau percaya kan kalau aku ninja? Uh, perempuan ini siapa sih—.”

“Junghee!” perkataan Jonghyun terpotong karena Key langsung memeluknya.

“Junghee? Junghee siapa? Key—eh, Kenapa kamu nangis?” Jonghyun makin kelabakan karena Key malah menangis sambil terus memeluk tubuhnya yang sedang menjadi sosok Junghee? Entahlah, sepertinya perempuan ini namanya Junghee.

“Junghee, kenapa kau tinggalkan aku? Apa kau tidak mengingat janji kita?”

“Key, ini aku, Jonghyun..” Jonghyun menggenggam tangan Key, berusaha menenangkannya.

“Junghee, ai takute..”

“Key, aku Jonghyun, bukan Junghee..” percuma. Jonghyun tahu, Key sama sekali tidak mendengarnya saat ini. Dan yang lebih membuat Jonghyun miris adalah wajah Key yang terlihat.. menyedihkan.

Seperti ada perasaan yang sangat menyakitkan menghantui batinnya.

Apa aku melakukan hal yang salah?, batin Jonghyun.

Dia tidak punya pilihan lain selain memeluk Key balik dan membiarkan bajunya basah oleh air mata Key. Sementara Key terus menerus memanggil nama ‘Junghee’ tanpa henti.

Setengah jam kemudian.

Jonghyun menidurkan tubuh Key di atas kasur. Sekarang, dia sudah kembali ke tubuhnya yang semula dan Key akhirnya tertidur setelah kecapekan menangis.

Jonghyun mendekatkan tangannya ke atas dahi Key pelan-pelan. Ragu.

“Em.. Junghee..” racau Key tepat ketika tangan Jonghyun hendak menyibak poninya yang basah oleh keringat.

Mendengar hal itu, Jonghyun segera menjauhkan tangannya sambil menggigit bibir bawahnya.

Jonghyun mengingat lagi tujuan sebenarnya dia ke dunia nyata, tujuan sebenarnya mengapa ia harus berada di samping Key, atau mungkin—

Tidak. Ia tidak akan bisa mengatakan hal itu kepada Key. Melihat keadaannya yang seperti ini, hal itu pasti akan menambah beban jiwanya.

Dia tidak boleh egois. Haruskah dia berbohong?

Ya, dia harus memikirkan apa yang harus ia katakan. Cepat atau lambat, Key pasti akan menanyakan mengapa ia datang ke dunia nyata ini –atau lebih tepatnya, mengapa Jonghyun harus mengikuti dan berada di samping Key?—.

Dan ketika saat itu datang.. Jonghyun harus berbohong.

Bukankah ini semua demi kebaikannya? Orang yang bernama Junghee itu sepertinya benar-benar berharga bagi Key.

Biarpun Jonghyun akan menerima konsekuensi besar atas itu semua, tapi dia akan menerimanya.

Jonghyun tersenyum pahit atas semua hal yang baru saja dia putuskan. Benar, dia akan menerima konsekuensinya sekalipun itu adalah cita-cita terbesar sepanjang hidupnya.

Satu pertanyaan: Mengapa ia rela berkorban untuk Key? Padahal mereka belum lama ini berkenalan. Kalaupun jonghyun ingin menjawab, tapi dia tidak bisa. Entahlah kenapa dia mau bertindak sebodoh ini hanya karena melihat air mata laki-laki yang ada di hadapannya.

Lama berkutat dengan pikirannya. Jonghyun pun berdiri lalu mengambil selimut hangat, menyelimuti tubuh Key agar tubuhnya tahan dengan cuaca dingin pada malam ini.

“Oyasumi, Key.. Mata ashita.. (Selamat malam, Key.. Sampai jumpa besok)”

Jonghyun memberanikan diri mengelus pipi tirus Key sambil memberikan senyum terbaiknya walau matanya menyiratkan kesedihan.

“Hontou ni.. Gomen ne.. (Aku benar-benar .. Meminta maaf..)”

To be Continued..


Advertisements

3 responses to “| JONGKEY | Oh! My NINJA | #1 – The Red Eyes |

  1. I love your site very much, thank you for sharing such usefull information i just bookmark your site i definitely will visit again 🙂

  2. Jjong sengaja apa sengaja itu duduk disebelah key ??? :3
    Sumpah ngakak pas baca jjong ga bisa makan kue keju nya xD xD
    Eheeem sebenernya aku sempet bingung, ini fanfic bukannya pake bahasa korea kok malah pake bahasa jepang?? .___.

    Jonghee itu siapa siih??? Uwaaah penasaran xD

    Thor minta password part selanjutnya dong :3

  3. eonnnnn.. ane baru baca, tapi udah sukaaaa banget
    ehehe, jong ama key kayak anak kecil
    password part yang selanjutnya itu adalagi baru eon?
    duh maap bahasanya belibet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s