[JONGKEY] My Name is Key Part 12 (Special Part)


Part ini adalah cerita lepas.

Tidak ada hubungannya dengan cerita My Name is Key dari Part 1-10. Walau sedikit berhubungan, tapi untuk membaca Part 11 dan Part 12 tidak perlu membaca My Name is Key dari Part 1-10. Part 11 dan 12 ini seperti fanfic Twoshots lainnya, hanya saja masih bagian dari My Name is Key. Sebenarnya, cerita lepas ini dibuat karena ada beberapa hal yang membuat part 10 sebenarnya (yang nantinya akan menjadi Part 13) sangat terlambat pengerjaannya. Mianhe T^T

Aku hanya berpikir… Apa jadinya kalo My Name is Key diceritakan kalau JongKey berada di Sekolah biasa, bukan sekolah seni dan kemarin, kebetulan aku baru selesai Ospek. Dan jadilah fic ini~ mudah-mudahan tidak mengecewakan kalian semua T^T TOLONG JANGAN BUNUH AKUUUU~

 

Intinya, bagi kalian yang tidak/ belum membaca My Name is Key dari part 1-10, kalian baca aja 2 part ini kalau kalian mau.. Dijamin tetap mengerti jalan ceritanya kok. Swear! Kkk

 

Karena banyak yg ngomen tentang Spongebob. Aku ga ngefans ama Spongebob ._.a

Yang ngefans sama Spongebob itu Key n karena ceritanya Key’s POV, makanya aku masukkin Spongebob XD

 

Prev Part 11 >>

 

Cup~

Aku membulatkan mataku. Jonghyun mencium keningku! Memang cuma sekejap, tapi aku tetap tidak mempercayainya.

Good Night Kiss kekeke” Jonghyun mengelus pipiku sehingga mataku dan matanya kembali bertemu, “Terima kasih untuk hari ini, Keyeobo~”

Sesudah mengatakan itu, dia masuk ke mobilnya dan duduk di kursi lalu menyalakan mesin mobilnya.

Aku terus memandangnya dengan tatapan dan tampang yang mungkin terlihat sangat bodoh, sebelum berangkat , dia menatapku lalu tersenyum dan mengedipkan matanya.

Argh, Aku bisa gila!!!

 

 

 

“Hayoo~ tadi siapa?” tanya Umma yang sudah stand by di depan pintu ketika aku memasuki rumah.

“Siapa apanya?” tanyaku balik, padahal aku tahu apa yang Umma maksud. Tapi, aku tidak bisa mengakui ada hal apa di antara aku dan Jonghyun. Aku takut tidak bisa menyembunyikan kalau ‘status’ kami akan segera kadaluarsa, aku tidak pernah bisa berbohong pada kedua orang tuaku. Entah mereka akan memandang apa jika mengetahui kalau kami hanya bermain-main.

“Itu, cowok bermobil mewah yang wajahnya kaya dinosaurus, tapi gantengnya selevel dengan Appamu” Aku sedikit tertawa mendengar penjelasan Umma.

“Bukan siapa-siapa, Umma.. Dia cuma sunbae..”

“Sunbae? Kau di antar Sunbaemu di hari pertama Ospek? Kok bisa?” tanyanya lagi secara beruntun.

“Ah, Umma masak apa malam ini? Aku lapar~” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dan sepertinya itu berhasil, Umma langsung berlari lagi ke arah dapur karena katanya dia hampir lupa kalau Supnya sudah terlalu lama ditinggalkan.

Aku melepas sepatuku dan entah kenapa aku kembali teringat dengan ekspresi aneh Jonghyun yang sempat dia keluarkan tadi.. Mungkinkah dia.. Sepertinya aku tahu mengapa ekspresinya seperti itu.. Aku harus melakukan sesuatu.

**

“Apa maksudnya aku harus tinggal di dalam kelas?” tanyaku tidak mengerti dengan penjelasan Sunbae Pembimbing Kelasku selama Ospek. Teman-teman sekelasku yang lain sudah dibariskan di luar lapangan sekarang, padahal matahari sedang panas-panasnya dan hanya aku yang disuruh berdiam diri di dalam kelas! Hei, aku tidak sakit! Lagipula aku tidak mau menjadi orang yang egois.

“Kami mohon.. Kamu diam saja di dalam kelas. Tolonglah kami.. Kami tidak bisa membantah perintah Jong—oops” Sunbae itu menutup mulutnya dengan punggung tangan karena keceplosan.

“Jadi, ini semua suruhan Jonghyun?”

Sunbae itu menyentuhkan dengkulnya kepada Sunbae lainnya yang berada di samping, mungkin menyuruh sunbae itu untuk menjawab pertanyaanku.

“I-iya.. tapi jangan katakan kalau kami yang memberitahumu. Kami sangat memohon kerja samamu, Kami tidak ingin dikeluarkan dan ini juga demi teman-temanmu yang lain..”

Aku menghela nafasku lalu berkata pasrah, “Baiklah.. tapi, tolong panggilkan Jonghyun dan suruh dia kesini”

“Tapi—.”

“Atau aku akan menelepon Jonghyun sekarang dan mengatakan semuanya?” ancamku sambil mengeluarkan telepon genggamku dan mulai memencet beberapa nomor.

Mereka langsung berlari terbirit-birit keluar kelas, malah hampir saling bertubrukan setelah aku berkata seperti itu.

Sepertinya aku agak keterlaluan, tapi aku harus berbicara dengan Jonghyun. Lagipula, sebenarnya aku tidak punya nomor Jonghyun kekeke. Memanfaatkan keadaan sedikit boleh kan?

Aku lalu kembali duduk di bangkuku dan memandang keluar jendela, kebetulan letak mejaku ada di barisan paling ujung yang menempel ke tembok sehingga aku bisa berhadapan langsung dengan jendela.

“Hello, My Princess~” sapa seseorang yang tiba-tiba bertengger di jendela yang sedang kugunakan untuk melihat pemandangan di luar, wajahnya terpaut beberapa cm saja dari wajahku.

“J-Jjong?” kagetku setelah mengetahui bahwa sosok itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jonghyun, “darimana kau datang?”

Jonghyun turun dari jendela dan aku segera menghampiri jendela lalu memandang ke bawah, “Ini kan lantai 2? Bagaimana bisa??”

Jonghyun menggaruk belakang kepalanya yang mungkin gatal lalu tertawa cengengesan, “Hehe.. mungkin.. bakat?” jawabnya ragu dan tidak yakin.

“Memangnya kamu Spiderjjong?” tanyaku serius dan dia membalasnya dengan tertawaan yang keras. Hei, aku serius! Sungguh! Aku serius! Dua rius deh!

“Ya gak lah Key hahahaha Sini, lihat deh itu..” Jonghyun merangkul pundakku lalu mengajakku memandang kebawah.

“Tuh, ada batu bata yang tonjolannya lebih keluar daripada batu bata lain kan? Nah, sepertinya itu memang sengaja di rancang seperti itu karena tidak hanya satu batu bata yang seperti itu. Kebetulan, aku suka panjat tebing jadinya naik dari lantai satu kesini sih gampang..” aku tidak lagi fokus dengan penjelasan Jonghyun karena lagi-lagi jantungku berdetak sangat keras. Rangkulan Jonghyun di pundakku membuat badan kami agak menempel, menyesuaikan ukuran jendela agar kami dapat memandang ke luar jendela secara bersamaan. Aku bisa merasakan detak jantungnya..Tapi.. Jantungnya tidak berdetak cepat layaknya jantungku. Apa aku sakit jantung? Tentu tidak. Perasaan ini tidak sakit, sama sekali tidak sakit.

“Key.. Yeobo..” Jonghyun memanggilku lalu menggerak-gerakkan kelima jarinya di depan mukaku.

“Ah.. i-iya?”

“Kau melamun?”

“Ahahaha tidak..” canggungku.

“Tapi kau tidak menyahut pertanyaanku daritadi” Ah sial.. Apa yang tadi kau pikirkan sih, Key? Jonghyun bisa-bisa menganggapmu aneh!

“A-ani.. oh, ya.. aku menyuruhmu kemari karena ada sesuatu yang ingin aku berikan..” ucapku sedikit gugup dan kembali ke tujuan asalku memanggilnya kemari, sekalian mengalihkan pembicaraan juga sih..

“Apa itu?” tanyanya lalu mengikutiku yang duduk di kursiku. Dia membalikkan kursi yang berada di depan mejaku lalu duduk berhadapan denganku.

“Ini” aku menyerahkan kotak bekal kepadanya.

“Untukku?” tanyanya terlihat ragu.

Aku memutar kedua bola mataku, “Ya iyalah..buat siapa lagi?”

Jonghyun tidak melepaskan tatapan matanya dari kotak bekal yang ada di hadapan kami dan tersenyum bagai anak kecil yang diberi permen lollipop berukuran jumbo atau bagai Spongebob yang diberi tanda tangan Super Junior eh—maksudnya Mermaid Man dan Barnacle Boy.

“Kok natepnya gitu sih? Ga suka? Ya udah, biar aku aja yang makan!” sahutku galak sambil merampas kotak bekal itu, tapi dia segera menggenggam tanganku yang memegang kotak itu dan mengambilnya balik.

“Enak aja! Ini kan punyaku!” jawabnya bagai Shinchan yang tidak rela Chocobinya direbut. Dia membuka kotak bekal itu dan kembali memandangi makanan yang ada di dalamnya dengan tatapan senang yang benar-benar polos.

“Apalagi? Ga ada racunnya kok! Aish.. seharusnya aku memang tidak usah bersusah-susah membuatkanmu bekal..” Jonghyun memindahkan pandangannya ke arahku setelah aku selesai mengatakan itu. Sekarang, matanya mulai beraksi,puppy eyes mode. Bukan, dia tidak sedang memohon, tapi aku menyadari, Jonghyun suka tidak sadar mengeluarkanpuppy eyesnya ketika dia berakting imut atau dia sedang dalam mood anak-anak seperti sekarang.

“Kau yang membuatnya?” tanyanya benar-benar tertarik seperti anak TK yang baru diajarkan kalau 1 + 1 = 2.

“Iya lah.. siapa lagi?” sekarang, aku benar-benar malas menjawab pertanyaannya yang jawabannya tentu saja tidak perlu ditanyakan lagi.

Brug

Dia tiba-tiba memelukku dari depan, erat.. sangat erat. Aku tidak tahu lagi bagaimana keadaan jantungku sekarang. Mungkin jantungku sudah berhenti berdetak dan yang lebih parah.. Aku tidak peduli dengan itu! Aku malah merasa senang! Gila! Aku harus meminta Minho mengantarkanku ke Rumah Sakit Jiwa!

“Gomawo..” ucapnya di sela-sela pelukan kami. Suaranya terdengar tulus dan.. entahlah.. lembut sekali. Jonghyun benar-benar mengatakan itu dari dalam hatinya.

“Tidak pernah ada lagi yang membuatku bekal setelah Umma sibuk bekerja di luar negeri.. Di rumah hanya ada masakan yang dipesan khusus dari restauran berbintang lima.. Padahal seharusnya masakan itu enak, tapi aku tidak merasakan apapun.. aku tidak pernah menikmati masakan di rumah.. Untuk itulah, aku mempunyai maag sekarang.. Aku sering telat makan”

“Ya! Jangan telat makan! Lambungmu hanya satu.. kasihan dia kalau tidak diberi asupan” aku khawatir mendengarnya sering telat makan. Dasar ceroboh!

“Haha. Sudah lama tidak ada yang menasehati dan mengkhawatirkanku seperti itu” Aku merasakan .. untuk pertama kalinya.. ternyata Jonghyun benar-benar rapuh.

Dugaanku pun tidak salah.. Ekspresi aneh yang Jonghyun perlihatkan waktu itu karena aku mengatakan bahwa Ummaku sedang memasak makan malam. Jonghyun rindu dengan ibunya, Jonghyun membutuhkan ibunya.

Aku tersenyum dan membalas pelukan Jonghyun secara perlahan. Kuusap punggungnya dan dapat kurasakan aroma tubuhnya yang merasuk penciumanku. Kurasakan baju belakangku sedikit basah, sepertinya Jonghyun menangis.

Tapi, Jonghyun tidak ingin menunjukkan tangisannya di depanku, aku mengerti itu. Jadi, untuk beberapa saat, kami terdiam dan terus berpelukan. Aku tidak berhenti mengelus punggungnya dan aku menyanyikan sebuah lagu berjudulFirst Love dari Utada Hikaru secara pelan, lagu lama memang.. Satu hal yang kusadari, cinta pertamaku, cinta pertama Jonghyun, dan cinta pertama semua orang di dunia adalah Ibu. Aku merasa beruntung karena mempunyai Umma yang selalu menyempatkan dirinya untuk memasakanku bekal, perhatian padaku, bahkan masih menceritakanku dongeng ketika aku mau tidur padahal dia mempunyai segunung pekerjaan kantor yang harus diselesaikan.

You are always gonna be my love 

Itsuka dareka to mata koi ni ochite mo

 

I’ll remember to love you taught me how

 

You are always gonna be the one

Mada kanashii LOVE SONG

Now and forever..

Ever..

Aku selesai menyanyikan semua lirik. Jonghyun pun melepas pelukannya dariku. Matanya sedikit merah, tapi aku memutuskan untuk tidak bertanya apapun.

“Suaramu bagus” komentarnya.

“Siapa dulu dong? Key~!” narsisku, dia tertawa sedikit.

“Siapa dulu dong ‘pacar’nya? Jonghyun~ Kekeke” Ah, dia tetap tidak menyadari apa kalau perlakuannya membuat pipiku bersemu merah? Kuyakini sekarang lesung pipiku terlihat begitu menonjol karena senyuman gila yang aku keluarkan.

“Ya sudah.. ayo makan bekalnya. Kau sudah berterimakasih duluan padahal mencicipinya saja belum.. Siapa tahu rasanya tidak enak” Jonghyun tersenyum lalu mengambil sumpitnya.

“Tidak, rasanya pasti enak karena kau membuatnya dengan cinta hehe”

Sekali lagi, pipiku memerah. Kalau ada tanding lomba ‘Siapa lebih Merah?’ mungkin kepiting rebuspun kalah merah dengan pipiku.

“Am..” Jonghyun memasukkan satu sumpit nasi dan lauk ke mulutnya lalu mengunyahnya. Aku melihatnya, memandangnya dengan harap-harap cemas. Entah kenapa, aku merasa sangat tegang. Waktu dibagikan kelulusan SMP pun aku tidak setegang ini. Aish.. benar-benar aneh.

“Enak.. Fabulous.. Oishii.. Mashita..” komentarnya dengan mengacungkan kedua ibu jarinya.

“Satu bahasa aja cukup, Jjong.. artinya kan sama aja”

“Tapi ini benar-benar enak! Aku mungkin harus mentranslate kata ‘enak’ ke semua bahasa yang ada di dunia untuk mengekspresikan bagaimana enaknya masakanmu! Aih.. tidak, semua bahasa tidak cukup. Mungkin aku harus pergi ke planet lain dan belajar semua bahasa planet”

“Gombal” memang sangat gombal terdengarnya, tapi aku adalah orang yang dengan bodohnya merasa senang karena gombalan dari seorang penggombal.

Kami lalu diam. Aku terus memandanginya yang serius memakan bekal buatanku sambil bertopang dagu. Jonghyun benar-benar terlihat lucu seperti anak kecil, membuatku tak berhenti tersenyum kecil karenanya.

“Ya! Kenapa memandangku seperti itu?” Jonghyun mungkin menyadari kalau aku terus memandangnya hihi. Sekarang bekal buatanku sudah ludes semua, bersih tak tersisa.

“Ani.. aku baru menyadari kalau ‘pacar’ku yang ini lucu sekali.. Makannya kaya anak kecil.. Aigoo~” rayuku sambil mencubit-cubit pipinya. Dia menggembungkan pipinya kesal, tapi itu malah membuatnya lebih terlihat seperti anak kecil.

“Aku memang anak kecil.. dan anak kecil yang satu ini mau melakukan sesuatu~” kata Jonghyun dengan suara imutnya.

“Apa itu, hm?” tanyaku sambil melepaskan cubitanku dan menatap mukanya yang berada sangat dekat dengan mukaku.

Tanpa ba-bi-bu, Jonghyun mendaratkan sebuah kecupan di pipiku. Aku kembali membelakakan mataku, Ini bukan mimpi kan? Kupegang dada kiriku dan detakannya semakin cepat. Tuhan, apa yang terjadi denganku?

Setelah melepaskan kecupannya, dia segera berlari dan keluar dari kelas. Mungkin dia takut kalau aku akan  memarahinya atau melakukan hal lain karena serangannya yang tiba-tiba. Tapi, jangankan marah.. untuk mengatakan satu katapun aku tidak sanggup. Aku terlalu terkejut, lagipula aku tidak marah.. aku senang.. sangat senang.

Kubelai pipiku yang beberapa saat lalu terkena sentuhan lembut bibirnya dan aku menemukan sesuatu.

“Hmph” aku terkekeh pelan karena satu butir nasilah yang menempel di pipiku. Ya, satu butir nasi ini menjadi satu-satunya saksi bisu atas kejadian tak terbayangkan tadi.

**

“Hoam~” Aku mendengar Minho yang menguap dari seberang.

“Ya! Kau mendengarkan perkataanku kan?” tanyaku sedikit kesal, takut-takut dia tidak mendengarkan cerita panjang lebarku yang sejak tadi aku ceritakan melalui telepon, bisa-bisa tagihan teleponku membengkak untuk hal yang sia-sia karena Minho tidak mendengarnya.

“Dengar yang mana? Bagian kau berjalan-jalan dengan Jonghyun ke Mall? Atau bagian kalian minum di café?  Bagian dia memanggilmu Keyeobo? Bagian dia mengantarmu pulang? Bagian dia mencium keningmu? Bagian Ummamu yang menanyakan Jonghyun? Bagian yang—.”

“Oke, cukup. Kau mendengarkan dengan baik ternyata. Dan bagian terbaiknya..”

“Kau membuatkannya bekal lalu dia mencium pipimu. Kau sudah mengatakan hal itu berulang kali, Key..” Aku tersenyum mendengar Minho yang sepertinya kesal dan sudah ingin tidur tapi tidak bisa karena aku terus mengoceh.

“Satu hal, Key.. kau jatuh cinta padanya. Jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya” Aku tertegun mendengar kata-kata Minho lalu menarik nafas berat.

“Ya.. aku tahu itu. Aku jatuh cinta pada Jonghyun”

“Dan satu nasehat yang bisa ku sampaikan sebelum aku pergi tidur, katakan kalau kau benar-benar mencintainya”

“Pasti”

“Nasehatku bukan yang itu.. Ketika kau mengatakannya, ada 2 jawaban. Yang satu, dia akan menjawab ‘ya’ dan itu berarti dia juga mencintaimu.. Jawaban lain.. kau tahu sendiri”

“Aku tahu itu..”

“Aku bukan bermaksud membuatmu sedih, aku sahabatmu dan karena aku sahabatmu, aku mengatakan hal ini.. Kalau dia menjawab ‘tidak’ itu berarti bahwa dia selama ini hanya memacarimu seperti janji yang dia ucapkan.. Dia hanya bermaksud memacarimu selama 3 hari. Dan besok hari terakhir.. Kau harus menerima semua konsekuensinya. Apapun yang terjadi, aku tidak mau kau berubah. Ok? Kau harus tetap menjadi Key yang aku kenal”

Aku sekali lagi tertegun karena kata-kata sahabatku, Si Kodok ini.

“Ne, terima kasih karena sudah mendengarkan curhatku.. Malam Minho, Annyeong..”

Aku menutup telepon dan memandang jam dinding, pukul 23.00.

Kemana perginya Umma dan Appa? Jam segini belum pulang.. tumben sekali. Apa mereka lembur ya?

Ting tong

Baru saja aku pikirkan, ternyata mereka sudah datang. Untunglah.. Aku tidak jadi berada di rumah sendirian. Para pelayan tentu saja ada, tapi mereka tidur di rumah khusus para pelayan, tepat berada di belakang rumah utama.

“Umma, App—.”

Aku tercekat setelah mendapati kalau orang yang memencet bel bukanlah Umma dan Appaku.

“Jjong?”

“Annyeong, Key..” sahutnya sambil tersenyum.

“Kenapa kesini?”

“Apa aku tidak boleh berkunjung ke rumah ‘pacar’ku sendiri?” tanyanya kecewa.

“Bukan begitu.. Tapi ini sudah malam” kataku beralasan.

“Karena sudah malam makanya udara terasa dingin dan badanku menggigil seperti ini” Aku melihat badannya yang memang sedikit menggigil.

“Tuh kan ceroboh lagi! Cepat masuk!” aku menariknya masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, lalu mendudukannya di kursi dekat perapian dan menyalakannya.

“Di rumahmu masih ada perapian?”

“Seperti yang kau lihat..” jawabku sedikit sebal. Dia selalu dan selalu tidak melihat keadaan dirinya sendiri. Pergi keluar pada malam yang dingin seperti ini dengan jaket yang tidak bisa menghangatkan badannya itu. Benar-benar senang membuat orang khawatir.

“Key..”

“Hm..” sekarang, aku sedang fokus membuatkannya secangkir coklat panas.

“Jangan marah..” mohonnya. Aku menarik nafas panjang dan berjalan ke arahnya dengan secangkir coklat panas di tanganku.

Dia menerima cangkir itu, tapi dia tidak meminumnya. Dia malah menatapku, sepertinya membutuhkan jawaban atas permohonannya tadi.

“Hah..” aku menghembuskan nafasku, berusaha tidak emosi.

“Aku tidak marah padamu.. Hanya saja.. Aku benar-benar khawatir. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu di jalan tadi? Kalau tiba-tiba tanganmu membeku karena kedinginan, bagaimana bisa kau menyetir mobil? Lalu.. Argh, aku tidak mau membayangkan apa yang bisa terjadi padamu selanjutnya”

“Mianhe..” jawabnya pendek. Aku tersenyum, sudah sedikit tenang sekarang.

“Tidak apa, yang terpenting, kau baik-baik saja..” Jonghyun membalas senyumku, dia lalu menghabiskan coklat panasnya.

“Lalu, ada apa kau kemari?”

“Kan sudah kubilang, Cuma mau ketemu kamu kok, yeobo~”

“Jangan bohong. Kalau hanya itu sih bisa besok, kau pasti mau menyampaikan sesuatu sampai keluar rumah di cuaca dingin seperti ini..”

Jonghyun terlihat menyerah “Aku memang tidak bisa berbohong padamu..”

“Tidak akan pernah bisa” ralatku. Jonghyun pun tertawa.

“Baiklah, boleh aku ke kamarmu?”

Aku menunjukkan ekspresi ketakutan sambil memeluk tubuhku sendiri, “Apa yang mau kau lakukan?”

“Memangnya kau kira aku mau melakukan apa?”

“Siapa tahu.. Karena cuaca dingin, kau mau ‘menghangatkan diri’, lagipula kau itu kan pervert!”

Jonghyun tetawa ngakak dan sangat keras sampai memegang perutnya karena kesakitan, “Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha”

Aku cemberut mendengarnya menertawaiku seperti itu, “Ya! Ga usah segitunya juga kan.. Wajar aja kalau aku takut.. nyatanya kamu kan emang pervert!”

“Huwahahahahahahaha ok hahahahahaha aku susah berhenti hahahahaha aduh hahahahahaha aku bener-bener ga bisa huwahahahaha berhen—.”

Cup

Aku mungkin benar-benar gila, sarap dan mungkin stres. Aku mencium Jonghyun tepat di bibir. Aku memang berencana membungkam mulutnya yang tidak bisa berhenti tertawa itu, tapi tidak dengan bibirku. Apa otakku sekarang pindah ke bibir? Tuhan! Aku menutup mataku, tidak mau melihat ekspresi Jonghyun. Pasti dia kaget dan mungkin saja dia akan mendorongku lalu melepas ciuman kami.

Tapi, aku tidak merasakan reaksi apapun dari Jonghyun, jadi aku putuskan untuk melepaskan ciuman itu lalu menatapnya.

Dia tidak berkata sepatah katapun, tapi matanya terbelalak kaget sambil menatap ke arahku.

“J-jjong..”

Jonghyun terlihat akan mengatakan sesuatu tapi sebelum mengatakan itu, mulutnya menutup kembali.

Dia berbalik memunggungiku lalu berkata pelan.

“Antar aku ke kamarmu..”pintanya sekali lagi.

Aku tidak punya pilihan lain. Aku pun berjalan di depannya, dia mengikutiku dari belakang tanpa suara.

Ah.. apa yang kau lakukan, Kim Kibum? Sekarang, suasana di antara kita berdua benar-benar canggung.

Kriet

“Ini kamarmu?” tanyanya yang sudah pasti jawabannya ‘iya’. Kami masuk ke dalam kamarku yang memang berkategori unik dengan nuansa pink dimana-mana.

“Hmph. Ini apa?” Aku menengok ke arah Jonghyun yang terdengar sedang menahan tawanya.

“AAAAAAAAAAAAAAH!!” aku berteriak sekencang-kencangnya lalu menyembunyikan foto yang tadi ditertawainya di balik bajuku. Sial! Itu fotoku waktu berumur 3 tahun dan aku tidak mengenakan apapun!  Sehelai benang pun tidak!

“Ya! Itu kan fotomu waktu kecil. Tidak usah malu seperti itu! Sini, berikan padaku foto yang tadi! Aku ingin melihatnya lagi!” Jonghyun menarik-narik tanganku agar aku melepaskan genggamanku pada foto itu, tapi aku tetap tidak mau. Rasanya.. aku benar-benar malu, seakan-akan Jonghyun memang sudah melihatku bertelanjang bulat di umurku yang sekarang.

“Tidak mau!” aku juga ikut menarik dan menahan foto tersebut dari balik baju.

“Kemarikan!”

“Tidak mau!”

“Kemarikan!”

“Tidak ma—.”

Bugh

“Aw!” Aku merintih kesakitan karena kekuatan kami tadi sama kuat sehingga tubuh kami oleng dan kami jatuh ke lantai dengan posisi… Jonghyun berada di atasku.

“Kau tidak apa-apa, Ke—.”

Jonghyun belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Mungkin dia sama-sama kaget karena menyadari jarak wajah kami yang benar-benar dekat. Bahkan, hidung kami pun saling bersentuhan saking dekatnya.

Dari jarak sedekat ini, aku baru menyadari kalau Jonghyun itu sangat tampan. Hidungnya mancung, alisnya tebal, matanya bulat, dan bibirnya.. sexy.

Hembusan nafas Jonghyun juga terasa hangat menerpa wajahku. Kami masih terdiam dengan posisi itu sampai akhirnya Jonghyun berdiri sambil merapikan bajunya yang sedikit acak-acakan karena jatuh.

Aku ikut berdiri, karena suasana kembali canggung, aku meminta izin untuk keluar dan pergi ke WC. Jonghyun hanya mengangguk tanpa menatap mataku, posisinya membelakangiku.

Ketika sampai di WC, aku menilik pantulanku dari cermin. Kusut.

Hatiku mungkin tak kalah kusut.

Aku mulai merasa tersiksa karena rasa ini. Kalau aku terus menahannya tanpa memberitahu Jonghyun, aku pasti akan lebih sakit. Tapi.. ada sesuatu yang buruk, aku merasakan akan ada sesuatu yang buruk kalau aku mengatakannya.

Apa karena Jonghyun tidak mempunyai rasa yang sama sepertiku?

Kalau hal itu.. aku memang akan sakit hati, tapi seperti janjiku pada Minho.. Aku tidak akan berubah.

Ada hal lain yang mengganjal pikiranku dan aku tidak tahu apa itu.

“Bagaimana ini, Key? Haruskah kau mengatakan hal itu padanya sekarang?” tanyaku pada pantulan diriku yang terlihat menyedihkan dari dalam cermin.

Aku membuka kran dan membasuh mukaku dengan air secara berulang-ulang.

Ya, sudah kuputuskan! Aku akan mengatakannya sekarang juga.

**

Kriet

Ketika kubuka pintu kamarku, Jonghyun masih berdiri dengan posisi yang sama, memunggungiku. Tapi, sekarang dia memunggungiku sambil melihat ke arah luar jendela, ke atas langit gelap.

“Jonghyun.. aku..”

“Key..” potongnya sambil berbalik memandangku. Aku berjalan ke dekatnya lalu dia menggenggam tanganku sambil menyeretku mendekat ke arahnya.

“Maafkan aku.. Aku bertindak seenaknya dengan menjadikanmu ‘pacar’ku.. Aku egois, aku tidak memikirkan perasaanmu terlebih dahulu. Aku..”

“J-Jjong..”

“Dengarkan aku dulu sampai selesai, Key..” Jonghyun menghela nafasnya sebelum melanjutkan perkataannnya, “Aku sungguh tidak bermaksud. Maafkan aku seenaknya menggenggam tanganmu, mengelus rambutmu, memelukmu, bahkan menciummu.. Seharusnya kau melakukan itu semua dengan orang yang kau suka, bukan aku”

“Jjong!” teriakku agar dia menghentikan ucapannya. Apa dia tidak menyadari kenapa aku diam saja ketika dia memperlakukanku seperti itu? Itu semua karena aku menikmatinya! Aku menikmati semua yang Jonghyun lakukan padaku.

“Key.. dengar, 2 menit lagi jam 24.00. Itu berarti, seharusnya sudah 3 hari kita ‘pacaran’. Kau bisa bebas..”

“3 hari itu jam 12 malam berikutnya, Jjong.. bukan sekarang. Apa sih yang kau pikirkan?” Jonghyun menilik ke arah jam dinding lalu kembali menatap Kibum dengan senyuman tulusnya.

“Tidak.. Sampai disini sudah cukup. Aku tidak akan memperpanjang semuanya”

Teng Teng Teng

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

“Jjon—.”

Jonghyun membungkam perkataanku dengan bibirnya. Dia menciumku! Bukankah seharusnya aku merasa senang? Tapi kenapa.. Kenapa air mata ini tiba-tiba mengalir ke pipiku?

Teng Teng Teng

jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

Aku tidak bisa menghentikan tangisku. Kulihat Jonghyun menutup matanya, dia memeluk pinggangku dengan tangan kirinya dan menahan tengkukku dengan tangan kanannya.

Teng Teng Teng

dasi nungama neol boreo gamyeon geu jarie meomchun nareul anajwoyo

Jonghyun masih terus menciumku. Aku tidak suka dengan ini semua! Apa yang terjadi dengannya? Apa yang terjadi dengan Jonghyun?

Teng Teng..

Jangan, Kumohon jangan sampai denting ke-12 berbunyi. Aku mohon.. hentikan waktu sekarang juga!

Jonghyun pun sudah melepaskan bibirnya dari bibirku. Aku benar-benar tidak suka ini!

.. Teng.

Kenapa waktu tidak berhenti? Padahal aku sudah memohon! Kenapa tidak ada yang bisa membantuku?! Kenapa tidak ada yang memihakku? Aku mohon.. sekali ini saja.

“Key..” panggil Jonghyun lagi. Tidak, aku tidak mau mendengar apa yang akan dikatakannya. Aku tidak mau mendengar! Aku harus menutup telingaku! Dan itulah hal yang aku lakukan sekarang.

“Percuma, Key..” Kenapa suaranya masih bisa terdengar? Aku melihat sekelilingku dan aku melihat 2 buah bantal yang berserakan di bawah kasur. Segera ku ambil bantal-bantal itu dan kututup telingaku dengan benda empuk itu.

Jonghyun memandangku dengan tatapannya yang sulit ditebak. Dia pun menghampiriku, duduk di sampingku lalu memegang kedua telapak tanganku dan menurunkannya, membuat ke 2 bantal tersebut kembali jatuh dan berserakan.

Goodbye, Baby..”

Ciuman di kening berarti bahwa dia menyanyangimu

Ciuman di pipi berarti bahwa dia membutuhkanmu

Ciuman di bibir berarti bahwa dia mencintaimu

Tetapi..

Ciuman di bibir juga berarti bahwa dia mengucapkan selamat tinggal untukmu

**

Tidak ada nyanyian burung yang membangunkanku di pagi hari yang entah kenapa terlihat mendung ini.

Cuaca di pagi hari saja sudah tidak mendukung, apa jadinya hari ini? Ckck.

Aku mandi, berpakaian lalu sarapan. Setelah mengucapkan salam pada Umma dan Appa, aku berangkat ke sekolah di antar kepala pelayanku, Sooman.

Kulangkahkan kakiku ke dalam sekolah dan bisa kurasakan mata semua orang menatap sedih ke arahku. Hei, apa yang terjadi?

“Key!” panggil Minho sambil berlari ke arahku.

“Minho!” sapaku sambil tersenyum ke arahnya. Senyum yang malah membuat Minho berhenti berjalan mendekatiku.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

“Kau tidak apa-apa, Key?” Eh? Kenapa balik bertanya? Kan harusnya aku yang mengatakan itu!

“Apaan sih? Aku kan baik-baik saja. Oh ya, kau lihat Jonghyun tidak? Aku tidak melihatnya daritadi. Biasanya, kepala Dino itu adalah orang paling pertama yang menyapaku di sekolah ini kekeke”

Minho menatapku dengan tatapannya yang paling tidak kusuka, tatapan iba.

“Aku memang menyuruhmu untuk tidak berubah, Key.. Tapi, kalau kau sedih.. Jangan kau tahan dan menunjukkan ekspresi kesenangan palsu seperti itu. Kau yang seperti ini lebih membuatku sedih dan khawatir..”

“Minho! Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu! Jangan membuatku bingung. Jelaskan tanpa basa-basi maksud perkataanmu itu!”

“Jonghyun memang pindah ke Paris, Key.. tapi kau bisa mencari pengganti lain. Aku yakin kau bisa menemukan pengganti dirinya dengan cepat..”

“Tunggu, tunggu.. Apa katamu tadi? Jonghyun pindah ke Paris? Tidak mungkin! Tadi malam dia masih bersamaku. Sudahlah, Minho.. leluconmu tidak lucu.”

Aku bermaksud meninggalkan Minho dengan berjalan duluan ke dalam kelas, tapi dia menahan tanganku dan membuatku berbalik menatapnya.

“Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?”

**

“Sooman! Cepat balik arah! Kembali ke sekolah! Aku tidak peduli seberapa cepat mobil bodoh itu berjalan, yang pasti aku mau kita bertemu di perempatan dekat sekolah dalam waktu 3 menit!”

Klik! Kututup teleponku dan kumasukkan asal ke dalam tas. Aku berlari sekencang yang aku bisa.

“Aku tidak percaya kalau aku akan mengatakan ini padamu.. Tapi, Jonghyun kemungkinan masih berada di bandara saat ini. Menurut jadwal, 20 menit lagi pesawatnya akan berangkat. Kalau dengan mobil, perjalanan ke bandara bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Palli! Kau harus cepat mengejarnya, aku tidak mau melihat dirimu yang seperti ini! Kau harus membawanya kembali dan berjanji padaku kalau kali ini adalah kali terakhir aku melihat wajah jelekmu itu”

Kata-kata Minho terus terngiang di telingaku.

Kenapa malam tadi Jonghyun tidak mengatakan soal kepindahannya padaku? Atau dia sudah mengatakannya? Tapi, aku benar-benar tidak ingat pernah mendengar soal kepindahannya.

Dasar Dino Bodoh!! Aku bahkan belum mengatakan perasaanku padanya! Bagaimana bisa dia pergi begitu saja?

Kulihat mobilku sudah terparkir, sepertinya Sooman berbakat dalam perlombaan F1.

Aku langsung masuk ke dalam mobil dan menyuruh Sooman mengeluarkan seluruh bakat yang dia punya untuk sampai secepat mungkin ke bandara.

**

Sial! Tinggal 5 menit lagi dan pesawatnya akan berangkat! Mengapa banyak kerumunan orang sih? Aku kan jadi susah berlari! Aku sedang cepat-cepat! Apa mereka tidak tahu kalau urusanku ini sangat penting?

“KECOAAAAAAAAAAA!” Sukses! Terima kasih , Minho-songsaenim.. Berkat ajaranmu, sekarang ada jalur terbuka untuk aku berlari dikarenakan para wanita sibuk menepi, takut akan kehadiran si ‘Kecoa’.

“Hosh hosh” Aku sampai di resepsionis dalam waktu kurang dari 2 menit dan masih tersisa 3 menit sebelum pesawat Jonghyun lepas landas.

“Pesawat tujuan Paris jadwalnya dipercepat dan sudah lepas landas dari 5 menit yang lalu, Tuan..” jawaban Resepsionis ketika aku menanyakan jadwal penerbangan Jonghyun benar-benar membuatku terkejut.

Aku sempat tidak percaya, tapi.. itulah kenyataannya.

Jonghyun sudah pergi..

Dia sudah meninggalkanku.

**

Kau jahat, Jjong.. Aku benar-benar benci padamu! Kenapa kau harus hadir dalam hidupku?

Aku menatap kosong ke luar jendela kamarku. Memandang langit, berharap setidaknya pesawat Jonghyun lewat.

Sayang.. harapanku terlalu besar, terlalu sulit untuk dikabulkan oleh Tuhan sepertinya.

Aku merasa putus asa.

Srek

Kurasakan aku menginjak sesuatu,kutatap ke bawah dan foto itulah yang tidak sengaja kuinjak.

Foto diriku yang bertelanjang bulat, foto yang sempat membuat aku dan Jonghyun memperebutkannya.

Aku tersenyum kecil. Kenapa dia bisa-bisanya tertarik pada foto ini padahal masih banyak fotoku yang terlihat dan terpampang di kamarku? Dasar Pervert!

Aku bersiap menyobek foto itu sebelum menyadari goresan hitam yang ada disana.

Eh, apa ini? Aku menemukan sesuatu tertulis di belakang foto itu. Tuisan itu.. Goresan hitam itu..

**

3 Tahun kemudian..

Sebuah spanduk besar bertuliskan ‘Welcome to Prancis!’ menyambutku hangat.

Sayang sekali, tujuanku bukan ke Prancis. Aku perlu mengunjungi ibu Kota dari Prancis lebih tepatnya.

[Maafkan aku, mungkin kau akan membaca surat ini setelah aku pergi dari Seoul..]

Aku menaiki bus tujuan Paris dan duduk santai sambil mendengarkan I-pod pinkku.

[Aku tidak sanggup mengatakannya langsung padamu.. Aku takut membuatmu terluka]

Pemandangannya memang sangat indah.

[Tapi, aku akan mengakui satu hal padamu.. Hari itu..]

Banyak pasangan yang berjalan bergandengan tangan di sepanjang jalan raya.

[Aku bukan tidak sengaja memilihmu jadi pacarku.. Nametagmu yang aku dapatkan bukan karena kau menjatuhkannya..]

Bunga-bunga di sekitar taman yang terlihat pun bermekaran indah.

[Aku mendapatkannya dari Panitia Ospek dan apa kau lupa kalau hari itu kau tidak memakai nametag?]

Daerah pertokoan juga tidak luput dari kentalnya aura cinta.

[Aku pertama kali melihatmu saat kau daftar ulang dan saat itu kau memberikan permen lollipop jumbomu kepada seorang anak perempuan yang menangis karena permen lolli kecilnya direbut oleh anak lain..]

Bus berhenti. Aku turun dan melihat plang besar bertuliskan ‘Paris International University’ menyambutku.

[Sejak saat itu… Aku tidak bisa menghilangkan senyumanmu dari pikiranku. Apalagi setelah kita melalui 2 hari bersama-sama]

Aku memasuki pintu gerbang Universitas itu dan ternyata sudah banyak para mahasiswa baru yang berkumpul. Mereka berasal dari berbagai Negara.

[Sejak saat itu pula.. Aku, Kim Jonghyun, jatuh cinta padamu, Kim Kibum..]

Kualihkan pandanganku ke sekitar. Mencari sosoknya, tapi tidak juga terlihat.

[Aku akan terus mencintaimu, walau kita berada di Negara berbeda..]

Aku berjalan mundur sambil tetap mengawaskan pandanganku.

Brugh!

Karena kecerobohanku, aku malah menabrak seseorang. Payah!

“Mianhe..” jawab kami bersamaan. Eh? Mianhe? Aku mendongakkan kepalaku yang tertunduk. Dan disanalah aku melihatnya lagi.. tepat di hadapanku. Dia masih terlihat sama, bahkan ekspresi terkejutnya pun masih sama seperti 3 tahun yang lalu.

[Karena aku percaya.. Suatu hari. nanti. Nasib akan mempertemukan kita kembali. Saranghae, Key..

 

110723

Love,

Kim Jonghyun]

 

END (for Special Part) & ToBeCon (for Chaptered Part)..

Advertisements

14 responses to “[JONGKEY] My Name is Key Part 12 (Special Part)

  1. So Sweett!!
    Hidup JongKey!!!!
    yayy! akhirnya mereka bertemu lagi kan? aku jadi pengen nangis, T.T
    hihi
    keren deh Unnie!!
    daebak!!

  2. Woahhh… Sumpah, nyesek, terharu, sedih, romantis, seneng. Semuanya bercampur jd satu….
    Ff my name is key nya kapan publis nih chingu??

  3. Author… Aku minta PW yg A Love To Kill dong…
    Komen aku d Prolog nya gk bs masuk… Email aku : ekalistia20@yahoo.com
    Gomawo..

  4. soo sweet !!

  5. awww… So sweet.. Unyu… Aghhh…. Do know what 2 say… Keren bgt pai… Suki desu..

  6. wuaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh
    bner kta coment di atasku ini…
    bner2 so sweet…………..

  7. Thor, minta password buat part selanjutnya dong 😀

  8. Uwahahaha keren thor xD
    Mama nya key itu sesuatu yah, mau tau aja hubungan key sama Jjong u,u
    Uwahahaha, itu Jjong saking seneng nya sampe ngeluarin puppy eyes nya :3 uwaaaah jadi penasaran gimana mukanya pas lagi ngeluarin puppy eyes nya u,u imuut pasti xD

    Jjoooonggg, nyium Key tapi ninggalin ‘jejak’ haha xD
    Thor, sumpah aku gatau kenapa pas baca ‘Jjong butuh kasih sayang mamanya’ aku sampe nangis, sumpah gatau kenapa thor ._.v huhahaha, mungkin aku terlalu menghayati ceritanya xD

    terus kenapa jjong tiba tiba pergi keparis?? huaaaah kenapa?? kenapaa??? *jengjengjengjeng (?)

    Seandainya yah kalo aku jadi key, aku bakal mati matian ngejar ke Paris, gapeduli ada duit atau ngga, yang penting bisa ketemu jjong u,u *ngayal

    Thor, ini pasti ada kelanjutannya kan? adakan pasti?? yang mana thor kelanjutan part nya?? .__. Hehe aku makin penasaran xD

    Pokok nya semua fanfic author itu DA-E-BAK! 😀

    Thor, bagi password part selanjutnya, aku penasaran u.u

  9. asik dah bisa ketemu lagi xD
    kapan gue bisa ketemu key ya #ngayal

  10. minhae min,part 13 gak ad di fb ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s