[JONGKEY] My Name is Key Part 11 (Special Part)


Part ini adalah cerita lepas.

Tidak ada hubungannya dengan cerita My Name is Key dari Part 1-10. Walau sedikit berhubungan, tapi untuk membaca Part 11 dan Part 12 tidak perlu membaca My Name is Key dari Part 1-10. Part 11 dan 12 ini sepert fanfic Twoshots lainnya, hanya saja masih bagian dari My Name is Key. Sebenarnya, cerita lepas ini dibuat karena ada beberapa hal yang membuat part 10 sebenarnya (yang nantinya akan menjadi Part 13) sangat terlambat pengerjaannya. Mianhe T^T

Aku hanya berpikir… Apa jadinya kalo My Name is Key diceritakan kalau JongKey berada di Sekolah biasa, bukan sekolah seni dan kemarin, kebetulan aku baru selesai Ospek. Dan jadilah fic ini~ mudah-mudahan tidak mengecewakan kalian semua T^T TOLONG JANGAN BUNUH AKUUUU~

Intinya, bagi kalian yang tidak/ belum membaca My Name is Key dari part 1-11, kalian baca aja 2 part ini kalau kalian mau.. Dijamin tetap mengerti jalan ceritanya kok. Swear! Kkk

Apa yang perlu diingat ketika membaca fanfic ini :

    1. #KeyFact :  Suatu hari ketika hujan turun, Key melihat seekor siput dan membawanya ke Dorm SHINee (katanya sih jadi dipelihara ama SHINee)
    2.  101122 Jongkey Moment – Pocky Kiss @ SHINee Thailand Fan Party >>http://www.youtube.com/watch?v=CJbcRooA9ZM<&lt;
    3. Jongkey Facts : 110416 Jongkey kencan di COEX Mall


Aku melirikkan mataku ke kiri dan ke kanan. Melalui ventilasi yang cukup dilalui oleh badanku yang memang tergolong tidak gemuk, kunaiki tembok dengan menggesek-gesekkan ujung sepatuku ke tumpukan-batu-bata-bersemen-dan-bercat itu sehingga menimbulkan sedikit bunyi. Kedua tanganku menopang berat badanku dengan berpegangan pada satu sisi kayu yang menempel di sekeliling jendela.

“Hup!” Yup, aku meloncat dan memasang pose V dengan kedua tanganku walau tidak ada satupun orang yang melihatku setelah berhasil lolos dan masuk ke lapangan basket indoor sekolah. Setidaknya, aku hanya ingin terlihat keren untuk diriku sendiri dengan memasang pose kemenangan itu kekeke.

Aish. Apa yang kupikirkan? Sekarang bukan saatnya melakukan hal tidak penting seperti itu! Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 dan Ospek seharusnya sudah berjalan sejak 1 jam yang lalu! Ya, apa yang membuatku mengendap-endap ke dalam lapangan ini adalah jam weker. Gara-gara makhuk tak hidup yang benar-benar mati karena kehabisan baterai itulah, aku, Kim Kibum terlambat pada hari pertama Ospek yang berarti bahwa aku memanggil ajalku sendiri melalui perantara para Sunbae sebagai Algojo. Sayangnya, aku masih punya siput kesayangan yang setia nangkring di jendela kamarku dan dia tentu saja tidak akan rela kalau kutinggalkan mati. Jadi, aku mungkin harus berterimakasih pada otak divaku yang sempat mengingat denah sekolah dan menandai beberapa rute yang bisa kulalui kalau aku nanti akan membolos. Lapangan ini adalah salah satunya, cukup menaiki ventilasi lalu memanjat pagar sekolah yang kawat-kawatnya sudah rusak, mungkin dibobol pendahulu-pendahuluku, para bolos-ers yang susah payah memikirkan siasat untuk meninggalkan sekolah dengan jejak bersih, sebersih otak mereka yang hanya berisi debu dan sarang laba-laba. Dan bagusnya, tidak ada satupun sunbae yang berdiri dan menjaga lapangan maupun area sekitar lapangan. Thanks, Neptunus! Walau aku tidak tahu siapa kamu, mungkin aku harus meminta Spongebob untuk mengenalkan kita.

Plop!

Aku mendengar suara sesuatu dari balik pintu ruang penyimpanan peralatan olahraga. Setelah menilik jam tangan pink yang bertengger pada tangan kiriku, aku berjanji akan pergi ke tempat para siswa baru berkumpul setelah kupastikan suara apa itu.

Kutempelkan telingaku pada pintu dan mulai mendengar suara-suara di dalamnya.

Plop!

“Tiga puluh detik waktu berhargaku dan yang kau katakan hanya hal itu?” tanya seseorang di dalam sana yang aku yakini pasti berjenis kelamin laki-laki.

“Apa maksudmu hanya itu? Aku tidak tidur semalaman karena terus gugup mengingat saat ini, saat aku menyatakan perasaanku padamu. Aku benar-benar mencintaimu, sudah 2 tahun. Kau mau kan jadi pacarku?” Sekarang, suara perempuan yang terdengar. Aku menyimpulkan ada 2 orang di dalam sana, Kupandangi jam tanganku dengan tatapan memohon untuk diberikan waktu 5 menit lagi, Aku tidak mau melewati hal langka yang sedang kudengar sekarang.

“Kim Gwiboon, ukuran dada 34, lingkar pinggang dan pinggul.. hm.. juga tidak sesuai dengan kriteriaku. Masih berharap kalau aku akan mengatakan ‘iya’?” What the–! Apa yang dikatakan pria itu??! Dasar..

PERVERT!” teriakku keceplosan. Aish.. Kau dan mulut besarmu, Kim Kibum.

“Ya! Siapa itu?” teriak si Pria tak kalah keras. Aduh.. Ottohke? Kalau dia menemukanku disini yang sedang menguping dan tahu kalau aku siswa baru, Apakah aku masih bisa melihat hari esok? Mermaid Man dan Barnacle Boy, selamatkan aku!

“Meow~ meow~ aku kucing~”

“Kucing?!”

Bodoh! Sumpah! Jawaban macam apa itu? Kau dan nyali besarmu, Kim Kibum! Flying Dutch Man, bawa aku pergi dari sini!!!!

Drap drap drap

Terdengar sebuah langkah kaki yang mendekat dan kuyakini akan keluar dari ruang penyimpanan itu. Aku membatu dan untung saja otakku pindah ke kaki. Bagaimana tidak? Di saat aku sudah blank, kakiku refleks berlari tanpa kusuruh, bukankah itu artinya kakiku jadi berotak sekarang? Keren sekali! Yah~ pokoknya, yang terpenting aku sudah berhasil keluar dari lapangan basket tanpa ada yang mengikuti! Hip hop hooray~

**

Sekarang, aku harap Dewi Fortuna bisa menetap di sisiku selama 5 menit saja. Aku menyembulkan kepalaku hati-hati dari balik tembok, mengirimkan sinyal 3.5G pada sahabatku yang sudah berbaris di lapangan bersama siswa baru lain. Bingo! Dia menerima sinyalku dengan baik karena dia mengarahkan kepalanya dan akhirnya mata kami bertemu.

Dia memberiku tatapan Apa-yang-kau-lakukan?-Kau-tahu-murid-lain-sudah-berkumpul-sejak-satu-jam-yang-lalu!

Aku menggerak-gerakkan tubuhku dengan mengeluarkan bahasa isyarat Simpan-ocehanmu-sampai-waktu-istirahat-nanti!-Sekarang-aku-butuh-bantuanmu-agar-aku-bisa-mengendap-ke-dalam-barisan-tanpa-disadari-siapapun.

Sebelum dia kembali menasehatiku, aku kembali memberinya isyarat Lakukan-sekarang-dan-aku-akan-membelikanmu-Kaset-WinningElevenOriginal-yang-kau-terus-bicarakan-kepadaku-itu-selama-240-jam-367-menit-dan-39-detik!

Akhirnya dia senyum cengengesan lalu membalas Gitu-kek-daritadi!

Berterimakasihlah pada air yang mengalir karena kau telah dipertemukan oleh orang dermawan sepertiku, Choi Minho.

“KECOAAAAAAAAA!!” teriakan Minho sukses membuat barisan kacau karena hampir seluruh siswa baru perempuan sibuk melompat dan berteriak tak karuan karena ketakutan. Aku tidak tahu kalau si Kodok itu akan melakukan hal seperti ini, tapi yasudah lah.. Aku pun memanfaatkan situasi, mengendap sambil berjongkok dan berdiri setelah sampai di barisan, tepat di belakang Minho karena kebetulan kami sekelas lagi untuk kesekian kalinya.

“Boleh juga” senyumku pada Minho.

“Kuharap tidak ada yang menyadari kalau tadi itu suaraku” sambutnya dingin, mungkin sedikit kesal.

Setelah mungkin setengah jam, keadaan pun terkendali kembali. Untungnya, waktu itu lumayan lama untuk melupakan para sunbae kalau biang dari keributan palsu tadi adalah teriakan seorang laki-laki yang tidak diketahui siapa identitasnya, kecuali Tuhan dan aku.

“Sambutan dari Presiden Sekolah, semua diharap tenang!” teriak salah satu sunbae yang tidak memerlukan alat apapun untuk membuat suaranya terdengar oleh semua orang yang berada di lapangan. Sepertinya dia memiliki level oktaf yang tinggi, kalau tidak salah namanya Shim Changmin.

Tepuk tangan riuh pun menggema, aku bertepuk tangan asal karena tentu saja aku malas mengikuti upacara pembukaan seperti ini.

Dari arah belakang, muncul sesosok laki-laki yang mungkin tingginya tidak lebih tinggi daripada aku. Dia memakai seragam dengan 2 kancing teratas yang dibiarkan terbuka, rambutnya acak-acakan walau kusesali karena dia terlihat tampan, bajunya pun dikeluarkan dan tidak memakai dasi. Dia naik ke atas panggung dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana.

Mungkin dari sudut panca indera manapun, orang-orang di sekolah ini sudah gila! Bagaimana bisa mereka memiliki Presiden Sekolah yang urakan seperti itu? Yang aku ketahui, Presiden Sekolah memang salah satu dari siswa di sekolah itu sendiri yang memiliki jabatan tertinggi setelah Kepala Sekolah. Bahkan, kedudukan Presiden Sekolah jauh lebih tinggi daripada Ketua OSIS. Dan, masih sejauh yang aku ketahui, Presiden Sekolah itu biasanya murid teladan atau sejenisnya, yang pasti para murid dengan ketaatan pada semua peraturan sekolah, termasuk kelengkapan dan kerapihan seragam. Murid yang sekarang berdiri di depan ini, yang mengaku dan diaku kalau dirinya adalah Presiden Sekolah, sama sekali tidak menunjukkan semua kriteria Presiden Sekolah. Ya tuhan.. Mungkin mataku yang sudah katarak.

Plop!

Apalagi yang dilakukan orang itu? Memakan permen karet dan meletuskannya tepat di depan mikrofon? Hei, semua orang mendengarnya dan ini acara resmi! Kenapa tidak ada satu orangpun yang menegur? Biar sepertinya dia itu benar-benar Presiden Sekolah, tapi tidak seharusnya semua bungkam kalau dia bersikap seperti ini!

“Yo, para siswa baru” sapa orang itu malas. Satu pertanyaanku, Dimana aku bisa mendengar salam pembuka macam ini? Dia kira kita temannya apa? Sekarang, aku ragu kalau aku berada di sebuah Sekolah Menengah Atas, mungkin aku salah masuk, tapi kenapa Minho juga ada disini?! Berarti aku tak salah masuk!

“Aku persingkat saja. Intinya selamat datang dan patuhi semua peraturan disini dengan baik” lanjutnya lalu mulai meniup gelembung dari permen karetnya itu dan meletuskannya lagi. Astaga!

“Sebelum aku mengakhiri sambutanku, aku hanya ingin mengingatkan pada semua yang ada disini..  Perkataanku adalah Absolut. Ara? Karena perkataanku bersifat absolut, tidak ada satu orangpun yang dapat membantah kata-kataku selama aku masih menjabat sebagai Presiden Sekolah” Semua siswa baru pun menjawab ‘Araseo’ dengan kompak kecuali aku. Gosh! Aku bisa gila dalam waktu kurang dari 5 menit karena sekolah ini!

Plop!

“Baiklah, pagi ini aku menemukan ‘kucing’ yang menarik. Perintah pertamaku yang tentu saja bersifat absolut berhubungan dengan seekor ‘kucing’ yang tadi kutemukan.. ehm, maksudku seekor ‘kucing’ yang telah ‘menemukan’ku dan secara tidak sengaja menjatuhkan ‘kalung’ namanya saat dia kabur” katanya sambil menunjukkan sebuah nametag yang ada di tangannya. Apa maksudnya sih? Tapi, satu yang pasti.. Dia akan memerintah kucing yang tentu saja sebenarnya seseorang itu untuk melakukan sesuatu yang tidak tercium baik. Aku berdoa untuk keselamatan orang itu. Amin.

“Sepertinya ‘kucing’ itu belum menyadari apa yang kumaksud, Apa dia tidak mengingat suaraku?”

Apa pula sih maksud orang ini? Bicaranya ribet banget. Tapi.. ngomong-ngomong soal suara.. aku sepertinya mengenal suara menyebalkan dia, entah dimana aku pernah mendengarnya.

Kalau tidak salah belum lama ini.. Tadi pagi??

Sepertinya memang tadi pa—

Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang. Apalagi setelah aku cek nametag yang seharusnya tergantung indah di depan dadaku menghilang.

“Minho.. Katakan pada Umma dan Appaku kalau aku menyayangi mereka dan aku mewariskan siput yang ada di jendela pada mereka. Katakan juga pada mereka, aku masih tidak tahu harus memberinya nama apa karena nama Garry sudah diambil oleh Siput Spongebob. Sayang sekali, Riwayatku akan segera berakhir..”

**

“Key.. kau jadi bahan pembicaraan” bisik Minho yang tidak kutanggapi. Tentu saja aku jelas sangat amat tahu kalau semenjak upacara tadi, semua mata tidak berhenti menatapku dan banyak yang membicarakanku di belakang.

Sekarang, waktunya istirahat dan semua siswa baru sedang memakan bekal yang dibawa di kelasnya masing-masing.

Kalau diingat-ingat.. aku tidak percaya apa yang dikatakan Presiden gila itu tadi..

Minho memberanikan diri menatap ke belakang, ke arahku. Dia menatap nametagku yang tidak berada di tempatnya dan segera mengerti akan maksudku.

“Siswa di sebelah sana yang bernama Kim Kibum” lanjut Presiden itu.

Aku menelan ludah lalu mengacungkan tanganku, semua orang pun berganti memandang ke arahku penuh tanya.

“Ne?” tanyaku.

“Kau tahu siapa namaku?” Aku menggeleng. Aku tidak berminat untuk mengetahui namanya lagipula, terdengar akan menakutkan apalagi dia pasti tahu kalau aku terlambat lalu menyelinap ke barisan. Berharap para sunbae tidak menyadari hal itu eh.. malah Presiden Sekolah yang tahu. Tak terbayang hukuman macam apa yang akan kuterima. Hukum Pancung? Dewi Fortuna, tega sekali~ kau benar-benar pergi setelah 5 menit.. Mungkin, aku harus memohon pada jin lampu agar Dewi Fortuna menetap di sisiku selamanya.

“Kenalkan, aku Presiden Sekolah disini dan mulai hari ini sampai Ospek berakhir, kau adalah pacarku, pacar dari Kim Jonghyun.. Ara?”

“Ara— MWO?!” aku kaget, ternyata bukan aku saja yang berteriak ‘MWO?!’ tapi seluruh orang disana! Aish.. salah.. apa yang membuatku kaget bukan itu tapi pernyataan Presiden! Pernyataan Kim Jonghyun! Telingaku tidak salah dengar kan?

“Ingat, pernyataanku bersifat absolut”

Plop!

Dengan itu dia meninggalkan upacara dan berjalan entah kemana.

Sedang asyik-asyiknya mengingat kejadian tadi sampai bekal makananku terabaikan, orang gila yang sedang aku pikirkan itu tiba-tiba datang dan masuk ke kelasku. Tidak, lebih tepatnya berjalan ke tempat dimana aku duduk. Sepertinya orang ini akan memiliki umur yang panjang. Sial.

Aku mulai merasakan ada hawa-hawa aneh di sekelilingku. Mungkin ada yang iri, cemburu, whatever.

“Hey, yeobo~!” sapanya sambil bersing-songing ria.

“MWO?!” Lagi-lagi semua orang serempak berkata sepertiku. Mungkin, kami semua sebenarnya soulmate(s)? Who knows.

“Kenapa malu-malu seperti itu? Aku kan pacarmu” tanyanya santai. Bisa-bisanya masih bertanya di saat seperti ini? Ingin rasanya aku mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera ala Ninja Hatori lalu berteriak sekencang-kencangnya di telinga dia kalau dia itu bodoh!! Tapi, aku tak cukup berani melawan para fansnya yang sepertinya banyak sekali, sebanyak para koruptor di Indonesia.

Jadi, aku menarik nafasku lalu menerapkan sistem ‘2 cm ke kanan dan 2 cm ke kiri’ yang diajarkan para sunbae pada saat Ospek. Sebenarnya, maksud sistem itu adalah kalau bertemu orang, yang harus kita lakukan adalah menarik bibir kita 2 cm ke kanan dan 2 cm ke kiri. Yup! Tersenyum. Sayangnya, aku gagal menerapkan sistem itu karena yang sekarang aku tunjukkan pada Jonghyun adalah sistem ‘2 cm ke kanan dan 1 cm ke kiri’.

“Haha.. hei..” aku tidak tahu harus membalas apa dengan 4 sudut siku-siku yang sudah tertempel di seluruh mukaku. Malah jawaban konyol seperti itu yang kulontarkan.

Jonghyun tersenyum lalu menilik apa yang ada di atas mejaku.

“Wah~! Kau suka ini? Aku juga sangat suka ini! Ternyata selera kita sama!” sahutnya sambil menarik dan mengambil kotak Pocky rasa Cokelatku ke udara. Dia mengeluarkan satu stick Pocky dan aku hanya diam, tidak tahu apalagi yang harus kulakukan.

“Aku selalu ingin mencoba memainkan ini..” ujarnya lalu memasukkan satu ujung Pocky ke mulutnya dan ujung lainnya dia sodorkan kepadaku.

“Eh?” Bukan aku tidak tahu apa maksudnya, tapi.. kalau.. kalau aku memasukkan ujung lain ke mulutku dan kami sama-sama memakan Pocky itu dari ujung yang berbeda.. tidak menutup kemungkinan kalau di tengah-tengah.. bibir kami akan bertemu. Dia tidak serius kan? Sayangnya, tatapan matanya berkata ‘Aku serius’.

Sekali lagi, aku menelan ludahku dan dengan pasrah memasukkan ujung lain itu ke mulutku. Kami pun mulai memakan Pocky sehingga stick Pocky itu semakin pendek.. semakin pendek.. dan terus memendek. Kini, tinggal kurang lebih 5 cm lagi panjang Pocky yang tertinggal. Aku melihat lurus ke matanya, begitupun dia. Mata kami terus saling menatap dan aku dapat melihat senyum evil yang dia sunggingkan. Bodohnya lagi, aku malah merasa kalau Jonghyun terlihat sangat keren dengan senyuman itu.

“Ya! Stop stop!” tepat 3 cm lagi Pocky tersisa, Minho yang duduk di sebelahku, menghentikan kegiatan kami dan menyelamatkan nyawaku. Fiuh..

“Jangan melakukan hal itu di depanku! Aku jadi iri!” Aku tahu, Minho sengaja mempermalukan dirinya dengan mengatakan hal yang tentu saja tidak benar itu untuk menyelamatkan diriku dan dirinya dari hukuman, tapi dia malah memasukkanku ke mulut singa setelah lolos dari perut buaya karena perkataannya membuat Jonghyun memutuskan…

“Baiklah, Yeobo~ Bereskan barangmu sekarang dan ikut aku!”

**

Aku tidak percaya Jonghyun menarikku kemana sampai aku benar-benar berada disini, COEX Mall.

“Jonghyun Hyung..”

“Hm?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku, kami sedang berjalan masuk ke Mall sekarang.

“Apa benar tidak apa-apa kita keluar dari sekolah tadi? Kalau guru tahu bagaimana? Mungkin ini bisa dikategorikan membolos di tengah pelajaran?” Jonghyun menghentikkan langkahnya lalu menoleh ke arahku.

“Kita sedang tidak belajar. Kau sedang di Ospek dan aku harusnya mengawasi dan mengontrol jalannya Ospek. Tenang saja, aku ini Presiden Sekolah dan si tua Bangka yang menyebut dirinya Kepala Sekolah itu adalah ayahku. Jadi, dia tidak akan bisa memarahimu” Ah, sou.. pantas saja bersikap seenaknya.. ternyata ayahnya itu Kepala Sekolah?

“Boleh aku bertanya satu hal lain padamu?” beraniku, Jonghyun mengangguk lalu tersenyum.

“Ehm.. apa.. apa maksudmu menjadikanku.. ehm.. pacarmu? Apa karena kejadian aku menguping itu? Aku tahu aku salah.. Apalagi aku terlambat datang ke Ospek.. tapi..”

“Bukan, bukan karena itu” potong dan jawab Jonghyun, “kalau boleh aku jujur.. baru sekali ini ada yang mengataiku seperti kamu, yah.. walaupun kamu berteriak ‘pervert’ tanpa menatap langsung mukaku.. tapi, setidaknya kamu lebih baik daripada orang-orang yang membicarakanku di belakang mereka.. Dan kalau kamu berpikir aku menjadikanmu pacar karena hukuman.. kau salah. Anggap saja ini sebagai salam pertemuanku untukmu, lagipula Ospek cuma 3 hari.. sesudah 3 hari kau bisa lepas dariku. Jadi, jalani saja. Ok?”

Entah setan apa yang merasukiku karena aku langsung menjawab cepat, “Ok!” dan bisa kurasakan kalau aku tersenyum manis padanya sekarang.

**

“Hyung, aku mau beli yang itu~!” tunjukku pada sebuah baju yang terpampang pada etalase sebuah toko pakaian bermerk internasional sambil terus menjilati es krim Baskin Robbinsku.

“Aigo~ yeobo~ lihat berapa barang yang sudah kau beli?” Jonghyun menunjuk pada 3 kantung besar yang ada di tangannya dan 3 kantung besar lain yang ada di tanganku, semuanya adalah barangku kekeke.

“Tapi, aku mau~” sahutku manja sambil memonyongkan bibirku. Yah, bagaimanapun dia pacarku. Jujur, aku sudah tidak canggung lagi dengannya. Dia sebenarnya adalah orang yang baik, terlepas dari sifat pervertnya. Dia asik diajak mengobrol dan aku merasa dekat dengannya. Mungkin terdengar gila, aku sampai lupa kalau kami baru bertemu pagi ini! Aku merasa kita sudah berteman dan jadian selama bertahun-tahun.

“Tidak mau~” dia mulai mengejek dengan suara menyebalkannya lalu aku pun memperlihatkan jurus ‘kitten eyes’ andalanku.

“Jinjja.. jangan tunjukkan itu!” Jonghyun menatapku lagi dan aku semakin menguatkan jurusku, “Ara ara.. Jonghyun akan membelikan baju yang Kibum mau~~ Sekarang Kibum puaaaaaaas?” tanyanya dengan nada kesal.

Aku terkekeh pelan lalu menganggukkan kepalaku mantap.

Jonghyun lalu menarik tanganku dan masuk ke dalam toko yang aku maksud. Entah dia menyadari hal itu atau tidak, aku juga tidak tahu dia menggenggam tanganku tanpa maksud atau tidak. Yang pasti, aku menyesali sense of fashionku karena aku harus tertarik dengan baju yang toko itu pajang dan berakhir dengan Jonghyun yang menggenggam tanganku untuk pertama kalinya. Bukan, apa yang benar-benar kusesali adalah.. jantungku berdegup tak karuan dan tidak bisa berhenti karena sentuhan hangat dari tangan besarnya itu.

**

Capuccino untukku dan Strawberry Milkshake untuknya” pesan Jonghyun yang langsung ditulis oleh salah satu pelayan lalu pergi dari hadapan kami. Sekarang, kami sedang berada di salah satu café minuman dan kami duduk di pojok kanan dari café.

“Kok tahu?” tanyaku aneh karena tanpa menyebutkan minuman apa yang ku mau, Jonghyun sudah memesankan Strawberry Milkshake untukku dan kebetulan aku memang bermaksud memesan itu.

“Terlihat dari wajahmu. Strawberry manis seperti senyummu dan susu seperti kulitmu yang putih”

“Hahahahahahaha pantas saja kudengar banyak cewek yang menyukaimu.. Sepertinya, Hyung benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan seorang ‘pacar’..” Jonghyun tidak ikut tertawa, dia malah terlihat memandang kosong. Aku pun menghentikan tawaku.

“Hyung.. ada yang salah?” ucapku hati-hati.

Dia terlihat menghembuskan nafasnya lalu berkata pelan, “Bisa kau hentikan itu?” ada sedikit nada kecewa dari bicaranya.

“Berhenti? Menghentikan apa?” Sungguh, aku tidak mengerti apa yang dia maksud.

“Itu.. Bisakah kau berhenti memanggilku dengan embel-embel ‘Hyung’?” sekarang, dia menatapku dengan mata penuh harap, membuatku sekali lagi tertawa lepas.

“Hahahahahaha hanya itu?” Dia pun memandangku semakin bete.

“Ya! Apa yang kau maksud ‘hanya itu’? Aku sebal daritadi kau memanggilku ‘Hyung’ terus.. Itu membuat tembok tersendiri di antara kita dan itu berarti bahwa kita memiliki derajat yang berbeda tahu! Yah, walaupun hanya berupa hoobae-sunbae tapi aku tidak suka!”

“Hahahahahaha sejak kapan kata-katamu penuh makna seperti itu, Jjong?”

“Jjong?”

Aku berhenti tertawa dan menggembungkan pipiku sambil manyun.

“Ya! Tadi kau tidak mau kupanggil ‘Hyung’ sekarang mau protes lagi dengan nama panggilanku untukmu?” teriakku pura-pura kesal. Sebenarnya memang kesal tapi tidak sekesal itu. Oke oke, aku tau bahasaku berputar-putar.

“Tidak, siapa bilang tidak suka? Aku sangat suka itu!” Dia mengelus-elus rambutku lalu menatap dalam ke mataku dan tersenyum lembut, “Aku juga akan memanggilmu seperti temanmu memanggilmu.. boleh kan, Key?”

Aku mengangguk, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku sibuk mengontrol jantungku yang sepertinya akan melompat keluar.

“Baguslah.. tapi, sepertinya tidak spesial kalau aku memanggilmu ‘Key’ karena tidak hanya aku yang memanggilmu begitu. Baiklah.. Aku akan memanggilmu Keyeobo~” racaunya yang tidak terlalu terdengar olehku. Suara degup jantungku yang masih berdetak cepat terdengar lebih keras dari suaranya. Ani.. suara semua orang di café dan suara kendaraan yang berlalu lalang di luar pun kalah keras dibanding suara degup jantungku.

Aku menyimpan tanganku pada dada kiri, tepat dimana jantungku berada.

‘Apa yang terjadi denganku?’

**

“Terima kasih telah mengantarkanku sampai rumah” ucapku sambil turun dari mobil sport merah milik Jonghyun. Jonghyun ikut keluar dari mobil dan berdiri di sampingku.

“Ini rumahmu?” tanyanya sambil menunjuk rumahku.

“Hm” sahutku.

“Ck, tak kusangka ternyata kau orang kaya” komentarnya melihat rumahku yang berukuran besar. Sebenarnya, tidak sebesar itu.. luasnya pun hanya 10 hektar.

Aku tertawa, “Memangnya aku pernah bilang kalau aku orang miskin?”

“Ani.. bukan seperti itu, tapi..”

“Ya! Aku kan bukan Geum Jandi yang bertemu denganmu sebagai penguasa Sekolah dan hidupnya penuh kemalangan”

Kami berdua tertawa.

“Masalahnya, orang kaya sepertimu masih mau meladeni permainanku?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil menaruh kedua tanganku di depan dada lalu mengangkat dan menggerakkan telunjuk kananku ke kanan dan ke kiri, “Ckck. Bukankah kau yang bilang untuk menganggap ini sebagai salam pertemuan untukku darimu? Kurasa tidak ada yang salah dengan ini”

“Baiklah kalau begitu..” Senyum Jonghyun lagi yang berhasil melelehkanku andai aku adalah es krim.

“Dan, oh ya.. ini” Aku menyerahkan kartu kredit Jonghyun dari dalam dompet.

“Loh? Kartu kreditku? Tapi kan kartuku ada di dompet..” Jonghyun mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan kartu kreditnya, “eh.. ini kartu kreditmu? Kok bisa?”

Aku terkekeh karena Jonghyun tidak menyadarinya.

“Waktu kau menyerahkan kartu kreditmu padaku untuk membeli barang-barangku tadi, aku menukar kartumu dan kartuku ketika berada di Kassa dan ketika kau tidak melihatku. Aku bukan orang setega itu yang membiarkan ‘pacarku’ membelikan barang-barang bermerk yang aku suka” jelasku panjang lebar lalu menukar kartu kredit kami, “tadinya aku mau menukar kartu kredit kita, sampai di toko ke-6 aku masih berhasil menukar dan mengembalikannya, tapi kau keburu datang menghampiriku di toko terakhir sehingga aku tidak sempat mengambil dompetku dan jadilah, aku terpaksa menyerahkan kartu kreditku yang kau kira punyamu kekeke kukira kau akan menyadarinya, tapi ternyata kau tidak sejeli itu, Jjong..”

“Ckck.. Aku tidak percaya kalau aku tertipu oleh ‘pacarku’ sendiri..” lagi, Jonghyun lagi-lagi mengelus lembut rambutku lalu tersenyum lembut. Aish.. dia tidak menyadari apa kalau perlakuannya itu membuat seluruh sarafku berhenti!

Jonghyun berhenti mengelus kepalaku setelah beberapa saat lalu berganti memandang rumahku.

“Ummamu ada di rumah?”

“Hm.. Seharusnya dia sudah pulang jam segini.. Mungkin sedang menyiapkan makan malam” Aku merasakan kalau Jonghyun sesaat menunjukkan ekspresi aneh.

“Ya sudah.. Sana masuk.. Nanti aku dimarahi orang tuamu karena mengembalikan anak mereka terlalu malam..” candanya. Aku hanya tertawa lalu melambaikan tanganku.

“Baiklah, Annyeong..”

“Tunggu!” panggil Jonghyun kembali  yang sukses membuatku berbalik badan dan berhadapan dengannya.

Cup~

Aku membulatkan mataku. Jonghyun mencium keningku! Memang cuma sekejap, tapi aku tetap tidak mempercayainya.

Good Night Kiss kekeke” Jonghyun mengelus pipiku sehingga mataku dan matanya kembali bertemu, “Terima kasih untuk hari ini, Keyeobo~”

Sesudah mengatakan itu, dia masuk ke mobilnya dan duduk di kursi lalu menyalakan mesin mobilnya.

Aku terus memandangnya dengan tatapan dan tampang yang mungkin terlihat sangat bodoh, sebelum berangkat , dia menatapku lalu tersenyum dan mengedipkan matanya.

Argh, Aku bisa gila!!!

To be continued..


Advertisements

9 responses to “[JONGKEY] My Name is Key Part 11 (Special Part)

  1. *Moga komenku bisa masuk*…
    Seruu.. Romantis lagi…
    Ternyata key itu orang yg gk mw memanfaatkan kbaikan org laen..
    Itu jjong nya knapa? Koq nunjukkin `ekspresi aneh` wktu ngnter key pulang???
    Pnasaran,….
    Next partnya jngn lama yaw ^^

  2. aku ngakak baca awal ff ini!!! ajib Key jayus amat! nanti mirip ama jayus tambunan loh #plak
    haha
    keren!!
    nice ff Unnie!!

  3. smnga ke submit.. Alah jjong meni so swit gtu.. Iri deh ma key.. Kekeke

  4. hanya satu kata
    WAW!!!!!

  5. Uwahahah ceritanya keren min, bikin merinding (?)
    Ga kebayang segimana keren nya jonghyun jadi president siswa xD kalo dari kata kata yang author gambarin sih kayak nya keren banget *O* aku paling suka ngeliat cowok kayak begitu mwahahah xD sayang nya dia gapake dasi, coba pake dari tapi acak acakan gitu, kan makin keren *O* *nahloguecurcol -_-

    Haha, 1 kata aja thor DAEBAK!! Sukses bikin aku merinding pas jonghyun makan Pocky bareng Key >< mwahahahaha xD

    Jonghyun sumpah pede banget ya minta key jadi pacar nya, dateng dateng kekelas langsung manggil 'yeobbo' xD

    Coba aku jadi Key u,u #PLAK *timpukpakebata

  6. mintak password my name is key part 3~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s